Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Menjunjung Peradaban Nusantara
Peta Indonesia (ft. wikipedia)

Menjunjung Peradaban Nusantara

HANTAMAN globalisasi sebagai dampak berpadunya kekuatan modal dan kemajuan ilmu teknologi super canggih mengumandangkan musik jiwa yang membangun alam pikiran manusia untuk terpadu secara total dalam dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia melalui kebutuhan kebutuhan palsu yang menyihir. Dimensi rasionalitas yang ditata dalam tiga sistem utama sistem pasar bebas , sistem solial politik demokratis individualis dan sosial budaya yang lepas bebas, mulai terasa dampaknya dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup masyarakat yang hedonis, individualis, pragmatis , materialis dan narsis.

Gempuran ini menohok langsung peradaban suatu bangsa termasuk Indonesia, terutama pada aspek nasionalisme, sosial budaya, kearifan lokal , adat dan tradisi, agama serta spiritualis.  Globalisasi melunturkan nilai dan semangat nasionalisme suatu bangsa dan negara, mengobarkan separatisme dan disintegrasi, memecah belah, menghancurkan militansi rakyat, dan menciptakan kesenjangan sosial ekonomi serta menyuburkan konflik horizonal dan vertikal. Di bidang sosial, globalisasi menggelorakan sex bebas dan sex sejenis, mengobarkan budaya hidup hedonis, individualistis, pragmatis, materialistis dan narsistis, merusak dan menghancurkan bangunan tata nilai keluarga, kebersamaan-gotong royong, merusak serta menghancurkan moral masyarakat, kebudayaan, adat tradisi dan kearifan Nusantara.

Dalam aspek agama dan spiritualisme globalisasi menghancurkan nilai nilai moral spiritual dan kesalehan yang hakiki, melibas tradisi dan kearifan yang memperkuat spiritualisme dan agama, serta menciptakan dan mengembangkan aliran aliran sesat, mengembangkan sekularisme secara khusus serta melakukan de agamanisasi. Kita bisa merasakan bagaimana pola pikir perilaku, gaya hidup dan peradaban masyarakat yang kini sudah masuk dalam musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Masyarakat mulai berubah menjadi egois. Menurut istilah Bambang Wiwaha” Memuja diri sendiri. Bahkan bersemboyan “Kaya dan berkuasa dalam tempo sesingkat singkatnya”.

Simak juga:  WARISAN LELUHUR BAGI PEMIMPIN: Dari Pegangan Gajah Mada, Hingga Asthabrata

Gempuran globalisasi ini mau tidak mau harus kita antisipasi. Sebagaimana pandangan Prof Dr M Sahari Besari, sistem nilai serta struktur sosial masyarakat kita tidak terkonstruksi mengakomodasi ataupun melawan gelombang dahsyat globalisasi.

Perubahan tata nilai hedonis tadi bukan sekadar revolusi mental, melainkan revolusi budaya, revolusi peradaban yang merupakan keharusan mendesak. Karena pada dasarnya tata nilai hedonis tadi adalah krisis moral bahkah krisis peradaban yang membawa bangsa ini masuk kedalam pusaran multidimensi yang besar berat dan kompleks.

Kita tidak mungkin lagi menghindar dari globalisasi. Oleh karena itulah kita perlu bergerak cepat, tepat dan memadai untuk melawan, paling tidak bertahan atas serangan alunan musik jiwa yang meninabobokan kita akan pesona dunia.

Satu potensi besar masyarakat yang bisa digalang secepatnya melakukan pertahanan semesta menghadapi serbuan globalisasi adalah masyarakat masyarakat adat dan budaya, termasuk Kraton Nusantara. Masyarakat ini selaku pengemban amanat kearifan leluhur, harus bangkit menggalang kekuatan bersama merajut kembali serta mengembangkan peradaban Nusantara, untuk selanjutnya mewujudkan Nusantara Raya sebagai negeri maritim yang aman, tenteram dan adil makmur, sejahtera dan jaya. Para pemuka dan tokoh masyarakat perlu menghidupkan kembali budaya sera kearifan lokal suku bangsa di Nusantara yang hidup rukun, damai, penuh toleransi, gotongroyong dan unggul dalam seni dan ketrampilan. Sementara para ulama membumikan ajaran dan kesalehan umatnya dalam berbagai kegiatan dan perilaku amal saleh, bukan sekedar kesalehan formal.

Simak juga:  BILA ANUSAPATI MERUWAT KENDEDES: Politik Kekerasan Harus Dihindari

Oleh karena itu langkah pertama yang perlu ditempuh menemukenali, menghimpun dan mengkonsolidasi gerakan atas segenap potensi yang ada, tradisi, kearifan lokal dan budaya Nusantara. Gerakan ini ditujukan demi mewujudkan Nusantara Raya berlandaskan peradaban negeri maritim yang aman tenteram, adil makmur, sejahtera dan jaya sentosa dengan ciri, rakyatnya multi etnis, agama, dan golongan, yang hidup harmonis dalam suasana kebhinekatunggalikaan, yang berdiri sederajat dengan bangsa lain di dunia dalam suatu tatanan dunia yang menjunjung tinggi kesetaraan dan nilai nilai kemanusiaan. Rakyatnya cerdas, berjatidiri, berbudaya dan berahklak mulia. Tatanan masyarakatnya berkeadilan sosial dan berkeadilan hudkum secara taat azas. Tatanan politiknya menjunjung tinggi sistem perwakilan dan permusyawaratan yang ditandai terwakilinya suku/etnis, adat budaya golongan, agama dalam lembaga legislatif dan MPR. Ciri yang terakhir adalah pemerintahannya dikelola oleh birokrasi yang bersih, memiliki semangat pengabdian dan berdisiplin tinggi serta amanah. Dengan hidup berlandaskan Pancasila, pilarnya UUD 45, atapnya NKRI, aturannya adalah bhineka tunggal ika kita menahan laju ancaman globalisasi agar tidak menghancurkan bangsa yang sebetulnya mempunyai peradaban tinggi dan nilai nilai luhur kebudayaan yang pantas dilestarikan.

 

*) Penulis pelaku budaya tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul Yogyakarta.

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *