Jumat , 22 Maret 2019
Beranda » Sastra » Pameran Gonjang-ganjing Kesetiaan
Sabda Rahayu (ft. Ist)

Pameran Gonjang-ganjing Kesetiaan

Novel ‘Sawitri Oh Sawitri’ akan di launching di Tembi Rumah Budaya pada 14 Desember 2018 pukul 19.45 WIB, sebagai pengganti katalog pada pameran lukisan karya Herjaka HS dan pameran patung karya Sebastianus Damar Pradipta (Adip) dengan tema Gonjang-ganjing Kesetiaan. Menurut kamus Baoesastra Djawa WJS Poerwadarminta, Setya artinya tansah mantep ing pasuwitane, oragelem nglungani sing disuwitani senadyanta wis ora ana pamrihe. Berdasarkan maknanya, setya, setia itu mempunyai dua sifat yaitu utuh dan tuntas. Seperti yang dilakukan Sawitri dalam novel tersebut, bahwa kesetiaan yang dihidupi Sawitri adalah kesetiaan yang utuh dan tuntas. Utuh karena tidak mendua dan tuntas karena sampai dengan selesai.

Setiap orang dapat melakukan seperti yang dilakukan Sawitri. Seorang abdi negara misalnya, dapat dikatakan setia jika ia mampu melayani dengan baik, adil dan tidak korupsi sampai masa pensiun.

Kesetiaan ibarat kandungan emas yang dianugerahkan kepada manusia. Emas itu akan tetap kuning bercahaya walaupun berada di comberan. Ia tidak larut dalam air dan semakin bersinar di dalam api.  Seorang manusia dapat dikatakan setia ketika manusia tersebut sampai pada akhir hidupnya masih menyimpan dan menjaga kandungan emas yang di anugerahkan, tidak menukar gadaikan dengan hal-hal kenikmatan duniawi.

Simak juga:  Cerpen Tiga Paragraf di Sastra Bulan Purnama

Gonjang – Ganjing Kesetiaan adalah perjuangan dalam mempertahankan kandungan emas yang ada. Karena emas itu anugerah yang paling bernilai dalam hidup manusia, maka tidaklah mengherankan  jika banyak godaan dengan seribu iming-iming yang meggiurkan untuk merebut emas dari tangan manusia.

Seperti yang ditulis N Nuranto dalam kata pengantar, bahwasannya menjalani kasunyatan hidup adalah sebuah perjalanan pergulatan panjang di tengah banyaknya pilihan yang harus dihadapi. Dari pilihan yang mudah sampai pilihan yang tersulit sekalipun. Namun Sawitri justru mengambil pilihan jalan yang tidak mudah untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan. Di sinilah manusia ditempa untuk selalu tegar dan konsisten sesuai dengan kata batinnya.

Walaupun hidup manusia itu ada batasnya, keesetiaan itu sendiri  tidak ada batasnya. Ia hidup di masa lalu, di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Manusia yang menghidupi kesetiaan sampai di ujung hidupnya, niscaya ia bersama kesetiaannya bakal menembus waktu, untuk hidup abadi dan bertemu dengan Yang Empunya Kesetiaan.

Acara pembukaan pameran akan dipandu oleh Anissa Hertami dan di buka oleh Landung Simatupang, dengan terlebih dahulu membaca episode Novel Sawitri. Pameran bapak dan anak tersebut akan berlangsung sampai 7 Januari 2019. (*)

Lihat Juga

Puisi dan Geguritan di Sastra Bulan Purnama

Puisi dan geguritan bukan dua hal yang berbeda. Perbedaan dari keduanya hanya dari segi bahasa. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *