Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Pentas Ketoprak PDB Klaten Tingkatkan Kebersamaan Sesama Anak Bangsa
Pentas ketoprak PDB Klaten dengan lakon "Rebut Kuwasa". (Foto: Ist)

Pentas Ketoprak PDB Klaten Tingkatkan Kebersamaan Sesama Anak Bangsa

PERKUMPULAN Darma Bakti (PDB) Klaten yang bergerak di bidang sosial telah lama mati suri. Tahun 2017 lalu beberapa warga keturunan Tionghoa, terutama generasi mudanya, berkumpul untuk menggagas bangkitnya organisasi lewat gerakan sosial dan kebudayaan. Wujud nyatanya kemudian lahirlah pentas ketoprak “Rebut Kuwasa” yang tidak hanya diikuti masyarakat keturunan Tionghoa di Klaten, tetapi juga masyarakat Jawa dan anak-anak sekolah. Pentas tersebut berlangsung semarak pada Sabtu malam, 10 Maret 2018.

Biaya pentas diambil dari kas perkumpulan diawali dengan membuat grup WA bernama “Ketoprak Mata Sipit” sekaligus membuka pendaftaran pemain. “Tidak disangka, banyak anggota PDB yang berminat, sehingga jumlahnya mencapai 38 orang,” ujar Edy Sulistyanto yang bertugas sebagai Ketua Panitia sekaligus koordinator pemain, seusai pentas.

“Awalnya mereka ragu. Bahkan  merasa berat karena harus menghapal naskah berbahasa Jawa,” tambah Yung Yung (Tjandra Wijaya), bendahara PDB yang juga suami Huang Hua (mantan juara dunia bulutangkis).

“Tapi berkat ketelatenan sutradara, Mas Bondan Nusantara, yang dirasa berat itu berubah jadi sangat menyenangkan,” ungkap Handoyo, Ketua PDB Klaten.

Agar kegiatan itu tidak terkesan eksklusif, Edy Sulistyanto, owner Amigo Group, mengusulkan  untuk melibatkan siswa-siswi SD Kristen 3 dan SMP Kristen I sebagai pengiring atau pemain karawitan, karena di sekolah itu ada ekstra kurikuler gamelan, sekaligus gedung yang representatif untuk pertunjukan. Tak hanya itu, Edy Sulistyanto yang sudah sembilan tahun menggelar Festival Ketoprak Pelajar (PKP) tingkat SD, SMP dan SMA se-Kabupaten Klaten mengusulkan para pelajar SMK/SMA alumni FKP untuk ikut terlibat.

Melalui dialog yang cukup rumit, akhirya diputuskan untuk pentas yang akhirnya benar-benar tergelar sukses itu, latihan diselenggarakan seminggu dua kali (Senin dan Kamis), mulai pukul 18.00 sampai 20.00.

“Karena hampir semua pelakunya pengusaha, sekali latihan hanya lima adegan. Sehingga tidak semua pemain harus datang dua kali seminggu,” ujar Bondan Nusantara, sutradara dan penulis naskah. “Lebih lima kali saya harus merubah naskah sesuai dengan karakter dan kemampuan pemain. Ketika pemain sudah hapal semua, saya terus menambah dialog, mengatur bloking dan mencoba memahami psikologi para pemainnya selama tiga bulan penuh.” tambahnya.

 

Jauh Hari, Tiket Habis

Begitu grup WA “Ketoprak Mata Sipit” menyebar, banyak warga keturunan Tionghoa yang langsung pesan tiket. Dua bulan sebelum pementasan, tiket seharga Rp ribu per lembar ludes terjual. Agar tidak menimbulkan persoalan dalam mengatur penonton, semua tiket diberi nomor kursi persis seperti di bioskop. Bahkan lantai gedung yang rata diubah menjadi bertingkat, agar penonton merasa nyaman menikmati sajian PDB.

Acara yang diberi nama “Peresmian Pengurus PDB periode 2017-2022 ini juga dihadiri Bupati Klaten Hj. Sri Mulyani, Ketua DPRD Klaten Agus Riyanto, KH Jazuli A, Dandim, Kapolres serta tokoh-tokoh masyarakat di Klaten.

“Saya senang, karena selama ini PDB menjadi partner pemerintah dalam membangun kebudayaan serta menggelar aksi sosial. Kecuali itu gedung pertunjukan milik SD Kristen 3 Klaten ini lebih canggih dibanding RSPD milik pemerintah daerah,” kata Bupati Sri Mulyani sebelum menulis ucapan selamat kepada PDB di atas sebuah kanvas yang disediakan panitia.

 

Ajang Saling Memahami

Bondan Nusantara, sang sutradara sekaligus penulis lakon, tak bisa menyembunyikan kegembiraan dan kebanggaan dengan suksesnya pentas ketoprak PDB tersebut.

“Saya bahagia, bangga dan terharu. Karena kerja keras ini tidak sia-sia. Sebagai pribadi saya selalu yakin bahwa kesenian, khususnya ketoprak yang selama ini saya tekuni, tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antar warga, melainkan juga sarana untuk saling memahami, menghargai, dan juga membentuk serta meningkatkan rasa kebersamaan sesama anak bangsa. Karena ketoprak  adalah kesenian yang bersifat komunal,” kata Bondan.

Menurut Bondan, dalam proses latihan ia merasakan  hal-hal yang baik itu lahir dan tumbuh secara alami. Di sisi lain, hubungan antar pemain, baik yang keturunan Tionghoa dan Jawa, terjalin dengan indah. “Info terakhir yang saya terima, para siswa SMK dan SMA yang ikut terlibat dan sebentar lagi lulus, sudah ditawari pekerjaan di perusahaan mereka. Ini luar biasa, meskipun baru mencakup 11 siswa,” tambah Bondan.

Pementasan yang berlangsung selama dua jam itu sarat “gerr”. Penonton benar-benar terhibur, dan puas. Bondan mengaku, suasana yang penuh “gerr” itu terjadi, karena ia menggunakan konsep penyutradaraan yang berpijak pada teori alm Teguh Karya (sutradara film) yakni teater tanpa penonton.

“Teater tanpa penonton, artinya pelaku dan penonton tidak boleh terpisah. Dialog yang diucapkan pemain harus menyentuh persoalan penonton dan dialami penonton, sehingga terjalin komunikasi dua arah antara pelaku dan penonton. Ini barangkali yang membedakan antara pertunjukan ketoprak pada umumnya dengan Ketoprak Mata Sipit,” jelas Bondan.

Lakon “Rebut Kuwasa” bertutur tentang peralihan kekuasaan dari Prabu Kertanegara (Singgasari) kepada Jayakatwang (Kediri) untuk kemudian direbut Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Dengan bantuan pasukan Tar Tar, Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama.

“Terus terang, saya tidak ingin bicara soal kemegahan Singgasari dan Majapahit, melainkan ingin bersikap kritis pada soal perebutan kekuasaan tempo dulu yang selalu disertai dengan pertumpahan darah. Bahkan juga pengkhianatan,” kata Bondan tentang lakon yang ditulisnya itu. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *