Kamis , 17 Januari 2019
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XXI: Mencari Pahlawan
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XXI: Mencari Pahlawan

SELIRIA EPILOGUS

APAKAH pahlawan harus dicari? Bukankah pahlawan tersedia dalam setiap peristiwa kehidupan? Adakah mereka berniat jadi pah-lawan? Tak ada pahlawan yang disebabkan oleh mempahlawankan diri, atau dipahlawan-pahlawankan. Pahlawan itu otentik sekaligus orisinal. Dan, jangan lupa pula, pahlawan selalu menyedia: sudut pandang dan anggapan.

Seperti dalam Serat Tripama (Mangkunagara IV ……- ……), Basukarna putra Kunthi, dari sudut pandang tertentu, adalah seseorang yang tegak hati dalam batin, menjadi pembela adik-adiknya, Pandawa sesama putra Kunthi, dengan cara melawannya, dengan cara berperang tanding, menjadi panglima perang di pihak lawannya. Tragika kepahlawanan, bersabung nyawa, korban jiwa raga untuk wangsanya. Bersamaan dengan itu, para Kurawa pun menganggap Karna adalah pejuang besar yang membangkitkan rasa berani masuk medan laga Baratayuda. Dalam alam pikir Karna, adik-adiknya tidak akan beroleh bukti kemenangan tanpa melalui memenangi perang. Ia yakin, Pandawa akan menang. Karena itu, sudut pandang politik menempatkan Karna tidak saja dalam pahlawan perang, tetapi juga pahlawan strategi pemikiran, cara indah memaknai kemenangan dan kekalahan. Karna itu, visioner tanpa dendam, meski diwarnai perasaan sakit hati sebagai anak tercampakkan.

Celakanya, politik membawa arus besar pemahaman bahwa pahlawan terkait dengan perang fisik, perang teritorik, perang senjata, dan perang adu arep melawan tentara musuh (baca: penjajah). Maka, liang makam pahlawan didominasi oleh makam prajurit gugur dan wafat. Beruntung, jalan diplomasi dan pergerakan sosial dari dunia sipil mendapat porsi kalkulasi kepahlawanan pula. Meski, masih berbatas pahlawan terkait perlawanan terhadap penjajah.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XII: Jalan Wayang adalah Jalan Kebangsaan

Jadi, zaman penjajahan banyak melahirkan pelawan-pelawan, dan di antara para pelawan itu ada yang dinobatkan menjadi pahlawan. Pahlawan itu, berkat penobatan setelah oto-ritas negara menetapkannya. Tetapi, setiap pahlawan itu tidak pernah berpikir dan berniat memperoleh penetapan dan penobatan. Yang membutuhkan pahlawan itu para generasi ahli waris nilai dan jasa perjuangan, mereka yang membutuhkan tauladan hidup. Semangat dan bukti tindakan perlu diwarisi, dipelihara, dan dikembangkan sehingga setiap generasi harus selalu melahirkan pahlawannya sendiri, ditetapkan atau dinobatkan atau tidak. Budi luhur, jasa pengabdian, dan pengorbanan para pahlawan telah tercurah pada generasi di masanya, sehingga yang terwariskan adalah teladan nilai-nilai dan spirit semangatnya. Mewarisi secara sempurna atas nilai, perbuatan, dan semangat para pahlawan adalah bagian dari tindak kepahlawanan itu sendiri.

Setiap zaman akan selalu melahirkan pah-lawan, selalu ada yang di depan, selalu ada yang berkorban. Pahlawan itu bukan dunia penetapan dan penobatan. Dinobatkan atau tidak, pahlawan tak berkurang kadar jasa pengorbanan dan pengabdiannya. Dalam seberapa luas lingkup cakupannya, pada ceruk di ruang-ruang sempit sekalipun, pahlawan selalu bisa hadir. Ruang agung kepahlawanan, ada pada ruang rasa kepuasan, ruang batin, ruang hati, langit-langit ketakjuban para pemetik tauladan hidup, para penerima manfaat buah kerja, karya, dan pengabdian para pahlawan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIII: Memberdayakan Masyarakat Bermanfaat, Untung bagi Masyarakat

Pertanyaanya, apakah pahlawan memang harus diadakan? Kalaulah demikian, maka harus ada jalan politik yang mampu mengelola penghadiran pahlawan. Apakah pahlawan lahir karena kerja-kerja politik? Politik pemahlawanan. Tidak, sebab pahlawan yang otentik dan orisinal berada di tengah peristiwa kemasyarakatan dan menjadi yang terdepan dalam mengatasi hambatan, menjawab semua tantangan. Pahlawan, acap kali bisa ditemukan tanpa harus dicari. Sering pula, sosok pahlawan itu disadari pada waktu belakangan. Yakin saja, pahlawan akan lahir pada setiap zamannya, dunia tak akan pernah kehabisan stok pahlawan. Termasuk, seperti Basukarna, mereka yang mendukung dengan cara melawannya. Percaya saja. Tabik.

PURWADMADI ADMADIPURWA

Lihat Juga

Pemimpin-42

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *