Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XX: Pancasila dan Kaum Muda Dewasa Ini
Obed Kresna Widyapratistha (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XX: Pancasila dan Kaum Muda Dewasa Ini

Tentang Gotong Royong dan Kolaborasi
Obed Kresna Widyapratistha

Prolog

Ada ritual rutin dalam setiap momen peringatan Sumpah Pemuda yaitu, perdebatan soal peran pemuda Indonesia masa kini. Hal tersebut menjadi sebuah wacana rutin tiap tanggal 28 Oktober, tidak terkecuali dalam peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda yang jatuh di tahun 2018. Namun, diskusi dan refleksi tahun ini mengenai peran pemuda dalam kehidupan bangsa agaknya mengalami kompleksitas dan pendalaman. Kondisi bangsa hari ini menjadi penyebabnya.

Setidaknya sepanjang lima tahun terakhir, ruang publik kita (di media sosial) mengalami kegaduhan luar biasa hingga mencapai titik mengkha-watirkan. Ujaran kebencian berbasis agama, suku, ras dan pilihan politik memenuhi ruang publik kita, dan menjadikannya sebagai arena perta-rungan untuk menjatuhkan sesama anak bangsa. Disintegrasi bangsa men-jadi taruhannya. Alih-alih meredam kegaduhan dan polarisasi yang kuat, elit-elit politik seakan menikmati kondisi ini sebagai kendaraan men-capai kepentingan politik pribadinya. Mereka sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Elit-elit politik, entah lupa atau tidak peduli, seharus-nya tahu bahwa kepentingan berbang-sa dan bernegara dalam naungan Indonesia jauh lebih penting daripada kepentingan politik pribadi/kelompok.

Kegaduhan di ruang publik yang didominasi oleh ujaran kebencian dan hoaks hanya menyisakan sedikit ruang bagi kita untuk berbicara pada isu-isu yang lebih substansial seperti pengentasan kemiskinan, kesehatan, kemajuan teknologi, pemberdayaan masyarakat dan lingkungan hidup, yang biasanya dilakukan oleh anak muda. Namun, dengan kondisi saat ini dimana mayoritas masyarakat kita terjebak dalam pertarungan politik diametral, kaum muda memiliki peran yang strategis untuk membawa poros baru di ruang publik. Poros baru terse-but adalah semangat melibatkan diri membangun Indonesia secara konkrit dengan pondasi Pancasila.

Generasi tua seringkali meragukan anak muda dalam hal kehidupan ber-Pancasila. Apakah keraguan itu benar? Namun sebelum masuk ke dalam jawaban tersebut, telaah kritis pertamanya adalah; Bagaimanakah Pancasila di mata kaum muda? Atau dengan kata lain, bagaimana anak muda menerjemahkan Pancasila dalam laku kehidupannya di ranah publik? Tulisan singkat ini mencoba menjawab pertanyaan di atas.

 

Kaum Muda

Kiprah kaum muda dalam sejarah Indonesia tidak bisa dipinggirkan. Aksi yang terekam dalam catatan historis nasional seperti yang terjadi di tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, dan 1998 adalah sekian dari aksi-aksi perubahan lain yang dilakukan oleh kaum muda. Menurut Naaf dan White (2012) diskusi mengenai tema kaum muda dapat dibagi ke dalam tiga perspektif, yakni perspektif kaum muda sebagai generasi, kaum muda sebagai transisi, dan kaum muda sebagai produsen dan konsumen budaya. Pertama, kaum muda dalam pendekatan generasi menekankan pada variasi karakter generasi kaum muda yang muncul karena setiap generasi kaum muda memiliki sisi historis dan konteksnya masing-masing.Pembacaan yang dilakukan oleh Hilmar Farid (2011) juga menyebutkan bahwa kaum muda adalah ‘floating signifier’ yang tak punya sifat tetap. Karakternya akan terus berubah dari masa ke masa.

Kedua, perspektif kaum muda seba-gai transisi memandang bahwa kaum muda merupakan salah satu fragmen dalam kehidupan manusia yang bersifat tetap dengan menekankan pada aspek biologis dan psikososial. Menurut Widhyharto (2014), argumen inilah yang menyebabkan ketergantungan kaum muda pada legitimasi dan inter-vensi kaum dewasa untuk memastikan kaum muda berjalan sesuai dengan konstruksi dan definisi yang pernah dilalui kaum dewasa. Ketiga, perspektif kaum muda sebagai produsen dan konsumen. Perspektif ini erat kaitannya dengan internalisasi nilai-nilai globali-sasi pada kaum muda. Argumen ini menjelaskan bagaimana kaum muda merespon budaya luar secara kritis.

Jika mengacu pada aturan resmi pemerintah yaitu Undang-undang (UU) No 40 tahun 2009 tentang Kepe-mudaan, kaum muda di Indonesia didefinisikan sebagai warga negara yang berumur antara 16 sampai 30 tahun. Ukuran ini berbeda dengan lembaga dan negara lain. UNESCO mendefinisikan pemuda sebagai mere-ka yang berumur antara 15 hingga 24 tahun. Namun, rentang umur ini bisa berubah di tiap negara. Indonesia, misalnya, di Malaysia, seseorang yang berusia antara 15 hingga 40 tahun bisa disebut sebagai pemuda. Sementara di Myanmar, pemuda adalah mereka yang berumur 16 sampai 18 tahun.

Tulisan ini menempatkan kaum muda sebagai aktor sentral. Menurut Widhyharto (2014), Kaum muda dianggap mewakili kuantitas atau jumlah yang banyak, kemudian subjek otonom (mampu mengambil keputusan dan melakukannya sendiri maupun bersama), kemudian juga mewakili nilai dan budaya (pencipta maupun peraga nilai-budaya itu sendiri).

Penelitian Deloitte berjudul “The 2017 Deloitte Millenial Survey”, kaum muda di negara berkembang termasuk di Indonesia saat ini memiliki tingkat optimisme yang tinggi terhadap kondisi sosial dan ekonominya. Menariknya, kaum muda atau mile-nial juga tertarik pada isu jaminan kesehatan, kelaparan, pengangguran dan kesenjangan pendapatan, dengan persentase mencapai 50 persen. Tentu data semacam ini menjadi pertanda cerah bahwa kaum muda di Indonesia memiliki sensitivitas dan kepedulian yang tinggi pada permasalahan di Indonesia.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

 

Intisari Pancasila: Konsep Gotong Royong

Dalam pidato pada rapat 1 Juni 1945, Sukarno menyebut:

 “Jikalau saya peras yang lima menja-di tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluar-gaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karya, satu gawe.

Marilah kita menyelesaikan karya, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pemban-tingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”

Gotong royong adalah suatu konsep dan praktik yang sangat penting bagi Sukarno. Sehingga ketika merumuskan Pancasila beliau berkeyakinan bahwa kelima sila yang ada dalam Pancasila jika diperas menjadi satu maka akan menjadi eka sila yaitu “Gotong Royong. Dilihat dari aspek kesejarahan, kata gotong royong pada awalnya muncul dalam masyarakat yang hidup dalam mata pencaharian sebagai petani tradisional. Ketika petani menggarap tanah, mereka memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk mencangkul tanah, menanam benih, mengatur saluran air, memupuk tanaman dan menyiangi tanaman. Demikian juga pada saat musim panen tiba. Warga masyarakat bergotong royong memetik padi, mengeringkannya, dan memasuk-kannya ke dalam lumbung. Gotong royong kemudian menjadi strategi dalam pola hidup bersama masyarakat di Indonesia untuk saling meringankan beban masing-masing pekerjaan.

Konsep tentang gotong royong kemudian dapat dimaknai lebih luas kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat yang dapat menjadi modal sosial untuk membentuk kekuatan kelembagaan di tingkat komunitas, masyarakat negara serta masyarakat lintas bangsa dan negara Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan. Hal tersebut juga dikarenakan di dalam gotong royong terkandung makna col-lective action to struggle, self governing, common goal, dan sovereignty. Da-lam perspektif sosio-kultural, nilai gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk perilaku atau tindakan individu yang dilakukan tanpa pamrih (mengharap balasan) untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama atau individu tertentu. Misalnya; petani secara bersama-sama membersihkan saluran irigasi yang menuju sawahnya, masyarakat bergotong royong mem-bangun rumah warga yang terkena bencana alam, dan banyak kegiatan lainnya (Pranandji, 2009).

 

Kolaborasi: Gotong Royong Masa Kini

Kaitannya dengan kaum muda dan perkembangan zaman, konsep gotong royong tetap hadir yang oleh kaum mada masa kini lebih dikenal dengan istilah: kolaborasi. Mengapa kolaborasi? Hampir 12 tahun yang lalu tepatnya Desember 2006, Dan Tapscott dan Anthony D. Williams meluncurkan sebuah buku yang menghebohkan dunia. Buku tersebut menjadi bahan pembicaraan di ratusan seminar dan diulas di berbagai media massa dunia. Buku tersebut berjudul Wikinomics: How Mass Collaboration Changes Everything. Tapscott dan Williams menjelaskan bahwa secara perlahan, kolaborasi mulai menyentuh skala yang lebih melebar, sebab ada solidaritas atau ikatan kerja sama yang meluas dalam lingkup kontrak sosial untuk tolong-menolong, berbagi keuntungan, juga berbagi risiko.

Tapscott dan Williams mengatakan pula, perkembangan akses teknologi informasi memudahkan orang mem-bangun kolaborasi, menciptakan nilai, dan berbagi kesempatan dalam dinamika yang membaru. Hal ini memberi ruang gerak yang lebih luas kepada setiap orang ikut serta menciptakan inovasi dan aset dalam aneka sektor ekonomi. Aneka kolaborasi secara terbuka pun mulai menciptakan aneka produk yang makin bermakna dan memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi. Kolaborasi secara massal dalam bidang ekonomi inilah yang dilihat sebagai dasar pijakan dari wikinomics.

Meskipun menitikberatkan pada sektor ekonomi, akan tetapi sebenarnya gagasan tentang wikinomics diambil dari suksesnya Wikipedia dalam hal manajemen dan diseminasi di bidang pengetahuan. Situs ensiklopedi tersebut memungkinkan siapa saja memberikan entry/masukan data ke dalam situsnya untuk menambah isi ensiklopedia online tersebut asalkan memenuhi ketentuan. Orang-orang yang mengurus situs tersebut, dalam berbagai versi, adalah orang-orang yang mungkin bukan merupakan “orang dalam” pembuat situs ini atau biasa disebut sebagai kontributor lepas yang antusias dalam menambahkan konten dari ensiklopedia di dunia maya ini.

Artinya menurut Tapscott dan Williams, sekarang dan di masa de-pan, individu-individu (khususnya kaum muda yang mempunyai ke-mampuan teknologi informasi dan komunikasi) akan lebih banyak diundang menyelesaikan persoalan-persoalan dunia. Di Indonesia hari-hari ini kita sudah menyaksikan bagaimana kolaborasi ini dijalankan oleh kaum muda di Indonesia ketika mereka mendirikan berbagai start-up seperti Go-Jek serta Bukalapak dan bentuk-bentuk kewirausahaan sosial lainnya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di Indonesia.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

Tentu ada yang harus kita kritisi dari praktik gotong royong kaum muda sekarang ini. Pertama, gotong royong yang dilakukan oleh kaum muda sekarang ini kebanyakan dilandasi oleh pragmatisme untuk sekadar me-nyelesaikan permasalahan. Mereka belum sampai pada tataran di mana gotong royong yang mereka lakukan dilandasi oleh Pancasila. Padahal ketika mereka bisa melakukan gotong royong yang dilandasi oleh Pancasila maka mereka akan dapat mempraktikkan kelima sila dalam Pancasila sekaligus. Ketika gotong royong mereka akan bekerjasama dan saling menghargai antar pemeluk agama/kepercayaan seperti sila pertama, mereka akan saling memanusiakan manusia seperti sila kedua, mereka akan berusaha memper-satukan antar komponen bangsa seperti sila ketiga, mereka akan belajar bermusyawarah seperti sila keempat, dan mereka akan saling bekerja sama mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti sila kelima.

Kedua, gotong royong yang dilaku-kan oleh kaum muda sekarang ini kebanyakan sifatnya masih sebatas pada hal-hal teknis-administratif saja padahal ketika gotong royong kaum muda tersebut bisa diberi daya dorong politik profetik dengan dimensi kebangsaan yang kuat maka gotong royong kaum muda juga dapat melahirkan kebi-jakan-kebijakan Pancasilais yang pro-rakyat. Jika gotong royong yang dilakukan kaum muda sekarang bisa menyertakan dua kritik tersebut maka Pancasila sebagai working ideology dapat benar-benar dipraktikan oleh kaum muda di Indonesia. Penulis bersama teman-teman di BEM KM UGM sekarang juga sedang dan terus berusaha untuk melaksanakan gotong royong yang berlandaskan pemahaman Pancasila dan didukung visi politik profetik dengan menjadikan BEM KM UGM sebagai hub antar komponen mahasiswa di UGM, hub antara ma-hasiswa dengan birokrasi kampus, serta hub antara mahasiswa dengan masyarakat luas.

 

Saran Untuk Pemerintah: Terus Munculkan Ruang-Ruang Untuk Bergotong-royong

Pemerintah seharusnya melihat kemunculan berbagai komunitas anak muda sebagai hal positif yang harus didukung untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di ruang publik. Dukungan pemerintah bisa diwujudkan dalam bentuk dukungan moral, finansial ataupun menyediakan fasilitas ruang kerjasama (collaborative space) di berba-gai titik. Sekarang ini kemampuan masyarakat khususnya kaum muda untuk menghadapi era disrupsi dan Revolusi Industri 4.0 melalui kolaborasi dimudahkan dengan munculnya banyak creative hubs dalam bentuk ruang kerja bersama (co-working spaces), yaitu tempat kerja berbasis keanggotaan, ruang tempat kerja dengan alat produksi bersama yang dikenal makerspace, atau ruang kreatif seperti galeri seni independen.

Munculnya banyak creative hubs di Indonesia khususnya di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta memungkinkan munculnya apa yang disebut oleh Richard Florida sebagai creative class atau kelas kreatif. Yaitu orang-orang yang menggunakan pikiran kreatifnya untuk memecahkan berbagai problem yang dihadapi dan menciptakan inovasi-inovasi. Selain itu, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, munculnya creative hubs dalam bentuk co-working/collaborative spaces berdampak cukup positif karena mengakibatkan menularnya konsentrasi antar penghuni ruang tersebut, menye-garkan otak, menciptakan suasana anti stres, dan menumbuhkan inspirasi untuk ide-ide baru.

Saat ini, yang paling penting untuk terus dijaga dari munculnya banyak ruang baru untuk bergotong royong ini adalah semangat sumpah pemuda karena tanpa semangat sumpah pe-muda maka ruang-ruang kolaborasi tersebut hanya akan menjadi ruang fisik untuk nongkrong belaka. Ruang-ruang pertemuan dalam bentuk fisik ataupun non-fisik yang bisa mempertemukan berbagai elemen kaum muda dari berbagai latar belakang dan potensi akan menjadi sarana mempertemukan gagasan dari kaum muda di Indonesia dalam nuansa persatuan untuk menye-diakan solusi-solusi bagi banyak permasalahan di negeri ini seperti ketidakadilan sosial, ketimpangan ekonomi, ujaran kebencian dan hoax, serta akses pendidikan dan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini adalah upaya membangun poros ba-ru kaum muda Indonesia di tengah suasana politik praktis yang menyeret masyarakat pada pertarungan elektoral elit politik. Semangat mempertemukan yang berbeda dan semangat memba-ngun Indonesia secara konkrit inilah yang juga menjadi semangat awal sumpah pemuda.

 

Merdeka!

 

Referensi

Farid, Hilmar, ‘Meronta dan Berontak: Pemuda dalam Sastra Indonesia’, Prisma, Vol. 30, 2011.

http://theconversation.com/co-working-space-mendorong-inovasi-dan-kesenjangan-digital-90826 diakses pada 26 Oktober 2018

https://pijarpsikologi.org/produktivitas-di-balik-coworking-spaces/ diakses pada 26 Oktober 2018

Pranandji, Tri, 2009, Penguatan Kelembagaan Gotong Royong Dalam Perspektif Sosio Budaya Bangsa: Suatu Upaya Revitalisasi Adat Istiadat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan, Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 27, No. 1, pp. 61-72.

Tapscott, D. dan Williams, A. D. 2008.Wikinomics, Kolaborasi Global Berbasis Web Bagi Bisnis Masa Depan. Jakarta: BIP.

Widhyharto, Derajad S., Kebangkitan Kaum Muda dan Media Baru. Jurnal Studi Pemuda, Vol. 3, No. 2, September 2014

Deloitte.The2017DeloitteMillenialSurvey. https://www2.deloitte.com. diakses pada tanggal 26 Oktober 2018.

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *