Rabu , 21 November 2018
Beranda » Essai EAN » Mengislami Rahasia
Ilustrasi lelaki termenung. (ft. net)

Mengislami Rahasia

Seger tidak putus asa. Ia mencuri peluang lain untuk menggali. Dapatnya Pakde Sundusin.

“Pakde, hidupnya Mbah Markesot itu menurut Pakde bahagia atau menderita?”

Sundusin tertawa lebar. “Haha. Pertanyaanmu itu hitam putih, hidup atau mati, ya atau tidak, seperti milisi berangkat perang. Hidup setiap orang itu ya dinamis antara ya dengan tidak, bergerak-gerak antara hidup dan mati, timbul tenggelam antara hitam dengan putih. Tidak ada yang Kafir Mutlak atau Muslim Absolut”

Seger tidak mau mundur. “Pakde tahu saya tidak mungkin bertanya tentang keadaan makhluk dengan tujuan absolut. Yang saya ingin capai adalah titik berat keadaan hidup Mbah Sot. Kecenderungan utamanya. Prosentasenya atau primer-sekunder-tersiernya. Wajah utama kehidupan Mbah Sot itu kebahagiaan ataukah penderitaan?”

Sundusin tertawanya menurun, tapi tetap tertawa. “Kebahagiaan Mbah Markesot adalah penderitaan, dan penderitaan Mbah Markesot adalah kebahagiaan”, jawabnya.

“Kurang ajar orang-orang tua ini”, kata Seger setengah menggerundal, “Kalau kami anak-anak muda ini tenggelam dalam keasyikan olah nilai hidup seperti para Pakde, naga-naganya kami kelak juga tidak akan pernah mencapai apa-apa secara keduniaan…”

Simak juga:  Qur`an Sepertiga dan Perang Sampyuh

Sekarang tertawa Sundusin mengeras. “Memangnya seberapa luas dan hebat dunia ini sehingga mampu mengakomodasi pencapaian makhluk sempurna yang bernama manusia. Hidup di dunia ini dolanan PAUD, kelas Taman Kanak-kanak. Sejauh-jauh yang bisa dicapai di dunia hanyalah kemewahan temporer, hedonisme yang sebenarnya hanya khayal-khayal pendek, tipuan-tipuan kejiwaan. Yang semuanya memperlambat pencapaian sejati pada diri yang juga sejati. Yakni yang diperjanjikan dengan Allah sebelum lahir. Bukan diri yang dipalsukan di dunia”

Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu”.

“Jangan lari terlalu jauh, Pakde”, Seger memprotes, “Yang saya tanyakan adalah kehidupan pribadi Mbah Sot”.

“Yang mana kehidupan pribadi Mbah Sot itu?”, jawab Sundusin dengan bertanya balik, “kalau semua makhluk berasal dari Diri Yang Satu dan bergerak ke Diri Yang Satu, inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, maka diri Markesot bergerak meluntur, menyamar, men-sirna, karena diri Markesot tidak bisa duduk sejajar dengan Diri Yang Satu. Semua diri musnah menjadi bagian dan akhirnya menyatu dengan Diri Yang Satu”

Simak juga:  Membubarkan Negara

Seger kembali ke sasaran. “Mbah Sot itu berwajah tenang dan bahagia di hadapan dunia, tetapi ia menyimpan kesengsaraan batin yang harus ia rahasiakan. Sebab kalau ia mengungkapkannya, akan memunculkan retakan-retakan dan tabrakan-tabrakan di dunia. Mbah Sot sering menghilang karena ia sering tidak kuat menahan rahasia itu di tengah khalayak ramai. Benar nggak itu Pakde?”

Sundusin tertawa lebih keras, tapi tampak ia menyembunyikan sesuatu.

“Yang sebenarnya saya ingin tahu adalah”, Seger melanjutkan, “rahasia yang dirahasiakan itu menyangkut keadaan dunia, ummat manusia, bangsa-bangsa, ummat dan golongan-golongan, ataukah tentang diri Mbah Markesot sendiri?”

Sundusin akhirnya berhenti tertawanya. Ia terdiam beberapa saat. Kemudian menjawab pelan. “Seger, qadla dan qadar Allah, konsep dan formula sistem yang Allah terapkan pada hidup manusia itu paling banyak seper-sejuta persen yang kita bisa meraba. Dan di dalam yang seper-sejuta itu terkandung miliaran rahasia lain yang manusia hanya bisa menerimanya sebagai rahasia. Mari kita islami rahasia itu…”.

Daur II-302
Yogya, 14 Februari 2018

Lihat Juga

Telaga Cahaya

Setiap kali Markesot selesai melantunkan satu ayat, muncul sejumlah anak panah dari seluruh arah, menancap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.