Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XII: Mencari “Kebangsaan” dalam Tripama?
Purwadmadi dan Sugeng Wiyono (Foto: perwaracom)

Diskusi Kebangsaan XII: Mencari “Kebangsaan” dalam Tripama?

Mencari nilai “kebangsaan” dalam dunia pewayangan bagaikan mencari jarum dalam tumpuk serakan jerami. Susah meskipun tidak sulit, makan waktu dan belum tentu ditemukan. Tetapi, tetap diperlukan dalam konteks masyarakat Indonesia moderen yang berada dalam percaturan global yang merindu identitas lokalitas dan nasionalitas. Artinya, butuh landasan simbolik untuk menjadi fondamen etik dalam estetika berbangsa dan bernegara. Dunia wayang, dunia simbolik yang dalam kurun waktu lama menjadi sumber orientasi nilai bangsa ini.

Bersamaan dengan itu, masyarakat moderen yang hendak dibangun adalah masyarakat demokrasi, kekua-saan di tangan rakyat. Kebangsaan dan nasionalisme dikembangkan bersama demokrasi, bahkan ter-struktur dalam negara bangsa, national state, dan negara hukum. Sedangkan, sepengetahuan umum, wayang dalam pengertian lakon klasik ketimuran, seperti Mahabarata dan Ramayana beda tumpuan dari semangat demokrasi, kekuasaan di tangan rakyat. Yang dikenal dalam wayang, kekuasaan di tangan raja atau monarki, bahkan monarki absolut (gung binathara). Kekuasaan tidak di tangan rakyat melainkan di tangan para raja, pangeran, dan elit politik. Meskipun mereka bernegara, berwangsa, tetapi tidak dikenal bela bangsa, yang ada adalah bela negara atau bela raja. Mungkin saja ada nilai demokrasi dalam pewayangan, tetapi antara demokrasi dan pewayangan seakan menjadi dua kutub yang berseberangan.

Kesulitan pertama, karena wayang sering sebatas dimaknai dalam teks Mahabharata dan Ramayana yang dijelmakan dalam bentuk seni pertunjukan wayang kulit purwa. Padahal dunia wayang jauh lebih luas dari itu karena epik Ramayana dan parwa Mahabharata sekadar basis cerita  sedangkan wayang kulit menjadi alat peraga memainkannya dalam format seni pertunjukan. Mencari nilai “kebangsaan” dari lakon wayang, dari keping wayangnya, tentu lebih sulit ketimbang memetik nilai kebangsaan dari proses penciptaan wayang, dunia kreatif manusia Indonesia di dalam melahirkan wayang. “Nasionalisasi” (baca:Jawanisasi) kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata dalam dunia kreatif wayang, sudah sangat sering dikupas. Nilai kebangsaan dapat diserap dari semangat upaya membumikan saripati wayang sehingga menjadi integral ke dalam interaksi budaya setempat.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

Lahirnya serat panji memperlihat-kan realitas perlawanan atas dominasi Mahabarata dan Ramayana. Seku-rangnya memiliki alternatif kisah yang dapat dimainkan dalam bentuk seni pertunjukan yang berasal dari khasanah lokal yang otentik. Hal ini memperlihatkan semangat “kebangsaan” dalam menyediakan sumber orientasi nilai baru. Demikian pula dengan sumber-sumber lakon lokal lainnya, sumber-sumber lakon intepretasi lakon-lakon dunia yang diadaptasi untuk kepentingan pertunjukan wayang lokal. Pun pula lahirnya beragam jenis anak wayang selain anak wayang berupa keping kulit bertatah dan bersungging. Semangat kebangsaan justru dapat lebih potensial digali bukan dari lakon dan wayang dominan, melainkan dari proses-proses kreatif pengembangan dunia pewayangan. Seperti lahirnya wayang-wayang yang mengeksploitasi berbagai ragam bentuk boneka wayang, berbagai macam material dasar boneka wayang, teknik-teknik penyajian pertunjukan, peralatan yang digunakan untuk memainkan instrument musik iringan, ragam sumber lakon atau cerita, isi pesan dan tujuan pertunjukan, media ekspresi dan teknologi pertunjukan, serta cara-cara penyebarluasan dan memikat hati penontonnya. Justru dari segi-segi inilah spirit kebangsaan itu begitu sangat nampak, baik yang mengandung nilai nasionalisme, keberagaman, kegotongroyongan, dan pemanfaatan sumber daya internal.

 

Serat Tripama

Banyak pihak sering mengaitkan unsur, spirit, nilai kebangsaan dalam dunia pewayangan dengan uraian yang ada dalam Serat Tripama (Mangkunegara IV 1853-1881). Serat Tripama berupa lirik tembang Dhandhanggula sebanyak tujuh pupuh yang melampirkan tiga tokoh dalam dunia pewayangan yaitu, Raden Sumantri atau Patih Suwanda (masa Mahespati), Raden Kumbakarna (masa Ramayana), Raden Karna Basusena (masa Mahabarata). Raden Sumantri menyiratkan teladan bagi mereka yang akan melakukan migrasi sosial dari kesatria biasa menjadi prajurit dan pejabat negara. Raden Kumbakarna menyiratkan pesan teladan tentang arti penting sikap keprajuritan dan bela negara. Karna Basusena menyiratkan pesan keteladanan di dalam loyalitas pengabdian dan pembelaan kepada pemberi jasa dan keluhuran keluarga. Sehingga tripama tidak secara langsung menyuratkan pesan-pesan kebangsaan karena pengabdian dan loyalitas ketiga tokoh tersebut tertuju kepada raja, negara, dan keluarga. Jikapun ada sedikit perspektif kebangsaan yang ada di dalamnya mungkin ditunjukkan oleh Kumbakarna yang memilih pembelaan kepada ancaman terhadap warga negara (rakyat) akibat serangan musuh.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Mufakat

Membaca teks dan konteks Serat Tripama juga perlu mempertimbangkan situasi zaman masa Mangkunegara IV sebagai seorang raja Jawa yang sedang memainkan perjuangan menghadapi tekanan Pemerintah Kolonial Belanda. Masa hidup Mangkunegara IV bersamaan dengan pergolakan Perang Jawa (Perang Diponegoro) beserta segala akibat yang ditimbulkan oleh perang itu. Salah satu dampak terbesar Perang Jawa adalah diambang kebangkrutan Pemerintah Kolonial Belanda karena itu pasca Perang Jawa banyak upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda untuk memulihkan perekonomian negeri jajahan. Untuk keperluan itu Pemerintah Kolonial tentu harus melibatkan penguasa-penguasa lokal, termasuk penyewaan tanah-tanah raja untuk perkebunan, pengerahan tenaga kerja untuk kepentingan perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda. Maka wajar apabila penguasa lokal menyusun panduan loyalitas pengabdian kepada raja dan negara bagi rakyat yang banyak terlibat dalam kegiatan perekonomian Pemerintah Kolonial dan swasta waktu itu.

Apapun latar belakang kultural politiknya, lahirnya Serat Tripama, sabdatama, dan banyak serat lainnya membuka satu pespektif arti penting pergerakan nasional menuju kekuatan masyarakat mandiri yang independent dalam arti meyakini sumber orientasi nilai lokal sebagai kekuatan berdiri dan tegaknya suatu entitas negara meskipun dalam arti negeri-negeri lokal dan terbatas. Bibit-bibit inilah yang kelak di masa Mangkunegara VII(1916-1944), Sri Susuhunan Pakubuwana X (1893-1939), Sri Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1920) nilai-nilai loyalitas, pengabdian, keprajuritan, dan “nasionalisme” sedikit demi sedikit terdorong berubah menjadi benih-benih kecambah pergerakan kebangsaan oleh kaum muda terdidik dari kalangan bumiputera.

Kesimpulan sederhananya, dunia pewayangan, serat-serat piwulang, termasuk Serat Tripama, dapat menjadi tengara munculnya benih-benih nilai nasionalisme sebagai suatu bangsa karena perasaan terjajah mulai dirasakan dan kehendak untuk bebas dari penjajahan oleh negara dan bangsa lain menjadi semakin kuat. Nilai kebangsaan dalam dunia pewayangan adalah postur bibit dan benih semangat pergerakan kebangsaan menuju Indonesia merdeka.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *