Rabu , 26 September 2018
Beranda » Sastra » Papan Iklan di Sastra Bulan Purnama

Papan Iklan di Sastra Bulan Purnama

Kali ini Sastra Bulan Purnama edisi 83, yang akan diselenggarakan Jumat, 24 Agustus 2018, pkl. 19.30  di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, akan diisi peluncuran antologi cerpen yang berjudul ‘Papan Iklan di Depan Pintu’ karya cerpenis dari berbagai kota. Beberapa cerpenis yang akan hadir dan membacakan karyanya di antaranya Tengsoe Tjahnono (Surabaya), Yonas Suharyono (Cilacap), Benedict Agung (Surabaya) dan sejumlah cerpenis lainnya  dari berbagai kota.

Cerpen yang termuat dalam buku ini berbeda dengan cerpen pada umumnya, yang biasanya agak panjang, tetapi dalam cerpen ini hanya terdiri dari tiga paragraf. Melalui kalimat yang pendek, masing-masing cerpenis mengekspresikan dalam berbagai gaya.

Tengsoe Tjahjono, kurator dari antologi cerpen ini mengatakan, karena sifatnya hanya pendek, cerpen lahir dari banyak ekperimen dan eksplorasi, entah dengan upaya menyatukan alur, karakter dan konflik dalam satu kalimat atau paragraf. Tentu ini menjadi bagian ekspresi yang menantang dan menarik bagi banyak cerpenis. Demikian juga ketika para pentigrafis menulis pentigraf.

“Mereka ditantang untuk menghadirkan ekspresi yang padat, bernas dan kaya. Pentigraf hanya terdiri dari atas tiga paragraf. Pentigrafis mau tidak mau harus memanfaatkan ruang tiga paragraf itu secara efektif” ujar Tengsoe Tjahjono.

Dikatakan oleh Tengsoe Tjahjono, pentigraf dalam buku ini hadir sebagai pentigraf yang berhasil, baik dari segi konten maupun format. Disamping karena proses kurasi dan penyuntingan yang ketat dan cermat. Kitab Pentigraf 2 ini juga menghadirkan banyak penulis andal Indonesia, yang menyuguhkan tema-tema kemanusiaan yang kaya dan beragam.

Ada sekitar 80 penulis dari berbagai kota, yang ikut dalam buku cerpen yang diberi judul ‘Papan Iklan Di Depan Pintu’, tetapi menurut Yonas Suharyono, salah seorang dari Pentigrafis, tidak semuanya bisa ikut hadir membacakan karyanya yang termuat dalam buku kumpulan cerpen ini..

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, selama ini, yang sering tampil di Sastra Bulan Purnama adalah penyair dengan membacakan puisi karyanya sekaligus meluncurkan buku puisinya, tetapi bukan berarti cerpen tidak ada tempat di Sastra Bulan Purnama, karena beberapa kali karya cerpen dibacakan, bahkan diolah menjadi satu pertunjukan drama.

Kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari, pernah pula diluncurkan di Sastra Bulan Purnama dibarengkan dengan peluncurkan antologi puisi karya para penyair yang berbeda” kata Ons Untoro.

Cerpen dalam buku antologi cerpen ini, demikian Ons Untoro mengatakan, hanya terdiri dari 3 paragraf, sehingga sebenarnya tidak berbeda dengan puisi yang ditulis beberapa paragraf, namun bukan jenis pulis alit.

Selain dibacakan oleh para penulisnya, akan ada satu pertunjukan dari satu group yang dikenal dengan nama Spensa Voice Tiga. (*)

Lihat Juga

7 Tahun Sastra Bulan Purnama, Puisi di ‘Rumah Kita’

Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan kini telah memasuki usia 7 tahun, dan akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.