Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Angkring Mataraman » Ngayogjazz, Konten Jiwa Global Ramuan Kuasa Nilai-nilai Lokal
Suasana Ngayogjazz 2018 di Panggung Jagabaya (ft. dok. FB @ngayogjazz)

Ngayogjazz, Konten Jiwa Global Ramuan Kuasa Nilai-nilai Lokal

Membukti gotong royong dan kemerdekaan inisiatif, kekuatan nilai-nilai lokal jadi pelumas, pelunak, dan peredam penetrasi kuasa budaya dominan. Kendali hasrat transaksional menjadi kebiasaan transformasional.
Ketika Kika Sprangers Quintet dari Belanda, atau saat Yuri Mahatma Quartet sedang mencoba mikropon untuk pentas malam, pagi itu sejumlah warga Gilangharjo tampak mulai menempatkan diri pada ketugasannya. Malah tanpa rikuh ada yang naik pohon, memangkas ranting karena akan mengganggu tampilan pentas musik jazz. Begerak pula puluhan anak muda relawan yang menempatkan diri pada titik ketugasannya. Belasan teknisi tata suara pada tiap titik panggung, sejak pagi sudah bekerja di belakang board mixer kendali tata suara.

Warga yang membuka warung dan lapak daganganpun tampak sibuk bersiap. Rute melalui gang kampung, lokasi parkir, rumah rehat milik warga mulai hidup. Tata rupa bambu siap di beberapa sudut gang. Lapak dan kios Pasar Jazz pun mulai terisi. Dentum tata suara coba musik mulai terdengar. Sejak pagi Desa Gilangharjo sudah bingar, sementara di aula Balai Desa, ada acara resepsi pernikahan. Helat agenda tahunan, Ngayogjazz pun digerakkan pada hari penentuan setelah berbulan-bulan bersama warga desa, “Panitia” Ngayogjazz bergotongroyong memikul resiko gelar budaya taraf internasional ini. 

 

Eratan Relasi Sosial

Ngayogjazz didesain menjadi peristiwa kebudayaan, mengembangkan dilaktika sosio-kultural. Relasi sosial dalam masyarakat tradisi banyak yang masih menganut patronasi pada figur. Pergeseran penting bisa terjadi jika dibangun suatu konstruksi sosial yang menemukaan kesamaan kepentingan yang ditegakkan atas dasar partisipasi dan kontribusi masyarakat pendukungnya. Kepentingan bersama terwakili oleh jalinan kerukunan dalam kegotongroyangan mencapai kesejahteraan kultural secara bersama-sama. Kesejahteraan kultural macam apa yang dicari oleh Ngayogjazz dari tahun ke tahun dari sejak kelahirannya, 12 tahun yang lalu?

Simak juga:  50 Orang dari 5 Negara Kunjungi ke Desa Wisata Pentingsari

Ngayogjazz, peristiwa musik yang selalu diolah dan digerakkan bersama-sama masyarakat pedesaan menjadi peristiwa kebudayaan untuk kesejahteraan kultural. Tahun 2018 berlangsung Sabtu (17/11) di Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DIY. Musisi jazz lokal, nasional, dan internasional “sukarela” datang, tampil, dan mengisi panggung dalam balutan desain peristiwa kebudayaan tembayatan. Bukan soal pengembangan budaya tanding dengan seni-seni musik berbayar, melainkan pemeliharaan budaya sanding dalam berseni (musik) guna maraih martabat pada kedigdayaan kerjasama menyetara, memulang pada haribaan ibu budaya, pangkuan rakyat semesta. Pada galibnya, seni bersama rakyat adalah peristiwa “ngejazz yang nge-jam” betul. 

Kerjasama para kreator dalam banyak bidang keahlian, tidak sebatas keahlian musik, dengan rakyat setempat. Ngayogjazz tumbuh menjadi kerja kebudayaan partisipatif dalam menjawab pertarungan tajam elitisasi, eksklusifikasi musik, dan martabat budaya arus besar dengan mempertaruhkan pencapaian kesejahteraan kultural sebagai gerakan perimbangan. Ngayogjazz, mencari keseimbangan titik temu dignity musik, jazz, dan seni pertunjukan dalam neraca atau petimbang adil, setara, dan berdaya guna. Ngayogjazz bukan perlawanan atas kuasa dominan seni elitis dan eksklusif, bukan pengimbang glamouritas jazz, bukan penolak tradisi kebintangan dalam musik, melainkan pertaruhan budaya sading sebagai pilihan realitis bahwa peristiwa musik bukan sekadar transaksional atas dasar deal-deal kontrak bisnis.

 

Transformasional

Peristiwa musik adalah peristiwa kebudayaan yang memperhatikan proses keterlibatan kekuatan seluruh komponen dan eksponen yang ada dalam masyarakat. Bukan suatu permufakatan transaksional melainkan kesepakatan transformasional, saling memberi dan menerima, saling mendengar dan bicara, saling mendapatkan tanpa harus kehilangan.

Sebagai perstiwa musik jazz, Ngayogjazz 2018 tentu disiapkan panggung permainan musik jazz di 6 titik terpisah, yang akan terisi tak kurang 40 kelompok musik, ratusan seniman pelosok Nusantara, termnasuk Tompie, Idang Rosjidi, Syaharani, Tohpati, Mergie Sigers dan dari Belanda (Kika Sprangers Quintet), Perancis (Omza Quintet), Spanyol (Rodrigo Parejo Quartet), dan musisi Italia (Mikele Montolli). Termasuk, tampilkan seni warga setempat. Di panggung-panggung itu juga digelar “reriungan jazz” berupa jamming season.

Dibuka Pasar Jazz yang menggelar puluhan stand penjualan produk kreatif warga setempat dan partner Ngayogjazz. Ada pula worskshop artistik. Suatu yang menarik, “didirikannya” Lumbung Buku, yang diurun dari para pengunjung Ngayogjazz karena mereka masuk dan menonton diimbau membawa donasi buku tulis atau buku cerita anak. Secara simultan dan bersama musik jazz dimainkan serta diseling dengan arak-arakan pawai Ngayogjazz keliling Desa. Suatu “pesta rakyat” dalam wujud peristiwa seni berdimensi kebudayaan untuk suatu kesejahteraan kultural.  

Simak juga:  Berapa Jumlah Hasan di Desa?

Sejak awal, para penggagas Ngayogjazz, Djaduk Ferianto, Aji Wartono, Hattakawa, Vindra Diratara, Hendy Setiawan, Ahmad Noor Arif dan Bambang Paningron, pada 2006 lalu, mencoba merekonstruksi ulang jazz dengan cara yang aeng sehingga musik jazz  diterima kalangan lebih luas, membumikan dan membersahajakan musik jazz kepada dan bersama rakyat. Peristiwa musik jazz menjadi inklusif, sebagaimana seharusnya suatu peristiwa kebudayaan berlangsung. Ngayogjazz menggalang kekuatan strategi politik kebudayaan yang berbasis pada kekuatan bersama rakyat di berbagai pelosok, tidak hanya untuk kesejahteraan ekonomi dan sosial warga perkotaan, namun juga untuk kesejahteraan kultural karena sebab-sebab kegotoroyongan dari mulai ide, proses, mencapai produksi dan bersama-sama menikmati daya aruhnya. Ngayogjazz, secara kebudayaan, nendang dan ngefek. (pdm)

Lihat Juga

50 Orang dari 5 Negara Kunjungi ke Desa Wisata Pentingsari

50 Orang tamu dari 5 negara  yang tergabung dalam delegasi MIKTA (Mexiko, Indonesia, Korea, Turkey …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *