Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XV: Pendiri Bangsa Nyalakan Pelita yang Menerangi Semua
Rm. Aloysius Budi Purnomo Pr, SS, MTh. Lic. Th, Ketua Komisi HAK-KAS (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XV: Pendiri Bangsa Nyalakan Pelita yang Menerangi Semua

Rm. Aloysius Budi Purnomo Pr, SS, MTh. Lic. Th, Ketua Komisi HAK-KAS

PERTAMA-TAMA saya mohon maaf, atas sangat keterlambatan dari Semarang menuju Yogya. Sudah bangun jam 5, jam 6 berangkat. Padahal tadi malam baru tidur setengah dua, sesudah tabligh akbar bersama Gus Mus dan Cak Nun di simpang lima. Bersama Bapak Kapolda dan Pangdam dalam rangka pilkada damai. Dan pagi ini saya justru terberkati. Tadi sedikit sudah mencicipi penjelasan Pak Idham, dan full mendengarkan tausiyah dari ‘Bung Karno’ (KH Muhammad Jazir- red), yang betul-betul saya terpesona.

Saya menikmati tadi, karena belum pernah berjumpa dengan beliau (Bung Karno – Red). Saya hanya men-dengarkan rekaman-rekamannya. Tapi ketika Pak Kyai Jazir tadi ngendika, Bung Karno itu betul-betul terasa hadir di tengah-tengah kita. Sayang tidak ada satu pun yang tepuk tangan.

Saya betul-betul terpesona dan merasa terberkati kalau tadi kedua narasumber sudah bicara mengenai sejarah, bahkan yang berdarah-darah, tetapi sekarang kita tinggal menikmati buah dan bagaimana menjaga buah itu. Yang saya mau sampaikan, saya persiapkan, ini saya renungkan sebagai buah.

Ketika panitia menghubungi, saya diminta bicara tentang bagaimana hidup beragama di negara Pancasila. Sejarah sudah dibuka, dan luar biasa indah. Apa yang nanti saya bagikan, itu tidak akan mungkin kalau kita tidak berdasarkan Pancasila. Dan semua itu akan menjadi mungkin dari pengalaman yang 10 tahun saya hidupi sekurang-kurangnya, saat melayani di Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan di Keuskupan Agung Semarang, yang meliputi wilayah seluruh DIY dan sebagian besar Jawa Tengah.

 

Nyalakan Sebatang Lilin

Prinsip hidup di negara Pancasila hari-hari ini juga mendapatkan akar dalam prinsip universal. Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuki kegelapan. Dan kalau kita kembali ke sejarah yang sudah dibuka oleh dua narasumber terdahulu, ternyata bukan hanya sebatang lilin yang dinyalakan oleh para pendiri bangsa ini, tapi pelita, cahaya, lentera yang begitu dahsyat yang mendasari, mencahayai, menerangi kita semua. Dan lilin itu bagi saya tidak lain adalah Pancasila.

Kalau tadi suara Pak Kyai (KH Muhammad Jazir – red) begitu merdu dan menghadirkan sosok Bung Karno, saya belum mendengar suara Pak Idham. Saya membawa oleh-oleh dari Semarang, bagaimana menghayati Pancasila itu melalui satu cara sederha-na. Oleh-olehnya bukan dalam bentuk makanan, tapi ini (sambil menun-jukkan saksofon yang belum utuh). Jadi benda ini begitu besarnya. Tetapi, benda ini tidak punya fungsi apa-apa dan tidak memberi keindahan apa pun ketika ditiupkan bila tidak disambungkan dengan yang lain. Maka harus disambungkan dengan yang besar. Ini membutuhkan bagian-bagian yang lain dan lebih kecil. Rangkaian-rangkaian yang kecil dan dikumpulkan dari berbagai macam kebhinnekaan, tetapi itu tunggal ika.

Jadi kita diingatkan lagi, bukan hanya bhinneka, beragam, tetapi disatukan yang berbagai macam unsur itu. Ada yang dari bambu, dari melamin, ada kawatnya, ini pasti juga bisa dilepas lagi. Kalau dilepas wah bercerai-berai, hancur, sama sekali tidak berfungsi. Yang kecil ini bisa bunyi tapi tidak enak. Bikin telinga jadi berisik, hati jadi apa. Ini juga tidak bunyi, maka harus disambung. Dan sambungan yang kecil-kecil ini sudah memberi sedikit keindahan. Lebih indah lagi disambung dengan yang lebih besar. Nah, ini akan lebih nyaman lagi. Diikat, dikencengkan, lalu bisa.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Dialog

Kita akan nyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Iya, ternyata ada tiga artis di sini, Pak Kyai, Pak Idham, suaranya bagus-bagus. Nanti saya tunjukkan bagaimana melalui jalur seni dan budaya ini, kami mencoba menghayati keberagaman dalam keberagamaan atau keberagamaan dalam keberagam-an di negeri Pancasila.

 

Melalui Seni Budaya

Tadi Pak Ustadz mengatakan, bagaimana seni dan budaya yang dikembangkan oleh Bung Karno itu tertanam begitu dalam di hati anak-anak. Itu coba kami pakai, strategi seni dan budaya untuk mengembangkan hidup dalam keberagaman. Ini di Jawa Tengah, nanti ada yang di Yogya (menjelaskan video yang diputar). Ada tokoh-tokoh lintas agama, Ketua MUI. Ini layanan iklan keberagaman dalam ketunggalan, dalam kesatuan. Ini masih di Semarang, baru-baru ini. Keberagamaan dihayati melalui keberagaman. Konteksnya perayaan Paskah. Sudah empat tahun ini pemerintahan Kota Semarang memberi ruang kepada kami, umat Kristiani untuk karnaval.

Lihat saya bersama teman-teman Pelita, Persaudaraan Lintas Agama. Meskipun urgensinya untuk Paskahan, tapi teman-teman dari UIN, Unwas, Unisula, terlibat di antara sepuluh ribu peserta. Ini contoh saja. Baru-baru ini kami serukan perdamaian Palestina, di Unika. Ini anak-anak SD yang melalui peristiwa ini kita bawa dalam edukasi untuk mencintai Pancasila. Menghayati NKRI. Kebhinnekatung-galikaan. Ada penari sufi. Saya hanya memprovokasi saja. Iya, mungkin langka di rumah Pastur, pameran lukisan temanya perdamaian Palestina. Itu yang kita buat, dalam rangka menghayati keberagamaan di tengah keberagaman di negara Pancasila.

Membangun dan menghayati keberagamaan dalam keberagaman, tapi tidak melulu dalam konteks ibadah, liturgi, hanya mungkin di Indonesia yang terjadi. Saya beberapa tahun yang lalu mendapat kesempatan dua minggu mengikuti International Summer School on Religion on Public Life di Bulgaria, di negeri mayoritas Katholik Ortodhoks. Katholik Roma itu hanya 1%, mayoritas Ortodhoks, kemudian Kristen terbagi didominasi salah satunya Katholik Roma. Dan di sana, yang namanya gerakan-gerakan dalam rangka melibatkan anak-anak lintas agama, menjaga ciptaan-ciptaan, menanam pohon, itu tidak dimungkinkan.

Tapi di tempat kita, hal-hal yang seperti ini sangat mungkin. Mulai dari anak-anak, membangun kerukunan dalam hidup beragama di negeri Pancasila dengan peduli ekologi. Kita pernah melakukan ketika pasca erupsi Merapi sekian tahun yang lalu dengan menanam lebih banyak pohon lagi di bekas daerah-daerah erupsi Merapi. (Pemutaran lagi video singkat). Kami coba bersama dengan para seniman budayawan. Ini Kyai Budi dan para santri sufi yang menari begitu indah di halaman gereja kami. Menghidupkan lagi macapatan.

Yang lain kita buat di Yogya pada waktu itu. Kita masuk ke Yogya sekarang. Di halaman gedung DPRD kita mengadakan syawalan kebangsaan. Ini hanya ada di tempat kita. Bisa seperti ini. Gus Yusuf berkata pada waktu itu kepada saya, “Romo, saya setiap kali pulang ke pondok, saya menangis. Sambil memandang anak-anak saya. Romo mungkin tidak bisa membayangkan karena Romo ora duwe anak.”

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Pemimpi

Jangankan anak, bojo wae ora duwe. Kami bisa bercanda seperti itu. Tapi kata-kata Gus Yusuf itu sasmita untuk saya. Anak tidak hanya anak biologis, anak kandung, tapi anak bangsa. Beliau menangis dan berkata, “Ngger, apa kira-kira sepuluh rong puluh taun maneh kowe kabeh isih isa urip tentrem kaya saiki, nek kowe ora gelem njaga bangsane awake dhewe iki.”

Saya bisa saja saat ini niup saksofon, tapi kalau bayangkan sampai terjadi seperti di Suriah, misalnya. Tidak ada Romo berani niup saksofon, yang ditiup senjata. Karena ke mana-mana orang harus membawa senjata. Dalam ketakutan dan serba ancaman. Sehingga gerakan-gerakan yang seperti ini bisa kita lakukan dalam konteks keberagaman dan keberagamaan luar biasa, hanya ada di Indonesia.

 

Srawung Budaya

Ini di Solo, sepanjang tahun 2017, kami menyerukan dan beraksi praksis melalui srawung. Srawung budaya lintas agama, srawung anak muda, srawung anak bangsa dan seterusnya. (selingan video lagi). Ini kembali ke Semarang, di kabupaten. Ini seni Nagrak yang di kabupaten nyaris punah. Dan betapa mereka bersuka cita ketika saya dekati, ayo tampil dalam acara Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Semarang di alun-alun.

Sekali kami ada acara, mereka saya undang. Suka cita. Sebagai gambaran kekayaan lokal yang sangat, ini di Kota Semarang, anak-anak muda, 5.000 anak muda lintas agama berkumpul bersama mengekspresikan keberagaman dalam kesatuan. Salah satu cuplikan dalam, kalau yang ini dari teman-teman indo. Iya ini kita cuplikkan, ini di Solo lagi, yang di Yogya (selingan video lagi), ini teman pemuda di Semarang, SMA yang cinta tanah air luar biasa, yang menggerakkan untuk mencintai negeri ini dan menjaga Pancasila. Salah satu lagunya Pancasila adalah kita, Pancasila adalah rumah Indonesia, itu yang sangat viral tahun lalu, yang dia buat dan dinyanyikan di mana-mana melibatkan siapa saja.

Lalu kami, diprovokasi tokoh-tokoh lintas agama di Yogya. Ini dari Hindu, tokoh muda yang semangat mengembangkan keberagaman. Ini Konghuchu, seorang pendeta, kembaran saya dari GKJ. Dari Budha. Ini tokoh-tokoh di Yogya. Lagunya bagus, hasilnya bagus, tapi proses rekamannya berdarah-darah. Masing-masing dengan kekhasannya. Damai dalam cinta.

Ini dari Yogya, dan sungguh bagi saya, sesuatu yang luar biasa. Bukti nyata bahwa sejarah yang sudah dibuka oleh para pendiri bangsa kita dan diingatkan kembali oleh dua narasumber pertama itu menjadi ruang yang indah untuk menghayati keberagamaan dalam keberagaman di negeri Pancasila. Itu yang bisa saya bagikan, maka saya bahagia di sini, ini semoga bermanfaat untuk kita semuanya. Salam sejahtera untuk kita. *** (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *