Beranda » Essai EAN » Lingkar Organisme Kemanusiaan

Lingkar Organisme Kemanusiaan

Maka ini mungkin bagian paling berat bagi Seger untuk merumuskan dan mencatat. Sambil menajamkan pikiran untuk mulai mencatati Telaga Maiyah, ia membuka lembaran-lembaran sebelumnya:

“Yang untuk Negerimu nanti sebentar. Sesudah tuntas untuk anak cucu di tahap memasuki tahun-tahun penuh ranjau-ranjau api ini, baru mungkin ada pesan buat Negara, Pemerintah, rakyat dan ummat—terlepas dari bangsamu memerlukannya atau tidak”, demikian Seger mencatat pesan Mbah Markesot.

“Memang semua pesan buat anak cucu ini terdapat kandungan keadaan Negerimu, dengan segala romantika dan dinamikanya—karena kita semua adalah penduduk, warga resmi dan tinggal di sini. Tetapi semua catatan ini hanyalah setoran pribadi kepada Tuhan”.

Seger menambahkan catatan pribadi: “Tak ada maksud saya untuk membuat pernyataan atau mengemukakan pendapat tentang Indonesia. Saya hanya mencatat hal-hal dari Mbah Markesot untuk anak cucunya”

Fa idza faraghta fanshab, Seger, begitu pesan Mbah Sot”, kata Pakde Tarmihim, “asalkan wa ila Robbika farghab lho…”.

Seger sendiri belum paham kenapa Mbah Sot sangat menekankan bahwa semua himpunan pesan itu bukanlah tentang, kepada dan untuk Negerimu atau dunia. Juga tidak mempersoalkan, membenarkan atau menyalahkan Negerimu atau dunia. Tidak merupakan dukungan atau perlawanan apapun dan siapapun. Bukan pro atau kontra siapapun atau pihak apapun. Kalau ada yang meletakkannya di tempat, konteks, nilai atau komunikasi yang tidak sebagaimana dimaksudkan, tanggung jawabnya terletak pada yang meletakkan.

Semua ini dari sisi Allah. Kenapakah orang-orang Munafik itu hampir tak memahami pembicaraan sedikit pun?”.

Mbah Sot pernah berpesan bahwa keadaan Negerimu bisa menjadi medan pendadaran untuk menjadi manusia tangguh, canggih berpikir, dengan lipatan-lipatan ilmu dan gelembung-gelembung pengetahuan yang tidak bisa kau dapatkan di luar Negerimu. Tetapi pada saat yang sama keadaan Negerimu juga bisa dengan sangat mudah menghancurkan kepribadianmu, mengikis kemanusiaanmu dan mencampakkanmu dari “Ahsanu Taqwim” menjadi “Asfala Safilin”.

Jumlah Asfala Safilin meningkat pesat. Manusia turun derajat menjadi hewan, tetumbuhan atau bahkan menjadi benda-benda. Menjadi robot, boneka, onderdil, menjadi obeng, tang, mur dan baut. Lainnya menjadi singa kanibal, menjadi heyna, musang atau anjing hutan. Wujudnya tetap manusia, bahkan bersolek hampir seperti Malaikat dan bidadari. Tetapi perilakunya, budayanya, politiknya, adalah hewan. “Bal hum adholl”, bahkan lebih hina dari binatang.

Maka jangan berkata apapun, jangan bantah dan jangan melakukan perlawanan terhadap hewan dan spare part industri. Kalian belajar dulu. Sambil memastikan bahwa di setiap jengkal pengalaman kalian tetap mempertahankan kemanusiaan, kalian Sinau Bareng dulu rajin-rajin.

Markesot mendorong anak-anak itu untuk berhijrah. Bergerak mendekat ke mereka yang berhimpun dalam lingkaran “anak-anak asuh Markesot” lainnya, yang menyebutnya Maiyah. Lingkaran Cincin Persaudaraan yang membuka pintu sangat terbuka bagi siapa saja. Masukilah lingkar organisme kemanusiaan yang belum pernah ada sebelumnya. Alamilah, nikmatilah, belajarlah, bergembiralah, serta berbahagialah dalam keseimbangan.

Daur II-308
Yogya, 20 Februari 2018

Lihat Juga

Tatkala Domba Mengembek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *