Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XI: Negeri ini Tidak Bisa Dibangun Hanya oleh Laki-laki
Drs HM Idham Samawi (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XI: Negeri ini Tidak Bisa Dibangun Hanya oleh Laki-laki

Untuk yang ke-11 kali, saya harus menyampaikan apresiasi kepada teman-teman, paguyuban wartawan sepuh, sudah melangkah putaran ke-11 menyelenggarakan satu diskusi yang intinya, muara akhirnya berbicara tentang kebangsaan. Dan hari ini menurut saya, kegiatan seperti ini sangat strategis, di mana bangsa ini betul-betul di persimpangan jalan.

Di beberapa kali pertemuan saya sampaikan kalau 5 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu orang atau organisasi atau golongan mau mengganti Pancasila takut-takut gak berani di permukaan, tetapi hari ini sudah ada yang terang-terangan menyatakan akan mengubah, punya niat akan mengganti Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sebetulnya ketika diskusi, mereka kita ajak ngomong, salahnya yang mana lima itu, atau kalau yang lima itu dianggap kurang, perlu ditambah kayak apa, susah mereka bisa menyampaikan. Beraninya ya kalau di forum-forum yang hanya mereka sendiri saja.

Sekali lagi Pak Oka, apresiasi dan saya kira seperti diskusi kita yang pertama atau kedua saya sampaikan waktu itu, kalau mau berbakti kepada negeri, kepada bangsa, kepada negara, kan teman-teman ini sudah tua-tua dan sebagainya, dan saya bilang, kita berhenti mengabdi berbakti kepada bangsa ini ketika kita telah dikubur. Tapi sebelum itu kita bisa berbuat bagi kepentingan bangsa dan negara.

Di beberapa pertemuan seringkali saya menyampaikan bahwa, terutama kalau berbicara di depan anak-anak muda, mahasiswa, saya tanyakan, adik-adik pernah tahu tidak di dunia ini ada negeri yang namanya Uni Soviet. Tahu Pak Idham. Apakah sekarang Uni Soviet masih ada di peta dunia. Hilang Pak, ndak ada lagi. Pernah ada negeri yang namanya Uni Soviet tapi hari ini cerai-berai. Padahal Uni Soviet itu kalau kita berbicara tentang kebangsaan ya, Uni Soviet itu dibangun kurang dari 100 bangsa atau ada yang mengatakan suku bangsa, kurang dari 100 budaya, kurang dari 100 bahasa. Cerai-berai. Lalu saya tanyakan lagi, pernah dengar ada negara yang namanya Yugoslavia? Pernah. Apakah sekarang masih ada di peta dunia. Tidak ada. Padahal Yugoslavia itu dibangun kurang dari 30 bangsa, kurang dari 30 budaya, kurang dari 30 bahasa. Cerai-berai.

Nah kita Indonesia yang dibangun lebih dari 1.000 suku, atau 1.000 bangsa lebih dari 1.000 bahasa, tapi kok sampai hari ini alhamdulillah Sabang-Merauke, barat timur, utara selatannya adalah Miangas pulau Rote, masih utuh. Nah bahasa guyon saya, saya siap diskusi 30 hari 30 malam dengan siapa saja, itu semua terjadi karena kita berdasarkan Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pancasila.

Lalu lanjut ada yang bertanya, begini, Pak Idham kita sudah merdeka lebih dari 72 tahun, dengan dasar Pancasila, dengan ideologi Pancasila tapi, kok kita masih terpuruk di dunia ini. Bahkan ada yang mengatakan begini, wah Pak Idham saudara kita sekarang ini masih jadi batur (asisten rumah tangga) di Malaysia, di Singapura, itu, padahal kita pakai Pancasila. Nah saya sampaikan, kapan sih Indonesia kita betul-betul secara murni dan konsekuen melaksanakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dengan dasar Pancasila tadi.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Saudara-saudara sekalian, seperti misalnya, mohon maaf hari ini, demokrasi kita semakin tidak jelas. Kalau orang kulonan mengatakan semakin tidak cetha Pak Idham. Kita mengenal one man one vote, kita mengenal voting dan sebagainya, itu baru kemarin-kemarin ini saja, begitu. Padahal sila ke-4 kita sudah jelas bunyinya. Saudara-saudara sekalian, itu salah satu indikasi bahwa kemarin itu kita, saya berani mengatakan kita sedang salah jalan, berjalan di tempat yang salah. Tidak sesuai dengan ketika bangsa ini menyatakan kemerdekaan. Mohon maaf, kita sekarang ini sudah ke arah demokrasi, apalagi demokrasi ekonomi kita, demokrasi, nuwun sewu, asu gedhe menang kerahe. Kita manusia yang diberi akal dan diberi budi oleh Allah SWT, Tuhan YME masak mau seperti itu, berperilaku seperti yang terakhir ini saya kira bangsa Indonesia sepakat semua, statemen-nya Presiden Amerika yang nuwun sewu rada ora waras, iya, menantang arus dunia, iya karena apa, mereka itu demokrasi yang asu gedhe menang kerahe. Nah mestinya harus ada koreksi-koreksi terhadap apa yang setelah reformasi, empat kali amandemen UUD kita dan ini kita dibodohi, apa pembodohannya? Pasalnya tetap 37, tapi isinya, ratusan itu. Jadi supaya mengelabuhi bahwa ini tidak mengubah, hanya ngamandemen saja, itu pasalnya tetap 37. Tapi satu pasal a, b, c, d, e, f, g, h, i, seperti membuat UUD baru. Yang sangat memprihatinkan negeri yang begitu luas yang mempunyai warga yang banyak perbedaan tidak punya haluan negara. Bangsa ini sekarang dibangun setiap lima tahun tergantung visi misinya Presiden. Visi misi presiden terpilih itu yang RPJM, tapi kita tidak pernah bicara Indonesia 25 tahun ke depan, Indonesia 50 tahun ke depan, mau jadi apa bangsa ini.

Kembali pada soal kebangsaan ini, menjadi sangat mendasar sekali. Mestinya setelah 17 Agustus 45 kita tidak lagi ada ungkapan aku wong Jawa, Sumatra dll. Itu sudah harus selesai urusan-urusan kayak begitu. Apalagi itu baru urusan suku dan seterusnya, apalagi kalau kita berbicara urusan agama dan seterusnya. Kalau kita berbicara kebangsaan dikaitkan dengan perempuan, mohon maaf saya kaget ketika ada seorang suami mengenalkan istrinya, menika kanca wingking, edan banget itu, betul, itu saya sering mendengar itu. Seorang suami mengenalkan istrinya kepada tamunya, begitu dengan istilah kanca wingking. Edan banget ini. Padahal kita semua mestinya sepakat negeri ini tidak akan selesai hanya dikerjakan oleh laki-laki saja, itu pasti. Sekarang, ini contoh yang simpel sekali, suatu ketika saya masih bupati, saya datang ke keluarga ibu-ibu, ini perempuan kaitannya dengan kebangsaan. Saya tanya, “Menawi enjing putra-putri badhe bidhal punika panjenengan siapaken sarapanipun punapa njih?” (saya tanyakan, sarapannya disiapkan apa?) Mie instan. Itu juga sering saya tanyakan di dalam pertemuan-pertemuan. Mie instan. Lalu saya tanya,”Ibu ngertos mie niku wau le ndamel bahan bakune napa?” Gak bisa njawab. Ya karena nuwun sewu ibu-ibu di dusun begitu, nah kula criyosi gih Bu, niku bahan bakune gandum. Gandum niku boten saged ditanem wonten Indonesia. Gandum niku tanaman 4 musim. Indonesiane awake dhewe pinten musim Bu? Kalih. Niku nek jenengan, putra-putri jenengan niku saben wayah panjenengan siapaken dhaharan menika bahan bakunya gandum, nyugihke John Lenon, nyugihke Michael Jackson, nyugihke Katty Parry, dan sebagainya. Mbok ya sing didhahar nyugihke Pawiro, Suwito, Juminten, Asep, Made, Wayan, sedulure awake dhewe. Ini konkrit ini. Tidak pernah ada pembelajaran kepada ibu-ibu kita. Perempuan-perempuan kita. Ini menyangkut sekian puluh juta anak-anak yang tadi yang mengonsumsi gandum.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Ageming Aji

Ketika saya bertemu Menteri Pertanian, saya sampaikan, ini juga salah kita juga, ketika negara tidak melakukan riset terhadap makanan-makanan olahan yang bahan bakunya dari produk lokal. Ini kita bicara kebangsaan lho. Kita bicara tentang bagaimana cinta kepada tanah air, cinta kepada bangsa, cinta kepada negara, jangan hanya retorika. Kalau aku ini cinta tanah air, bangsa, wujudkan dalam kehidupan keseharian dan peran seorang perempuan itu sangat luar biasa sekali. Hanya ini yang belum dilakukan penggalian, begitu. Yang pasti sejak bayi, balita, oleh ibunya yang disajikan setiap hari bahan-bahan yang bahan bakunya dari gandum, si anak ini, bagaimana tumbuh rasa cinta tanah airnya, kepada bangsanya, kepada negerinya. Ini urusannya kelihatannya urusan sepele. Tapi ketika kita bicara APBN, impor gandum ini puluhan trilyun. Tadi yang saya katakan membuat kaya orang luar negeri.

Saya kira kita sudah sepakat kalau kita berbicara kebangsaan, maka yang paling bisa cair itu kalau, ketika pendekatannya, pendekatan budaya, kalau kita berbicara tentang kebudayaan. Karena apa, kalau pendekatan yang kita lakukan pendekatan politik, itu urusannya warna baju, ooh itu dia bajunya ijo, kae klambine kuning, kae klambine biru, dan sebagainya. Atau kalau kita pendekatannya dengan pendekatan ekonomi, maka muaranya isi perut. Pasti akan ada kepentingan dan seterusnya. Dan yang paling bisa cair itu ketika pendekatan budaya. Dan proklamasi 45 mengamanahkan kepada kita sekalian bahwa kita tidak boleh meninggalkan kearifan lokal. Seringkali di dalam pertemuan-pertemuan seperti ini saya sampaikan ketika kita mengimplementasikan ideologi Pancasila dalam kehidupan keseharian, maka local wisdom itu tetep mendapatkan tempat. Saya sering memberi contoh, mungkin yang beberapa kali mendengar bosan. Ketika kita nonton sepak bola berdesak desakan tanpa sengaja kaki terinjak orang. Tentu koreksinya di Surabaya diancuk ki matamu! Tidak ada yang marah. Karena kulturnya seperti itu. Sama-sama di Pulau Jawa, di Jogja, ngoreksinya, gimana, nuwun sewu sikil kula taksih kangge. Padahal diinjak kakinya sakit sekali. Sama-sama ideologinya Pancasia, tapi koreksinya bisa beda. Atau misalnya kalau hari ini saya datang ke sini pakai koteka, kira-kira bagimana. Idham Samawi dipegang jidatnya, waras enggak nih orang. Tetapi di Papua di sana ndak ada masalah. itulah Indonesia.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

Ketika saya jadi Bupati, saya kecil hati masakan dari 17 kecamatan se-Bantul, tidak ada satu orang pun camat perempuan. Saya kemudian melihat daftar kepegawaian, oh yang ini sudah punya kapasitas. Pangkatnya, track record dan sebagainya, akhirnya ada, saya panggil 4 orang ini, ibu ini, ngaten gih, anda siap-siap nanti sebentar lagi saya lantik menjadi camat. Mereka kaget dan ketakutan ketika itu. Itu terjadi tahun 2001-2002. Iya. Karena apa, camat itu koordinator muspika, koordinator Danramil, koordinator Kapolsek. Ini kenyataan. Jadi ada yang salah. Saya tidak tahu di mana titik salahnya. Mungkin soal regenerasi kepemimpinan. Itu peristiwa tahun 2001. Nah setelah itu ada beberapa camat perempuan, dan ternyata menjadi camat hebat. Saya kebetulan di PDI Perjuangan. Saat ada rekrutmen calon DPR RI, saya prihatin. Karena Pak Gayus Lumbun, anggota DPR RI dipilih menjadi Hakim Agung MA, maka urutan perolehan suara yang berada di bawahnya yang harus menggantikan. Perempuan yang sesuai urutan suaranya itu harus dipilih tetapi tidak siap. Karena kuota perempuan itu harus 30%, maka asal nama saja dimasukkan, dan perempuan itu mendapat urutan nomer dua. Ia betul-betul menolak dijadikan anggota DPR RI. Ini keprihatinan kita bersama.

Lalu misalnya untuk rekrutmen calon anggota DPRD Provinsi, Kabupaten, Kota, DPR RI, kewajiban kuota perempuan 30% tidak terpenuhi meskipun dibuka pendaftaran.Yang tercapai paling 15%-20%. Jadi kita terpaksa harus, melakukan pendidikan, dan sebagainya. Jadi, ada yang salah, yang mestinya lewat diskusi ini mudah-mudahan kita bisa menemukan, sehingga tidak terjadi diskriminasi di partai, misalnya, tanda kutip ya, kita selenggarakan pendidikan kader khusus perempuan. Seharusnya kan tidak perlu itu. Tapi untuk mencapai 30% tadi, perlu pendidikan kader perempuan. Lebih parah lagi, di tingkat DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, kewajiban dalam UU, calonnya harus minimal 30% perempuan, tapi nanti yang jadi ya di bawah 20%. Jadi dengan demikian dibutuhkan langkah-langkah konkrit yang revolusioner. Kalau tidak pakai kata revolusioner begitu kan kurang serem. Hal itu semata-mata merupakan upaya agar perempuan betul-betul bisa bersama-sama menatap bangsa Indonesia yang lebih baik. Karena saya meyakini negeri ini tidak akan selesai kalau hanya dibangun oleh laki-laki saja, sampai mohon maaf, saya ini penggemar beratnya Bung Karno, sampai Bung Karno khusus menulis buku tentang perempuan yang judulnya Sarinah. Itu bagaimana beliau, Presiden Republik Indonesia, Proklamator yang menggali Pancasila dan seterusnya, itu bagaimana begitu meyakininya, bahwa negeri ini tidak bisa dibangun tanpa perempuan, hanya oleh laki-laki saja. Mudah-mudahan ini menjadi stimulus untuk diskusi kita. (ASW)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.