Jumat , 22 Maret 2019
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XXI: Menjadi Pahlawan di Negara Pancasila
Ons Untoro (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XXI: Menjadi Pahlawan di Negara Pancasila

Kita telah mengenal banyak pahlawan nasional. Para pahlawan nasional me-ngalami jaman penjajahan Belanda, sejak era kerajaan sampai kemerdakaan berhasil direbut. Namun jaman sudah berubah dan penjajahan tidak lagi bersifat fisik seperti era kolonial dulu, sehingga orang bisa memikirkan ulang menyangkut pemahamannya mengenai pahlawan. Untuk menelusurinya, Paguyuban Wartawan Sepuh (PSW) dalam Diskusi Seri Kebangsaan ke 21 menyajikan tema ‘Memaknai Ulang Kepahlawan dalam Negara Pancasila’, yang diselenggarakan, Sabtu, 24 No-vember 2018 di Gedung Serbaguna, Monumen Yogya Kembali, Ringroad Utara, Yogyakarta, dengan narasumber Drs. HM. Idham Samawi, Anggota DPR-MPR-RI, Drs. Edy Widyatmadi M.Si, pengajar Universitas Mercu Buana, Jakarta dan M. Nursam, alumni Prodi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UGM dengan moderator Indra Tranggono, cerpenis dan pemerhati budaya.

Dua pembicara dari kalangan akademisi masih relatif muda dibanding-kan dengan pembicara pertama, yakni Idham Samawi. Kedua pembicara muda usianya belum genap 50 tahun, sehingga masih dalam kategori muda, dan sebagai kaum muda mereka diposisikan untuk memaknai ulang apa yang yang disebut sebagai pahlawan.
Dalam konteks generasi mileneal, Edy Widyatmadi mengatakan,”nilai kepahlawanan di masa kini menurut mereka adalah sikap kolaboratif tanpa membedakan SARA, memiliki kemam-puan spesifik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, rela berkorban, dan menguasai teknologi komunikasi”.

Sedang Nursam dalam konteks kepahlawan nasional mengatakan, “generasi sekarang pun bisa menjadi “pahlawan” dan melakukan tindakan kepahlawan. Kemajuan teknologi yang menjadi bagian dari kehidupan generasi milenial membuka lebar bagi generasi milenial untuk menghasilkan prestasi dan karya besar yang mengharumkan nama bangsa dan negara dan bermakna bagi kemanusiaan”.

Idham Samawi melihat dari konteks yang lain, dan tidak mengaitkan dengan era milenial, melainkan menempatkan posisi pahlawan pada jamannya, dan sampai sekarang, Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan daerahnya sangat luas, masih terus bersatu dalam pangkuan negara Republik Indonesia. Jadi, para pahlawan telah membuat dasar negara sehingga Indonesia tidak terkoyak, dan Pancasila tak bisa dilepaskan dari sana.

 

PAHLAWAN DI ERA MILENIAL

Tentulah berbeda karakternya antara pemuda pada jaman kolonial dengan pemuda di era milenial. Perjuangan pemuda masa itu tak bisa dilepaskan dari senjata dan benturan fisik lainnya. Meskipun sudah ada tekonologi, tetapi masih terbatas peralatannya, selain senjata, yang selalu dipakai adalah alat telekomunikasi. Pemuda jaman perjuangan landasan semangatnya masih tinggi, dan keinginan untuk mengusir penjajah sangat kuat, apalagi musuhnya bisa diidentifikasi dan jelas sosoknya, sehingga bisa tegas dalam menghadapi lawan.
Berbeda dengan pemuda millenal, yang dimanjakan oleh teknologi dan tak bisa dipisahkan dari media sosial, internet dan teknologi. Pemuda milenial sekarang sedikitnya berusia 17 tahun, dan setiap hari tidak bisa lepas dari internet, kecuali sedang tidur. Antara teknologi dan koneksi internet adalah dunia yang ‘menghidupinya’ sekaligus menghubungkan dan melepas batas-batas.

Simak juga:  SERI PANCASILA (8): Harga Mati NKRI

Pemuda seperti itu, mungkin tidak lagi mengenali pemuda yang dulu ber-teriak “Merdeka!”, sambil membawa senjata dan di lehernya ada bendera merah putih melingkar. Mereka, anak-anak milenial akan melihatnya sebagai jama ‘old’, yang tidak lagi relevan dengan jamannya.

Apakah pemuda milenial tidak mengenal(i) pahlawan bangsa kita? Tentu saja mengenali, setidaknya dari pelajaran sekolah yang mereka dapat sejak dari SD sampai SMA, tetapi sangat jarang menggunjingkannya, atau malah menjadi bahan perbincangan di kalangan anak muda. Kalau kita melihat sinetron remaja misalnya atau membaca novel remaja, hampir-hampir dalam kisahnya cerita yang dibentangkan tidak menyajikan bagaimana anak-anak remaja membicarakan pahlawan nasional, yang di setiap daerah bisa disebutkan. Mereka akan bercerita trend musik yang lagi marak, penyanyi Korea yang lahi hits, atau penulis novel remaja yang novelnya sedang mereka bicarakan.
Jadi pahlawan nasional yang berang-kat dari sejarah, dan membangun negara ini dengan penuh perjuangan dan mem-pertaruhkan nyawanya, hampir-hampir tidak ada dalam imajinasinya. Tokoh dalam film kartun Jepang, barangkali malah menjadi idola.

Mungkin Marx Zuckerberg pendiri facebook bagi anak-anak muda milenial, yang dianggap sebagai pahlawan. Karena melalui teknologi dan internet Marx membuat formula sehingga setiap orang bisa saling terkoneksi, bahkan dengan sahabat masa kecilnya, misalya teman sekolah SD yang sudah berpisah lebih dari 40 tahun bisa dipertemukan. Setelah facebook muncul fasilitas komunikasi lainnya, misalnya whatsapp dan lainnya bisa membuat orang saling terkoneksi tanpa meninggalkan lokasi.

Dalam kata lain, pahlawan di era milenial bukan lagi person yang me-mimpin untuk mengusir penjajah. Karena di era milenial tidak ada pen-jajahan, yang ada fasiltas tekonologi dan orang sudah bisa menjadikan teknologi tersebuat sebagai bagian dari hidupnya. Kegelisahan pemuda milenial berbeda dengan kegelisahan generasi sebelumnya, lebih-lebih generasi yang membanggakan mengusir penjajah. Kalau tidak ada koneksi internet, pemu-da milenial merasa dunia akan segera hancur.

Jadi, pahlawan bagi generasi milenial bukan lagi hanya bersifat individual, melainkan bersifat kolektif dan jaringan. Setiap individu saling terkoneksi dan semua mengambil posisi yang berbeda-beda, dan membangun kebersamaan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi, Lingkungan dan Sumber Daya Alam

 

PAHLAWAN DAN PANCASILA

Dalam konteks kekinian, sesungguh-nya sejak Indonesia merdeka dan Pancasila telah menjadi dasar negara, bagaimana menempatkan pahlawan dalam konteks itu. Kita tahu, sudah agak lama Pancasila dibuat menjadi alergi, sehingga ketika kita mendengar kata itu sepertinya kita merasa risih. Karena hampir 30 tahun Pancasila menjadi bahan indoktrinasi. Siapa yang menolak kehadiran Pancasila dianggap subversif dan karena itu harus disingkirkan. Tidak bisa lain orang ‘terpaksa’ menerima, atau pura-pura menerima.

Artinya, selama ini Pancasila telah salah tempat. Barang yang mestinya menjadi dasar, sehingga bisa melandasi setiap tindakan, malah ditempatkan sebagai ‘senjata; untuk menghantam lawannya, atau siapa saja yang dianggap lawan.

Kita menerima Pnacasila bukan karena kita paham dan mengerti, tetapi takut. Padahal kita tahu tindakannya menyimpang dari Pancasila, bahkan ‘mengkhianati’, tetapi ketika kita mengingatkan, seolah kita dianggap melecehkan. Pemaknaan Pancasila menjadi terpusat, dan tidak ada tempat lain yang boleh memberi makna, selain mengkonsumsi makna.

Ketika reformasi bergulir, dan rezim yang ‘menguasai’ Pancasila runtuh, masa transisi seperti tidak lagi merujuk Pancasila, seolah apa yang dulu menjadi bahan indoktrinasi lepas dari ingatan dan orang mencari rujukan lain. Justru saat kehilangan pegangan itulah persoalan nasionalisme muncul, dan ketika ada rujukan lain yang disodorkan, dan pemaknaannya juga ‘terpusat’, seolah hanya orang tertentu yang memiliki makna, kehidupan berbangsa menjadi goyah, dan orang kembali merujuk Pancasila.

Sebagai bangsa, kita tak bisa mele-paskan Pancasila. Ia telah menjadi penyangga sekaligus pengikat kebersa-maan. Dalam perbedaan, dalam kebera-gaman, Pancasila memberi tempat tanpa menyamakan yang berbeda, tetapi membiarkan yang berbeda tetap berbeda, untuk hidup bersama dalam damai.

Pahlawan di negara Pancasila adalah orang atau kelompok atau jaringan yang menjaga perbedaan, menjaga kerukunan untuk terus berlangsung. Bahwa hidup di Indonesia penuh warna dan saling toleransi.

Orang yang dengan tegas membe-rantas korupsi, dan menyelenggarakan keadilan bagi semua, rasanya dia adalah pahlawan di negara Pancasila. Negara kita yang terus tumbuh dan terus mencari sosok orang seperti itu. Bukannya tidak ada, belum nampak, atau sudah ada hanya belum menjadi rujukan bersama. Karena, di dalam era digital yang personal sudah mulai kabur dan berjejaring semakin terus terbentuk dan menguat.Maka, dalam konteks era digital dan Pancasila, kita perlu memaknai ulang apa yang disebut pahlawan. (Ons Untoro)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XXIII: Korupsi Satu Pilihan, atau Kutukan?

Tidak sedikit yang merasa pesimis bahkan secara ekstrim menyatakan tidak mungkin terwujud, bahwa tahun 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *