Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XX: Pemuda, Jangan Layu Sebelum Bersemi
Oka Kusumayudha (ft. tembi)

Diskusi Kebangsaan XX: Pemuda, Jangan Layu Sebelum Bersemi

SURAT kabar Kompas menurunkan berita (Kps-281018) yang memberitakan sekitar 200 pemuda dari sejumlah wilayah di Tanah Air berkumpul di Jakarta untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini bertepatan dengan 90 tahun Sumpah Pemuda. Mereka mendeklarasikan Sumpah Pemuda Milenial di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta. Tentu istilah milenial yang disematkan pada Hari Sumpah Pemuda ini sempat mengundang pertanyaan.Namun anak-anak muda usia antara 15-24 tahun itu berpendapat bahwa Sumpah Pemu-da yang diikrarkan 90 tahun lalu itu perlu diaktualisasikan sesuai perkembangan zaman. Perlu dikaitkan dengan isu aktual seperti pemuda seyogyanya ikut berpartisipasi dalam pembangunan, menegakkan kelestarian dan keseimbangan alam, menentang segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.

Karenanya, para pemuda ini mengemas peringatan dalam forum bertajuk Sumpah Pemuda Milenial III “Merebut Kembali Masa Depan”. Mereka berkeyakinan bahwa Pancasila dapat menjadi solusi atas masalah keragaman yang ada di Tanah Air. Kegiatan para pemuda yang memperingati Hari Sumpah Pemuda sesuai pengejawantahan mereka dikaitkan dengan isu terkini, patut diacungi jempol. Pemikiran positip sejumlah pemuda ini diharapkan dapat menjadi virus menebarkan kebaikan di kalangan pemuda. Sementara kita masih merasa prihatin terhadap mereka yang masih atau sedang galau dijangkiti pengaruh narkoba. Pemuda yang populasinya sangat besar di tanah air, menjadi sasaran pemasaran narkoba jaringan internasional. Karenanya, jangan lengah apalagi lelah melawan beredarnya obat-obatan adiktif yang merusak sel-sel otak remaja. Jangan biarkan pemuda kita layu sebelum bersemi.

Simak juga:  Ada yang Tahu Suku Akit, Bali Aga dan Bgu?

Berkait dengan momentum Hari Sumpah Pemuda, Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan ke XX dengan tema “Kaum Muda dan Pancasila Merespon Kondisi Bangsa”. Diskusi di Café Cangkir Bintaran Tengah Yogyakarta ini menghadirkan nara sumber: Obed Kresna Widyapratistha (Presiden BEM UGM), Mayjen (Purn) Saurip Kadi (Staf Ahli Kemenkumham) dan Drs HM Idham Samawi (Anggota DPR/MPR RI).
Bagaimana menerapkan ideologi negara Pancasila di era milenial ini? Seperti apa per-sepsi pemuda merespon Pancasila? Pertanyaan ini wajar dikemukakan mengingat banyak kalangan beranggapan bahwa Pancasila itu adalah masa lalu. Tentu pandangan seperti ini sangat tidak tepat bahkan bisa menyesatkan kalangan pemuda. Presiden BEM UGM Obed Kresna W, salah satu tokoh mahasiswa UGM ini justru berpendapat sebaliknya. Dengan berkolaborasi para mahasiswa ini ingin menunjukkan cara mereka mengimplementasikan Pancasila. Ia pun mengajak kaum muda untuk membuat poros baru. “Anak muda harus berdiri dengan semangat Pancasila untuk mencerdaskan bangsa ini,” ucap mahasiswa Fisipol UGM ini.

Obed bangga banyak mahasiswa mela-kukan kolaborasi dalam aktivitasnya. Kolaborasi menumbuhkan semangat baru untuk kebersamaan dalam membantu musibah bencana alam, misalnya. Beri dan percayakan peran bagi anak muda untuk ikut menentukan masa depan mereka. Pemuda jangan hanya dijadikan obyek politik meraup suara. Pemuda adalah pemilik masa depan bangsa. Kemerdekaan sudah di tangan setelah tiga setengah abad hidup dalam penjajahan. Sepakat kita berga-bung dalam NKRI, berdasar UUD 1945 dan Pancasila sebagai filosofi bangsa dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. ***

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *