Beranda » Peristiwa » Mencari “Makasan” di Bangkok dan Sulawesi
Penulis di depan Stasiun Makasan, Bangkok, beberapa tahun lalu. (foto: dok)

Mencari “Makasan” di Bangkok dan Sulawesi

DALAM buku “Yogya Bercerita” saya menulis tentang sebuah stasiun kereta api di tengah jantung kota Bangkok, Thailand yang bernama Makasan (baca: Makassar). Sekian belas tahun silam saya pernah mencoba melacak ihwal keberadaan orang-orang dari Sulawesi di Ibukota Siam itu untuk sebuah tulisan panjang.

Setelah kasak kusuk selama dua hari, mencari bahan-bahan yang diperlukan termasuk di perpustakaan nasional. Akhirnya terpaksa ganti obyek, dengan mengangkat ihwal diaspora komunitas Jawa di Negeri Gajah Putih itu.

Dulu, di tempat yang bernama Makasan itu merupakan areal pabrik pembuatan gerbong kereta api pertama Thailand. Di sekitar tempat itu, selain kompleks pabrik juga terdapat sebuah masjid kayu mungil. Kabarnya kayu untuk bangunan masjid dan bahan gerbong keretapi diangkut dari Pulau Sulawesi melalui jalur laut.

Orang Sulawesi, khusus etnis Bugis sudah sejak lama sebelumnya membangun kapal perang dan melatih tentara Siam berperang di laut. Dalam seni beladiri, Toymoi, pernah muncul petarung bernama Syarif yang menjadi juara seluruh Thailand untuk kelasnya.

Setelah buntu dengan rencana pertama, saya beralih konsentrasi ke ihwal diaspora orang Jawa di Siam. Upaya pelacakan kedua ini berjalan mulus. Dua hari kasak kusuk di sekitar Kampung Yawa (baca: Jawa) dan Kampung Bayan (baca: Baweyan) saya berhasil mengumpulkan bahan yang cukup untuk sebuah tulisan panjang yang dimuat majalah tempat saya bekerja.

Saya berhasil menemui Rambhai dan Dr Vinai Dahlan, keduanya cucu pendiri Muhammadiyah, KH Achmad Dahlan. Sejumlah narasumber masih bisa berbahasa Jawa. Sejumlah foto yang sangat berharga juga dapat saya kantongi, di antaranya foto hitam putih Bung Karno bersama warga Indonesia di Bangkok. Juga ada foto Prof Buya Hamka sedang ngobrol dan minum kopi bersama pemimpin muslim Thailand.

 

‘Mencari’ di Sulawesi
Gagal di Bangkok, minggu kedua Maret lalu, saya ‘mencari’ Bugis di Pulau Sulawesi. Terbang dari Kuala Lumpur, hanya transit makan siang di Bandara Internasional Sultan Hasanudin, Makassar, Sulawesi Selatan sebelum meneruskan perjalanan ke Kendari, Sulawesi Tenggara.

Perjalanan seterusnya lewat jalan darat Trans Sulawesi melalui jalan tanah merah dan aspal berlobang-lobang. Dari Morowali, Sulawesi Tengah lewat jalan melingkar, mampir di Tanah Toraja sekadar berhenti sholat Ashar sebelum meneruskan perjalanan ke Parepare, dan kembali ke Makassar.

Karena faktor waktu — dan masalah yang dihadapi ponsel — sejumlah acara terlewatkan begitu saja. Di antaranya janjian mau makan Coto Makassar yang paling enak dengan penyair Parieli tak kesampaian. Padahal teman yang kenal melalui WAG ini sudah membantu saya membelikan tiket pesawat Makassar – Kendari.  *** (Ahmad Latief)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Melawan Kebhinnekaan Sama Dengan Melawan Tuhan

DRS. HM IDHAM SAMAWI Sekali lagi apresiasi saya yang ke sekian kali Pak Oka, sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *