Beranda » Essai EAN » Mr. NO

Mr. NO

Kepada Pakde Tarmihim, Seger coba membuka pintu yang lain.

“Apakah Mbah Markesot itu sok misterius seperti Baginda Khidlir? Ataukah Bambang Ekalaya Palgunadi yang nasibnya sial di dunia dan bahkan nyawanya dilindas oleh ketentuan qadla dan qadar, oleh skenario nasib, atau yang diklaim sebagai SOP langit, yang tampak kejam di mata kepolosan manusia dan di pandangan kebodohan materialisme? Ataukah Mbah Sot itu semacam Wisanggeni yang diwajibkan memborgol tangan kesaktiannya sendiri? Ataukah beliau itu seperti Abu Thalib paman Nabi yang membiarkan dirinya diperdebatkan apakah beliau Muslim atau bukan?”

“Wah, muluk-muluk banget pertanyaanmu, Seger”, sahut Pakde Tarmihim.

“Soalnya saya dan kami semua melihat beberapa hal yang pasti pada Mbah Sot. Maka kami mengejar yang belum jelas pada beliau”

“Apa itu yang pasti pada Mbah Sot?”

“Beliau bukan pewaris Nabi, karena bukan Ulama, Kiai atau Ustadz. Apalagi Mursyid, Syeikh atau Maula”

Tarmihim tersenyum. “Itu terang benderang seperti terbitnya matahari”

“Mbah Sot juga bukan tokoh di dunia. Tidak duduk di kursi besar yang bisa tampak di pandangan orang seantero Negeri. Beliau bukan ilmuwan, karena Kaum Ilmuwan adalah suku bangsa tersendiri yang jelas pagar batasnya. Beliau juga bukan siapa-siapa pun lainnya: budayawan, seniman, filosof, Sufi, Zahid, negarawan, apalagi politisi, sarjana, pengusaha dan penguasa. Sebab saya sudah buka semua lembar informasi resmi dan nama beliau tidak tercantum di lembar kategori manapun. Markesot adalah Mr. No”

“Kenapa kamu mengasosiasikan ke Nabi Khidlir?”

“Karena tidak jelas. Karena serba No. Satu-satunya informasi adalah kisahnya dengan Nabi Musa. Nah kalau terkait dengan Nabi resmi, tidak mungkin tidak dicatat. Tapi legalitas informatifnya berasal dari kesepakatan para Ulama, perkiraan terhadap maksud Allah, sebab firman-Nya tidak eksplisit menyebut Khidlir. Sedangkan Mbah Sot tidak terkait dengan siapapun selain dengan para Pakde yang juga tak kalah tak jelasnya…”

“Kalau Ekalaya Palgunadi?”

“Pertama, tidak sekolah resmi seperi Janaka Arjuna. Hanya belajar kepada patung Kumbayana Durna. Tapi menjadi lebih sakti, menang duel lawan Arjuna Sarjana Utama. Tapi Arjuna dihidupkan kembali, malah Ekalaya yang dibunuh. Betapa sengsaranya. Apalagi perlawanannya terhadap Sarjana Utama itu karena Arjuna menyelingkuhi istrinya. Ekalaya dihancurkan eksistensinya, keluarganya, kesaktiannya, harga dirinya, martabat kelelakian dan kemanusiaannya. Betapa ghaibnya ketentuan Allah”

“Wisanggeni?”

“Diperintahkan untuk ‘tidak’, padahal ia yang paling dibekali untuk ‘ya’ melebihi siapapun lainnya…”

Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad suatu mukjizat dari Tuhannya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu sajalah olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu”.

Tarmihim tertawa terbahak-bahak. Dan berkepanjangan: “Kamu datang menggali informasi kepada saya. Yang terjadi adalah saya yang mewawancaraimu…”, katanya kepada Seger. Kemudian tertawa lagi.

Daur II-303
Yogya, 15 Februari 2018

Lihat Juga

Tanah Liat Tiga Gunung

Perbincangan mereka terpotong juga oleh perkembangan di telaga kaca. Semua yang melingkar itu mengakhiri lantunan-lantunannya, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *