Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » KEPEMIMPINAN DALAM DEMOKRASI PANCASILA ‘Membentuk Pribadi Yang Utuh’
Ilustrasi bidak catur

KEPEMIMPINAN DALAM DEMOKRASI PANCASILA ‘Membentuk Pribadi Yang Utuh’

Dalam sebuah catatan kuna bisa dikaji kembali bahwa nilai Pancasila itu sesungguhnya tidak jauh dari pemampatan atau kristalisasi dari pemahaman Sapta Wahyu Panca Pancataning Mulya, sebuah pemahaman Jawa untuk menjadi arif bijaksana. Tujuh kelompok ajaran yang masing-masing kelompok terdiri dari lima ajaran untuk mencapai ketenteraman, kesejahteraan keselarasan alam semesta lahir batin. Sementara sumber lain menyebut adanya semangat Panca Mukti Muni Wacana yang terdiri dari lima kelompok.

Sifat dasar dari semangat itu tidak lain rujukan pembentukan sikap dasar akhlak manusia. Pertama disebut kelompok Hambeg Manembah. Artinya sebagai khalifah Allah mengemban amanat membangun peradaban dan tatanan kehidupan manusia- Hamemayu hayuning bawana. Sikap ini mendasari pembangunan watak dan akhlak manusia yang mementukan kualitas hidup dan kehidupan , pribadi , keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.  

Yang kedua dari kelompok ini hambeg nyawiji, sikap bersatu. Menyadari bahwa terlahir di dunia manusia hakekatnya sama. Kelebihan dan kekurangannya tanda kebesaran ilahi. Oleh karenanya satu bentuk ketakwaan adalah sikap bersatu dalam keanekaragaman. Dalam satu ajarannya hambeg nyawiji ini dinyatakan sebagai manunggaling kawula lawan gustine, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya. Manunggal antara rakyat dengan alamnya. Dan bersatunya manusia sikap dan perilakunya.

Yang ketiga dari kelompok ini hambeg welas asih. Sikap kasih sayang ini harus tercuat di dalam sikap hidup sehari-hari yang diharapkan mampu makin mempererat persatuan. Keempat hambeg wisata yang berarti sikap tenang dan mantap karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia diharapkan membangun tata kehidupan untuk menyejaterakan alam. Disinilah pula letak semangat untuk saling membantu, bahu membahu, saling mengingatkan, saling mat sinamadan, di dalam kehidupan.

Yang kelima dari kelompok pertama adalah  hambeg makarya jaya sasama . Artinya sikap kemauan untuk berkarya dalam upaya mencapai kehidupan dan kejayaan sesama manusia. Kalau ada manusia yang masih sengsara seharusnya tidak rela.

Simak juga:  SERI PANCASILA (14): Pancasila Setengah Hati

Sementara kelompok kedua bernama Panca Karya yang merupakan rujukan berkarya dalam kehidupan. Butir pertama dari kelompok kedua ini adalah karyaning cipta tata yang artinya runtut dalam berpikir, sistematis tidak wor suh, atau tumpang tindih. Disusul kemudian yang kedua karyaning rasa resik yang berarti bertindak obyektif, bersih, tanpa dipengaruhi nafsu, keserakahan, ketamakan atau kepentingan pribadi yang tidak selaras dengan budi luhur. Baru kemudian diatambah dengan karyaning karsa lugu, sebuah kemampuan untuk bertindak selaras kesucian kalbu, kebenaran sejati. Baru kemudian ditegaskan kembali dengan karyaning jiwa mardika yang berarti selaras dorongan jiwa yang hanya menambatkan hasil karya dan cita-cita kepada Allah semata tanpa diperbudak oleh nafsu.

 Yang terakhir dari kelompok kedua ini memperjelas ketegasan karya dengan karyaning suksma meneng. Sebuah kemampuan dilandasi kemantapan peribadatannya kepada Allah berdasar kebenaran, keadilan, kesucian fitrah hidup.

Sedang kelompok ketiga disebut Pancaguna untuk mengolah potensi pribadi yang diawali dengan butir pertama guna empan papaning daya pikir, yang berarti kemampuan berpikir benar, efektif, efisien. Sikap ini harus dilandasi guna empan papaning daya rasa, sebuah kemampuan mengendalikan rasa pangrasa secara arif bijaksana. Disusul kemudian guna empan papaning daya karsa yang memampukan pengendalian dan pengelolaan kemauan, cita-cita niat dan harapan. Hal ini dipertegas dengan guna empan papaning daya karya, yakni kemampuan berkarya yang bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam kelompok ini diakhiri dengan butir kelimanya guna empan papaning daya panguwasa, yang berarti pengendalian kemampuan, kekuasaan, kewenangan secara arif bijaksana.

Kelompok ke empat Panca Darma yang merupakan rujukan pengarahan orientasi hidup yang menuntun visi dan misi hidup. Yang pertama  darma marang Ingkang Hakarya Jagad atau Allah. Oleh karena itu semua perilaku, budi daya, cipta, rasa, karsa, dan karyanya di dunia tiada lain dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk perwujudan dari peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mensejahterakan alam semesta. Yang kedua dari  kelompok ini adalah dharma  marang dhiri, artinya mampu menjadi manusia yang berkualitas berbobot, sehat lahir batin.. Yang ketiga dari kelompok ini darma marang keluwarga, artinya mampu memenuhi hak keluarga. Kemudian dipertegas lagi dengan  dharma marang bebrayan, yang berarti melaksanakan  kewajiban untuk turut serta membangun kehidupan bermasyarakat secara baik, agar dapat membangun masyarakat binaan yang  tenteram damai,  sejahtera, aman sentosa. Yang kelima dari kelompok ini adalah dharma marang nagara, dengan melaksanakan kewajiban turut serta membangun negara sesuai peran dan kedudukannya masing-masing, demi kesejahteraan, kemuliaan, ketenteraman, keamanan, kesentosaan, kedaulatan, keluhuran martabat, kejayaan, keadilan, dan kemakmuran bangsa dan negaran beserta seluruh lapisan rakyat, dan masyarakatnya.

Simak juga:  SERI PANCASILA (9): Surat Pengusiran

Kelompok kelima adalah Panca  Jaya  merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan penetapan standar kriteria atau tolok ukur hidup dan kehidupan manusia.

Pertama jayeng dhiri, berarti menguasai, mengendalikan, serta mengelola dirinya sendiri, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya, tanpa kesombongan. Butir kedua dari kelompok ini adalah  jayeng  bhaya, artinya mampu mengatasi segala bentuk tantangan dengan optimal tanpa berdampak negatif. Yang ketiga adalah jayeng donya artinya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan di dunia, tanpa dikendalikan oleh dorongan nafsu keserakahan. Selanjutnya  didukung oleh semangat jayeng bawana langgeng, yang berarti mengalahkan semua rintangan, cobaan, dan godaan di dalam kehidupan untuk mempersiapkan diri, keturunan, dan generasi penerus sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat. Yang kelima  jayeng  lana  yang berarti mampu secara konsisten menguasai serta mengendalikan diri lahir dan batin, sehingga  tetap berada pada hidup dan kehidupan di bawah ridlo Ilahi.  

Sementara kelompok ke enam dan ketujuh sesungguhnya rujukan perilaku manusia sebagai insan sosial yang harus tanggap keadaan sosial masyarakatnya dan mengutamakan laku keutamaan kehidupannya di masyarakat.

Namun yang terjadi di negeri ini sistem  demokrasinya sangat kental oleh warna ketamakan akan kekuasaan, dan ketamakan akan harta.  Cara-cara penyusunan konstitusi yang berbau mencari-cari celah pembenaran atas kehendak kelompok atau pribadi-pribadi tertentu, belum berorientasi pada upaya penyejahteraan rakyat, apakah sesuai dengan asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.  Benarkah sistem demokrasi/ sistem politik kita sudah merujuk pada  Pancasila .  Benarkah sistem demokrasi kita sudah berlandaskan hikmah   demi kesejahteraan kehidupan rakyat ??  (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.