Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XVIII: Mufakat
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XVIII: Mufakat

SELIRIA EPILOGUS

MENCIPTAKAN musyawarah yang menghasilkan mufakat, tentu tidak gampang. Yang tidak gampang, sering menjadi jalan terpilih untuk ditempuh. Menempuh jalan sulit, menyusur jalan sunyi, tipikal pilihan penyuka tantangan. Karakter satria pinandhita.

Musyawarah bukan percakapan kamar tertutup, lobi persengkokolan kepentingan. Pun pula, musyawarah bukanlah jalan sunyi, bukan pula jalan sulit. Musyawarah, jalan musyawarah, gampang ditempuh, karena perbedaan penda-pat, pertengkaran, pertarungan kata penuh caci maki, dengan atau tidak dengan argumen sehat, adalah bentuk lain dari musyawarah.

Musyawarah itu bertengkar yang menyedia-kan ruang kesediaan mendengar, sekaligus kesanggupan untuk tidak berteriak-teriak kasar, menuding-nuding pongah. Ada yang mengatakan, musyawarah itu pertengkaran santun. Persoalannya, musyawarah tidak selalu melahirkan mufakat, bahkan banyak musyawarah yang menghasilkan mufakat untuk tidak mufakat. Atau, malah menjelma jadi permufakatan jahat.

Apakah musyawarah itu cara dan mufakat itu hasil? Apakah mufakat itu kesepakatan bulat, bundar, lonjong, atau beretak-retak menuju remuk? Musyawarah untuk mufakat sejatinya tidak lebih penting daripada mufakat untuk musyawarah. Eloknya, musyawarah bukan area pemaksaan kehendak sekaligus bisa menjadi area buat memenangkan kepentingan. Memaksakan pendapat dan kepentingan secara santun, lembut, menyihir, dan menikam. Lalu, untuk apa musyawarah?

Ketika Duryudana kedatangan utusan Pandawa, Sri Kresna dalam episode Kres-na Duta, juga berada dalam situasi yang memaksanya untuk bermusyawarah. Me-nanggapi permintaan Pandawa melalui Sri Kresna, Duryudana harus bermusyawarah dengan para kerabat dan pendukungnya. Ia bertanya kepada Bisma. Kepada Drona. Kepada Salya. Tetapi juga bertanya kepada Gendari. Kepada Sengkuni. Atas perbedaan pendapat yang terjadi, Duryudana juga bertanya kepada Karna. Perbedaan pendapat dalam musyawarah itu, diperuncing oleh pendapat Karna yang membakar hati Duryana untuk berani berhadapan dengan Pandawa melalui jalan perang, Baratayuda. Musyawarah tanpa mufakat yang mampu jadi pemicu dan pemacu peperangan dahsyat.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Mulailah dengan Satu Pohon

Dalam pada itu, dalam perjalanan kembali, Sri Kresna juga “bermusyawarah” dengan Karna tentang keberpihakan Karna atas saudara-saudara mudanya, Pandawa. Tidak pula tercapai kesepakatan, bujukan Sri Kresna tidak mempan, dan Karna mampu mempertahankan kekerasan hatinya. Kesediaan Sri Kresna untuk mendengar dan memahami semua pendapat, meski harus keras dalam mengelola emosinya agar kuasa menggulung kembali tiwikramanya, namun ketidakmufakatan itu menghasilan kemufakatan baru: memilih jalan perang. Sepakat untuk perang. Ternyata, musyawarah tidak selalu menjadi media jalan damai. Bahkan, tidak selalu melahirkan jalan tengah.

Adakah musyawarah suatu metodologi? Jikapun tidak, musyawarah itu jalan berkese-timbangan untuk menyetara, menabur sapa bersandang cinta kasih, kemuliaan untuk mendengar, kesantunan untuk bicara berkadar argumen dan kemasan yang logik, etik, dan estetik. Musyawarah itu, cara indah menyatakan pendapat. Mufakat itu, cara nyaman melanjutkan perjuangan. Seperti kata mutiara Jawa yang sederhana: Rukan Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah. Demikianlah atau demikiankah?

PURWADMADI ADMADIPURWA

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.