Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Seni & Budaya » Merawat Habitus Tosan Aji
Jenis Besi Keris. (Foto: duniakeris)

Merawat Habitus Tosan Aji

Mengoleksi tosan aji adalah gaya hidup dengan modal yang tidak sedikit. Manusia sebagai subjek substansial hidup dalam lingkungan sosial budaya (struktural generatif) yang memaknai diri dan seperangkat kelengkapan kehidupannya secara temporer. Artinya, mengikuti semangat zaman. Mengoleksi tosan aji tidak lain merupakan strategi habitus. Habitus dalam pengertian Aristotelian, tidak jauh beda dengan pandangan para intelektual Nusantara mengenai sematan-sematan hidup yang dinamis. Keris, misalnya. Ia mengalami perubahan dhapur, mengalami perkembangan bahan, model pamor, warangka, serta cara pemakaian. Ia juga mengalami perubahan pemaknaan simbolik: dari mitis-ontologis-fungsional, dan sebaliknya.

Selanjutnya, akan saya bongkar pesan bawah sadar habitus pengoleksi tosan aji dari logika kultural Jawa. Pesan bawah sadar tersebut bertalian erat antara dua narasi besar yang sama tuanya. Pertama, narasi keris sebagai axis mundi yang sudah saya bahas dalam tulisan sebelumnya. Kedua, narasi Bathara Kala. Menghubungkan keduanya, membuat bawah sadar seorang pengoleksi keris menemukan ketenangan jiwa. Bagaimana bisa? Bisa. Jika kita bongkar psikologi mitosnya, akan kita temukan satu sandi sastra tentang lahirnya dua bilah keris yang terjadi dari taring Batara Kala, yakni kyai Kalanadhah dan kyai Kaladite. Dari narasi besar tersebut lahirlah jargon “mengadu taring Bathara Kala” (Jw: ngadu siyunging Bathara Kala). Jargon ini lahir di kalangan pendekar atau ksatria yang menghubungkan Kala sang penguasa waktu dengan kematian.

Taring digunakan oleh raksasa (Kala) untuk membunuh mangsanya, yakni manusia sukerta. Bayangkan jika kita memiliki koleksi gigi Bathara Kala, tentu kita boleh memaknai bahwa kita telah menciptakan satu peluang lolos dari cengkeraman Kala. Singkatnya, ada banyak manfaat yang didapat dari aktivitas mengoleksi tosan aji. Tosan Aji sebagai habitus sejak zaman Jawa kuno sampai zaman sekarang memancarkan sekaligus memantulkan citra mental masyarakat pemiliknya. Habitus tosan aji menyimpan rekam informasi mengenai capaian teknologi, sejarah, ideologi atau falsafah, dan cita-cita masyarakat pemiliknya.

Simak juga:  DALAM BINGKAI FILOSOFI JAWA: Pancasila Menjadi Pedoman Perilaku

Saat ini, semestinya tosan aji harus kita pandang sebagai warisan generasi masa depan, daripada sebagai warisan masa lalu. Ya, agar tosan aji terhindar dari genosida budaya yang semakin massif dan terstruktur akhi-akhir ini. Begitu juga NKRI tercinta ini, harus kita pandang sebagai cita-cita bersama seluruh suku yang ada di Nusantara; tidak melulu sebagai warisan. Kita harus memiliki orientasi masa depan dengan tetap belajar dari masa lalu. Kita tahu, konsekuensi warisan akan menjadi ajang perebutan oleh pihak-pihak yang merasa memiliki hak waris. Sejak 5018 tahun lalu, epos Mahabharata telah mengajarkan kita kesia-siaan berebut warisan.

~ Ki H. Poerwatjarita, S.S., M.Hum.
(Sumber: dari grup keris landep agung).

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.