Jumat , 14 Desember 2018
Beranda » Peristiwa » ARSIP PERS: Pemberontakan Pangeran Mangkubumi, Bermula dari ‘Sandiwara’?
Majalah "Minggu Pagi" edisi 33 16 Nopember 1952 Tahun IV. (ft. SEA)

ARSIP PERS: Pemberontakan Pangeran Mangkubumi, Bermula dari ‘Sandiwara’?

JANGAN anggap remeh media-media pers lama. Jangan pernah beranggapan media-media pers seperti majalah dan surat kabar atau koran lama, hanya sebagai barang bekas yang tak bermanfaat apa-apa. Karena pada dasarnya tulisan-tulisan yang ada pada media pers lama itu, baik berita, feature, artikel dan semacamnya yang lain, merupakan arsip yang menarik dan ‘berharga’. Tulisan-tulisan di majalah atau surat kabar lama itu bisa dijadikan referensi dan penambah pengetahuan serta wawasan untuk peristiwa-peristiwa maupun informasi-informasi di masa lalu.

Perbincangan tentang “Arsip Pers” kali ini menampilkan majalah “Minggu Pagi” edisi 33 16 Nopember 1952 Tahun IV. Sekadar informasi, “Minggu Pagi” yang sekarang berbentuk surat kabar mingguan itu dulu formatnya majalah. Media ini termasuk media tertua di negeri kita, karena terbit sejak tahun 1949.

Dari tulisan-tulisan menarik di dalamnya, ada satu tulisan yang layak untuk disimak lagi. Tulisan itu berjudul “Sumpah Menentang Politik Belanda”. Tak ada nama terang penulisnya, selain di bawah judul tulisan hanya tertera — Oleh: Pembantu “MP”. Tulisan itu mengisahkan tentang sosok Pangeran Wijil II dan kisah perlawanannya terhadap kekuasaan Belanda. Setidaknya ada dua hal yang menarik dari tulisan itu, yang barangkali sebelumnya belum sempat mengetahui atau membacanya. Apa saja dua hal yang menarik itu?

 

Leluhur Sukarno

Siapa gerangan Pangeran Wijil II yang makamnya terletak di Astana Kulon, Demak itu? Untuk mengetahuinya mari kita simak apa yang terurai di tulisan itu (tentu dengan ejaan yang sudah disesuaikan).

…………..

Beliau adalah putera Pangeran Wijil I, Pujangga Kartasura pada zaman Susuhunan Paku Buwono I (dimakamkan di Nglawijan, Surakarta), cucu PanembahanWijil yang terkenal juga dengan Panembahan Natapraja (catatan: beliau inilah leluhur Presiden Sukarno), keturunan ke-8 Sunan Kalijaga.

Setelah ayahnya wafat, beliau menggantikan kedudukannya sebagai Pujangga, tetapi belakangan beliau meninggalkan kedudukannya, karena merasa sudah tidak berdaya lagi untuk menolong Kerajaan dari bahaya VOC.

Tetapi setelah beliau wafat di Kadilangu (Demak), puteranya yang tertua dipanggil oleh Susuhunan Paku Buwono III, dan setelah dapat menyelesaikan di Kediri, diangkat menjadi Pujangga Surakarta, dengan gelaran Panembahan Juru Martani, dimakamkan juga di Nglawijan.

………….

Nah, mungkin informasi yang menyebutkan Pangeran Wijil, seorang pujangga di Keraton Surakarta itu, merupakan leluhur dari Bung Karno, Sang Proklamator Kemerdekaan RI dan Presiden pertama, jarang atau bahkan tidak ditemukan di media-media, buku-buku atau referensi lainnya. Kalau demikian halnya, informasi yang ada di dalam tulisan itu, berkaitan dengan leluhur Bung Karno tersebut, jelas merupakan hal yang menarik.

Di dalam tulisan itu disebutkan Pangeran Wijil II meninggalkan kedudukannya sebagai Pujangga Keraton, karena sudah kehilangan semangat dan merasa ‘patah hati”. Di tulisan itu ada sub-judul “Apa Sebabnya Pangeran Wijil II Patah Hati?” Untuk mengetahuinya mari kita simak lagi uraian berikutnya.

……………..

Di antara tahun 1740 – 1742 Ibukota Mataram (Kartasura) telah dirampas oleh pemberontakan orang-orang Tionghoa, yang terkenal dengan “geger Pecinan”. Sementara penyerangan terjadi, Susuhunan Paku Buwono II telah meninggalkan Kartosura, bertempat di Ponorogo. Tetapi belum setahun dari pada itu, Ibukota Mataram telah kena direbut kembali, dengan bantuannya VOC yang dipimpin oleh Inhoff.

Pada waktu VOC menyerahkan kembali Kartasura kepada Susuhunan Paku Buwono II, sebagai upah dan kerugian-kerugian yang diderita oleh orang-orangnya Inhoff, maka VOC tidak minta ganti rugi harta benda, tetapi hanya menyodorkan politik kontrak, yang isinya antara lain:

  1. Bahwa tiap-tiap Susuhunan menggantikan Rijksbestuurder dan Bupati-bupati Pasisiran harus mendapat persetujuannya VOC.
  2. Dalam penyumpahannya harus di hadapan pembesar VOC, selain sebagai biasa harus taat kepada kewajibannya, juga disebut, bila dalam satu waktu VOC berselisihan pendapat dengan Kerajaan, mereka harus memihak kepada VOC.

Susuhunan Paku Buwono II karena kegirangan, dan merasa berhutang budi kepada VOC, tidak meminta nasehatnya lain-lain Nayaka, termasuk juga Pujangganya (geestelijke adviseur), tetapi politik kontrak itu lalu dibubuhi tanda tangan.

…………..

Simak juga:  Herlina Kasim Si Pending Emas: Bersyukur Menjadi Wartawan

Diuraikan di dalam tulisan itu, kesepakatan Susuhunan Paku Buwono II dengan VOC tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan para Nayaka, Pangeran-pangeran san Sentana Kerajaan. Termasuk Pangeran Wijil II. Dan ia mulai merasakan ‘patah hati’ dengan kondisi yang demikian.

 

Sandiwara Pemberontakan?

Melihat kondisi yang demikian, Pangeran Wijil II kemudian merencanakan suatu strategi, taktik atau cara untuk melenyapkan atau mengurangi pengaruh serta campur tangan VOC di Kerajaan. Pangeran Wijil merencanakan agar terjadi suatu pemberontakan, dan pemberontakan itu khusus ditujukan untuk menyingkirkan pengarug kekuasaan VOC.

Pemberontakan seperti apa yang direncanakan Pangeran Wijil II? Terwujudkah rencananya itu? Untuk mengetahui jawabannya simak uraian di tulisan tersebut berikut ini.

…………..

Hanya tinggal satu saja jalan yang bisa ditempuh, ialah usaha-usaha untuk membikin tamat kekuatan VOC dengan jalan sandiwara, demikian pendapat Pangeran Wijil II, dan justru karena itu, beliau memajukan pendapat dengan cara diam-diam, supaya salah seorang Pangeran yang kuat membuat pemberontakan.

Dengan cara kebetulan sekali, pad waktu itu atas advisnya VOC, Susuhunan Paku Buwono II diminta supaya mencabut tanah Sukowati (Sragen) dari kekuasaan Pangeran Mangkubumi (saudara Susuhunan Paku Buwono II), karena menurut pendapat VOC, Pangeran Mangkubumi yang terkenal sangat anti VOC akan menjadi makin berbahaya bila mempunyai tanah yang luas.

Kejengkelan Pangeran Mangkubumi ini, bisa dijadikan suatu sebab untuk membuat perlawanan. Tetapi cara pemberontakan itu diatur demikian rupa, hingga jika tentara Mataram berhadapan dengan pengikutnya Pangeran Mangkubumi, hanya main sandiwara saja. Artinya hanya pura-pura berperang, sebaliknya kedua pihaknya harus menunjukkan kekuatannya kepada orang-orangnya VOC yang dikirim sebagai pembantu tentara Mataram.

Keberangkatan Pangeran Mangkubumi ini, oleh Susuhunan Paku Buwono II diberinya bekal 2000 ringgit, dengan pesanan bermacam-macam.

Pemberontakan terjadi. Mula-mula benar-benar tiap kali pertempuran terjadi, tiada seorang pun di antara tentara Mataram dan pengikutnya Pangeran Mangkubumi yang menjadi korban, tetapi sebaliknya serdadu-serdadu VOC bisa dikata hancur sama sekali. Rupanya kejadian demikian ini pelahan-pelahan diketahui juga oleh VOC, dan justru karena itu Inhoff lalu memberi tekanan kepada Susuhunan.

Dan sejak itu, lelakon sandiwara itu menjadi tamat, karena pengikut-pengikut Pangeran Mangkubumi benar-benar ditentang oleh tentara Mataram, dan justru karena itu pula Pangeran Mangkubumi mulai insyaf, bahwa kalau beliau tidak menyingsingkan lengan bajunya, akan mengalami kehancuran.

Berulang-ulang Pangeran Wijil II memperingatkan kejadian yang sama sekali di luar rencana ini kepada Susuhunan Paku Buwono II, tetapi karena satu dan lain sebab, maka peringatannya tidak diperhatikan, hingga beliau mulai juga bimbang, karena mendapat tanda-tanda keruntuhan Mataram sudah mendekati.

………………

Nah, ternyata perlawanan Pangeran Mangkubumi yang kemudian berakhir dengan terpecahnya Kerajaan Mataram menjadi Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti itu ternyata awalnya suatu siasat atau sandiwara saja? Tetapi kemudian rencana yang dibuat Pangeran Wijil II dan disetujui Susuhunan Paku Buwono II itu meleset dari skenario.

Simak juga:  Pers dan Kerukunan Beragama

Sandiwara itu gagal total. Justru perlawanan Pangeran  Mangkubumi semakin sulit dikendalikan. Sedang bagi Susuhunan Paku Buwono II yang sudah terjebak dalam sandiwara itu, tak ada pilihan lain, selain menunjukkan kepada VOC bahwa perlawanan Pangeran Mangkubumi itu benar adanya. Untuk menunjukkan bukti kepada VOC, Susuhunan Paku Buwono II memerintahkan tentara Mataram untuk berperang sungguh-sungguh menghadapi pasukan atau pengikut Pangeran Mangkubumi.

 

Meninggalkan Sumpah

Kondisi itu membuat Pangeran Wijil II benar-benar kecewa. Ia kehilangan daya dan semangat untuk mempertahankan kejayaan Mataram. Ia pun kemudian memutuskan untuk meninggalkan jabatannya di Kerajaan dan pulang ke Kadilangu. Untuk lebih jelasnya, mari simak lagi uraiannya.

………….

Karena sudah kehabisan jalan, untuk menolong Mataram dari keruntuhan sudah tidak bisa, dan malahan ternyata sejak itu Mataram sudah tamat sejarahnya, maka dengan zonder bicara, Pangeran Wijil II meninggalkan Surakarta, pulang ke Kadilangu, sambil bersumpah, bahwa siapa saja yang menjadi pengikut Belanda, tidak diizinkan menginjak rumahnya, tidak peduli ia termasuk anak cucu dan keturunan sendiri atau orang lain.

Di waktu beliau mendekati saat wafatnya, telah memesan supaya dimaklumkan terpisah dari leluhurnya, dan mengulangi pula sumpahnya, bahwa beliau tidak rela, bila kelak makamnya diinjak oleh siapa juga yang menjadi pengikut Belanda.

Justru karena pesanan dan sumpah itu,maka beliau dimakamkan di Astana Kulon, terpisah daripada leluhurnya, dan sebagai diketahui, bahwa karena keadaan, maka belakangan banyak pula keturunan beliau yang bekerja pada Pemerintah Belanda, baik dalam lapangan Pemerintahan maupun dalam lapangan partikelir, maka mereka sama sekali tidak berani masuk di dalam pekarangan Pasarean Astana Kulon. Dengan demikian maka makam beliau bisa dikata terlantar, sebab hanya keturunan yang benar-benar bersih dari pengaruh Belanda, yang berani berziarah.

…………..

Semoga tulisan 65 tahun lebih yang lalu ini benar-benar bisa menjadi “Arsip Pers” yang berharga untuk referensi, tambahan wawasan dan pengetahuan, tentang informasi serta beragam peristiwa menarik ‘tempo dulu’. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Tragedi Udin & Khashoggi, Kelakuan Pecundang Selalu Terulang

Ketika wartawan Harian Bernas Yogyakarta Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin (32) dianiaya seseorang di depan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *