Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Misteri Satria Siningit (Piningit)
Ilustrasi Semar (ft. net)

Misteri Satria Siningit (Piningit)

Swidak gangsal taun sirna,                             (Enam puluh tahun hilang)
Pan jumeneng Ratu adil,                                  (Bertahtalah ratu adil)
Para wali lan pandhita,                                    (Para wali dan pendeta)
Sadaya pan samya asih,                                   (Semua pada rukun berlandaskan cinta)
Pametune wong cilik,                                         (Penghasilan orang kecil)
Ingkang katur marang Ratu,                           (Yang terunjuk kepada Ratu)
Rupa picis lan uwang,                                        (Berupa barang dan uang).
Sawab ingsun den suguhi,                                 (Berkah Tuhan senantiasa meluber)
Kembang mlathi mring Ki Ajar gunung Padhang, (Bunga Melati mengharumkan  Ki Ajar)

 

BEGITULAH tembang Sinom cuplikan dari Jayabaya Musasar yang memuat ungkapan  Satria Piningit. Sebagian masyarakat kita masih percaya  dengan munculnya satria piningit ini. Dan situasi yang semakin membuat hati sengsara seperti hari-hari belakangan ini maka gampang memunculkan kapercayaan akan adanya Satria Piningit. Kapercayaan ini jadi semakin kencang lantaran “goro-goro” yang diderita oleh negara kita. “Goro-goro” ditengarai dengan kekacauan dan kebingungan di berbagai daerah. Masyarakat kehilangan orientasi (disorientatif). Konflik kerap muncul, padahal sebenarnya tak perlu terjadi.

Mitos “goro-goro” , merupakan wujud sarana munculnya mitologi “satria Piningit”.

Wacana “Satria Piningit” tentu menyeret kita di dunia mitologi kontraproduktif. Di dalam mitologi Jawa, juru selamat yang bisa mengentaskan masyarakat setelah multi krisis yang membuat sengsara rakyat adalah datangnya Satria Piningit. Perwujudannya memang belum kelihatan, tetapi Satria Piningit sangat diyakini bisa merampungkan segala masalah, sehingga kondisi negara bangsa ini menjadi ‘gemah ripah loh jinawi, tentrem karta raharjo, thukul kang tanpa tinandur, murah kang sarwa tinuku‘.

 

Tinggal Wacana

Tetapi meskipun Satria Piningit tinggal wacana saja, tetapi sebetulnya mempunyai sifat reflektif dan tetap enak untuk dijadikan bahan renungan, sebagai otokritik dan kritik terbuka bagi negara.

Apalagi bangsa Indonesia baru masuk dalam alam transisi dari Orde Baru ke Reformasi. Fase transisi sosial politik bangsa, merupakan sebuah fase harapan baru yang disitu tertumpu harapan masyarakat banyak akan hidup baru yang lebih enak.

Tetapi menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Sebagai contoh seperti apa yang digambarkan sebagai menunggu Godot “Waiting for Godot”.

Wacana Satria Piningit berawal dari teologi harapan. Maksudnya adalah masyarakat yakin bahwa Penguasa Alam Raya ini bakal menurunkan Satria Piningit.

Simak juga:  BILA ANUSAPATI MERUWAT KENDEDES: Politik Kekerasan Harus Dihindari

Didukung kondisi sosial ekonomi yang sangat memprihatinkan, kondisi politik yang tak keruwan, serta adanya sistem yang keropos membuat wacana Satria Piningit jadi subur di masyarakat umumnya, dan masyarakat Jawa khususnya. Wacana ini kemudian melebar ke wilayah politik.

Di jaman penjajahan masyarakat berkeyakinan bahwa Ir Soekarno jadi Satria Piningit. Tetapi masyarakat kecewa meski sosok Soekarno kharismatik, merupakan tokoh yang hebat dan disegani lawan maupun kawan. Diakui bahwa Bung Karno mampu menyihir dan memobilisasi massa dengan gaya pidatonya yang penuh idealisme. Tetapi kondisi sosial ekonomi bangsa belum bisa baik ketika beliau memimpin negara ini. Setelah 1965 Bung Karno lengser, masyarakat kecewa lagi. Satria Piningit tak bisa dilengserkan.

Kemudian masyarakat (mitologis) mengira bahwa Soeharto representasi Satria Piningit. Semula Soeharto dianggap pahlawan pilihan zaman. Soeharto maju pas dengan situasi zaman. Jargon-jargon Orde Baru begitu indah membuat orang terpesona dan masyarakat yakin bahwa Soeharto adalah satria Piningit.

Tetapi akhirnya ternyata sosok Soeharto membuat Indonesia memasuki multikrisis.

HOS Tjokroaminoto bukan, Soekarno juga bukan, apalagi Soeharto. Tetapi masyarakat masih yakin Satria Piningit bakal muncul, tetapi kapan, masyarakat tak tahu.

Asumsi masyarakat kemudian bergeser, bahwa Satria Piningit itu bukan figur tetapi sistem atau penguasaan tertentu seperti teknologi. Meski demikian masyarakat pun juga kecewa, sebab pesawat ditukar beras ketan, ironis.

Ketika KH Abdurrahman Wahid tampil secara misterius di panggung percaturan politik negara, masyarakat mengutak-utik lagi wacana Satria Piningit. Gus Dur malah diibaratkan Semar.

Tetapi Gus Dur juga gagal. Masyarakat kecewa lagi.

Lalu siapa Satria Piningit. Mungkin bakal lebih cocok dimaknai bahwa Satria Piningit itu adalah kita semua yang punya kemauan keras untuk mengatasi kemelus multi krisis ini.

Satria Piningit merupakan, representasi semua elemen sosial-politik bisa berjalan dengan lancar baika dan benar, sehingga mekanisme check and balance tercapai.

Satria Piningit itu adalah tekad kita, produktifitas kita untuk bersama bekerjasama mengatasi multikrisis, bukan sosok pribadi manusia.

Satria Piningit merupakan iklim kondusif untuk mengerahkan energi perdamaian dan ketenteraman bagi sesama hidup. Satria Piningit adalah pengharapan yang kuat dari masyarakat yang mendambakan manifestasi konflik kekerasan sirna, dan berganti rupa menjadi perdamaian dan kesejukan. Satria Piningit adalah tekad  hidup kita bersama untuk menata hidup ini di tengah multi kultur yang adil dan sejahtera, dengan meminggirkan keinginan untuk berhura-hura.

Tetapi hingga kini Satria Piningit belum muncul, sebab persyaratannya belum terpenuhi. Banyak praduga bermunculan. Rekonsiliasi sulit dicapai. Dendam masih kuat. Konflik horisontal gampang meletus, dan sulit diselesaikan.

Para pemimpin tampaknya kehilangan pegangan, dan sulit jadi panutan. Kekerasan masih terasa. Lalu kapan Satria Piningit muncul?

Ramalan Jayabaya masih meneruskan ramalannya dengan tembang Dandang Gula

…Sampun tutug kalih ewu warsi , Sudah purna duaribu tahun
   Sunya ngegana tanpa tumingal , Hilang diawan tanpa terlihat
   Ya meh tekan dalajate ,               Kalau sudah hampir datang masanya
   Yen kiamat puniku,                      Kalau kiamat itu
   Ja majuja tabatulihi ,                  Jaman maju tanpa arah
   Anuli udan  arang                        Lalu hujan sulit
   Angin topan rawuh                      Namung topan menghantam
   Tumangkeb sabumi alam ,         Membayangi seluruh alam
   Saking kidul wetan ingkang andhatengi ,  dari Tenggara yang datang
   Ambedhol ponang arga                Memboyong anak jalanan

Simak juga:  Menjunjung Peradaban Nusantara

 

Tak disangkal bangsa ini memang sedang sakit. Penyakitnya komplikatif. Umumnya meletup jadi kekerasan yang tak perlu. Betapa ngeri kita menyaksikan tragedi konflik di berbagai tempat. Belum lagi bencana melanda alam Indonesia yang menyisakan tragedi tak kunjung henti.

Ciri lainnya kebingungan atau krisis kepercayaan diri akut di level elite politik, maupun grass root. Di level elite, konflik begitu kontraproduktifnya.  Di level grass root, massa politik  kecewa, dan relatif belum tercerdaskan, mudah mengamuk. Konflik sana-sini kerap terjadi.  Terlepas apakah betul ini era “goro-goro” atau tidak, yang jelas kekacauann tengah melanda negeri kita, di era transisi ini. Mitos “goro-goro” ,pintu masuk munculnya mitologi “satria piningit”.

Wacana “satria piningit” berpotensi menjebak ke dunia mitologi yang kontraproduktif. Dalam mitologi Jawa, juru selamat yang mampu membawa masyarakat ke kondisi yang normal, setelah multikrisis terjadi begitu hebat dan berlarut-larut adalah kehadiran sosok Ratu Adil atau satria piningit

Wacana Ratu Adil, semula tak jauh dari wilayah teologi harapan. Ditunjang kondisi sosial ekonomi serba memprihatinkan, kondisi politik tidak menentu, serta terjadinya kekeroposan sistem yang ada, menyebabkan wacana Ratu Adil tumbuh subur di masyarakat, terutama Jawa.

Wacana itu kemudian beralih ke wilayah politik, tatkala masyarakat semakin aktif bergumul dalam pergerakan-pergerakan. Namun  demikian tokoh-tokoh yang dianggap sebagai satria piningit kemudian tak memuaskan. Asumsi masyarakat kemudian bergeser, bahwa barangkali Ratu Adil itu bukan orang, tapi sistem atau penguasaan tertentu di satu bidang yang bermakna signifikan bagi kehidupan banyak orang.

Ada sebuah misteri yang perlu dikaji bahwa pengertian  satriya piningit adalah sebuah gerakan perjuangan untuk mengekang hawa nafsu kegembiraan, bersukaria yang dimaktub dalam Zat Ria, dan harus disembunyikan –siningit. Ditopang semangat holobis kuntul baris alias  gotong royong, Artinya elit politik harus kerja keras menomorsatukan kepentingan bangsa kepentingan umum. Kerja keras disertai keperihatinan ini diperlukan agar elit tidak dibilang  jarkoni, bisa ujar ra bisa nglakoni, Bisa ngomong tak bisa menjalani. Artinya mereka harus sehati seia sekata seirama dengan tindakannya . karena dalam falsafah Jawa, Bapa tapa anak nampa putu nemu buyut katut canggah kesrambah, mareng kegendeng udheg-udheg gantung siwur misuwur. Artinya keprihatinan orangtua sekarang bakal membuahkan anugerah bagi dia sendiri dan semua keturunannya kelak. Ingat bahwa bumi pertiwi ini hanyalah titipan untuk anak cucu pemilik negeri ini. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Berpolitik Dengan Hati, Bukan Saling Membenci

Tahun politik, tahun adu taktik. Banyak cara digunakan untuk mencapai tujuan. Termasuk dengan cara menfitnah, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *