Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XX: Nom
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS

GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami dan bapak. Cukup dewasa untuk menjadi prajurit. Sudah sangat matang buat bertempur. Ya, mungkin saja dia belum cukup bijak dalam berpikir, arif dalam merasakan goncang dunia. Gugur secara tragis justeru karena tekad dan keberaniannya. Akan tapi pula, dia bukan seorang fatalis. Bukan pencari surga karena mati sahid. Dia hanya seorang kstaria. Dia hanya seorang pem-bela orangtua. Dia hanya seorang yang berperang untuk kemuliaan wangsa. Dia rela mati tersanga puluhan lancip sejata, perih luka-luka nganga, dan kucur alir amis darah. Tidak meratap, tidak menghiba. Ke manakah rasa sakit? Tersimpan dalam keberanian spirit dan kegilaan jiwa muda.

Abimanyu Angkawijaya, Bambang Pengalasan. Dalam episode Ranjaban serial Baratayuda, dia mewakili jiwa muda. Tentu, sebagai tradisi hero masya-rakat tradisi, medan piwulang yang mereka gelar adalah heroisme perang. Berjuang identik perang dan perang jadi contoh mudah buat perlihatkan kecerdasan emosi kaum muda: berani, spontan, bergelora, penuh semangat tanpa kenal lelah, dan terus mencoba. Bagaimana jika kaum muda tidak da-lam kancah perlagaan perang tanding kekuatan badan, senjata, dan ajian? Medan mereka perlagaan kompetisi keahlian dan keterampilan. Tak bisa lain, mereka musti menguatkan budaya sanding, menajamkan budaya saing, dan memperbanyak pengalaman tanding. Berlaga di galangan dan genangan tarung pencapaian tertinggi, atau prestasi. Medan perlagaan sudah berubah, bertansformasi dari yang bersifaat keragaan, bersifat material, menjadi pertarungan heroisme intelektual tanpa kekerasan badan. Mun-cullah “kekerasan intelektual”, kekerasan ujuran kebencian dan perlakuan dzalim atau persekusi mental.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Jujur, Hebat!

Oleh sebab itu, dalam khazanah bu-daya, tenaga muda sering dikatagorikan ke dalam “kadang wiranem” –tenaga-tenaga muda– yang dalam banyak kesempatan terkategori ke dalam premis nom dan nom-noman. Dalam vegetasi dan satwa botaniah, Nom itu memiliki fungsi penting, layak lepas, dan layak konsumsi. Tunas daun muda, layak sayur dan lalapan. Kambing muda, layak sate. Burung dara muda layak masak rempah. Ayam mudha pantas panggang. Dalam terminologi alih generasi, Nom itu ladang persemaian subur. Dalam bahasa gerakan sosial, Nom adalah api dan obor tempat garis perjuangan ditaburkan. Kata Bung Karno, “ …beri aku sepeluh pemuda, nis-caya akan kugoncang dunia !!!”

Tentu, Abimanyu boleh disebut pahla-wan bagi wangsanya, tetapi penggerakan tenaga muda dalam wilayah gerakan kebudayaan, bukan buat “dikorbankan” untuk dan atas nama apa saja. Di dalam dada Nom harus dikobarkan api perjuangan, karena mereka itu potensi dan peluang kepemimpinan masa depan untuk suatu perubahan menuju kehidupan yang makmur dan berkeadilan. Tak perlu ada “mitologi pulung” atau “wahyu tumurun” dalam episode hero para Nom. Tiada perlu mengulang “tragedi Abimanyu.”

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Kekuasaan, Demokrasi dan Pancasila

 

PURWADMADI ADMADIPURWA

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *