Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIV: Peran Perempuan dalam Kebangsaan
Dr. Ning Rintiswati, M.Kes, Ketua STIKES Wira Husada Yogyakarta (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XIV: Peran Perempuan dalam Kebangsaan

Dr. Ning Rintiswati, M.Kes, Ketua STIKES Wira Husada Yogyakarta

SAYA ditugaskan untuk menyam-paikan Peran Perempuan dalam Kebangsaan. Nah, pada kesempatan ini saya hanya ingin kita berefleksi sejenak, bagaimana sebetulnya peran perempuan. Saya kira perempuan sudah berperan semua, tapi apakah itu sudah memenuhi cita-cita bangsa? Jadi nanti akan saya sampaikan bagaimana peran perempuan di dalam keluarga, peran perempuan di dalam masyarakat dan bagaimana perempuan sebaiknya bersikap, juga bagaimana masyarakat bersikap, supaya perempuan mampu melaksanakan dan mewujudkan cita-cita bersama.

Kalau kita lihat, beberapa tokoh dunia sebetulnya sudah menyam-paikan bahwa perempuan ini sangat penting. Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa perempuan adalah tiang negara. Begitu perempuan baik, maka negara itu akan baik. Begitu perempuan rusak, maka bangsa akan rusak. Charles Warles yang saya sitir dari Bung Karno dari Sarinah menyampaikan bahwa tinggi rendahnya tingkat kemajuan masyarakat di satu bangsa, sangat tergantung daripada bagaimana bangsa itu mendudukkan perempuan. Ya, jadi saya kira memang sudah kita akui bahwa perempuan bagaimanapun sangat penting. Di dalam keluarga, secara umum perempuan berperan mewujudkan cita-cita keluarga. Cita-cita keluarga biasanya keluarga yang bahagia, jelas, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan membe-sarkan anak-anak bersama suami. Biasanya seperti itu.

Lha, sekarang kalau melihat bagai-mana peran perempuan di dalam aspek kebangsaan yang sebenarnya, memang tidak pernah kita sadari. Kalau kita bertanya kepada Bapak-Ibu yang misalnya adalah ibu rumah tangga, kalau ditanya, apa peran ibu dalam kebangsaan? Maka ibu itu pasti akan mengatakan saya hanya ibu rumah tangga. Kalau seorang pegawai negeri sipil ditanya, apa peran ibu dalam kebangsaan kita? Maka ibu itu juga akan berkata, peran saya bekerja sebagai pegawai negeri 20 tahun mi-salnya. Juga misalnya, para ibu yang bekerja di pasar, yang sebagai penjual batik atau ibu-ibu srumbungan, akan mengatakan bahwa saya bukan apa-apa. Saya hanya rakyat jelata.

 

Keluarga Fondasi Bangsa

Namun apakah begitu? Maka, mari lihat bersama. Kalau kita lihat bahwa keluarga adalah fondasi suatu bangsa, ini harus diakui, bahwa keluarga se-kecil apa pun mereka adalah fondasi bangsa. Dan dari keluarga itulah akan lahir anak-anak bangsa yang merupakan penerus cita-cita bangsa. Maka di sinilah peran perempuan yaitu memberikan karakter building anak-anak bangsa. Jadi saya bisa mengatakan, bahwa ibu-ibu kita ini adalah ibu-ibu bangsa, karena dialah nanti yang akan membina anak-anak bangsa ini untuk menjadi apa bangsa ini selanjutnya. Ya, jadi saya kira itu yang paling penting. Kenapa bukan bapak-bapak. Jelas bapak-bapak juga merupakan pendukung, tetapi ibu ini adalah seorang ibu yang biasanya sangat dekat dengan anaknya. Punya satu hubungan batin, sehingga anak itu akan lebih mudah dididik oleh ibu, lebih mudah mencontoh apa yang dikerjakan oleh ibu.

Pertanyaannya adalah sebetulnya anak-anak bangsa seperti apa yang kita harapkan? Kalau kita mengatakan bahwa ibu adalah ibu bangsa, maka kita harus tahu juga anak-anak seperti apakah yang kita inginkan. Anak-anak yang diinginkan, adalah yang peka lingkungan, mengerti dan sadar cita-cita bangsanya. Kemu-dian berpengetahuan. Saya tidak mengatakan bahwa anak harus menjadi sarjana, menjadi doktor dan sebagainya. Tidak mungkin semuanya akan seperti itu, tetapi ia harus ber-pengetahuan, yang berintegritas tinggi, jujur dan berakhlak mulia.

Walau ini juga sesuatu yang sangat sulit sekarang, kalau melihat situasi negara kita, di mana saat ini sedang banyak masalah dengan korupsi, maka anak-anak kita harus berintegritas tinggi, jujur dan berahlak mulia. Tidak mementingkan diri sendiri dan keluarganya, karena biasanya kadang-kadang keluarga, menginginkan anak-nya menjadi seorang sarjana yang bisa mencari uang, yang bisa menjadi pejabat misalnya, tetapi lupa bahwa siap berbakti untuk bangsanya. Jadi hanya berbakti untuk dirinya sendiri dan keluarganya, itu yang saya kira kita sering lupakan. Tidak seperti zaman kita kecil dulu, kalau ditanya kamu pengin jadi apa? Saya ingin menjadi seorang yang berbakti kepada negara, yang berguna bagi negara, tidak tahu jadi apa. Biasanya teman-teman saya waktu SD ditanya, hanya untuk berbakti kepada negara atau yang berguna untuk negara, tetapi bukan saya ingin menjadi dokter. Dokter yang bagaimana?

Bapak dan Ibu, saya sudah bekerja menjadi pengajar di Fakultas Kedok-teran, hampir 35 tahun. Saya melihat bagaimana anak-anak kita makin hari makin egosentrisnya muncul. Karena dahulu, mungkin di UGM ini dahulu untuk semua orang yang mampu atau tidak, yang penting pintar. Tapi sekarang karena BHMN maka harus mampu membayar yang cukup ting-gi, yang masuk adalah anak-anak berkemampuan secara ekonomi. Dan mereka biasanya karena membayar tinggi dan orang tuanya juga selalu mengharapkan nantinya menjadi seorang yang spesialis dan sebagainya, kadang-kadang lupa bahwa mereka harus berbakti.

Tetapi saya pernah surprise sekali, ketemu dengan bekas mahasiswa saya yang mendapat suatu penghargaan di Melbourne Australia. Waktu itu ada international congres, dia mendapat-kan penghargaan karena bekerja di sebuah pulau, di ujung di Papua. Di sebelahnya kalau tidak salah Pulau Waingapu, saya lupa namanya. Dan, di situ dia bekerja hampir 10 tahun. Dia mendekati saya, lalu bilang, “Bu, saya muridnya Ibu dulu.” Saya kaget sekali. Saya lalu bertanya, “Kenapa kamu bisa di sini?” (Maksudnya di pulau kecil di ujung Papua itu.) “Ya, saya memang memilih di sini,” jelasnya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Masih Jauh dari Pancasila

Dia belum menikah, kemudian bekerja, akhirnya mandiri untuk menolong orang-orang di sana. Saya kira ini yang sangat membanggakan. Kemudian, bahwa dulu kita selalu digadang-gadang. Digadang-gadang itu diharapkan oleh orang tua menjadi anak yang berbakti, yang itu kadang-kadang sudah kita lupakan. Kadang-kadang dilela-lela ledhung. Juga selalu dalam lela-lela ledhung itu dalam gen-dongan ibu, anak yang mulia, anak yang berbakti kepada bangsanya. Saya kira itu yang harus kita ingat kembali. Kemudian untuk memiliki anak-anak bangsa yang diharapkan pasti diperlukan keluarga yang harmonis. Peran ibu dalam mewujudkan ini sangat menentukan.

 

Peran Perempuan di Zaman Now

Bagaimana peran dan kedudukan perempuan zaman now. Setelah cita-cita Kartini tercapai, maka emansipasi tercapai. Saya kira itu juga sudah dengan perjuangan Ibu Kartini dan yang lain-lain, sehingga kita sekarang sama derajatnya, perempuan dapat mengembangkan jatidiri, perempuan berhak memilih apakah ia akan bekerja dan menikah, apakah dia akan bekerja atau tanpa menikah, apakah dia menikah tanpa bekerja. Itu sekarang kita sudah bisa memilih. Padahal pada zaman kemarin, waktu Kartini belum terlalu diakui, artinya bahwa kita belum boleh sama, maka perempuan biasanya tidak boleh bekerja.

Apakah masyarakat mendukung? Ya, tentu saja dukungan kaum pria juga dukungan masyarakat. Kesempatan studi tidak akan terbatas, apakah itu laki-laki atau perempuan. Bahkan Indonesia ini sudah terkenal, bahwa kita sudah menyamakan gender. Kita pernah mendapat satu kesempatan beasiswa dari WHO, itu selalu harus menunjukkan bahwa kita tidak anti gender. Saya tanya kenapa begitu? Karena di negara lain, di Asia yang lain, gender masih menjadi masalah.

Jadi waktu itu saya tunjukkan bah-wa mahasiswa kedokteran kita justru didominasi oleh perempuan. Saya kira Indonesia ini terlalu luar biasa, karena perempuan-perempuan berpangkat, perempuan-perempuan menjadi tokoh itu sudah menjadi jauh lebih banyak dibanding negara yang lain. Sektor non-formal terbuka, sektor formal juga terbuka, jabatan tidak dibatasi. Sekarang jabatan, Bu Idham menjadi bupati, misalnya. Bu Mega menjadi Presiden, dan seterusnya. Bu Menteri Kelautan, Bu Sri Mulyani juga, saya kira tidak ada batasan. Perempuan sudah sama.

Pendapatan juga tidak dibatasi. Di negara lain pendapatan perempuan masih dibatasi. Perempuan walaupun cuti lebih banyak, setiap bulan ada cuti, tetapi pendapatan dibatasi. Jadi kalah dengan pria. Saya kira itu adalah satu kesempatan bagi perempuan untuk berkiprah. Bahkan saya kadang-kadang berkata kepada suami saya, “Kok saya yang disuruh bicara di depan sih?” Saya bilang begitu. Saya ini sudah lupa kalau saya perempuan. Saya ingatnya perempuan kalau di rumah, cuci piring, nyapu. Tapi kalau di kantor, saya tidak pernah merasa perempuan. Karena tidak pernah dibedakan.

Kemudian saya lebih banyak menyoroti perempuan yang banyak bekerja, karena perempuan yang bekerja ini di satu sisi sangat berat, banyak tantangannya. Kadang-kadang kemudian bisa melupakan, seperti contoh tadi, anak-anaknya terlantar, suami terlantar, kebahagiaan keluarga juga kemudian menjadi terpengaruh. Ini saya kira membicarakan pe-rempuan yang bekerja lebih banyak. Kemudian juga di samping penga-laman saya pribadi.

Siapa yang seharusnya melaksa-nakan karakter building anak-anak, apabila kita bekerja? Apakah dibebankan pada pendidikan formal? Saya kira pendidikan formal tidak akan mampu memberikan karakter building yang cukup bagi anak-anak kita, karena karakter building membutuhkan contoh, orang tua terutama ibu. Lalu bagaimana apabila ibu bekerja, apakah dititipkan pada pembantu? Pembantu bisakah mem-berikan karakter building yang bagus? Apakah mungkin neneknya, kakeknya, apakah pengasuh, itu yang menjadi pertanyaan dan saya pun tidak bisa menjawab.

Jadi bagaimana ibu yang bekerja ini kemudian harus melaksanakan karakter building. Padahal karakter building hanya akan efektif bila keluarga itu bahagia. Apabila ayah dan ibu satu visi, apabila komunikasi berjalan baik. Saya kira itu yang utama. Kemudian juga bagaimana sih tujuan perempuan bekerja? Idealnya, perempuan yang bekerja seharusnya adalah untuk kesejahteraan keluarganya. Bukan untuk hanya sekadar menunjukkan jati diri. Itu yang saya kira yang paling aman, ya. Berbakti kepada masyarakat itu adalah berikutnya.

Jadi kalau dari pemikiran saya, perempuan ini bekerja untuk mem-bantu suami. Supaya keluarga ini bisa tegak untuk saat ini. Di satu sisi sight efect dari itu adalah bahwa kita bahagia, karena kita diakui di masyarakat. Tetapi tetap di dalam pikiran kita, bagaimana anak-anak, bagaimana suami kita. Seharusnya seperti itu, supaya keluarga tidak men-jadi korban. Karena kadang-kadang kita tidak mungkin semuanya, tetapi bagaimana caranya, itu yang penting. Jadi jangan sampai kemudian suami merasa, bahwa karena bagaimana pun, jangan lupa suami-suami kita ini. Suami-suami biasanya punya satu ego yang lebih dibanding perempuan. Dia ingin menjadi pemimpin, dia ingin diperhatikan juga. Bagaimana caranya kita memperhatikan, apabila kita bekerja sampai malam misalnya. Apabila kita keluar kota terus. Ini yang saya kira jadi tantangan perempuan yang bekerja.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XX: Dialog

Nah, menurut saya keseimbangan ganda ditentukan oleh beberapa faktor. Keterbatasan waktu menjadi kendala. Jadi bagaimana kita mengatur waktu, juga dukungan suami itu, perlu. Bila tidak didukung oleh suami, maka ru-mah tangga bergejolak. Kalau rumah tangga bergejolak, bisakah perempuan bekerja dengan tenang. Bisakah kita, misalnya di kantor bekerja dengan tenang apabila di rumah, suami meng-gerutu terus. Itu yang saya kira perlu kita pikirkan.

Kemudian dukungan keluarga besar mungkinkah, misalnya anak tidak ada yang mengasuh. Apakah nenek, kakeknya mampu? Tantenya misalnya? Mungkin juga seperti itu. Kita perlu asisten rumah tangga, tetapi pada saat ini asisten rumah tangga gajinya tinggi, sepertiga dari gaji kita masuk ke asisten rumah tangga. Jadi bagaimana ini? Dan apakah bernilai ekonomis kalau kemudian asisten rumah tangga kita dua, sehingga habis untuk asisten rumah tangga. Dilema-dilema ini pasti ada di dalam masyarakat kita. Perlu baby sister, perlu titipan anak-anak. Ini adalah masalah-masalah bagi ibu-ibu dan bagaimana supaya semuanya berjalan.

Kita sudah didukung oleh perkem-bangan fasilitas di lingkungan kita, penitipan balita sudah ada. Jam se-kolah sudah diperpanjang, sehingga kita bisa tidak bingung apabila anak kita dibawa ke mana. Laundry sudah ada, rumah makan sudah ada, kita tak perlu masak. Tinggal pilih, hari ini mau masak apa, dapur banyak, Bapak kepengin apa, kita belikan, tinggal tunjuk dapur. Sekarang malah ada go food ya, saya kira super market ada, sehingga kita tak harus belanja pada pagi-pagi hari. Sistem informasi ada, kita bisa memantau anak-anak melalui gadget misalnya. Juga transportasi.

Kemudian, yang timbul kadang-kadang adalah dilema atau gap dengan suami. Bagaimana bila penghasilan perempuan ternyata lebih tinggi. Suami tidak bekerja misalnya. Ini juga menjadi masalah rumah tangga, dan menjadi masalah psikologis yang cukup berarti. Tingkat pendidikan, ibunya bisa S-3, bapaknya tidak punya ijizah. Hal ini juga sering terjadi. Kemudian kedudukan sosial juga, ibu-nya menjadi Bupati, bapaknya hanya pegawai biasa. Atau pangkatnya lebih rendah daripada ibunya.

 

Saling Mengisi Secara Harmoni

Nah itulah, jadi harus ada yang saling mengisi secara harmoni, ini mudah sekali disampaikan tetapi sangat sulit. Sikap dewasa dari perem-puan dan saling menghormati. Apakah kita selalu mengatakan kepada suami, saya di kantor adalah bos. Jadi di rumah saya juga harus bos. Tidak bisa begitu. Bisa, tetapi keluarga tidak akan harmonis. Jadi problematika perempuan bekerja adalah waktu dan kesempatan yang terbatas dan bagaimana dapat membentuk keluarga yang harmonis. Kemudian yang utama bagi bangsa, bagaimana kita bisa membentuk karakter building bagi anak-anaknya.

Jadi perempuan yang bekerja harus mampu memilih kesempatan bekerja dan jenis pekerjaan. Perempuan harus mampu menentukan prioritas. Pada saat tertentu, mungkin kita akan sibuk dengan pekerjaan, maka suami dan anak-anak bisa kita tinggalkan sementara, tidak kita pikirkan. Tetapi pada saat kita longgar, ya kadang-kadang kita punya waktu yang cukup, maka perhatikan anak dan suami. Mungkin pola itu bisa kita lakukan. Juga menjaga pergaulan. Jangan sampai suami kemudian dag-dig-dug terus. Kok teman laki-lakinya bos-bos semua? Kok teman laki-lakinya cakep-cakep semua? Jadi bagaimana perempuan bisa menjaga pergaulan dan harus terbuka dengan suami. Membatasi kegiatan sosial. Sudah bekerja masih harus berkegiatan sosial yang banyak, saya kira ini yang kemudian akan menyita waktu.

Kemudian apa yang diharapkan dari perempuan agar cita-cita bangsa Indonesia tercapai. Banyak sekali. Untuk mampu membentuk keluarga yang harmonis dulu karena keluarga adalah pondasi, berakhlak mulia, peka dan mampu menunjukkan kasih sayang, berpengetahuan luas dan sebagainya. Tetapi yang utama adalah bahwa perempuan harus sadar bahwa dia berperan dalam pendidikan anak-anak bangsa. Keluarga adalah pondasi bangsa dan bahwa lahirlah dari keluarga yang bahagia itu anak-anak yang menjadi penerus cita-cita bangsa. Dan cita-cita bangsa akan tercapai apabila pendidikan karakter anak-anak bangsa ini utamanya di dalam keluarga berjalan, dan peran perempuan sebagai ibu bangsa sangat kuat.

Jadi perempuan ideal dari aspek kebangsaan itu yang seperti apa? Yang jelas berketuhanan, tangguh, sehat rohani, bijaksana sehingga mampu menjalankan karakter building anak-anak bangsa, berpengetahuan, sadar sebagai ibu bangsa.

Nah, ini yang saya kira paling bawah, sadar sebagai ibu bangsa, itu yang kadang-kadang kita lupakan. Karena rutinitas. Menurut saya, dari pengalaman pribadi dan saya melihat di masyarakat, maka sebenarnya perlu pendidikan pra nikah, yang mem-berikan psikologi perkembangan anak, misalnya. Sehingga kita tahu seperti apa seharusnya pada saat kita tidak pernah mendapatkan pelajaran menjadi ibu. Apalagi menjadi ibu bangsa, tidak pernah.

Alangkah baiknya, kalau peme-rintah atau juga lembaga-lembaga itu memikirkan pendidikan pra nikah ini. Saya kira sangat baik, psikologi perkembangan anak, psikologi keluarga, kesehatan, dasar-dasar karakter building dan juga kebangsaan. Di situ seharusnya diberikan. *** (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *