Beranda » Humaniora » Pak Zul, Membantu Sesama dengan Buku Bekas
Tumpukan buku bekas (ft. SEA)

Pak Zul, Membantu Sesama dengan Buku Bekas

JANGAN pernah memandang buku-buku bekas sebagai sesuatu yang tak berarti dan tak berharga. Dan, jangan mudah memandang buku-buku bekas sebagai barang rongsokan, yang layak dibuang. atau dijual kepada pengepul kertas-kertas bekas. Karena bagi sebagian orang, terutama penggemar atau pemburu buku-buku lama dan langka, buku-buku bekas bisa berubah menjadi ‘harta karun’. Bahkan, tak sedikit yang menempatkan buku-buku, terutama buku-buku lama, sebagai bagian dari harta kekayaannya.

Tak hanya itu. Buku-buku bekas bisa dijadikan ladang pengabdian dalam kehidupan. Ladang pengabdian untuk membantu sesama. Buku-buku bekas juga bisa menjadi sesuatu yang sangat membantu dan berguna, bagi mereka-mereka yang kebetulan tidak mampu membeli buku-buku baru karena harganya yang mahal.

Harga buku sekarang boleh dibilang lumayan mahal. Untuk satu buku tak sedikit harganya yang bisa untuk membeli beras 5 kg, 10 kg, 20 kg atau bahkan lebih. Harga buku sekarang memang cukup merepotkan bagi mereka yang kantongnya tipis dan penghasilannya pas-pasan. Tidak jarang ada yang mengeluh, “Untuk memenuhi kehidupan atau makan sehari-hari saja sudah repot, apalagi membeli buku.”

Untunglah masih ada yang membantu mereka-mereka yang ingin memiliki buku, tapi tak punya kemampuan membeli buku baru, dengan menyediakan buku-buku bekas. Dan, di Yogya, salah seorang yang telah mengabdikan dirinya untuk menyediakan buku-buku bekas itu antara lain Zulkifli Ibrahim.

Lelaki berusia 90 tahun kelahiran Lhouksemawe, Aceh, yang oleh para pelanggannya sering dipanggil Pak Zul itu, sudah menggeluti dunia buku, terutama buku-buku bekas sejak tahun 60-an. Ia datang ke Yogya ketika berusia 23 tahun, tepatnya tahun 1951. Setelah empat tahun di Yogya, di tahun 1955 ia menikah dengan seorang gadis Yogya. Pernikahan itu pulalah yang membuat dirinya kemudian memutuskan untuk terus menjalani hari-hari kehidupannya di Yogya.

Pak Zul pernah membuka lapak bukunya di berbagai tempat, di antaranya di kawasan Pasar Beringharjo, dan sejak tahun 1970-an hingga sekarang di deretan kios buku Gondomanan atau Jalan Brigjen Katamso, Yogya.

Boleh dibilang hidupnya setiap hari berada di tumpukan buku-buku bekas. Berada di antara tumpukan buku-buku bekas, buku-buku lama dan semacamnya, tentu akan sangat berbeda kondisinya dengan berada di antara buku-buku baru. Tumpukan buku-buku lama atau buku-buku bekas mengeluarkan aroma pengap. Karena letak lapaknya di pinggir jalan yang ramai, debu-debu yang menempel di buku-buku bekas itu tak bisa dihindari.

“Tapi inilah hidup saya. Inilah dunia saya sejak puluhan tahun lalu. Jadi bau pengap kertas atau buku-buku lama itu buat saya bukan sesuatu yang asing. Bahkan dari buku-buku lama yang berbau pengap inilah saya menghidupi keluarga dan membesarkan anak-anak. Saya merasa bangga dan bahagia dengan jualan buku-buku bekas ini. Selain bisa menghidupi keluarga, setidaknya saya juga bisa membantu mereka yang tidak bisa membeli buku baru karena uangnya terbatas,” kata Pak Zul suatu siang di bulan Juni lalu, di lapak buku bekasnya.

Ya, dari berjualan buku-buku bekas itu, Pak Zul bisa membesarkan tujuh anak-anaknya. Bahkan salah seorang anak lelakinya ada yang menjadi perwira TNI berpangkat Kolonel dan bertugas di Jakarta. Dari ketujuh orang anak itu, Pak Zul mempunyai 13 orang cucu dan 18 orang cicit.

 

Membantu Sesama

Kata-kata “membantu” bukanlah sesuatu yang berlebih-lebihan dari Pak Zul. Tapi dia sudah berulangkali melakukan sesuatu yang setidaknya bisa meringankan beban atau kesulitan orang lain.

Contoh sederhananya, beberapa tahun lalu, suatu sore ada seorang ibu berusia sekitar 40 tahunan datang ke kios bersama anak lelakinya yang masih sekolah di SD. Dia mencari beberapa empat buku pelajaran bekas untuk anaknya itu. Kebetulan semua buku yang dicari itu ada. Ketika giliran akan membayar harganya, wajah ibu itu kelihatan gelisah dan risau. Pak Zul mendengar si ibu berbisik kepada anaknya agar membeli dua buku saja dulu, karena uangnya tidak cukup. Tapi si anak tidak mau. Ia tetap menginginkan keempat buku itu. Dan, Pak Zul melihat jelas, bagaimana air mata ibu itu memerah, menahan tangis.

Pak Zul yang memahami kesulitan si ibu itu lalu cepat mengambil keputusan.

“Ibu sekarang punya uang berapa?” tanya Pak Zul.

“Hanya bisa beli dua buku saja, Pak,” kata ibu itu sambil menyebutkan jumlah uang yang dimilikinya.

“Ya, sudah. Kalau memang Ibu cuma punya uang segitu, ya, tidak apa-apa. Silakan Ibu bayar saja yang dua buku, dan dua buku lainnya saya hadiahkan untuk anak Ibu ini,” ujar Pak Zul sambil mengusap-usap rambut anak itu.

“Belajar yang rajin ya, Nak. Semoga nanti bisa menjadi orang pintar dan orang hebat,” katanya pula kepada anak tersebut.

Ibu itu berulangkali mengucapkan kata terima kasih dan menjabat erat tangan Pak Zul, sebagai rasa terima kasih yang tak terhingga karena telah dibantu, dibebaskan dari kesulitan untuk mendapatkan buku pelajaran sekolah buat anaknya, sekalipun itu hanya buku-buku bekas.

Kelihatannya sederhana. Hanya memberi buku. Dan, itu pun buku-buku bekas. Tapi buku, sekalipun buku bekas, bisa mengantarkan seseorang mencapai cita-citanya. Bisa menjadikan seseorang menjadi orang pandai dan berguna. Berguna bagi bangsa dan negaranya.

 

Pemburu Buku Lama

Kios atau lapak buku-buku bekas, selain banyak dikunjungi mereka yang kemampuannya terbatas untuk membeli buku baru, juga selalu menjadi incaran para pemburu buku-buku lama atau langka.

Kios buku bekas Pak Zul di Gondomanan, yang terletak tak jauh di sebelah selatan perempatan Gondomanan itu, termasuk salah satu yang sering disambangi para pecinta atau pemburu buku-buku lama.

“Selain dari Yogya sendiri, banyak juga pencari buku-buku lama itu yang datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Solo dan lain-lainnya lagi. Ya, saya tahunya setelah ngobrol dengan mereka. Biasanya kalau pencari buku-buku lama itu kalau melihat-lihat buku sampai berjam-jam. Bisa dari pagi sampai sore. Saya biarkan saja mereka membongkar-bongkar sendiri tumpukan buku-buku bekas itu. Saya biarkan mereka mencari dan membaca sepuasnya. Tak jarang, sudah berjam-jam mencari atau membongkar tumpukan buku, tak ada satu pun buku yang menariknya untuk dibeli. Ya, sudah. Tidak apa-apa. Saya tersenyum saja,” ungkap Pak Zul, yang diusianya setua itu masih tetap lancar bercerita.

Pak Zul menjalani hidupnya dengan sederhana. Hanya menjual buku-buku bekas. Keinginannya pun sederhana, semoga buku-buku bekas, baik itu buku-buku pelajaran sekolah, buku-buku untuk mahasiswa, maupun  buku-buku umum lain yang dijualnya itu bisa mengantarkan seseorang mencapai cita-cita dan meraih kesuksesan dalam hidupnya. Bisa membuat orang senang, dan terpenuhi keinginan untuk memiliki atau membaca buku. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Ageming Aji

SELIRIA EPILOGUS ADAKAH cita-cita bernegara bermuatan ekspresi kegembiraan para pemenang dan penginjakan kepada yang kalah? …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *