Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XVII: Mendambakan Politisi Beretika
Oka Kusumayudha (ft. tembi)

Diskusi Kebangsaan XVII: Mendambakan Politisi Beretika

Masih segar dalam ingatan kita, pernyataan Presiden RI ke-IV KH. Abdurrachman Wahid (Gus Dur) yang melontarkan kritik bernada humor terhadap ulah beberapa wakil rakyat di Senayan. Almarhum Gus Dur mengilustrasikan bahwa tingkah polah beberapa wakil rakyat kita di Senayan ketika berdebat tidak ubahnya seperti “Taman Kanak-kanak”. Maksudnya kira-kira tidak jauh dari suasana para anak didik di “Taman Kanak-kanak” yang suka ribut saling berceloteh. Semua ingin berbicara. Tidak peduli didengar atau tidak. Pendek kata ramai. Jauh dari gambaran sosok yang disebut “Yang Terhormat” sebagai wakil rakyat di Dewan Per-wakilan Rakyat. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa “bapak-bapak” itu jauh dari ukuran orang yang paham etika. Tidak menampakkan sopan santunnya di depan publik. Tentu tidak semuanya berperilaku seperti itu. Meski jumlahnya tidak dominan, mereka dapat memberi kesan negatif terhadap lembaga wakil rakyat itu secara umum. Masih lebih banyak yang baik. Sayangnya, yang baik-baik ini kalah nyaring suaranya ketimbang yang dituding suka bikin recok itu.

Pilkada untuk Gubernur, Bupati dan Walikota di Nusantara tahun 2018 sudah berlalu belum lama ini. Menurut penilaian kalangan pengamat, Pilkada berlangsung aman, tertib dan lancar. Suasana unik berbau budaya lokal, seperti para petugas TPS mengenakan busana ala punakawan memberi kesan bahwa Pilkada memang pesta demokrasi. Dilaksanakan dengan penuh suka cita tanpa diwarnai te-kanan apalagi teror. Meski setelah dilakukan penghitungan suara, ma-sih menyisakan beberapa gugatan. Seperti adanya dugaan “money politic”, ditengarai ada selisih suara yang perlu klarifikasi dll. Namun secara nasional Pilkada yang baru lalu dinyatakan berhasil. Syukur alhamdullilah !

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Kini, bangsa Indonesia sedang mempersiapkan tahapan demokrasi yang paling akbar, yaitu Pemilu Legis-latif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden pada bulan April tahun 2019 yang akan datang. Suhu politikpun terhimbas semakin “memanas”. Partai-partai politik (Parpol) sibuk melakukan lobi-lobi dalam rangka membangun koalisi. Kontestasi sema-cam ini dalam dunia politik dianggap wajar-wajar saja. Satu hal yang mayo-ritas masyarakat mewanti-wanti untuk dijaga demi iklim politik yang sejuk adalah masalah etika berpolitik.

Perlu ada diskusi bagaimana sebaiknya aktor-aktor politikus ini memainkan perannya. Input dari diskusi diharapkan dapat diserap oleh para aktor yang akan bermain dalam tahun politik 2019 nanti. Guna menghindari kegaduhan politik yang bisa mengancam persatuan bangsa. Maka Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta menggelar Diskusi Kebangsaan ke-XVII dengan tema: ”Pancasila Sebagai Etika Berpolitik”. Pada hari Senin 23 Juli 2018 di Pendopo Cangkir Jl. Bintaran Tengah 16 Yogyakarta.

Tampil sebagai nara sumber diskusi adalah: Dr. St. Sunardi (Ketua Prodi S-3 Kajian Budaya USD), Drs.HM Idham Samawi (Anggota DPR-MPR RI 2014-2019), Dr. Kuskridho Ambardi MA (Kepala Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM).

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan V : Mewujudkan Sistem Pendidikan yang Berkarakter Pancasila

Berpolitik adalah mengatur strategi bagaimana cara untuk mencapai tujuan. Ada yang menganggap berpolitik sebagai seni mengatur strategi. Patut dicatat, meski meru-pakan satu strategi, namun cara-cara yang pantas dan beretika sangat perlu diperhatikan dan diu-tamakan. Hindari ujaran-ujaran yang mengandung kebencian, berbau SARA, manipulatif, pembodohan yang ujung-ujungnya dapat merugikan dan menyengsarakan rakyat.

Kita sungguh mendambakan kaum elite politik yang beretika dan berintegritas dalam berpolitik. Demi menjunjung martabat para “Yang Terhormat” itu sendiri. Pilihan politik boleh berbeda. Ini negara demokrasi. Tapi ingat dalam perbedaan itu kita masih “bersaudara” sebagai sebuah bangsa. Bangsa Indonesia dalam bingkai NKRI harga mati. Kita wajib menjaga dan mempertahankan kelestarian keindonesiaan milik kita bersama. ***                                               

Oka Kusumayudha

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *