Beranda » Humaniora » Mahkotanya Krisnam, “Jejak Pikiran Seorang Jurnalis”
Buku "Jejak Pikiran Seorang Jurnalis" karya H. Nasrullah Krisnam. (Foto: Ist)

Mahkotanya Krisnam, “Jejak Pikiran Seorang Jurnalis”

“BUKU adalah mahkota seorang wartawan.” Serangkaian kata yang dikatakan Jakob Oetama, tokoh pers dan Pemimpin Umum Harian Kompas di tahun 1980-an ini telah memotivasi banyak wartawan untuk tidak hanya berkutat dengan kesibukan membuat berita atau karya jurnalistik saja, tetapi juga menulis buku.

Tugas utama wartawan atau jurnalis itu memang menulis berita. Tapi apa yang diinginkan dan diisyaratkan oleh Jacob Oetama itu, wartawan tidak boleh hanya berhenti pada titik sebatas menulis berita saja. Aktivitas menulis itu harus dilanjutkan lagi sampai pada menulis buku. Menulis buku itu merupakan puncak kreativitas wartawan. Karena itulah kemudian disebut “Menulis buku adalah mahkota seorang wartawan”.

Tokoh pers lainnya, HAM Hoeta Soehoet, yang mantan Rektor IISIP Jakarta, bahkan pernah menyentil wartawan dengan menyatakan, wartawan yang tidak pernah menulis buku layak disebut sebagai wartawan ‘bangkotan‘.

Terlepas dari apa pun, apa yang dilontarkan Jacob Oetama dan HAM Hoeta Soehoet itu telah memotivasi atau memprovokasi para wartawan untuk tidak berpuas diri sebatas menulis berita, tapi meningkatkan karyanya dengan menulis buku. Para wartawan pun kemudian banyak yang berusaha keras meraih mahkota itu, dengan menulis buku. Dan, salah seorang yang ikut meraih mahkota itu adalah H. Nasrullah Krisnam.

 

Jejak Pikiran

Bulan Februari, bagi H Nasrullah Krisnam memang bulan penuh arti. Februari merupakan bulan kelahirannya, tepatnya ia dilahirkan 14 Februari 1938, di Desa Balauring, Kedang, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT. Di bulan Februari 2018, ia genap berusia 80 tahun. Dan, di bulan Februari 2018, tepatnya pada 17 Februari, ia melounching buku karyanya berjudul “Jejak Pikiran Seorang Jurnalis – Rekaman Sorotan Budaya, Sosial, Politik, dan Kemasyarakatan“.

Untuk mengetahui apa dan bagaimana isi buku yang menghimpun 109 tulisan setebal 292 halaman terbitan Tonggak Pustaka, Yogyakarta, maka layak disimak apa yang dikemukakan sang penulis di kata pengantarnya.

Menurut Krisnam, semuanya berawal dari belajar memahami zaman melalui berbagai metode dan terminologi yang berasal dari berbagai macam sumber. Buku berjudul “Jejak Pikiran Seorang Jurnalis” ini, tulisnya, merupakan pumpunan dari sekian banyak karya tulis yang termuat di berbagai media cetak. Bermacam topik ditulis dengan gaya dan teknik komposisi yang khas, sehingga pembaca bisa membacanya mulai dari tengah atau belakang, atau dari awal, di mana saja dan kapan saja.

Diutarakannya juga, gaya penulisan bersifat apresiatif, kreatif dan independen. Tidak mewakili golongan atau kepentingan politik tertentu. Topik dan pesan tulisan memang bisa saja mencakup pelbagai aspek, antara lain misalnya bersentuhan dengan masalah-masalah keadilan dam kebenaran, lingkup kemanusiaan, keboborakan, kemiskinan, kemunafikan, korupsi, hawa nafsu, dan sebagainya.

Dijelaskan Krisnam, nuansa konten buku ini kerap merupakan “pertarungan alam pikiran” dalam membaca gejala dan melihat realitas serta berbagai kemungkinan masa depan. Cakrawala penjelajahannya mencakup pula pelbagai senggolan dengan nilai-nilai akal sehat, sikap kemanusiaan, integritas, kemuliaan martabat, wawasan kebangsaan dan tanah air, serta membangun hati nurani.

 

Lancar dan Mengalir

Bicara lebih jauh tentang buku karya H Nasrullah Krisnam ini, menarik pula disimak pernyataan Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid yang mantan Rektor UII, mantan Ketum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, mantan wartawan, dan kini Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta pada kata sambutannya di buku. Menurutnya, siapa pun bisa membaca tulisan-tulisan dalam buku ini dengan lancar dan mengalir. Tulisan tentang budaya, bisa dicerna dengan mudah, tanpa harus menjadi budayawan. Tulisan tentang ekonomi, bisa dipahami, tak hanya oleh ekonom. Ini karena gaya bahasa yang komunikatif. Membaca satu kalimat pertama, sudah merangsang untuk membaca kalimat selanjutnya, seolah ada ‘pancingan’ untuk membuat rasa ingin tahu lebih dalam tentang apa yang ditulis. Dan ia pun cukup berani berpendapat, walaupun itu bisa kontroversial, tanpa menyakiti siapa pun.

Masih menurut Prof. Edy Suandi Hamid, tulisan tentang Kepribadian Yogyakarta misalnya, bisa menjelaskan secara ringan tentang keunikan Yogya, dan keberaniannya mengemukakan  sikap. Di mata Mas Krisnam Yogyakarta itu “memiliki kepribadian yang introvert yang kuat, ia masih terlalu bergaya alim, normatif, setiap ada tradisi, enggan menyaingi kawan, non-agresif, nrimo, tentrem, dan santai”. Ini tentu bisa diperdebatkan, tapi ia menyampaikannya dengan santai dan mengalir. Dalam tulisan yang ditulis hampir 40 tahun lalu ini, bisa juga menjelaskan mengapa di Yogya, misalnya, yang secara statistik ketimpangan tertinggi di Indonesia saat ini, namun kehidupan adem ayem, tidak keras. “….Ketimpangan pola kehidupan acapkali terlalu keras….. Begitu kerasnya sehingga mengguncang dinding-dinding budaya manusia….Orang bisa melihat peristiwa itu di metropolit atau di tempat lain. Namun di Yogya itu masih terlalu langka….”

 

Wartawan Sejak Muda

Nasrullah Krisnam memang wartawan sejati. Sebagian besar kehidupannya disibukkan dengan pergulatan di dunia jurnalistik, walaupun kemudian ia sempat menggeluti dunia politik dengan menjadi anggota DPRD DIY selama dua periode dari tahun 1999 sampai 2009.

Ia menekuni dunia kepenulisan dan kewartawanan sejak muda. Setidaknya perjalanan karier jurnalistiknya bisa dilihat dari kerja kerasnya antara lain menjadi Pemred SKM Surabaya Express (1973), Redaktur Suara Indonesia Timur (1974-1975), Redaktur Mingguan Memorandum (1977-1979), Redaktur Pelaksana Harian Kedaulatan Rakyat (1994-2001). Dan, di Kedaulatan Rakyat, ia berkhidmat selama 26 tahun.

H Nasrullah Krisnam sepertinya memang bertekad untuk mengisi hari tuanya dengan menulis buku. Setelah buku “Jejak Pikiran Seorang Jurnalis“, kabarnya, ada buku lain yang sedang dipersiapkannya untuk terbit lagi.

Wartawan memang boleh berhenti atau pensiun dari media tempatnya bekerja. Tapi menulis tak pernah mengenal kata berhenti. Menulis tak ada matinya. Selamat! *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM PADA kesempatan ini karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *