Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pariwisata » Malioboro “Diudhal-udhal” Bikin Wisatawan Penasaran
Proses awal pembongkaran Malioboro sisi barat (Ft. Ist)

Malioboro “Diudhal-udhal” Bikin Wisatawan Penasaran

Tulisan singkat ini sekadar memberi gambaran tentang kawasan Jalan Malioboro atas pertanyaan wisatawan yang sedang mengunjungi Kota Yogyakarta.

Bagi warga daerah ini, tentunya banyak yang sudah tahu. Tapi bagi orang dari luar daerah, termasuk wisatawan, biasanya bertanya “diapakan lagi ini Malioboro?”.

Pertanyaan yang butuh jawaban. Keingintahuan adalah rasa penasaran. Tapi bagi yang ditanya, terkadang membosankan untuk menjawab. Sebab, setiap mengantar tamu, entah itu saudara, kerabat, sahabat maupun teman dari luar daerah, ketika berjalan-jalan di kawasan Malioboro di jantung kota ini, muncul pertanyaan tentang Malioboro. Pertanyaannya pun terkadang agak nyinyir. “Diapakan lagi ini Malioboro?”

Si penanya memang sudah sering mengunjungi kota ini, dan sering pula mendapati kawasan Jalan Malioboro “diudhal-udhal”, dibongkar di sana-sini, sehingga terkesan penataannya tak kunjung usai.

Bertanya, tapi nadanya sinis. Sekaligus memberi tekanan pada pertanyaan yang sejatinya mengritik. Bukan semata-mata rasa penasaran ingin tahu apa yang sedang dibuat dan dikerjakan di kawasan bisnis ini.

Mungkin di dalam hati mereka bertanya, mengapa Malioboro sejak beberapa tahun terakhir, dan sampai sekarang, masih saja dibongkar di sana-sini. Itu barangkali kritikan mereka. Mereka tidak tahu rencana penataan Malioboro. Mereka dari luar daerah. Mereka datang ke Yogya untuk menikmati suasana Malioboro yang nyaman, tapi yang dijumpai kesibukan dan kebisingan pekerjaan tukang bangunan.

Penataan pedestrian (kawasan bagi pejalan kaki) Malioboro di sisi barat telah dimulai Maret 2018. Pengerjaannya dimulai dari rel kereta api di ujung utara sampai Ngejaman, termasuk di dalamnya pembangunan di lahan bekas gedung Bioskop Indra. Diharapkan pada 2019 pembangunannya sudah selesai semua.

Sebelumnya, penataan pedestrian Malioboro dimulai sejak 2016. Diawali dengan membangun pedestrian dari depan Hotel Garuda sampai depan Pasar Beringharjo.

Kemudian pada 2017 diteruskan dengan membangun kawasan pedestrian dari depan Pasar Beringharjo sampai Titik Nol Kilometer. Selanjutnya membangun toilet bawah tanah di depan Gedung Bank Indonesia.

Simak juga:  Malioboro, Jalan yang Melegenda (3): Kesejukan dan Senyuman itu Sempat Hilang

Pembangunan tahap ke-2 kawasan timur pedestrian Malioboro berlangsung sekitar delapan bulan, Maret hingga November 2017, dan menghabiskan biaya Rp 17,3 miliar.

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berharap ada pendekatan terhadap para pedagang kaki lima (PKL) yang ada di depan Toko Mirota atau depan Pasar Beringharjo agar bisa pindah menempati gedung baru di bekas lahan Gedung Bioskop Indra.

Sehingga kawasan Malioboro bisa bersih dari PKL, dan gedung di lahan bekas Gedung Bioskop Indra bisa menjadi tempat PKL yang lebih terbuka.

Diharapkan 2018 penataan sebelah barat bisa diselesaikan, dan pada 2019 kawasan pedestrian Malioboro selesai seluruhnya.

Selanjutnya pemda akan memelihara fasad dan heritage toko-toko yang berada di Malioboro. Sedangkan toko-toko non heritage, pemiliknya membantu pengecatan.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, dengan menata bangunan bekas Gedung Bioskop Indra bisa menjadi kekuatan baru di Malioboro. Tetapi, masalah lahan parkir harus dipikirkan, karena jika tidak disiapkan, bisa menjadi masalah baru.

Terkait peti-peti (gerobak) PKL, disarankan agar dibuatkan tempat tersendiri untuk menampung barang-barang dagangan. Sehingga, tidak ada lagi peti-peti atau semacam gerobak PKL yang terpajang di Malioboro. Peti-peti itu nantinya sudah ditempatkan di suatu tempat seperti loker untuk menaruh barang.

“Kalau penataan Malioboro sudah selesai, kita juga harus menyelesaikan Tugu ke selatan, sekaligus juga di Jalan Senopati, KH Ahmad Dahlan, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Diponegoro. Penataan pada akses jalan di sirip-sirip Malioboro juga dimulai,” kata Sultan.

 

Berakhir 2021

Berdasarkan “master plan” Pemprov DIY, penataan Malioboro dan Titik Nol Kilometer sudah dimulai sejak 2014. Rencananya akan berakhir pada 2021.

Penataan PKL di sisi barat Malioboro dilakukan pada 2018. Bekas Gedung Bioskop Indra yang sudah dibongkar, nantinya akan dimanfaatkan sebagai lokasi PKL berjualan.

Simak juga:  Min Haitsu Yogya La Yahtasib

Kemudian pada 2019, penataan dilakukan sampai Jalan Margoutama atau Mangkubumi. Pada 2020 sampai 2021 penataan dilakukan sampai Jalan Panembahan Senopati, termasuk mengatur PKL serta area parkir yang ada di kawasan itu,

Selain itu, pada 2019 hingga 2021 akan dibangun Jogja Planning Gallery  yang menempati gedung bekas Dinas Pariwisata DIY. Pada bangunan yang dibuat tiga lantai tersebut, akan menceritakan masa lalu, masa kini, dan masa depan Yogyakarta.

Sedangkan Kantor Dinas Pariwisata akan dipindahkan dari Malioboro ke Jalan Tamansiswa, dan menjadi museum Urban Planning yang menyajikan rencana tata ruang Yogyakarta di masa mendatang.

Ada pula rencana pada 2019 akan diberlakukan Jalan Malioboro tanpa kendaraan bermotor. Namun, menurut pemerintah provinsi, kemungkinan akan terkendala belum siapnya infrastruktur pendukungnya. Diantaranya, apakah kantong-kantong parkir sudah siap untuk menampung kendaraan wisatawan. Selain itu, bagaimana kesiapan armada bus kota yang diperbolehkan masuk ke Malioboro?

 

Tempat Wisata Sekitar Malioboro

Disamping Malioboro sendiri, ada 14 tempat wisata di sekitarnya..Diantaranya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Museum Benteng Vredeburg, Pasar Beringharjo, wisata malam Alun-alun Selatan, Titik Nol Kilometer, Tugu Kota Yogyakarta, dan Taman Pintar.

Kraton terletak di selatan Malioboro. Jaraknya sekitar satu kilometer. Sedangkan Museum Benteng Vredeburg berada persis di depan Istana Negara atau Gedung Agung di Jalan Ahmad Yani yang sekarang berganti nama menjadi Jalan Margo Mulyo.Atau berada di selatan Pasar Beringharjo.

Kemudian Pasar Beringharjo berada di ujung selatan Jalan Malioboro.Titik Nol Kilometer berada di depan Kantor Pos Besar di Jalan Panembahan Senopati. Sedangkan Tugu Kota Yogyakarta terletak di ujung utara Jalan Pangeran Mangkubumi yang kini berganti nama menjadi Jalan Margo Utomo.

Selanjutnya wisata malam Alun-alun Selatan, yang lokasinya di selatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, atau masih berada di wilayah kraton. Sedangkan Taman Pintar di Jalan Panembahan Senopati, atau di tenggara Museum Benteng Vredeburg.

Simak juga:  Malioboro, Mungkinkah Kembali ke Imajinasi Seniman?

 

Sejarah Malioboro

Kata Malioboro bermakna karangan bunga. Kata Malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal disana pada tahun 1811 – 1816 M. Pendirian jalan malioboro bertepatan dengan pendirian Kraton Yogyakarta.

Awalnya Jalan Malioboro ditata sebagai sumbu imaginer antara Pantai Selatan (Pantai Parangkusumo) – Kraton Yogya – Gunung Merapi. Malioboro mulai ramai pada era kolonial 1790 saat pemerintah Belanda membangun Benteng Vredeburg pada tahun 1790 di ujung selatan jalan ini.

Selain membangun benteng, Belanda juga membangun Dutch Club tahun 1822, The Dutch Governor’s Residence tahun 1830, Java Bank dan Kantor Pos tak lama setelahnya. Setelah itu Malioboro berkembang kian pesat karena perdaganagan antara orang belanda dengan pedagang Tiong Hoa. Tahun 1887 Jalan Malioboro dibagi menjadi dua dengan didirikannya tempat pemberhentian kereta api yang kini bernama Stasiun Tugu Yogya.

Jalan Malioboro juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di sisi selatan Jalan Malioboro pernah terjadi pertempuran sengit antara para pejuang Tanah Air melawan pasukan kolonial Belanda yang ingin menduduki Yogya. Pertempuran itu kemudian dikenal dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, yakni keberhasilan pasukan merah putih menduduki Yogya selama enam jam dan membuktikan kepada dunia bahwa angkatan perang Indonesia tetap ada.

Malioboro terus berkembang hingga saat ini. Dengan tetap mempertahankan konsep aslinya dahulu, Malioboro jadi pusat kehidupan masyarakat Yogya. Tempat-tempat strategis seperti Kantor Gubernur DIY, Gedung DPRD DIY, Pasar  Beringharjo hingga Istana Negara atau Istana Presiden Gedung Agung juga berada di kawasan ini.***(MA/Dari berbagai sumber)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.