Rabu , 26 September 2018
Beranda » Seni & Budaya » Pameran Tunggal Yassir Malik, “HIBERNATED” 13 September 2018
Hibernated 2015 / acrylics, printmaking collage on canvas, 40 x 70 cm (ft. Ist)

Pameran Tunggal Yassir Malik, “HIBERNATED” 13 September 2018

Setelah sekitar dua puluh tahun “beristirahat”, perupa Yassir Malik kembali ke jagad seni rupa melalui pameran tunggalnya yang bertajuk ‘Hibernated’ pada hari Kamis, 13 September 2018 di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Pameran akan dibuka oleh Dr Edi Sunaryo, MSn.

Sebetulnya selama ini Yassir tidak benar-benar istirahat karena masih berkecimpung di dunia seni rupa sebagai pengajar seni rupa di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Namun memang pada akhirnya Yassir memilih untuk pensiun dini, pindah kembali ke Yogyakarta untuk lebih fokus berkarya. Dua pameran bersamanya pada tahun 2016 di Galeri Nasional dan Taman Ismail Marzuki menjadi pemicu yang membangunkannya dari tidur panjang untuk kembali berseni rupa. “Seni rupa bagi saya adalah ibadah untuk mengenal diri; sebagai manusia, suami, ayah dan makhluk bermartabat dari Sang Maha Pencipta,” simpul Yassir.

Tajuk ‘Hibernated’ dipilih Yassir sebagai potret diri yang terbangun tidur untuk kembali berproses kesenian. Sebagian besar karya pada pameran ini, kata Yassir, dibuat di atas media kertas dengan media cat akrilik/tinta cina, karya seni cetak grafis; lino cut, screen printing dan media campuran. Sedangkan tema yang digarap mengekpresikan kegelisahan mikro dan makro; tentang diri versus luar diri. “Bentuk seperti pohon yang muncul dalam karya seni grafis lino cut adalah representasi diri saya yang berusaha tegar dan kokoh, Kadang muncul bentuk manusia bersayap yang mungkin juga adalah keinginan saya untuk kembali pulang ke dunia seni rupa,” ujar Yassir. 

Kurator pameran Kuss Indarto berkisah, kalau dalam pameran tunggal Yassir kali ini nyaris semua karyanya memiliki kecenderungan kreatif abstrak, sejarah kreatif Yassir tentang hal itu sudah terlacak lebih dari 25 tahun lalu ketika masih kuliah. Yassir menempuh pendidikan di program studi Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1987-1994). Saat kuliah, menurut Kuss, karya-karya Yassir begitu menarik perhatian. Kuss melihat Yassir tidak main terabas untuk langsung “lari” ke seni rupa abstrak karena telah melewati proses yang panjang yang memungkinkan menempa kemampuannya dalam berkarya dengan pendekatan realistik.

Kuss teringat, karya-karya Yassir pada saat kuliah yang dibuatnya dengan medium silk screen atau hardboard cut—sebagai bagian dari teknis seni grafis atau printmaking art—cenderung banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk abstrak. Simple, pilihan warna baik blok atau pun gradasi yang terukur, cukup memberi warna yang khas di lingkungan program seni grafis di ISI Yogyakarta waktu itu. Gejala ini cukup menginspirasi pada lingkungannya, termasuk adik-adik kelasnya.

Yasir menyelesaikan studi program S1 di ISI Yogyakarta pada 1994, kemudian menempuh program S2 di De Monfort University, Leicester, Inggris. Saat kuliah di ISI Yogyakarta, ia pernah meraih penghargaan karya seni terbaik dies natalis ISI Yogyakarta (1990), dan  sempat membentuk Grafis Bengkel bersama seniman grafis Syahrizal Pahlevi dan Hotland Tobing. (*)

Lihat Juga

7 Tahun Sastra Bulan Purnama, Puisi di ‘Rumah Kita’

Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan kini telah memasuki usia 7 tahun, dan akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.