Jumat , 22 Maret 2019
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XXI: Menilik Sosok Pahlawan dan Nilai Kepahlawanan di Kalangan Generasi Milenial
Drs. Edy Widiyatmadi, M.Si (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XXI: Menilik Sosok Pahlawan dan Nilai Kepahlawanan di Kalangan Generasi Milenial

Edy Widiyatmadi

Beberapa waktu menjelang, saat hari H dan setelah peringatan Hari Pahlawan tgl 10 Nopember yang lalu banyak terekspose lontaran keprihatinan di satu pihak, namun juga sikap pemakluman di pihak lain terhadap gejala “telah berubahnya” persepsi, apresiasi dan penghayatan terhadap nilai-nilai kepahlawanan di kalangan masyarakat. Amatan pihak yang prihatin, saat ini semakin banyak terlihat terjadinya kemerosotan (bahkan pemudaran) pemaknaan terhadap nilai-nilai kepahlawanan, baik di ranah pikiran,perasaan, disposisi mental mau-pun perilaku. Kelompok/kalangan yang menjadi “target” keprihatinan antara lain adalah kalangan muda (ranah pikiran, perasaan dan disposisi mental), dan di ranah perilaku terutama adalah para pelaku (roler) wewenang (pemimpin formal, politisi) yang kini tengah berki-prah di panggung kehidupan. Sedangkan pihak yang bersikap memaklumi bah-wa memang telah terjadi perubahan (persepsi, apresiasi, dan penghayatan) terkait dengan nilai-nilai kepahlawanan, boleh jadi karena mafhum bahwa dalam kehidupan berlaku adagium: waktu berubah, dan manusia pun (ikut) berubah. Apalagi kalau dalam perubahan waktu juga muncul hadir kelompok generasi manusia yang baru. Saat ini ge-nerasi manusia baru itulah yang disebut generasi milenia.

Baik pihak yang prihatin maupun yang memaklumi, kiranya sama-sama menempatkan generasi milenial sebagai kelompok yang potensial dan determinatif bagi kelangsungan hidup bangsa ini ke depan. Dari sejarah kita tahu dan menyadari bahwa kelompok, komunitas dan bangsa yang besar selalu memiliki landasan, akar dan bangunan nilai-nilai yang kuat sebagai pijakan da-lam proses pertumbuhkembangannya, yang sebagian besarnya berhulu dari warisan para pendahulu/seniornya (kendatipun proses progresi dan aku-mulasinya tak selalu linier). Ini berarti bahwa warisan nilai-nilai dari generasi pendahulu/senior memiliki peran penting bagi generasi turunannya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, warisan nilai-nilai ini terserap, terseleksi, mengendap, terkristalisasi dan menebar dalam rentang waktu sejak munculnya embrio untuk bersama bereksistensi, mewujud secara nyata (teritorial, geopolitik) hingga bertumbuh kembang melintasi berbagai babak jaman. Alur penyerapan hingga penebaran nilai-nilai ini pun bergulir secara longitudinal maupun cross-sectional. Dalam kaitannya dengan peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember, nilai-nilai tematik yang diaktualisasi dan diafirmasikan adalah: sikap patriotik, keberanian, kerja-sama, kerelaan berkorban, pantang menyerah, dan kepedulian untuk berpartisipasi, yang dijiwai oleh spirit kesetiakawanan sosial tanpa melihat status dan kedudukan arek-arek Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam ren-tang perguliran waktu, terutama di kalangan anak muda ternyata nilai-nilai dan atribut kepahlawanan tersebut mengalami pergeseran, perubahan makna, yang bahkan kemudian juga modifikasi ekspresi dan praksisnya. Merespons hal ini, setidaknya bisa kita ajukan 3 pertanyaan: Pertama, masih relevankah, atau pentingkah peran nilai-nilai kepahlawanan ini di jaman sekarang? Ke-dua, Apakah pergeseran, perubahan makna serta modifikasi praksis kepahlawanan ini berarti akan (dan secara pasti) melunturkan/memusnahkan nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan para senior bangsa kita? Dan ke-tiga, Apa yang perlu dilakukan untuk bisa merawat, menjaga dan meng-hidupi nilai-nilai kepahlawanan di masa kini?

 

Makna Psikologis Kepahlawanan

Menurut CG. Jung (psikologi analitik), sosok pahlawan adalah pola dasar yang ada dalam ketidaksadaran kolektif manusia dan bersifat universal. Kepahlawanan merupakan elemen bayangan dalam jiwa (psike) setiap manusia yang hidup dalam kelompok. Hampir di semua komunitas budaya terdapat citra simbolik pahlawan dengan segala atribut yang melekat. Hal ini bisa dilacak dari mitos, dongeng, serta berbagai narasi sejenis yang ada di setiap komunitas budaya (Yunani, Romawi, zaman Pertengahan, di suku-suku pe-dalaman kuno hingga kontemporer) yang mengisahkan tokoh-tokoh pahlawan dalam perannya sebagai figur pembela kebenaran, penumpas kejahatan, pejuang keadilan; lengkap dengan episode kejayaan serta renik-renik tragedinya dalam panggung kehidupan. Kisah sang pahlawan dengan segala atribut kepahlawanannya ini dishare, sekaligus menjadi media internalisasi nilai-nilai dalam komunitas secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui berbagai modus dan media (lisan, tulisan, kidung, lukisan). Berbagai bentuk narasi sosok pahlawan dengan atribut kepahlawanannya ini faktanya terus berlanjut hingga jaman kontemporer, dengan semakin kaya dan beragamnya media (buku fiksi, drama/teater, audio visual/film), berkembangnya ekspresi estetika serta makin besarnya peran kapital. Boleh dikatakan, karakter dan atribut kepahlawanan yang melekat pada sosok pahlawan dalam dongeng dan mitos di berbagai komunitas budaya/kelompok masyarakat berperan pen-ting setidaknya bagi 2 hal: pertama, menjadi sarana atau media untuk menstimulasi pengembangan nilai-inilai dan karakter individu-individu maupun kelompok sesuai dengan harapan/ideal masyarakatnya, dan ke-dua, menjadi media “katarsis” yang bisa “membebaskan” anggota-anggota kelompok/komunitas/masyarakat baik secara individual maupun komunal dari beban mental-psikologis dan sosial terkait dengan kesenjangan antara peran/capaian yang senyatanya dengan peran yang seharusnya/diharapkan sebagai bagian dari masyarakatnya. Dengan demikian, secara psikologis sosok pahlawan dan atribut kepahlawanan itu sudah bersemayam dalam jiwa banyak orang dan berperan bagi pertumbuhkembangannya sebagai anggota kelompok/masyarakatnya. Pun demikian halnya pada generasi milenial, sosok dan atribut itu secara potensial telah ada; kendatipun dalam konfigurasi yang berbeda dengan generasi-generasi seniornya.

 

Gambaran Nilai Hidup dan Prioritas Perhatian Generasi Milenial

Menurut Miller, dkk.(2014) yang disebut generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1983-2001, sedangkan yang lahir antara tahun 2002-sekarang disebut homeland generation. Kedua generasi ini bisa digolongkan sebagai generasi milenial, kendatipun dalam hal keakraban dengan penggunaan teknologi digital (terutama internet) kelompok ke-dua lebih mutakhir. Dari hasil risetnya, Miller dkk memaparkan bahwa generasi milenial memiliki komposisi nilai hidup yang berbeda dengan generasi sebelumnya (orangtua). Berdasarkan amatan generasi seniornya, generasi milenial memiliki beberapa nilai hidup antara lain:

Menggabungkan antara kerja dan hidup, dengan karakteristik perilaku suka melakukan apa yang mereka inginkan di saat mereka mau, tidak suka dengan aturan yang kaku dan rinci, tidak suka mengikuti proses-proses kerja yang diba-kukan; bagi mereka yang penting bisa menyelesaikan tugas dengan caranya.

Ingin dihargai, dengan kecenderungan lebih mementingkan apa yang mereka yakini sebagai kompetensinya dan tidak suka menghabiskan waktu untuk sekedar memenuhi prosedur yang ditetapkan/diberikan oleh pihak eksternal. Hal ini sering menimbulkan persepsi “som-bong” di pihak generasi seniornya

Ekspresi diri, yang ditunjukkan dengan kemampuan imajinasi yang menonjol, sudut pandang yang baru (berbeda) dalam menghadapi berbagai situasi, tidak suka pada perspektif main-stream dan cara pemecahan masalah yang mekanistik.

Kebutuhan akan perhatian, mereka lebih mementingkan bagaimana seha-rusnya mereka diperlakukan ketimbang bagaimana mereka memperlakukan orang lain, sensitif terhadap perasaan dipercaya, diberi semangat serta dipuji oleh orang lain.

Pengakuan terhadap pencapaian, adanya kecenderungan mudah ter-singgung, mudah kesal dan mudah melepaskan tanggung jawab bila dikritik dan dievaluasi. Di sisi lain, mereka ingin cepat mendapat pengakuan bila tugas/pekerjaan bisa dilakukan dengan baik. Bagi generasi senior, kecenderungan itu sering dipersepsi sebagai sikap defensif.

Informal, mereka tidak suka bersikap dan berperilaku yang dianggap “basa-basi”, gaya komunikasi dan interaksinya direktif yang seringkali mengabaikan apa yang oleh generasi seniornya dide-finisikan sebagai “kesopansantunan”. Sikap itu seringkali mudah menimbul-kan persepsi “kurang ajar”.

Kesederhanaan, khususnya dalam berpikir dan mengatribusi situasi. Mereka mudah menyimpulkan kaitan sebab-akibat dari suatu peristiwa atau situasi. Dalam memandang dan memecahkan permasalahan kuat didorong oleh kepentingan diri sendiri (egosentris) tanpa memperhatikan apa dan bagaimana dampaknya bagi orang lain.

Multitasking, dengan manifestasi perilaku: sulit memperhatikan detail tugas atau bertahan /fokus dalam satu tugas, terutama tugas-tugas yang tidak mereka sukai. Orang Jawa menyebutnya sebagai : apa-apa disambi-sambi

Makna, mereka mengejar makna dalam apa yang mereka sukai dan mere-mehkan tugas-tugas yang dianggap ‘sederhana’ (misalnya menata file, entry data), cenderung ceroboh, tidak pedulian, sulit berkomitmen; terutama saat menghadapi tugas-tugas/tanggung-jawab yang tidak diminati, kendatipun itu wajib dilakukan.

Beberapa nilai hidup itu sedikit banyak berimplikasi pada kecenderung-annya dalam melakoni hidup: tidak suka pada hal-hal konseptual yang butuh perenungan, menyukai tindakan nyata/konkrit, bersikap informal dalam banyak hal, ekspresif dan spontan, haus pengakuan akan esksistensinya, dalam melakukan tindakan/menyelesaikan tugas lebih digerakkan oleh passion ketimbang memenuhi kewajiban yang diberikan oleh orang lain, dan suka melakukan beberapa tugas/tindakan dalam satu momentum waktu. Apakah beberapa nilai hidup generasi milenial tersebut juga menerpa generasi milenial Indonesia? Dalam sebagian besar gejala, rasanya itu juga bisa kita amati terjadi pada sebagian besar generasi milenial di lingkungan sekitar kita.

Adapun prioritas perhatian mereka antara lain: permasalahan global (misal-nya green house), korupsi, perdamaian dunia, start-up, kreativitas digital dan peluang kerja.

Hanya saja, ada hal lain yang agaknya memang berbeda dengan generasi milenial global yang terjadi di kalangan generasi milenial di Indonesia. Hasil riset Dr. Muhammad Faisal (pendiri Youth Laboratory Indonesia) mengungkap bahwa mereka yang lahir antara tahun 1989-2000 (oleh Faisal disebut generasi phi). Mereka belum lahir atau masih berusia di bawah 10 tahun ketika peris-tiwa Reformasi 1998 terjadi. Menurut-nya, Reformasi 1998 menjadi satu batas penting bagi karakter generasi ini, karena setelah itu bangsa Indonesia mengalami cukup banyak perubahan cara pandang serta gaya hidup (life style) yang dipicu oleh era keterbukaan. Berbagai doktrin yang semula berlaku ditinggalkan, berganti dengan situasi baru yang sifatnya transisional. Nah generasi phi ini tumbuh besar dalam situasi itu. Sebagaimana sinyalemen Faisal yang merujuk pada teori perkembangan psiko-sosial Erick Erikson, anak yang berusia di bawah 10 tahun belum me-ngalami masa krisis identitas (identity vs identity confusion); sehingga rata-rata generasi ini belum bisa menginternalisasi peristiwa historis (Reformasi) ini. Yang terjadi adalah: generasi ini tumbuh menjadi generasi yang sangat cair dan cara berpikir yang fleksibel karena tidak ada beban sejarah yang menggelayutinya. Pasca Reformasi, suasana kehidupan sosial politik di Indonesia diwarnai oleh euphoria kebebasan (berpendapat dan bertindak) baik di pihak pemimpin-pemimpin politik maupun di kalangan warga masyarakat, dengan segala implikasi karambolnya. Aturan-aturan produk rezim Orde Baru dihapus-kan, diganti dengan aturan dan kesepakatan yang sifatnya uji-coba di sana-sini. Agenda-agenda reguler yang semula digelar dengan ketat, satu persatu secara sporadis dibekukan (misalnya P4). Pancasila dengan segala hal yang terkait ‘dikotakkan’ karena bias persepsi akibat selama puluhan tahun dimanipulasi oleh kepentingan kekuasaan. Pancasila warisan luhur founding fathers ‘disiksa’ secara berurutan oleh Orde Baru dan Orde penggantinya. Terjadi kevakuman even-even peringatan hari-hari bersejarah yang semula didesain sedemikian rupa untuk mengaktualkan, mengafirmasi atau paling tidak sebagai momen memorizing butir-butir nilai/doktrin berbagai peristiwa historis, termasuk peringatan Hari Pahlawan. Hal ini sedikit banyak berpengaruh pada ‘hilang dan terputusnya’ memory, dan pengetahuan tentang sejarah beserta aktor-aktor/pahlawan pentingnya (terlepas dari objektif-tidaknya orisinalitas peran kesejarahannya). Ditambah lagi dengan semakin langkanya kehadiran dan kiprah tokoh-tokoh pemimpin di masyarakat yang mampu tampil seba-gai teladan yang merepresentasikan nilai-nilai kejuangan, pengorbanan tanpa pamrih, dan pembela kebenaran dan keadilan. Yang banyak muncul justru figur-figur egosentris yang secara liberal mengkooptasi forum-forum dan ormas-ormas untuk memenuhi kepentingan diri dan kelompoknya. Beberapa tahun Pasca Reformasi terjadi semacam ‘paceklik’ figur model yang bisa menginspirasi generasi milenial.

Dengan demikian, sebagai bagian dari generasi milenial global; generasi milenial Indonesia selain mengalami terpaan perubahan jaman dengan mulai menonjolnya peran IT dengan keserbadigitalannya, juga mengalami ‘keterputusan’ (atau setidaknya ‘pe-ngaburan’) sosialisasi maupun inter-nalisasi nilai-nilai warisan sejarah bangsanya. Barangkali di kemudian waktu, komplikasi terpaan inilah yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada pergeseran, peru-bahan atau bahkan pemudaran pemak-naan terhadap nilai-nilai kepahlawanan.

 

Nilai Kepahlawanan Generasi Senior vs Generasi Milenial

Bagi generasi senior (generasi kakek-nenek dan orang tua generasi milenial), peristiwa heroik 10 Nopember 1945 di Surabaya mewariskan nilai-nilai kepahlawanan: sikap patriotik, kebera-nian, kerjasama, kerelaan berkorban, pantang menyerah, dan kepedulian untuk berpartisipasi, yang dijiwai oleh spirit kesetiakawanan sosial tanpa melihat status dan kedudukan; yang kesemuanya dimaknai sangat penting perannya bagi tercapainya kemerdekaan dan menjadi penopang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan itu sen-diri. Konteks peristiwa kepahlawanan saat itu masih kental dengan tindakan perang fisik yang konsekuensinya sangat konkrit dan mutlak: kematian. Gambaran tentang seperti apa sosok pahlawan serta atribut karakteristiknya pun relatif lebih jelas. Hal ini bisa dipa-hami, karena antara generasi senior dengan figur-figur pahlawan terhubung oleh jalinan historis serta kedekatan berkat repetisi sosialisasi dan internalisasi yang lebih intensif. Bagi sebagian besar generasi senior, momen peringatan seperti Hari Proklamasi, Hari Pahlawan mampu menghadirkan suasana haru terhadap para pelaku sejarah dalam batin, sehingga tak sedikit yang bahkan meneteskan air mata sekaligus merasa bangga terhadap jasa para pahlawan yang dikenangnya. Bagaimana halnya yang terjadi pada generasi milenial? Dalam kesempatan wawancara dengan 20 siswa di sebuah SMA favorit di Yogyakarta terungkap bahwa nilai kepahlawanan di masa kini menurut mereka adalah: sikap kolaboratif tanpa membedakan SARA, memiliki kemampuan spesifik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, rela berkorban, dan menguasai teknologi komunikasi.

Harian Kompas (5/11/2018) meng-ekspose hasil jajak pendapat tentang “Gambaran Pahlawan Versi Anak Muda” di kalangan pelajar dan mahasiswa di 11 kota di Indonesia, yang memperlihatkan fenomena sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Mayoritas responden (81.6%) tidak setuju jika gambaran pahlawan diidentikkan dengan sosok yang merebut kemerdekaan melalui perjuangan bersenjata. Bagi generasi milenial, kepahlawanan di masa kini lebih terkait dengan perjuangan menyejahterakan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan jawaban responden yang berjumlah 51.8 persen. Tentang nilai kepahlawanan pada masa kini, 39.5 persen responden berpendapat bahwa itu terkait dengan perjuangan membela kebenaran, dan hanya sebanyak 4,6 persen responden yang mengaitkan nilai kepahlawanan dengan perjuangan kemerdekaan. Tentang sosok-sosok yang layak disebut pahlawan, sebanyak 49,5 persen responden tetap menyebut para pejuang kemerdekaan di nomor urut pertama, disusul tokoh populer (33,6%), tokoh agama (9,6 %), dan terakhir tokoh imajiner seperti superhero (3,5%). Ketika beberapa responden diminta bercerita tentang pahlaan nasional yang mereka ingat, sebagian besar merasa kesulitan, namun ketika diminta menyebutkan pahlawan super; seorang responden langsung bisa menyebutkan beberapa nama: Superman, Spiderman, Batman dan Antman. Yang juga menarik, seo-rang responden yang ditanya, dalam satu menit berhasil menyebutkan 13 nama pahlawan nasional; dan dalam waktu yang sama berhasil menyebutkan 21 nama pahlawan super. Apa yang menyebabkan kesulitan mengingat sosok pahlawan nasional? Mereka mengatakan karena hidup di jaman yang berbeda, sedangkan pahlawan super (yang imajiner) mudah diingat karena sosok-sosoknya terus hadir dalam film, komik dan aneka medium lainnya. Kendatipun fiksi, menurut responden sosok pahlawan super itu tampak nyata dan jelas asal-usulnya.

Dari wawancara pintas serta jajak pendapat di atas tersebut terlihat bagai-mana sekilas gambaran pahlawan serta nilai-nilai kepahlawanan versi generasi melenial, yang ternyata berbeda atau telah berubah dari apa yang digambarkan oleh generasi seniornya. Perbedaan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh perbedaan preferensi akibat distansi terhadap sosok-sosok pahlawan yang ada yang berkombinasi dengan nilai hidup (tidak suka pada hal-hal konseptual yang butuh perenung-an, menyukai tindakan nyata/konkrit, bersikap informal dalam banyak hal, ekspresif dan spontan, dan lebih digerakkan oleh passion) serta prioritas problem yang menjadi perhatian mereka. Kombinasi ketiga hal ini sedemikian rupa berpengaruh terhadap citra dan gambaran ideal tentang nilai-nilai kepahlawanan mereka. Tentang bagaimana gambaran mengenai nilai kepahlawanan yang lebih komprehensif pada generasi milenial, perlu dilakukan riset yang bisa mengungkapkan data dengan cakupan yang lebih luas.

 

Perlunya Dukungan dan Internalisasi

Dalam rentang 50 tahun ke depan, di berbagai bidang kehidupan kelang-sungan masa depan bangsa Indonesia ada di tangan generasi milenial yang sekarang ini sebagian masih berada dalam usia kanak-kanak, sebagian sedang bertumbuh sebagai remaja, sebagian tengah menuju usia dewasa awal dan sebagian bertumbuh me-nuju usia dewasa penuh. Sejarah membuktikan, bahwa kelompok, atau dalam skala besar bangsa yang tangguh (Jepang, Finlandia, Tibet) selalu memiliki landasan dan akar nilai-nilai yang kuat. Untuk menunjang dan mendukung kesiapan generasi mile-nial berperan aktif dalam kehidupan berbangsa diperlukan dukungan yang kondusif baik dalam penanaman, pembenahan dan penguatan nilai-nilai penopang ketangguhan. Adapun warisan nilai kepahlawanan para pejuang kemerdekaan yang telah kita miliki antara lain: sikap patriotik, keberanian, kerjasama, kerelaan berkorban, pantang menyerah, dan kepedulian untuk berpartisipasi, yang dijiwai oleh spirit kesetiakawanan sosial tanpa melihat golongan, status dan kedudukan. Dalam konteks negara bangsa yang berlandaskan Pancasila, pada situasi yang sudah jauh melampaui masa perjuangan bersenjata, nilai-nilai tersebut bisa dire-vitalisasi menjadi nilai kebhinnekaan, ketulusan, kemanusiaan, dan keadilan. Beberapa langkah yang relevan dan urgen dilakukan:

Memahami karakter generasi milenial dengan mengetahui nilai-nilai hidup, dan prioritas perhatian mereka, termasuk memahami latar belakang situasi sosial, politik dan ekonomi yang terjadi pada masa generasi milenial mulai lahir. Dari sini akan terungkap bagaimana presisnya nilai-nilai kepahlawanan yang mereka canangkan.

Menjalin interaksi dan komunikasi yang bersifat open-mind, termasuk fasilitasi untuk bernegosiasi dalam beradaptasi dengan situasi-situasi kon-tekstual secara resiprokal.

Trensfer Nilai: Menginisiasi dan menginternalisasikan nilai-nilai keuta-maan kehidupan berbangsa yang berlandaskan Pancasila (nilai kebhinne-kaan, ketulusan, kemanusiaan, dan keadilan) di berbagai setting (keluarga, sekolah, lingkungan) melalui berbagai pendekatan dan media yang disesuaikan dengan konteks generasi (usia, tingkat pendidikan, heterogenitas kearifan lokal). Pada tahap awal proses ini, sangat penting bagi generasi milenial untuk menyadari jati diri bangsanya melalui pengetahuan dan kesadaran akan sejarah asal-usul negara bangsa Indonesia, mini-mal sejak pra-kemerdekaan hingga saat ini (ingat pidato Jasmerah Bung Karno)

Membangun narasi bersama untuk kelangsungan masa depan bangsa.

Melakukan afirmasi dan autokritik yang konstruktif untuk menyempurna-kan setiap tahapan transfer nilai

 

Penutup

Sekilas paparan di atas mengungkap-kan bagaimana generasi milenial memahami sosok pahlawan dan bagaimana mereka menggambarkan nilai-nilai kepahlawanan, kendatipun cakupannya masih parsial (belum komprehensif). Sebagai keluarga bang-sa dengan sejarah perjuangan yang berat, panjang, berliku dan dengan pengorbanan yang luar biasa; kita tidak bisa bersikap membiarkan kelangsungan hidup berbangsa sekedar begitu saja menggelinding mengikuti hukum alam. Sejarah sudah mengungkapkan bukti, bahwa bangsa yang besar, yang tangguh melampaui perguliran jaman selalu memiliki lambaran dan akar-akar nilai yang kuat. Generasi milenial dan generasi adik-adiknya yang akan terus berlahiran harus diberi ruang untuk menyerap dan menghayati lambaran akar-akar nilai ini. Dengan lambaran dan akar-akar nilai yang kuat, akan dimiliki jati diri yang kuat pula. Secara potensial, kita telah memiliki lambaran dan akar-akar nilai itu yang terangkum dalam Pancasila. Menjadi tugas kita bersama (semua generasi) untuk merawat, mem-pertahankan, dan menebarkan nilai-nilai Pancasila di semua ranah; sejak dari pikiran, perasaan, pembatinan hingga operasionalisasi konkritnya dalam perilaku sehari-hari.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XXIII: Korupsi Satu Pilihan, atau Kutukan?

Tidak sedikit yang merasa pesimis bahkan secara ekstrim menyatakan tidak mungkin terwujud, bahwa tahun 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *