Jumat , 14 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Mudik Mempererat Tali Persatuan
Sepeda motor yang akan menyeberang pada saat mudik di Merak (ft. wikipedia)

Mudik Mempererat Tali Persatuan

SETIAP Ramadhan tiba, bangsa ini, terutama yang beragama Islam, akan disemarakkan dengan beragam aktivitas. Aktivitas utama adalah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Ibadah puasa itu akan diwarnai dengan aktivitas berbuka puasa, shalat tarawih, tadarusan di masjid-masjid atau musholla-musholla.

Ada kekhusukan menjalankan ibadah puasa, tapi ada juga kesemarakan suasana. Masjid-masjid dan musholla-musholla dipadati para jamaah. Penjual makanan dan minuman untuk berbuka puasa muncul di pinggir-pinggir jalan yang ramai, di kampung-kampung bahkan sampai ke desa-desa. Rumah-rumah makan atau resto-resto ramai melayani kegiatan buka puasa bersama. Dan, toko-toko, pusat-pusat perbelanjaan, mall-mall serta sejenisnya, tak kalah ramai dan padatnya, melayani mereka yang ‘memburu’ keperluan Lebaran.

Dan, ada satu aktivitas lagi yang tak kalah dahsyatnya, yaitu kegiatan pulang kampung atau yang populer disebut mudik. Mudik merupakan aktivitas kolektif bangsa Indonesia, terutama yang beragama Islam, pada setiap menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Dari tahun ke tahun, aktivitas mudik terus berlangsung. Kesibukan aktivitas mudik justru membuat suasana Lebaran menjadi lebih semarak serta meriah.

Mudik merupakan aktivitas pulangnya warga masyarakat yang bekerja di kota-kota besar maupun kota lainnya ke kota-kota asal atau kampung-kampung halamannya. Aktivitas mudik dengan beragam warna kesibukannya, tidak hanya sebatas dilihat sebagai bentuk kemeriahan Lebaran. Aktivitas mudik tidak juga hanya dilihat sebatas bentuk dari cara untuk melepaskan kerinduan antara satu sama lainnya. Antara satu keluarga dengan keluarganya di kampung. Tetapi lebih dari itu. Mudik memiliki arti dan makna yang lebih dalam dan luas.

Simak juga:  PT KAI Berlakukan Tarif Promo KA Eksekutif Jelang Ramadhan

Dalam pemahaman Islam, mudik jelas memiliki makna spiritual yang tinggi. Mudik tidak bisa dilepaskan dengan bentuk kegembiraan merayakan Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Dan, Idul Fitri itu sendiri memiliki pengertian sebagai ‘saatnya kembali mensucikan diri’. Pensucian diri itu bisa dilakukan dengan membersihkan diri dari ‘anasir-anasir kotor’ yang mungkin melekat di hati, perilaku, tutur kata, perbuatan dan semacamnya yang lain. Membersihkan diri dalam kaitan ‘kembali mensucikan diri’ itu dapat pula dilakukan dengan saling bersilaturahim antara satu sama lainnya. Dan, mudik merupakan ajang saling bersilaturahim yang paling efektif.

 

Pererat Persatuan

Ketika mudik ke kota asal atau ke kampung halaman itu dijadikan ajang untuk bersilaturahim, maka ketika itulah terjadi suatu interaksi sosial yang sangat tinggi nilai dan maknanya. Interaksi sosial itu berupa saling maaf-memaafkan dan saling melupakan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya mungkin merupakan ganjalan dalam hubungan antar pribadi.

Dengan mudik atau pulang kampung, yang kemudian diisi dengan saling silaturahim, saling maaf-memaafkan, akan saling membebaskan diri dari rasa bersalah, dan langkah membangun suasana baru. Mudik juga akan saling mengikatkan dan memperkuat tali persaudaraan antar-sesama, sebangsa, dan saling menghubungkan tali kasih-sayang. Dan, yang pasti, mudik bisa dijadikan sebagai sarana untuk mempererat tali persatuan antar sesama bangsa Indonesia.

Simak juga:  PT KAI Berlakukan Tarif Promo KA Eksekutif Jelang Ramadhan

Terlepas dari semuanya itu, aktivitas mudik atau pulang kampung juga mempunyai makna serta nilai lainnya yang tak kalah besar artinya. Mudik sesungguhnya bisa dijadikan ajang untuk kembali merenung atau berintrospeksi diri tentang siapa, dari mana dan bagaimana kita sejatinya.

Dengan kembali bercermin atau berintrospeksi diri melihat tentang siapa, dari mana dan bagaimana kita, maka kita akan menemukan lagi jati diri yang sesungguhnya. Kesadaran akan jati diri ini, membuat kita bisa menghindar dari keangkuhan atau kesombongan. Dan, yang terpenting lagi, kesadaran untuk menjaga persatuan bangsa. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

PT KAI Berlakukan Tarif Promo KA Eksekutif Jelang Ramadhan

Untuk menyambut semarak bulan suci Ramadhan, PT KAI memberlakukan tarif promo dengan tema “Berkah Ramadhan” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *