Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Jujur, Hebat!
Oka Kusumayudha (ft. tembi)

Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Jujur, Hebat!

Satu penggalan momen menarik terjadi ketika acara pertemuan akbar alumni Universitas Gadjah Mada diselenggarakan di Jakarta belum lama berselang. Acara dirancang semangat persatuan dan kejuangan itu dihadiri Presiden RI Joko Widodo yang juga alumni UGM. Nah, di tengah Pak Jokowi memberi sambutan beliau menginterupsi pidatonya dengan melempar pertanyaan kepada peserta pertemuan. Pertanyaan yang terasa aneh dan di luar dugaan. Siapa di antara alumni ketika masih menjadi mahasiswa pernah berhutang atau ngemplang di warung SGPC (sego pecel). Warung emperan yang sangat akrab dengan kehidupan mahasiswa di UGM. Ternyata permintaan mengacungkan tangan bagi yang merasa pernah ngutang ditanggapi beberapa alumni. Mereka diminta naik ke panggung jejer dengan Pak Jokowi.

“Apa benar Anda pernah ngutang ketika makan di warung SGPC?” tanya Pak Presiden. “Ya pak,” jawab seorang alumnus.

“Mengapa sampai ngutang?” tanya Pak Presiden lagi.

“Karena kiriman uang belum sampai Pak, dan memang tidak punya uang lagi, Pak.”

Sepintas adegan satu babak ini kelihatan sepele dan sangat sederhana. Tapi di balik permintaan dan pertanyaan Pak Jokowi itu sebenarnya tersirat makna yang sangat dalam. Yaitu kelihatannya Pak Jokowi ingin menguji kejujuran alumni yang mungkin saat ini sudah menjadi pejabat atau “orang penting”. Apakah masih ada kejujuran di antara kita? Apakah masih ada pemimpin yang jujur? Seperti tagline KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) “Berani jujur, Hebat”.

Masalah kepemimpinan ini oleh Pagu-yuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta diangkat sebagai topik diskusi kebangsaan ke XIX “Kepemimpinan dalam Demokrasi Pancasila”. Ada tinjauan kepemipinan di era zaman kerajaan dulu. Kepemimpinan dikaitkan dengan pengamalan Pancasila. Dan bagaimana praktek kepemimpinan yang ada di zaman now? Berkaitan dengan ini dipilih tiga nara sumber yang kompeten di bidangnya yaitu: Prof. Dr. Kaelan (Guru Besar Filsafat UGM), Prof . Dr. Djoko Suryo (Guru Besar FIB UGM) dan Drs. HM Idham Samawi (Anggota DPR/MPR RI).

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XX: Generasi Muda Harus Baca Sejarah

Fenomena kepemimpinan saat ini menjadi bagian yang tidak kalah penting dan menarik bila dikaitkan dengan tahun politik. Tahun yang menentukan masa depan bangsa. Karena bangsa Indonesia akan memilih calon-calon yang akan duduk di lembaga legislatif dan memilih calon Presiden dan Wakilnya. Situasinya sangat serius. Tidak main-main.

Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke sudah sepakat bulat ketika mem-proklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia menjadikan Pancasila sebagai filosofi atau dasar hukum bernegara. Tentu kini kita sangat berharap bagaimana azas negara Pancasila ini dapat dijadikan pegangan bagi siapa saja yang mendapat kesempatan memimpin negara ini menuju ke tujuan yang kita cita-citakan bersama. Seperti yang tersurat dan tersirat dalam sila-sila Pancasila.

Kepemimpinan yang Pancasilais yang seperti apa? Mungkin sulit dirumuskan karena bersifat abstraktif. Tapi dapat dijelaskan dengan memberi contoh kon-krit dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, berilah contoh bagaimana kita seharusnya mengimplementasikan Pancasila. Tinggal-kan wacana yang sulit dipahami masyarakat awam. Ganti istilah “omdo” – omong doang dengan tindakan nyata. Dan sejatinya rakyat hanya butuh bukti dari pemimpinnya. ***         

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XX: Biarkan Anak Muda Bicara Pancasila Sesuai Ukuran Mereka

Oka Kusumayudha

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *