Rabu , 26 September 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XV: Melawan Kebhinnekaan Sama Dengan Melawan Tuhan
Drs. HM Idham Samawi (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XV: Melawan Kebhinnekaan Sama Dengan Melawan Tuhan

DRS. HM IDHAM SAMAWI

Sekali lagi apresiasi saya yang ke sekian kali Pak Oka, sudah yang 15 kali apresiasi saya kepada teman-teman wartawan sepuh Yogyakarta karena keterpanggilannya, dan satu ini menurut saya yang masih kersa untuk berbicara seperti ini sudah tidak banyak. Yang masih mau memikirkan urusan kebangsaan ini sudah tidak banyak. Tapi rupanya yang waras hari ini sudah tidak lagi terlalu banyak. Dan saya sepakat tadi, Mas Oka, temanya luar biasa hari ini, bisa pas betul dengan keadaan-keadaan yang sedang melanda bangsa ini. Apa itu saudara sekalian? Perbedaan itu konsepnya Tuhan. Iya, semua agama.

Kalau ada pihak-pihak yang mencoba melawan keberagaman, itu sama saja dia melawan konsepnya Tuhan. Itu kalau di Islam, jelas sekali. Jadi kalau ada yang melawan itu, berarti dia melawan terhadap rencana Tuhan. Konsepnya Tuhan. Dan menurut saya, tidak ada kata lain, selain dilawan. Dihadapi dan tidak bisa lagi mohon maaf, tidak bisa lagi lalu kita, sudahlah itu urusan pemerintah. Sudahlah itu urusannya negara. Tidak bisa lagi, ini urusan kita semua. Yang dipertaruhkan menurut saya terlalu besar.

Di diskusi beberapa waktu yang lalu, selalu saya memberikan ilustrasi-ilustrasi bahwa kalau kita naik pesawat terbang dari Jakarta ke Tokyo, itu butuh waktu 7 jam, harus melewati minimal di atas 4 negara, tapi kalau kita naik pesawat terbang yang sama dari Sabang sampai Merauke, butuh waktu lebih dari 10 jam, di atas 1 negara. Negara yang besar sekali ini, yang pulaunya lebih dari 17.000 pulau dan seterusnya, bagaikan zamrud di Khatulistiwa, apa yang tidak kita miliki? Di negeri ini hari ini penduduk Indonesia nomer 4 di dunia. Dua ratus lima puluh mungkin sudah dua ratus enam puluh juta. Nah pada diskusi kebangsaan kemarin-kemarin selalu saya ingatkan, Uni Sovyet negara yang begitu adidaya, yang dibangun kurang dari 10 suku bangsa, maaf kurang dari 100 suku bangsa, kurang dari 100 budaya, kurang dari 100 bahasa, cerai-berai, padahal sempat menjadi negara yang sangat adidaya. Yugoslavia, negara yang dibangun kurang dari 30 suku bangsa, kurang dari 30 bahasa dan kurang dari 30 budaya, cerai-berai kok. Kita dibangun dari 600 suku bangsa, lebih dari 600 budaya, lebih dari 600 bahasa, nanti 17 Agustus 45 (maksudnya 2018), kita genap 73 tahun, masih wutuh. Oh ya nanti 17 Agustus 2018, genap berusi 73 tahun, masih wutuh, Sabang–Merauke, Miangas–Pulau Rote.

Karena apa, paling tidak saya yakin, karena Ketuhanan YME, karena Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, karena Persatuan Indonesia, karena Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, karena Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bahasa saya agak ekstrim begitu, saya siap diskusi 30 hari 30 malam dengan siapa saja, yang berpendapat lain. Selain tadi, kita wutuh karena lima tadi. Kalau ada yang berpendapat lain, saya siap berdiskusi dengan siapapun juga, tadi bahasa saya, 30 hari 30 malam. Nah Bapak Ibu saudara sekalian, saya ingin mengingatkan kembali, kita semua, perjalanannya yang lima ini cukup panjang.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Mufakat

Mohon maaf, yang ini sempat hilang dari arsip negara. Data tentang perjalanan kenapa akhirnya 18 Agus-tus kita sepakat ada lima ini. Dasar negara kita. Bukan, yang berbau declaration atau independent-nya Amerika, bukan berkiblat kepada maaf, manifesto Komunisnya Uni Sovyet ketika itu, tapi kita memutuskan yang lima ini, perjalanannya panjang. Saya ingin mengajak kepada Bapak-Bapak, saudara-saudara sekalin, mungkin kalau Pak Oka, kalau nanti ada forum yang lebih kecil begitu, intensif yang kita lakukan diskusinya, saya ingin mengajak mulai mari kita buka kembali 29 Mei 1945, awal sidang Dokuritsu Junbi Chosakai, awal pertama sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. 29 Mei 1945 sampai dengan 1 Juni 1945. Lalu di akhir tanggal 1 Juni 1945, Dr Radjiman sebagai ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, menawarkan kepada pendiri bangsa ini, foundhing fathers kita, untuk dibentuk panitia 8. Panitia 8 ini yang ditugasi untuk merumuskan susunan serta redaksional dasar-dasar Indonesia Merdeka.

Di situ, mulai dari 29 Mei sampai 1 Juni, Panitia 8, Panitia 9, PPKI, di sana ada tokoh-tokoh Islam yang sudah tidak diragukan lagi. Di sana ada Kyai Haji Wachid Hasyim, di sana ada Ki Bagus Hadikusuma, yang representasi dari NU dan representasi dari Muhammadiyah. Lalu kalau kita mau membaca perjalanannya mulai dari awalnya itu, di belakang kata Ketuhanan itu tidak 7 suku kata (maksudnya: kata), awalnya 5 suku kata (maksudnya: kata), Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam, titik. Awalnya itu di posisi tanggal 6 Juni 1945. Lalu perde-batannya kan, lho kan tidak semua orang Indonesia beragama Islam, kok harus melaksanakan itu. Baru tanggal 8 malam ada kesepakatan menambah dua kata menjadi di belakang kata Ketuhanan itu, dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Diterima oleh Panitia 8, lalu menjadi Panitia 9 dituangkan di dalam Piagam Jakarta, 22 Juni 1945. Nah ini Kyai Jazir ini paham betul juga tentang tadi, perjalanan 29 Mei, 1 Juni Panitia 8, Panitia 9, PPKI, dan seterusnya.

Memang betul yang memukul palunya Bung Karno, karena beliau sebagai ketua PPKI. Tetapi waktu itu beliau sampai tiga kali menawarkan, setelah Ki Bagus Hadikusuma melaku-kan istikaroh, durasi waktunya 47 menit, masuk ke dalam ruangan, lalu keluar lagi, masuk ke ruang sidang, beliau mengatakan setelah melaku-kan istikaroh, dengan demikian Muhammadiyah setuju untuk 7 (suku) kata itu dihilangkan, kembali ke Ketuhanan YME. Nah Bung Karno sebagai Ketua PPKI, sebelumnya NU sudah lebih setuju, nah Bung Karno menawarkan,”Tuan-tuan yang terhormat, apakah bisa disetujui?””Setujuuu…” Nah belum ditok. Diulangi lagi, apakah setuju, sampai 3 kali baru diketok oleh Bung Karno, sebagai Ketua PPKI. Yang mengubah siapa, berarti? PPKI. Yang anggotanya semua 27 orang. Sepakat untuk mengubah, karena apa kok sampai demikian? 17 Agustus pagi, Proklamasi 45 itu jam 10 kurang 2 menit, sore hari perwakilan Indonesia Timur, minta ketemu dengan PPKI, waktu itu Bung Karno sebagai ketua panitia PPKI menugaskan Bung Hatta dan 5 orang anggota PPKI menemui perwakilan Indonesia Timur, intinya, dengan segala hormat kalau masih ada 7 (suku) kata di belakang kata Ketuhanan, maka kami dengan segala hormat tidak bersama NKRI. Nah tanggal 18 Agustus PPKI, Bung Hatta melaporkan, lalu setelah itu perdebatannya luar biasa, NU setuju lalu Ki Bagus setelah terlambat datang, ditunggu sampai beliau rawuh, beliau minta waktu untuk istikaroh, setelah istikaroh, beliau menyampaikan bahwa setuju untuk dihilangkannya 7 (suku) kata itu. Bapak Ibu saudara sekalian, bahwa tadi di depan saya kemukakan, kalau tidak Pancasila, maka sudahlah pasti kita cerai-berai. Sudah pasti kita cerai-berai dan mohon maaf, dari rekaman-rekaman rapat-rapat, nuwun sewu, bahwa rapat mereka, kita punya, katanya, bahwa ada.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XI: Aisyiyah sebagai Gerakan Perempuan Berkemajuan

Kalau itu 10 tahun yang lalu mungkin ngomongnya di bawah permukaan. Nah sekarang ini pasang badan, saya mau mengganti dan seterusnya begitu. Nah saya kira kalau urusan yang pokoknya tema yang pokoknya keberagaman di negara Pancasila, lebih pas beliau berdua yang berbicara, tapi saya mencoba saya sampaikan bahwa perbedaan itu konsepnya Tuhan. Jadi siapapun juga yang mau mencoba melawannya, sama saja melawan Tuhan. Tuhannya agama apa saja, silakan, tapi pasti, karena ini konsepnya Tuhan. Perbedaan ini. Tadi saya sebutkan walaupun saya ndak hafal, Al Hujarat, biar nanti Kyai yang ngendikakaken. Nah Bapak Ibu saudara-saudara sekalian, mestinya ada yang salah pada bangsa ini. Menurut saya ada yang salah, pada bangsa ini. Lalu ketika hari ini ya tadi di awal tadi juga saya sampaikan, yang mau berdiskusi urusan kebangsaan ini semakin sedikit. Berarti ada yang salah. Walaupun yang sedikit ini tadi saya katakan yang waras. Ya, kenyataannya apa, hari ini jauh lebih banyak yang tidak waras, dengan demikian, menurut saya, ketika kita berbangsa dan bernegara di negara NKRI yang kita cintai ini ada yang salah.

Saya bersyukur, ketika saya dulu sekolah, kuliah, itu mata pelajaran Pancasila itu, saya dapat wutuh dan tidak disamunkan dengan misalnya Kewarganegaraan, atau yang lain, mata pelajarannya itu bernama Panca-sila, begitu. Saking semangatnya, ini cerita teman saya, kuliah ketika itu, arep ujian Pancasila, tulisane Pancasila itu dibakar, awune dilebokke gelas, diminum. Ampuh tenan. Nah Bapak Ibu saudara sekalian, ini yang mestinya menurut saya kalau perlu sejak di dalam perut ibunya, ketika yang didengar oleh ibunya tadi itu ya tentang Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Waktu itu saya mendapat tugas diskusi dengan mantan wakil GAM dan beberapa kepala daerah di sana. Waktu itu saya tanyakan apa salahnya lima ini terhadap Islam kok sampai Anda mempertaruhkan nyawa untuk mengubahnya? Saya sampaikan, kalau saya keliru mohon dikoreksi kepada beliau-beliau.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Kebangsaan Harus Diwujudkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketuhanan YME itu di Islam nama-nya Tauhid. Saya coba yang saya tahu, lalu setelah itu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, di Islam itu Ukhuwah Basariyah. Mohon ijin mangke pun koreksi gih, Ukhuwah Insaniyah, persaudaraan sesama anak turune Adam Hawa. Persatuan Indonesia itu di Islam Ukhuwah Wathoniyah, persaudaraan dalam satu kebangsaan. Itu diakui itu. Lalu saya minta tolong carikan satu surat di Al-Qur’an yang Islam itu mengenal voting, Islam tak mengenal one share one vote, yang sepemahanan saya musyawarah. Kita saja yang makin mabuk hari ini. Semakin meninggalkan yang ke-4 tadi. Lalu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Islam itu berpihak, berpihaknya kepada siapa, tertindas, teraniaya, termarjinal, hampir semua agama, seluruh agama. Di Islam simbolnya apa? Yatim, miskin, dhuafa, dan seterusnya. Nah Pancasila ini berpihak kepada siapa yang kelima ini? Yang tertindas, teraniaya, termarjinal, siapa itu? Wong cilik dan seterusnya. Jadi yang mungkin demikian itu, karena komentarnya Pak Irwandi Yusuf ketika itu, Pak Idham baru hari ini saya jadi jelas mendengarkan penjelasan Bapak, begitu, dan seterusnya. Saya kira mungkin kok perlu sekali wartawan sepuh ini tahu Pak Oka, jadi kalau perlu ya menugaskan tim begitu berangkat ke kantor arsip negara, jadi jangan hanya mendengarkan ceritanya Idham Samawi begitu, baca sendiri di sana, bagaimana risalah sidang-sidang Dokuritsu Junbi Cosakai, BPUPKI, risalah rapat-rapat Panitia 8, Panitia 9, risalah rapat-rapat PPKI, bagaimana Kyai haji Wachid Hasyim, bagaimana Ki Bagus Hadikusumo, berbicara, dan beliau sudah tidak diragukan lagi, dua tokoh ini. Masih banyak lagi yang lain. Ya kemampuan saya saja yang terbatas untuk bisa mencerna, karena apa, tidak boleh difotokopi, tidak boleh difoto, karena sudah hampir hancur itu, kertas-kertasnya, dan dokumen ini sempat hilang dari kantor arsip negara. Hilangnya mulai kapan, tidak tahu, tapi alhamdulillah sudah ketemu tahun 2012.

Jadi sebetulnya kan bagaimana indahnya kita beragama, berbeda, ya tapi dalam satu, wadah indah sekali. Banyak yang meri dengan kita, Indonesia. Banyak yang iri, meri dengan kita, tapi hari ini justru kita yang memulai, semakin mempertentangkannya, Tidak bisa kita membiarkan pemerintah sendirian, kita tidak bisa membiarkan negara sendirian, tapi bagaimana dan konkrit saja, saya provokasi panjenengan, tanda kutip untuk bagaimana kita bersama-sama menghadapi. Karena apa, tanpa bersama rakyat, saya kira, tanpa rakyat, kasihan pemerintah sendirian. Dan kalau ini justru dari wartawan sepuh, kalau perlu kula dherekaken mangke tindak Jakarta atau ke mana, itu bagian dari kita menggeliat dari Jogja ini. (ASW)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Prof. Dr. Kaelan, MS Musyawarah-mufakat sebagai Identitas Budaya Politik Bangsa Bagi bangsa Indonesia nilai-nilai identitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.