Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Pemimpi
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Pemimpi

SELIRIA EPILOGUS

IGAU-IGAU itu mungkin bual-bual. Igauan milik petidur yang dirasuki mimpi. Bualan milik mata jaga yang tertelan mimpi tanpa tidur. Omong kosong belaka. Untuk suatu yang penting, menyangkut nasib hidup orang banyak, bual-bual atau tipu-tipu itu sungguh punya daya retak, daya ledak, dan daya remuk luar biasa. Perlahan dan pasti, merayap merangkak menggerogoti rasa per-caya, merobek tahu diri, dan menunaskan pucuk saling curiga. Tidak hanya menyalip di tingkungan pada sesama kawan, tetapi juga menggunting dalam lipatan di antara peraga sepenanggungan.

Dalam kepemimpinan pemimpin, leadership of leaders, seperti jeneng ing jumeneng, bisa saja berubah jadi sekadar sepotong harapan, cek kosong penguasa. Penguasa memanfaatkan mimpi, pemimpin mencitakan mimpi-mimpi. Sungguh beda, antara pemimpin dan penguasa, antara bualan dan mimpi, antara membohong dan menipu. Berbohong tapi tidak menipu, atau berbohong yang memang diniatkan tipu-tipu.

Bualan dahsyat jadi mimpi indah pere-but kuasa. Pangkal soalnya, kenapa perlu memasukkan bual-bual ke dalam ring pertarungan? Para pemburu kuasa, punya mimpi indah sukses kuasa mengatur dari dalam. Mimpi para penguasa, memijak bahwa daya kuasa punya landasan anggapan, kuasa itu pengatur arus utama hubungan bendara-kawula. Mimpi para pemimpin bukan pada daya kuasa melainkan daya manfaat dengan suatu anggapan sederhana, kuasa itu alas utama bagi yang lain menggelar komunikasi setara, memikir bagi sesama. Mencari pemimpin, mencari mereka yang berpikir, berkata, dan bertindak tidak hanya dengan kepala melainkan pula dengan hati.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Amanat Pancasila, Keadilan Tidak Bisa Ditunda

Penguasa itu memerintahkan, pemimpin itu mendengarkan. Penguasa itu sigap mem-beri perintah, pemimpin itu taat mendengar jika sewaktu-waktu diperintah. Penguasa menempatkan rakyat sebagai kawula, pemimpin menobatkan rakyat sebagai bendara. Daulat rakyat itu, satuan-satuan perintah untuk pemimpinnya. Penguasa itu mengambil alih daulat rakyat, pemimpin itu mendekat ke dalam daulat rakyat. Penguasa itu berhadapan dengan rakyat, pemimpin itu merasuk dalam kalbu rakyat. Kedaulatan di tangan rakyat, penghambaan pemimpin.

Bual-bual masuk dalam area daulat rakyat yang percaya kepada pemimpin berhatinurani, membukti dalam semayam hati rakyat. Bual-bual ditaburkan buat meng-aburkan rasa percaya sebagai kekeliruan, ditabur oleh mereka yang punya ketakutan besar pada kesetiaan realitas faktual. Calon-calon penguasa sedang membasmi realitas empirik dengan realitas imajiner. Suatu perjalanan menggapai kuasa dengan menyamar sebagai pemimpin arif budiman. Kalaupun jadi pemimpin dan memegang kuasa, tidaklah lebih sekadar pemimpin yang dipenuhi mimpi tanpa harus tertidur. Mimpi dalam keterjagaan.

Dalam laku prihatin Jawa dikenal dengan lampah cegah guling, mengurangi waktu tidur. Jangan terlalu banyak tidur supaya tidak terlalu banyak bermimpi. Sederhana saja kok pesannya, urip prasaja, apa adanya, tidak meniti buih-buih mimpi dan bual-bual perkasa. Kadang bualan pun terasa indah.***

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

PURWADMADI ATMADIPURWA

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *