Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Sastra » Pada Sebuah Buku: “Hari Ini Tidak Ada Cinta” Motinggo Busye

Pada Sebuah Buku: “Hari Ini Tidak Ada Cinta” Motinggo Busye

Tiga

MATANYA sudah berat ingin tidur. Akan tetapi, mata itu pula yang masih berusaha untuk menangkap puluhan cahaya yang gemerlap sepanjang jalan raya. Lampu-lampu kota masih menyala, sekalipun garis-garis sinar fajar telah mulai melukai langit yang suram kelabu.

Ia berdiri di ujung sebuah jembatan. Jembatan itu bernama Jembatan Jenderal Sudirman. Dahulu, jembatan itu bernama Jembatan Gondolayu. Jembatan ini menjadi terkenal karena banyak orang-orang yang menghabisi hidupnya dengan meloncatkan dirinya sendiri ke bawah, ke batu-batu untuk kemudian hancur tanpa meninggalkan rupa lagi.

Negeri kami termasuk negeri yang mengenal kesaktian barangkali karena sejak jembatan itu diberi nama seorang pahlawan kemerdekaan, jembatan itu tidak lagi menampung korban-korban yang putus asa.

Ia masih berdiri di ujung jembatan itu. Dan, ia sama sekali tidak berpikir untuk meloncat ke bawah, sekalipun jiwanya sedang dibebani oleh putus asa. Ia berdiri saja memandangi lampu-lampu jalan yang masih menyala itu dengan sebuah pandangan yang layu. Tubuhnya dirasanya pegal-pegal. Kemudian, diregangnya kedua tangannya sehingga tulang-tulang punggung belikatnya berderak seperti remuk, dan kemudian ia pun menguap. Memang keletihan berjalan semalam suntuk tanpa tujuan adalah penyiksaan diri sendiri yang membosankan diri sendiri pula. Tetapi, ia harus berjalan. Ia harus meninggalkan rumah-rumah yang terletak agak ke dalam di Jalan Nagan Kulon itu!

Rumah itu – pikirnya – rumah itu telah empat tahun membikin diriku seperti orang diburu-buru tagihan pajak. Hal itu merupakan kewajiban dan siksa, tetapi juga utang yang harus dibayar sewaktu ditagih. Dan, aku – pikirnya pula – seperti seekor lembu betina yang diperah susunya sekuat tenaga oleh pemiliknya.

Kepalanya diangkat memandang langit. Langit sudah berubah seperti rangkuman cincin merah suasa yang diasah. Berapa permata pada paduan cincin itu tampak gemerlapan, dan itu adalah bintang-bintang sakti dari alam!

Tiba-tiba ia mendengar suara. Burung-burung bernyanyi. Suara lagi. Beberapa perempuan desa yang berjalan menekur dengan beban sayur-mayur di punggungnya, bercakap-cakap dengan bahasa desa, menuju kea rah Tugu. Jiwanya merasa disindir oleh derap langkah perempuan-perempuan desa itu. Mereka benar-benar hidup, pikirnya, mereka benar-benar menghirup hidup sedari pagi hingga sore. Mereka pemetik buah-buahan hidup yang sebenarnya. Mungkin hidup mereka tak begitu meriah seperti halnya diriku yang minum susu pagi-pagi, bisa makan kenyang semaunya, dan bisa meminta apa saja yang kuminta, tetapi juga bisa datang sendiri tanpa diminta.

Sekarang, ia melihat seorang lelaki naik sepeda, mengayuh pedal sepedanya dengan kencang menuju Tugu! Orang itu seperti dikejar oleh sesuatu. Kemudian, ketika ia akan menoleh ke kiri lagi, melintas di hadapannya benar-benar seorang lelaki dengan tasnya yang keriput, berjalan kaki, menuju Tugu. Lelaki itu agaknya telah tua, seperti juga tasnya itu. Tetapi, ia berjalan dengan langkah serdadu seperti memburu sesuatu.

Simak juga:  Etnotalentologi

Dan, ia – ia masih berdiri di ujung jembatan itu. Ketika ia akan memikirkan dirinya, sebuah dering bel becak yang panjang bersemangat bersama becaknya mendesing cepat. Becak itu memuat buah-buahan, sayur-mayur, dan di atas sayur-mayur itu duduk seorang mbok dengan sugi di mulutnya  menahan  tawa dengan kedua tangannya memegang serat-erat serta tukang becaknya mengayuh sambil tertawa. Menuju Tugu. Menuju Tugu. Menuju Tugu. Baru saja ia akan menelan keluhan, terdengar klakson truk yang berteriak-teriak, mendesing cepat tubuh mobil raksasa itu dari arah Solo – menuju Tugu.

Semua menuju Tugu, pikirnya. Semua berjalan tergesa di pagi fajar itu menuju Tugu. Tetapi, ia masih berdiri di situ. Jika ditarik garis ke selatan dari tempat ia berdiri itu, tampaklah sebuah mesjid. Mesjid itu bernama Mesjid Syuhada. Ditarik lagi garis ke selatan, kelihatan sebuah Gereja Katolik. Tetapi, ia masih berdiri di atas jembatan Jenderal Sudirman. Kesalnya timbul. Semua bergerak, tetapi ia diam! Semua ada tujuan, tetapi ia sejak semalam tidak bertujuan.

Sebuah becak menghampirinya. Tukang becak menegurnya.

“Ke mana Mas?” Dalam bahasa Indonesia. O, tukang becak ini tahu, aku dari Sumatera rupa-rupanya. Ya, aku dari Sumatera, aku dilahirkan di Medan. Aku anak Medan. Aku dibesarkan oleh orang tuaku yang pemarah itu di Medan, diasuh mereka, dan setelah hamper dewasa aku dibuang ke Pulau Jawa, ke kota ini – memasuki sebuah universitas – Universitas Gajah Mada!

“Ke mana Mas?”

Seperti disergap oleh kehendak yang tak dikehendakiny, ia menjawab, “Nagan Kulon.”

“Sedoso,” jawab tukang becak itu.

“Sedoso? Tiga ringgit ya?”

“Monggo, Den.”

Ia sekarang sudah naik di becak. Dan, becak itu juga menuju Tugu. Menjelang simpang Tugu, lampu-lampu jalan pun berhenti menyala. Sesampai di Tugu, becak menuju ke selatan, terus ke selatan,terus ke selatan dan kemudian berhenti di depan sebuah rumah batu, berpagar batu, berpintu jeriji besi yang masih terkunci.

RUMAH ITU sebuah rumah batu berbentuk rumah model Jawa dengan sebuah pendopo sebagai beranda, terletak menjorok ke dalam dengan sebuah pekarangan yang luas didindingi pagar tembok yang tinggi. Bila orang memasukinya, orang lebih dahulu harus membuka pintu yang dijeriji oleh besi-besi dengan ukiran lama, dan bila kaki dilangkahkan menghadapi rumah itu, kesuraman pun mencekik.

           
Sekadar Catatan

Tulisan di atas ini merupakan sebagian dari cerita di dalam novel berjudul “Hari Ini Tidak Ada Cinta” karya novelis Motinggo Busye. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1963. Kemudian pada tahun 1999 diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka.

Simak juga:  We Ar{t}e Here, Pameran Lukisan di Tembi

Motinggo Busye lahir 21 November 1937 di Kupangkota, Lampung . Ayahnya bernama  Djalid Radja Alam yang merupakan putra Kepala Nagari Matur yang bernama Idris Datuk Sakti, yang terkenal di Minangkabau sebagai menantu dari Sentor Alibasyah Prawirodirjo, tokoh terkenal dalam Perang Diponegoro. Motinggo meninggal dunia pada 18 Juni 1999 di Jakarta.

Sebagai pengarang atau novelis, Motinggo tumbuh di Yogyakarta sejak masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum UGM. Ia tumbuh di Yogya bersama sejumlah penulis dan seniman kenamaan seperti Kirjomulyo, Nasjah Djamin, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra dan sejumlah nama terkemuka di dunia kepenulisan lainnya.

Namanya kemudian semakin berkibar di khasanah kepenulisan novel, setelah pindah ke Jakarta. Terutama dalam dunia novel-novel populer. Bahkan, ketika pindah ke Jakarta, gaya kepenulisan Motinggo seakan kehilangan ‘roh Yogya’nya. Padahal, dalam gaya kepenulisan semasa di Yogyakarta itulah terlihat jelas ‘kedalaman’ dan ‘kekuatan’ Motinggo sebagai seorang penulis novel.

Novel “Hari Ini Tidak Ada Cinta” merupakan karya Motinggo yang ditulisnya tahun 1963 semasa masih tinggal di Yogyakarta. Karena ditulis semasa masih tinggal di Yogya, maka ‘gaya Yogya’nya atau ‘roh Yogya’nya kentara sekali. Novel ini berkisah tentang seorang pemuda, bernama Burhan, yang sedang mencari cintanya. Burhan yang menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada ini, di kampus terkenal sebagai seorang playboy. Tapi kemudian, ketika kiriman uangnya dari kampung terhenti, ia pun terperangkap dalam penjara cintanya Jeng Ri, perempuan juragan batik. Ternyata cinta Jeng Ri begitu besar kepadanya. Burhan pun kemudian menyadari, sesungguhnya ia pun mencintai Jeng Ri. Tapi, kesadaran itu datang terlambat….

Suasana Yogya di tahun 60-an terasa jelas, dan begitu gamblang ditampilkan oleh Motinggo. Mereka yang pernah merasakan atau menikmati suasana Yogya di tahun 60-an itu, pasti akan tersentuh emosi kenangannya bila membaca novel ini. Motinggo begitu piawai dalam menyentuh dan menghadirkan suasana yang mungkin dirindukan banyak orang yang pernah merasakan bagaimana nyamannya Yogya di tahun 60-an.

Motinggo Busye menulis puluhan judul novel, baik sastra maupun populer, di antaranya Malam Jahanam (1962), Tidak Menyerah (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Sejuta Matahari (1963), Penerobosan di Bawah Laut (1964) dan Titian Dosa di Atasnya (1964).

Selain itu juga menulis sejumlah lakon drama, seperti Badai Sampai Sore (1962), Nyonya dan Nyonya (1963) dan Malam Pengantin di Bukit Kera (1963). ***   (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

We Ar{t}e Here, Pameran Lukisan di Tembi

PRESS RELEASE Pembukaan pameran dilakukan Jumat. 1 Juni 2018, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *