Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga “Ke-indonesiaan”
Buku Yogya Bercerita terbitan Paguyuban Wartawan Sepuh (ft. perwaracom)

Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga “Ke-indonesiaan”

DALAM sebuah perbincangan, saya mengatakan bahwa menulis akan membuat hidup menjadi lebih berarti. “Buktinya?” tanya teman bicara saya itu. Saya hanya menjawab, “Buktinya, terlalu banyak untuk disebutkan. Menulis sajalah. Nanti akan didapatkan buktinya.”

Saya suka menulis. Menulis yang dimaksud adalah menulis dalam konteks berkarya. Itu diawali dengan kesukaan saya membaca buku sejak bangku SMP dulu. Terus terang buku fiksi pertama yang membangun keinginan saya untuk suka menulis adalah buku kumpulan cerpen NH Dini berjudul “Dua Dunia” terbitan tahun 60-an. Ketika itu sekitar tahun 1967/1968.

Saya menulis bentuk tulisan apa pun. Dari esai, beragam karya jurnalistik, dan fiksi. Dan untuk fiksi, saya menulis hampir semua karya fiksi. Puisi, cerpen, dan novel (cerita bersambung). Khusus puisi, saya pertama mengawali dengan menulis puisi, kemudian cerpen, novel (cerber). Ya, kebanyakan berkaitan dengan pengalaman hidup. Setidaknya emosi saya bersentuhan dengan apa yang ditulis itu.

Bicara tentang ide dalam menulis, ide kepenulisan bisa didapat dari mana pun. Dari pengalaman-pengalaman kehidupan, dari lingkungan pergaulan, baik di kampung (tempat tinggal). Di lingkungan kerja atau di mana pun. Dari membaca atau mendengarkan beragam informasi di media pers cetak mapun di media televisi. Bahkan saya punya pengalaman, menemukan ide untuk menulis sebuah cerpen, setelah membaca suatu tulisan feature di kertas koran bekas pembungkus nasi di warung angkringan (warung kelas rakyat di Yogya). Ketika kertas koran pembungkus nasi itu saya lipat dan masukkan ke dalam tas, pemilik warung angkringan itu sempat menawari saya kertas koran yang masih bersih. Kalau ide itu saya temukan, ketika masih di jalanan, di warung atau di manapun, saya terlebih dulu mencatatnya di buku tentang ide apa yang muncul. Sekarang lebih mudah lagi, karena ide-ide itu bisa disimpan di hp, komputer tablet dan sejenisnya.

Saya mulai suka menulis puisi di bangku kelas 3 SMP, dan dalam waktu relatif singkat ketika itu karya-karya puisi saya pernah muncul atau dibacakan di Radio Singapura. Setamat SMP saya ke Jawa, saya sekolah di Kebumen. Sejak kelas 2 dan 3 SMTA saya mulai menulis puisi lagi, dan puisi-puisi saya kala itu dimuat di salah satu media mingguan yang terbit di Bandung. Ketika pindah ke Yogya, saya terus menulis. Dari puisi, berkembang ke cerpen, esai, dan kemudian novel (cerber). Selain itu juga menulis berita, feature, esai atau artikel dan lainnya.

Simak juga:  Pak Zul, Membantu Sesama dengan Buku Bekas

 

Jangan Sakiti Orang Lain

Saya tidak punya resep kepenulisan yang khusus. Tapi saya selalu berusaha menghindari apa yang saya tulis itu tidak melukai atau menyakiti orang lain. Saya selalu berusaha untuk tidak menyudutkan, melecehkan, atau memperolok-olok orang lain (apalagi kelompok, etnis, keyakinan dan semacamnya). Saya berusaha karya tulisan saya menjaga ‘harmoni kebersama’ dalam kehidupan.Salah satu prinsip yang saya pegang adalah “menulis itu merupakan pekerjaan mulia, karena berbagi pengetahuan kepada orang lain”.

Kaitannya dengan fiksi, maupun karya non-fiksi, semisal karya-karya jurnalistik, esai dan lainnya, menulis yang di dalamnya memiliki pesan pengetahuan bagi orang lain. Misalnya pengetahuan tentang keberagaman budaya bangsa, pengetahuan tentang bagaimana memecahkan atau mencari jalan keluar bagi suatu persoalan, pengetahuan bagaimana tentang menata kehidupan menjadi lebih baik, pengetahuan bagaimana caranya menjalani kehidupan yang menyenangkan, pengetahuan tentang nilai, etika dan moral. Dan yang terpenting sekarang ini menulis dengan pesan tentang bagaimana menjaga ke-Indonesiaan kita, menjaga keutusan dan persatuan bangsa. Serta menjaga kualitas kebangsaan kita.

Kalau ingin menulis, ya saya menulis. Saya dapatkan ide. Lalu saya matangkan ide. Saya cari referensi, kalau itu diperlukan. Misalnya, tentang suatu kota, saya harus cari referensi tentang kota itu. Jika untuk fiksi, lalu semuanya itu saya kembangkan dalam imajinasi. Di awal-awal dulu, saya selalu mempersiapkan sinopsis dari suatu karya fiksi cerpen atau novel. Mempersiapkan tokoh-tokoh cerita dengan karakternya masing. Tapi sekarang, saya tak terlalu ‘setia’ lagi dengan hal-hal seperti itu. Saya menulis saja, kemudian tokoh-tokoh dengan karakternya bisa muncul dalam seketika.

Buat saya pribadi, dari sekian judul karya novel yang pernah ditulis, saya ‘paling suka’ dengan novel “Surau Tercinta” yang terbit tahun 2002 (Penerbit Gita Nagari). Saya merasa tersanjung, ketika di berbagai kota banyak yang menulis skripsi tentang novel ini. Banyak yang menghubungi, berkirim surat, berkomunikasi, menelpon kepada saya. Dan bicara tentang cerita di dalam novel itu.

Bahan-bahan kepenulisan dalam berkarya saya peroleh di antaranya dengan mengumpulkan atau mencari referensi (kalau tulisan itu memang memerlukannya) dari data-data yang ada, misalnya bisa ke perpustakaan atau lewat data-data arsip maupun dokumentasi lainnya. Misalnya, saya pernah menulis sebuah novel berlatarbelakang dunia prostitusi. Judulnya “Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur”. Saya datang ke perpustakaan mencari arsip-arsip tulisan di koran tentang komplek prostitusi itu. Kapan konplek prostitusi itu muncul, siapa yang bertanggungjawab dengan keberadaannya, berapa banyak jumlah penghuninya, bagaimana penanganannya dari institusi pemerintah, dan lain-lain.

Simak juga:  Mencari dan Membangun Ide Penulisan

 

Pentingnya Membaca

Ada teman yang bilang, kalau ingin jadi penulis ya membacalah. Artinya, membaca adalah awal keberhasilan seorang penulis. Selain membaca, jalinlah pergaulan dengan siapapun, tentu pergaulan yang positif. Karena banyak membaca dan bergaul, akan semakin memperkaya pengalaman batin (pengalaman kehidupan). Kekayaan-kekayaan batin itu sangat menopang keberhasilan penulis dalam berkarya.

Kepada penulis muda atau siapa pun yang ingin jadi penulis, saya ingin katakan, jangan mudah putus asa. Menulis dan menulislah terus. Andai tulisannya ditolak oleh media, ya teruslah menulis, teruslah kirim karya-karyanya ke media. Putus asa adalah langkah menuju kegagalan. Dan, jangan terpaku pada media-media formal. Media-media di dunia maya (blog, jejaring-jejaring sosial, dll) bisa dijadikan ajang untuk menulis. Harus kerja keras, jangan mudah putus asa. Satu hal lagi, rajin membaca. Ini penting.

 

Fenomena kepenulisan kreatif di kalangan pelajar dan mahasiswa dewasa ini sungguh menggembirakan. Dewasa ini banyak bermunculan penulis-penulis muda potensial (berstatus mahasiswa), yang karya-karyanya sukses dan menggelitik. Peluang untuk menjadi penulis, sekarang ini terbuka luas seiring dengan perkembangan dan kemajuan di dunia teknologi informasi.

Sekarang seseorang bisa menulis di manapun, di warung, ketika nongkrong di taman, di kampus, di rumah kost, atau tempat-tempat wisata, dengan laptop dan sejenisnya. Kalau dulu, semasa masih dengan mesik ketik, seseorang tak bisa menulis di sembarang tempat. Dulu hanya bisa menulis di kamar rumahnya, atau di kantor. Tapi sekarang semangat untuk menulis itu bisa muncul dan dilakukan di manapun, asalkan kita memiliki sarananya. Dan, itu semua sangat membantu bagi iklim kepenulisan anak-anak muda, pelajar dan mahasiswa.

Mari menulis! Karena menulis itu akan membuat hidup menjadi lebih berarti! *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Pak Zul, Membantu Sesama dengan Buku Bekas

JANGAN pernah memandang buku-buku bekas sebagai sesuatu yang tak berarti dan tak berharga. Dan, jangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *