Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Sastra » Mengenang Rendra di Sastra Bulan Purnama
WS Rendra (ft. Ist)

Mengenang Rendra di Sastra Bulan Purnama

Kali ini, Sastra Bulan Purnama 85 akan diisi untuk mengenang Rendra, seorang penyair dan aktor teater terkemuka di Indonesia, serta pemimpin Bengkel Teater. Acara akan diselenggarakan, Jumat, 26 Oktober 20018, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta,

Puisi-puisi Rendra akan dibacakan oleh beberapa anggota Bengkel Teater, yang tinggal di Yogya dan Ngawi, serta dibacakan oleh pemain teater dari Teater Dinasti, pimpinan Fajar Suharno. Sastra Bulan Purnama yang diberi tajuk ‘Tribute To Rendra; Kata Dilisankan, Kata Digerkkan” dipilih puisi-puisi yang ditulis Rendra khusus untuk Paguyuban Bangau Putih (PGB) dan dua puisi Rendra yang ditulis untuk umum.

Puisi Rendra yang berjudul ‘Kupanggili Namamu’ akan dibacakan Agus Istianto dari teater Dinasti. dan puisi berjudul ‘Bersatulah Pelacur2 Jakarta’ dibacakan Eko Winardi, seorang pemain teater dari Teater Perdikan.

Nuranto, Ketua Yayasan Tembi Rumah Budaya, yang menyelenggarakan acara ini mengatakan, kegiatan yang sudah dilakukan rutin setiap bulan dan sudah berlangsung selama 7 tahun, khusus untuk edisi 85 sekaligus untuk merayakan bulan Bahasa, yang jatuh di bulan Oktober ini.

“Jadi, bulan purnamanya pas bulan bahasa, makanya sekaligus Sastra Bulan Purnama untuk merayakan bulan bahasa” kata Nuranto.

Simak juga:  ‘Ia Masih Bocah’ Dibacakan Landung Simatupang

Puisi-puisi Rendra, yang ditulis khusus untuk Perguruan Bangau Putih, yang sering disingkat PGB akan dibacakan oleh anggota Bengkel Teater dari generasi berbeda. Fajar Suharno membacakan puisi ‘Kosong Itu Penuh Daya’, Sitoresmi Prabuningrat membacakan puisi berjudul ‘Laku Adalah Kenyataan’.

Anggota Bengkel dari generasi yang lain, Untung Basuki membacakan puisi berjudul ‘Mengolah Gerak Nurani’ dan akan melagukan puisi Rendra yang berjudul ‘Mengolah Kesadaran’. Bramantyo Prijosusilo membacakan puisi berjudul ‘Mengolah Nafas, Menghayati Doa’ dan Nita Azhar membacakan puisi berjudul ‘Mengolah Teratai’.

Mengawali acara, Fajar Suharno akan menyampaikan kisah pendek persahabatan antara Rendra dan Subur Raharjo, guru besar PGB. Keduanya saling bersahabat dan saling belajar sehingga seperti tumbu oleh tutup.

“Entah siapa yang menjadi tumbu dan siapa menjadi tutup, yang jelas keduanya saling mengisi dan anggota Bengkel Teater belajar PGB dari Subur Raharjo” kata Fajar Suharno.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menjelaskan, karena Sastra Bulan Purnama 85 ini khusus untuk mengenang Rendra dalam kaitannya dengan PGB, maka akan ada display dari para murid PGB yang ada di Bogor, Bentara, Tembi dan Yogya.

Simak juga:  Tiga Perempuan Penyair di Sastra Bulan Purnama

“Display ini untuk memberi suasana pertunjukan sastra, bukan untuk menterjemahkan puisi Rendra yang ditulis khusus untuk PGB” ujar Ons Untoro

Selain itu beberapa puisi Rendra, masing-masing berjudul ‘Senandung Hijau’, ‘Serenda Kelabu’, ‘Ranjang Bulan’, ‘Stanza’, ‘Kali Hitam’, ‘Ibunda’ dan “Tak Bisa Kulupakan’ akan dipentaskan dalam bentuk lagu oleh Tatyana dan Umar Muslim. (*)

Lihat Juga

Puisi dari Guru dan Dosen di Sastra Bulan Purnama

Dua perempuan penyair sekaligus guru dari kota yang berbeda, Nella Widodo (Temanggung) dan Amin Wahyuni …

1 komentar

  1. Sastra maju bangsa berbudi tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *