Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan
Yuliani Kumudaswari, perempuan penyair dari Sidoarjo (ft. Ist)

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. Seringkali pula, dalam satu acara, puisi hanya sekedar sebagai sampiran atau tempelan acara, sehingga terasa tidak terlalu penting kehadiran puisi dalam keseluruhan acara. Sastra Bulan Purnama, yang telah berlangsung selama 7 tahun, menempatkan puisi sebagai inti dan berinteraksi dengan jenis kesenian lain, misalnya musik, tari dan teater. Penampilan tiga jenis kesenian disebut terakhir tersebut menggunakan basis puisi, sehingga muncul lagu puisi, musikalisasi puisi, tarian puisi dan dramatisasi puisi. Dalam kata lain, selama 7 tahun ini, Sastra Bulan Purnama selalu diisi dengan pembacaan puisi.

Selama 7 tahun, yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan, puisi  tidak berhenti dibacakan di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya.  Sastra Bulan Purnama edisi 84, menandai usia 7 tahun, menampilkan sejumlah penyair yang puisinya terkumpul dalam antologi puisi ‘Rumah Kita’. Seorang penyair dari Indramayu, Faris Al Faisal ikut hadir dan tampil membacakan puisinya, Selasa, 25 September 2018 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya.

Di Sastra Bulan Purnama, selama 7 tahun ini, puisi bukan hanya dibacakan, tetapi juga dinyanyikan, seingga puisi tidak ditafsirkan secara tunggal, melainkan ada beberapa penafsiran lain, dan memperkaya puisi itu sendiri. Ada juga, puisi yang digubah menjadi satu pertunjukan drama.

Malam 7 tahun Sastra Bulan Purnama, perempuan penyair dari Sidoarjo,  Yuliani Kumudaswari, hadir dan membacakan puisi karyanya. Perempuan penyair  dari Jakarta, Ristia Herdiana, juga tampil membacakan puisi karyanya. Sisanya, beberapa penyair dari Yogya, Daffa Randai, Daruz Armedian, Novi Indrastuti dan Risen Daud Abdulah. Tampil juga pembaca tamu, Yantoro, Ninuk Retno Raras dan Novi Ardana.

“Saya memang sengaja datang ke Tembi untuk ikut acara Sastra Bulan Purnama” kata Faris mengawali sebelum membaca puisi.

Simak juga:  Penyair, Dokter, Pensiunan dan Musisi Menandai 6 Tahun Sastra Bulan Purnama

Lain lagi dengan Ristia dan Yuliani, keduanya seperti tak bisa dijauhkan dari Sastra Bulan Purnama, Tembi, baginya, terutama Sastra Bulan Purnama, satu ruang di mana bisa bertemu dan bersahabat dengan banyak teman, dan keduanya saling dipertemukan di Tembi Rumah Budaya.

Setiap kali keduanya sudah di Tembi,  selalu terlihat keduanya berbincang di Pulosegaran, satu nama restoran yang terletak di kompleks Tembi Rumah Budaya, dan orang sering mengenalnya sebgai café.

Seperti Sastra Bulan Purnama yang dilakukan setiap bulan, pada 7 tahun Sastra Bulan Purnama, juga tampil group musik dari anak-anak muda, yang mengolah puisi menjadi lagu. Al Fine, demikian salah satu nama kelompok musik yang tampil menandai 7 tahun Sastra Bulan Purnama, dan kelompok musik lainnya, yang dikenal  dengan nama Doni Onfire, yang biasanya menggesek bioala, kali ini dia memetik gitar.

Lagu puisi memang tidak pernah lepas dari Sastra Bulan Purnama, selalu ada kelompok musik yang bersedia tampil, dan kebanyakan anak muda, yang senang mengolah puisi menjadi lagu. Penampilan Al Fine, salah satunya menggubah puisi Slamet Riyadi Sabrawi menjadi lagu, dan Doni Onfire menggarap puisi Yuliani dan Ristia menjadi lagu.

Yantoro, seorang aktor teater, yang waktu muda aktif di teater Stemka di Yogya, dan belakangan lebih banyak pentas monolog, dan beberapa kali ikut tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, agak tertegun mendapati Sastra Bulan Purnama sudah memasuki tahun ke tujuh.

“Wah, perlu dipertahankan acara ini, yang sulit itu menjaga rutinitas’ kata Yantoro.

Selama 7 tahun, Sastra Bulan Purnama telah menampilkan penyair dari berbagai daerah, ada yang sudah beberapa kali tampil, ada juga yang baru sekali tampil. Para penyair yang tampil dari beragam usia, tidak doniman penyair tua, selalu selang-seling antara penyair senior dan penyair muda, dan perempaun penyair pasti mendapat tempat, bahkan penyair muda lebih banyak diberi ruang.(*)

Lihat Juga

WAYANG “PREMAN”: Tawuran, Bauran, Tawaran Kreasi

“Wayang konvensi”, arus besar dunia wayang, sangat berbeda dengan wayang kreasi yang berkembang dan menyebar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.