Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XI: Peran dan Gerak Perempuan
Suasana Diskusi Kebangsaan XI "Kebangsaan dalam Peran dan Gerak Perempuan" Kantor Perwakilan DPD RI Prov. DIY 11/12/17 (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XI: Peran dan Gerak Perempuan

Tema yang sungguh sangat tepat ketika PWSY (Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta) bekerjasama dengan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) DIY memilih “Kebangsaan Dalam Peran dan Gerak Perempuan” untuk didiskusikan dalam suatu forum Diskusi Kebangsaan XI dari PWSY. Dengan mempertimbangkan bahwa di bulan Desember diperingati sebagai Hari Ibu/Perempuan juga melihat realitas sosial dalam masyarakat bahwasanya kaum ibu/perempuan ini masih saja menjadi obyek ketidak-adilan ataupun kekerasan dalam rumah tangga yang tiada berujung berhenti. Hampir setiap hari ada saja media formal ataupun media sosial melansir mulai dari sekedar issue hingga fakta menjadi berita menyangkut perempuan. Tingkat perceraian bukannya semakin menurun bahkan berdasar data yang ada justru semakin meningkat. Pada kasus perceraian ini selalu saja pihak perempuan yang dianggap sebagai biang keroknya.

Guna membahas persoalan di atas dan juga masalah yang berkaitan dengan posisi perempuan dewasa ini di bidang politik, sosial dan ekonomi telah dipilih tiga nara sumber untuk mendiskusikannya. Ketiga narsum tersebut adalah: GKR Hemas yang karena sesuatu hal diganti oleh Dr. Sarimurti M.Hum (Dosen UAJY), Drs HM Idham Samawi (DPR RI) dan Hj. Sri Roviana M.A. (Majlis Kessos PP Aisyiyah).

Sejarah pergerakan perempuan di Indonesia mencatat bahwa memerlukan puluhan tahun bagi kaum ibu/perempuan Indonesia untuk mendapatkan hak-hak mereka disejajarkan dengan kaum lelaki. Disebut juga dengan istilah kesetaraan jender. Sudah menjadi semacam tradisi atau katakanlah diligitimit bahwa kaum ibu/perempuan itu lemah. Dengan tugas utama melahirkan anak. Di luar itu merupakan tugas seorang lelaki/bapak. Ini adalah pola pikir jaman dulu. Pola pikir yang menurut Dr. Sarimurti sengaja menempatkan kaum ibu/perempuan dalam wilayah domestik. Perempuan dikerdilkan dengan berbagai macam alasan yang sesungguhnya sudah tidak pantas lagi dijadikan dalih dalam melihat kemampuan perempuan berkiprah di berbagai bidang.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Jujur, Hebat!

Meski demikian, toh kesetaraan bagi kaum perempuan ini tidak serta merta dapat berjalan mulus. Batu sandungan muncul di sana-sini. Masih saja ada semacam pertanyaan bernada ragu-ragu apa ya benar kaum perempuan ini sudah siap menerima tugas-tugas seperti yang dilakukan kaum lelaki. Padahal prestasi perempuan menjadi pemimpin sudah diperlihatkan oleh Ibu Megawati Soekarno Putri yang menjabat sebagai Presiden ke-5 RI. Belum lagi beberapa Menteri dipercayakan kepada kaum perempuan. Kondisi ini sangat jelas menunjukkan fakta kemampuan kaum perempuan sudah tidak perlu diragukan lagi.

Fakta lain disampaikan oleh HM Idham Samawi yang mengatakan memang ada ketidaksiapan kaum perempuan ketika dipercaya mengemban tugas sebagaimana layaknya kaum lelaki. Disebutkan ketika ada pergantian antar waktu anggota DPR yang seharusnya menjadi hak seorang ibu tampil sesuai nomor urut calon, menyatakan ketidaksiapannya. Barangkali ini salah satu kasus saja. Ke depan, rasanya tantangan kaum perempuan untuk benar-benar setara dengan kaum lelaki masih harus terus diperjuangkan. Siapa yang memperjuangkan? Ya tentunya kaum perempuan itu sendiri. Seperti pepatah mengatakan “tidak ada makan siang gratis”. Maksudnya belum tentu kalau ada kesempatan jabatan kosong diberikan kepada kaum perempuan secara ikhlas. Itupun kalau tidak terpaksa? Di sinilah tantangan masih menghadang meski sudah puluhan tahun bangsa ini mengalami masa reformasi.

Selamat berjuang kaum perempuan Indonesia!

Oka Kusumayudha

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.