Senin , 19 Februari 2018
Beranda » Essai EAN » Pahlawan Radikalis Intoleran

Pahlawan Radikalis Intoleran

Ini bukan tulisan berikut yang meneruskan Halaqah ke-300, sesudah yang 309 dan 122. Mudah-mudahan ini “air kawah”-nya. Untuk anak-anak cucu-cucuku Maiyah.

Tidak bisa siapapun menuding orang atau pihak lain “Radikalis! Intoleran!”, karena tudingan itu belum bermakna, belum berkonteks, belum terletak di koordinat ruang waktu, dan secara komunikasi dia belum jelas titik akurasinya. Ibarat makanan, kata tudingan itu masih bahan mentah. Tunggu dulu. Nanti akan bermakna ketika jelas sayurnya lodeh atau rawon.

Kata radikalis dan intoleran tidak bisa berdiri sendiri. Anak-anakku Maiyah sudah hapal tidak bisa teriak “Babi itu Haram”. Sebab Allah sendiri membuktikan bahwa babi punya hak hidup, diizinkan berpopulasi. Babi baru haram kalau kalimatnya diteruskan “kalau dimakan oleh manusia”. Juga jangan bilang “Shalat Subuh wajib”, sebab sekarang ini waktu Lohor. Shalat subuh wajib pada rentang waktunya, yang Allah berhak menentukannya.

Maka kalau tuduhan intoleran dan radikalis dipaksakan untuk dilemparkan dan ditimpakan, akan berlangsung permusuhan yang bodoh dan pertengkaran yang memalukan, karena seakan-akan hal itu berlangsung tidak pada makhluk yang bernama manusia. Masyarakat Jin saja tidak sekonyol dan sedungu itu.

Tuhan sendiri Maha Radikal dengan ide neraka-Nya. Maha Intoleran kepada yang menyekutukan-Nya, yang membuat-Nya cemburu karena ada manusia menuhankan yang bukan Ia, padahal sama sekali tidak memenuhi syarat nalar, logika dan akal untuk dituhankan. Misalnya ia kasat mata, bisa digambar, atau mengalami hal-hal yang mencerminkan bahwa ia tidak Maha.

Peradaban manusia sebelum datang firman Tuhan saja bisa mencapai pengetahuan “tan kinoyo ngopo, tan keno kiniro”: tidak seperti apapun, dan bukan sebagaimana yang dikira-kira oleh siapapun kecuali Ia sendiri. Tidak juga oleh para Nabi dan Rasul. Kemudian pencapaian itu dilegitimasi oleh firman-Nya “laisa kamitslihi syai`un”, Ia tidak menyerupai apapun, apalagi siapapun.

Maka Allah intoleran terhadap kekonyolan itu, serta mengambil keputusan radikal: Tidak akan mengampuni kesalahan siapapun saja yang membuat-Nya cemburu-eksistensial. Tuhan Rabbun, Maha Pengasuh Maha Pengayom. Ia juga Maha Raja Maha Penguasa. Tetapi untuk kasus cemburu-eksistensial itu Tuhan tampil sebagai Yang Maha Disembah. Kita akan dipaksa “ndelosor”, ambruk, bersimpuh, bersujud menyembah-Nya.

Tak ada kompromi, tak ada toleransi, No Mercy, tak ada moderasi, tak ada liberalisasi, tak ada demokrasi, tak ada hak asasi. Kalau manusia berada pada posisi terhina martabatnya seperti itu, orang Madura bilang “bango` potèh tolang atebang potèh mata”. Daripada hidup tanpa harga diri, lebih baik berkalang tanah. Orang Jawa bilang “sadumuk bathuk sanyari bhumi”. Martabat pribadi tidak boleh disentuh oleh pun Negara atau Pemerintah.

Bapak kaum Brahmana, Ibrahim ‘alaihissalam, adalah teroris, radikalis dan intoleran bagi kekuasaan Fir’aun. Berhala-berhala sesembahan rezim Fir’aun ia hancurkan dengan kapak, ia sisakan satu untuk dikalungi kapak. Interupsi, perhatikan: menghancurkan berhala kemudian menyisakan satu dan meletakkannya di leher sisa berhala—bukankah dalam peperangan Allah memperkenankan “siyasah” atau taktik-strategi itu, yang di dunia modern kita menyebutnya manipulasi, kecurangan, tipudaya.

Kemudian, tentu secara substansial bukan berhala itu sendiri yang Ibrahim hancurkan, melainkan budaya pemberhalaan pada Fir’aun dan pemerintahannya. Sikap memberhalakan, menomorsatukan yang tidak nomor satu, memprimerkan yang sekunder, mentuhankan yang bukan Tuhan, mental mudah kagum sehingga mudah pula memberhalakan. Cara berpikir yang “cekak, ciut dan cethèk”, pendek ke depan, sempit dan dangkal—yang membuat manusia mudah kagetan, sehingga loyang diemaskan, “golekan” di-Satrio-Piningit-kan, terasa manis sedikit di-Maha-Gula-kan, pidato fasih sedikit di-Imam-Besar-kan, di-Imam-Mahdi-kan, di-Khalifah-Dunia-kan.

Tuhan memberitahukan Ibrahim adalah seorang penyantun yang hatinya penuh rasa iba sosial. La-halimun awwahun munib. Tetapi urusan berhala ia wajib intoleran dan radikal. Masa depan rakyat Mesir pasti hancur oleh peradaban pemberhalaan. Anak-anak cucu luluh lantak sejarahnya oleh penuhanan kepada yang sama sekali bukan Tuhan.

Itu yang dilihat oleh Ibrahim, dan itu yang kita tidak melihatnya hari ini. Tidak ada manfaatnya para cerdik pandai karena tidak sedikit pun berijtihad mengenai berhala-berhala abad 21 yang tidak lagi berwujud patung dan berupa batu-batu. Maka hari ini tidak ada kapak Ibrahim, karena terutama kelas menengah kepemimpinan politik dan pembangunan zaman hari ini, meyakin-yakinkan diri demi survivalbahwa Fir’aun adalah Maha Tuhan yang mereka beramai-ramai menyembahnya dan menjilatnya dengan berbagai alasan yang dirasional-rasionalkan dan diindah-indahkan.

Bahkan mereka sangat setia, tekun dan total menjadi pekerja Pasar Berhala, melalui berbagai macam cara dan skala pemilihan hingga ambengan program dan purakan proyek-proyek. Sangat bisa dimaklumi. Para patriot Zaman Now tidak takut mati, hanya takut tidak hidup. Kalau tidak ikut kendaraan Fir’aun, bagaimana bisa menghidupi keluarga. Itu semua sangat bisa dimaklumi, sebab andaikan mereka ambil kapak dan masuk ke lingkaran pusat kekuasaan untuk menghancurkan berhala-berhala, lantas ditangkap dan dibakar hidup-hidup, tidak ada yang yakin bahwa Allah akan bersabda kepada api: “Wahai api, menjadi dinginlah dan selamat bagi Ibrahim”. Di luar itu ada alasan yang membuat tidak terlalu memalukan kalau tidak Meng-Ibrahim. Yakni: kalau kita pakai kapak, dan berhala-berhala di Istana kita hancurkan—akan terjadi risiko yang konyol tapi mengerikan. Yakni perang horizontal antar rakyat yang sama-sama sudah dibutakan, ditulikan, serta dicuci otaknya sampai yang satu menuhankan Fir’aun, yang lain menuhankan Ibrahim.

Yang tersisa tinggal sejumlah kecil semut-semut. Menelusuri lorong, mengangkut setetes air di punggungnya. Ketika Malaikat menanyai mereka: “Hendak ke mana kalian membawa tetesan-tetesan air itu?”. Para semut menjawab: “Untuk turut memadamkan api yang membakar Ibrahim”. “Mana mungkin beberapa tetes air akan bisa memadamkan kobaran api raksasa itu?”.

Semut-semut menjawab: “Pasti kami tidak mampu memadamkan api itu, tapi pasti pula bahwa Allah melihat bukti bahwa kami berpihak kepada Ibrahim”.

Yogya, 26 Januari 2018

Lihat Juga

Kepala Besar Dunia

Sementara itu Markesot pergi menyepi. Tapi, ah, jangan-jangan orang yang menyepi adalah orang yang gagal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *