Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XIII: Memberdayakan Masyarakat Bermanfaat, Untung bagi Masyarakat
Eko Pambudi, Direktur BUMDes Panggung Lestari. (Foto: perwaracom)

Diskusi Kebangsaan XIII: Memberdayakan Masyarakat Bermanfaat, Untung bagi Masyarakat

Saya sangat terhormat sekali, bisa duduk di sini bersama Bapak Idham, Pak Bawasir, karena saya cuma selaku Direktur BUMDes yang berada di desa, dan saya mencoba untuk me-ngembangkan BUMDes yang berada di Panggungharjo ini namanya, BUMDes Panggungharjo Lestari. Kita berdiri sejak tahun 2013. Itu berawal dari sebuah masalah yang dihadapi oleh warga desa sebelumnya. Jadi awal unit usahanya adalah pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga yang pada saat itu ada salah satu di pedukuhan yang di utara ringroad, karena berbatasan langsung dengan Provinsi, yang menjadi masalah terkait dengan pengelolaan sampah. Maka pada waktu 2013 pemerintah desa membentuk Kupas, kelompok usaha pengelolaan sampah yang ditangani oleh bagian usaha milik desa untuk menyelesaikan masalah yang ada di wilayah tersebut, karena tanggungjawab ketika masyarakat tidak bisa menyelesaikan terkait dengan permasalahan ini, tanggung jawab pemerintah yang di atasnya.

Itu berkembang, karena awal kita cuma dikasih modal 37 juta pada waktu itu, tapi sampai saat ini, kemarin di laporan keuangan kita, rekapitalisasi aset kita sudah 2,1 milyar. Jadi kampung Mataraman ini juga merupakan salah satu unit usaha milik badan usaha milik desa dan ini investasi secara langsung BUMDes adalah 1,6 milyar karena kita mengelola lahan ini 6 hektar. Mengapa kita membuka kampung Mataraman, berawal dari sebuah konsep kepriha-tinan, ingin mengeksplore kehidupan kampung era abad XIX pada waktu kejayaan Mataram Islam. Jadi bu-kan kerajaannya, tapi kehidupan kampungnya, yang satu, agraris, jaman dahulu katanya agraris, kita mengembangkan di sini juga pertanian yang agraris, edukasi, terkait dengan pertanian yang ramah lingkungan, karena, kaitannya dengan pupuk. Ketergantungan dengan pupuk, juga susah, makanya di sini kita tidak tergantung dengan pupuk kimia, kita akan kembali menggunakan kompos dan pupuk kandang.

Jadi kita memberikan edukasi kepada masyarakat luas. Ini salah satu unit usaha kita. Jadi kita mengelola BUMDes milik Panggung Lestari ini, ada lima unit usaha , yang pertama itu adalah Kupas, kelompok usaha pengelolaan sampah. Yang kedua mengolah minyak goreng bekas, artinya mengelola limbah rumah tangga berupa minyak goreng bekas. Yang ketiga adalah agro pertanian. Walaupun kita di pinggiran kota, tapi kita berani membuka unit usaha, ka-rena yang kita jual adalah kebutuhan dasar manusia atau kebutuhan pokok manusia berupa beras. Kita ada produk beras bestari, beras sehat panggung lestari.

Seperti yang disampaikan Pak Baswir, kita tidak bersaing dengan usaha yang ada, kita ada hand-image sendiri, kita ada produksi sendiri namanya beras sehat. Jadi beda de-ngan beras konvensional. Itu yang kita lakukan. Kita juga mengamalkan Pancasila Pak Idham Samawi, jadi dari kelima sila, kita coba implementasikan dalam pengelolaan BUMDes. Yang keempat adalah swadesa. Swadesa itu adalah swalayan desa. Kita juga mengelola rest area yang berada di jalan Parangtritis, tepatnya di RM Numani, parkiran kita kelola, kita memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM yang memiliki produk. Untuk ikut memasarkan di sana. Kaitannya tidak target keuntungan, karena hubungannya dengan masyara-kat. Jadi kita memfasilitasi, nanti sistem sewanya adalah bagi untung, ketika dia laku baru dia bayar. Kalau tidak laku ya dia tidak bayar. Yang kelima adalah kampung Mataraman. Jadi dari semua unit usaha BUMDes ini kita mengelola 72 orang karyawan. Saya menentukan, bahwa saya tidak mengenal jenjang pendidikan untuk menjadi karyawan BUMDes. Yang kedua tidak mengenal batas usia, karena yang kita terima di BUMDes adalah orang-orang yang termarjinalkan tadi, seperti yang disampaikan Pak Idham, juga Bapak Ibu boleh lihat yang ada di pawon, ada pramusaji, yang ada di sini itu usianya ada yang di atas 50, karena ketika kita menerima dengan ketentuan jen-jang pendidikan, mereka kalah yang lulusan fresh graduate, yang lulusan SMK itu, mereka akan kalah. Oleh karena itu mereka tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Kita juga mengamalkan Pancasila, terkait dengan penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat yang terpinggir-kan. Dan yang ada di pengelolaan sampah, itu juga kita kerjasama dengan Dinas Sosial, khususnya dari Bantul. Anak-anak gelandangan dan fakir miskin itu kita kelola untuk melakukan pemilahan sampah. Kita ambil orang-orang yang terjaring satpol PP. Lalu ada pembinaan di Dinas Sosial, setelah dilakukan pembinaan mereka kita ambil sebagai karyawan. Jadi kita juga melaksanakan Pancasila. Itu jadi kita nyambung seperti yang disampaikan Pak Bawasir dan yang disampaikan Pak Idham Samawi. Dalam pengelo-laan BUMDes, khususnya di Pang-gungharjo itu tidak cuma profit yang kita butuhkan, tapi benefit, kemanfaatan apa yang bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Yang namanya profit bagi pemerintah desa itu bukan cuma sebatas berapa masuk rupiah sebagai tambahan APBDes, tapi benefit ketika BUMDes bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat. Itulah profit bagi pemerintah desa, sebenarnya. Dan rumus di BUMDes bahwa BUMDes itu berdiri unit usahanya tidak boleh mematikan usaha yang sudah ada.

Jadi itu kita pegang benar, kita pegang teguh, sesuai dengan dua hal itu. Jadi memang kita harus bagai-mana mencari profit, kita harus berhubungan dengan siapa, kita mencari profit bagaimana ketika kita mengedepankan benefitnya. Jadi dari 72 orang karyawan yang ada di BUMDes ini, sebagian, 98% adalah warga desa Panggungharjo. Jadi mereka dengan gaji standar minimal UMK. Kita coba mengubah kehidupan mereka, karena di pemerintah desa sendiri, saya selaku pengurusnya, adalah lembaga desa, masih ada lembaga desa yang lain, yang seperti bapel JPS kalau di Panggungharjo itu badan penjaring pengaman sosial. Jadi bapel JPS itu fungsi dan perannya sebagai penjaring terakhir ketika dia tidak mendapatkan jamkesmas maupun jamkesda. Dari data yang kita kelola sendiri.

Jadi misalnya di Panggangrejo itu ada program satu rumah satu sarjana. Jadi untuk mengentaskan kemiskinan, pemerintah desa memilih jalan melalui pendidikan tinggi. Maka ada program satu rumah satu sarjana dan beasiswa bagi anak yang kurang mampu. Nah dananya dari mana? Itu diambilkan, satu dari gratifikasi Lurah sampai zakat yang dikelola dari perangkat desa, dan karyawan BUMDes. Jadi per bulan kita gotong 2,5% untuk membiayai seperti yang disampaikan Pak Idham tadi. Jadi itu beberapa BUMDes dari 2013 sampai 2018 ini, kita berusaha untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya pada masyarakat desa dan juga telah disampaikan oleh Pak Baswir tadi berhubung dengan adanya koperasi tadi, kita di 2022 itu sudah merancang kenaikan BUMDes ini 40% sahamnya akan dimiliki oleh warga desa dengan warga desa itu membentuk jamaah koperasi. Jadi masing-masing masyarakat membentuk koperasi untuk membeli saham 40% yang ada di BUMDes, karena sampai saat ini kepemilikan 100% masih dimiliki oleh pemerintah desa. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan terkait dengan pengelolaan BUMDes yang ada di Panggung Lestari. (ASW).

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

DISKUSI Kebangsaan XIV, April 2018, memilih pokok bahasan “Perempuan Pelestari Pancasila”. Perempuan ditantang berperan aktif …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *