Kamis , 17 Januari 2019
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XXI: Kepahlawanan di Era Mileneal
M. Nursam, S.S (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XXI: Kepahlawanan di Era Mileneal

M. Nursam

Dalam TOR diskusi yang bertajuk “Memaknai Ulang Kepahlawan dalam Era Pancasila” ini, Panitia menyebutkan bahwa “Pahlawan menurut pemahaman kamus bahasa Indonesia adalah orang yang menyerahkan jiwa raganya bagi perjuangan untuk kemerdekaan bangsa. Ini rumusan pahlawan di masa lampau di masa perjuangan. Namun seiring perkembangan waktu dan zaman, nilai-nilai kepahlawanan terus berkembang selaras dengan kemajuan zaman. Nilai-nilai kepahlawanan bukannya pudar melainkan berkembang seira-ma dengan perkembangan zaman. Nah, nilai-nilai seperti apa pula yang bisa dilestarikan dan dikembangkan di era demokrasi Pancasila di negeri ini seperti sekarang ini. Hal ini perlu dikedepankan mengingat generasi sekarang yang dikenal dengan generasi milenial atau generasi Z [Y] sudah tidak memahami pengorbanan pahlawan yang mendarmabaktikan hidup, jiwa raganya bagi perjuangan kemerdekaan bangsa. Mereka sudah masuk dalam era digital zaman now yang dikenal dengan zaman milenial yang serba canggih dan serba digital. Meskipun nilai-nilai tidak berubah tetapi implementasi dari nilai-nilai kepahlawanan itu perlu dirumuskan kembali di zaman now supaya generasi milenial memahami makna kepahlawanan. Apa nilai-nilai kepahlawanan yang perlu dilestarikan dan bagaimana itu diimplemantasi dalam zaman milenial ini. Inilah yang akan dicari dan ditemukenali kemudian dirumuskan sebagai sebuah referensi untuk disodorkan kepada para pengambil kebijakan dan masyarakat umum.”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tulisan singkat ini akan menguraikan mengenai pahlawan dan kepahlawanan dalam konteks sejarah Indonesia. Setelah itu, akan dijelaskan mengenai generasi milineal beserta karakteristiknya. Dan akhirnya uraian nilai-nilai kepahlawan yang relevan di era milineal.

Siapakah pahlawan itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, pahlawan diartikan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero[1]. Sedangkan kepahlawanan, perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan)[2]. Jika kita mengacu kepada UU Nomor 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan pada Pasal 1 ayat 4 dise-butkan bahwa “Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.”

Dari definisi pahlawan menurut KBBI, ada empat aspek kepahlawanan, yakni: 1) keberanian, 2) pengorbanan, 3) membela kebenaran, dan 4) prestasi dan karya (dalam UU Nomor 20 Tahun 2009 di atas).

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati “Hari Pahla-wan”. Hari pahlawan ini diambil dari peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya, saat rakyat Indonesia diultimatum oleh Sekutu agar rakyat dan lanskar-laskar perjuangan menyerahkan senjata. Oleh karena rakyat Surabaya tidak mau me-menuhi permintaan Sekutu, maka rakyat Surabaya dibombardir oleh Sekutu. Pe-ristiwa ini dikenang sebagai “Peristiwa Pertempuran 10 November 1945”. Dalam buku sejarah, kisahnya sangat heroik dan dijadikan simbol keberanian, pengorbanan, membela kebenaran, rakyat Indonesia.

Kalau kita melihat perjalanan sejarah Indonesia, sebagai bangsa yang pernah terjajah, sudah tak terhitung jumlahnya rakyat Indonesia yang berkorban jiwa dan raganya melawan penjajah. Jumlah ini akan semakin bertambah banyak jika perhitungannya dimulai sejak periode awal abad ke-17, saat VOC pertama kali mendarat di Indonesia. Belum ditemukan data yang valid berapa jumlah korban jiwa yang tewas saat mereka melawan penjajah (Belanda dan Inggris).

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk mem-bangun identitas dan simbol baru sebagai bangsa dan negara merdeka. Salah satunya adalah memeringati hari pahlawan setiap tanggal 10 November. Pada perkembangan selanjutnya, Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden, memberi anugerah pahlawan nasional, yang dimulai oleh Presiden Sukarno pada 1959. Semua negara di dunia mempunyai pahlawan. Yang membedakan antara satu negara dengan negara lainnya hanyalah jumlah. Sampai 2018 ini, Pemerintah Indonesia sudah memberi anugerah pahlawan nasional sebanyak 173 orang. 

Menurut Taufik Abdullah, kehadiran pahlawan bersumber dari keharusan adanya patokan untuk mengidentifikasi diri dan akan perlunya simbol yang mengikat. Sebagai simbol, yang merang-kul ide moral yang dirasakan terlalu kongkrit untuk dikatakan, pahlawan adalah modal bagi kehidupan sosial dan politik.[3] Melalui beragam bentuk komunikasi dan ritual-ritual politik, penghargaan kepada pahlawan-pahlawan juga membantu dalam membentuk kesadaran politik dan historis masyarakat Indonesia. Hal ini akan menentukan arah dan isi ke-nangan historis serta menanamkan penafsiran khusus pada masa lalu yang bermanfaat bagi keperluan-keperluan politik tertentu. Fenomena pahlawan adalah suatu instrumen penting untuk mengindoktrinasi generasi muda yang terdiri atas siswa dan pelajar.[4]

Tidak bisa disangsikan lagi jika pengangkatan seseorang menjadi pahlawan pada akhirnya adalah ke-putusan politis. Hal ini berlaku baik sejak Presiden Sukarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Mega-wati Sukarnoputri, Susilo Bambang Yudoyono, dan sampai saat ini, Presiden Joko Widodo. Jika kita periksa secara teliti, sebanyak 173 orang yang sudah diangkat resmi oleh negara sebagai pah-lawan nasional, adalah manusia biasa yang tidak bebas dari kesalahan dalam hidupnya. Termasuk misalnya para pahlawan yang sudah mengisi pantheon nasional itu, tidak semuanya melakukan tindakan dan perlawanan terhadap pen-jajah dalam kaitan dengan Indonesia. Tuanku Imam Bonjol, misalnya, hampir pasti tidak memikirkan Indonesia merdeka, tetapi terciptanya masyarakat yang diridai Tuhan di Minangkabau. Termasuk di dalamnya Sultan Hasanud-din, Pangeran Dipanegoro, Pattimura, dll, mereka melawan penjajah belum memikirkan Indonesia merdeka.

Simak juga:  Pemimpin-3

Pahlawan nasional yang diakui secara resmi itu, mewakili simbol perjuangan dan pertumbuhan bangsa. Padanya dilekatkan nilai-nilai patriotisme, keberanian, dan pengorbanan untuk bangsanya. Simbol dan nilai-nilai ini tidak dimakan usia. Akan terus dibu-tuhkan dalam perjalanan bangsa.

Pahlawan merupakan kontruksi sosial. Ia diciptakan. Harapannya, agar generasi sesusahnya mendapatkan nilai-nilai keteladan dan inspirasi dari sang pahlawan. Saat ini kita mengenal generasi milienal. Dalam KBBI, milenial diartikan sebagai berkaitan dengan milenium; generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an. Generasi Y dikenal dengan sebutan generasi milenial atau milenium. Ungkapan generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter, dengan kata lain generasi Y adalah ge-nerasi yang tumbuh pada era internet booming (Lyons, 2004). Lebih lanjut (Lyons, 2004) mengungkapkan ciri–ciri dari generasi Y adalah: karakteristik masing-masing individu berbeda, tergantung di mana ia dibesarkan, strata ekonomi, dan sosial keluarganya, pola komunikasinya sangat terbuka dibanding generasi-generasi sebelumnya, pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh oleh perkembangan teknologi, lebih terbuka terhadap pandangan politik dan ekonomi, sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan ling-kungan yang terjadi di sekelilingnya, memiliki perhatian yang lebih terhadap kekayaan.

Menurut Karl Manheim (1952) generasi adalah suatu konstruksi sosial di mana di dalamnya terdapat sekelompok orang yang memiliki kesamaan umur dan pengalaman historis yang sama. Lebih lanjut Manheim menjelaskan bahwa individu yang menjadi bagian dari satu generasi, adalah mereka yang memiliki kesamaan tahun lahir dalam rentang waktu 20 tahun dan berada dalam dimensi sosial dan dimensi seja-rah yang sama. Definisi tersebut secara spesifik juga dikembangkan oleh Ryder (1965) yang mengatakan bahwa generasi adalah agregat dari sekelompok individu yang mengalami peristiwa–peristiwa yang sama dalam kurun waktu yang sama pula.[5]

Sebenarnya, dari teori generasi, saat ini sudah muncul generasi Z dan Alfa. Kita lihat tabel di bawah ini.

 

Tahun Kelahiran Nama Generasi
1925–1946 Veteran generation
1946–1960 Baby boom generation
1960–1980 X generation
1980–1995 Y generation
1995–2010 Z generation
2010 + Alfa generation

Tabel Perbedaan Generasi

(Dikutip dari tulisan Yanuar Surya Saputra “THEORITICAL REVIEW: TEORI PERBEDAAN GENERASI”, dalam http://jurnal.stieama.ac.id/index.php/ama/article/viewFile/142/133, diakses 23 November 2018.)

Enam kelompok generasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda–beda. Generasi paling muda yang baru memasuki angkatan kerja adalah generasi Z, disebut juga iGeneration atau generasi internet. Generasi Z memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi generasi Z mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu (multi tasking) seperti: menjalankan sosial media menggunakan ponsel, browsing menggunakan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubung-an dengan dunia maya. Sejak kecil generasi ini sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh ter-hadap kepribadian.

Penelitian Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011, menemukan karakteristik generasi milineal seperti: 1. Milennial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah; 2) Milenial lebih memilih ponsel dibanding TV; 3) Milenial wajib punya media sosial; 4) Milenial kurang suka membaca secara konvensional; 5) Milenial lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka; 6) Milenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif; 7) Milenial mulai banyak melakukan transaksi secara cashless.[6]

Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa ada perbedaan generasi awal kemerdekaan sampai generasi 1970-an dengan generasi sekarang. Perbedaan itu tentu saja membuat pemaknaan terhadap banyak hal, termasuk dalam hal kepahlawanan, misalnya, berbeda. Jika generasi zaman pergerakan sampai revolusi, kepahlawanan “selalu identik” dengan mengangkat senjata melawan penjajah, maka generasi sekarang tidak menghadapi lagi penjajahan secara fisik. Jika ukuran lama, “mengangkat senjata”, misalnya, yang mau dipakai sebagai tolak ukur, tentu generasi masa kini tidak akan mendapatkannya.

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa generasi sekarang tidak bisa melakukan tindakan kepahlawanan. Kepahlawanan tidak lahir oleh karena gen. Ia hadir pada tindakan seseorang yang berdampak luas bagi masyarakat dan bangsanya.

Dalam “Psikologi Kepahlawanan”, banyak ahli percaya bahwa sangat mung-kin bagi seseorang untuk belajar menjadi pahlawan. Beberapa karakteristik utama dari sifat kepahlawanan yang diajukan oleh para peneliti sebagai berikut.[7]

  1. Pahlawan cenderung peduli terhadap kesejahteraan orang lain

Empati dan rasa belas kasih kepada orang lain adalah faktor utama yang berkontribusi pada perilaku kepahla-wanan. Orang yang dengan segera menolong orang lain yang sedang meng-alami bahaya melakukan hal tersebut karena mereka benar-benar peduli pada keselamatan dan kesejahteraan orang lain. Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2009 menemukan bahwa orang yang memiliki kecenderungan menampilkan perilaku kepahlawanan juga memiliki empati yang tinggi. Orang yang terlibat dalam tindakan kepahlawanan/heroik merasa peduli terhadap orang-orang di sekitarnya dan mereka mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan.

  1. Pahlawan memiliki kemampuan yang bagus dalam melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain

Pahlawan tidak hanya memiliki rasa belas kasih dan kepedulian; mereka memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Mereka dapat memposisikan diri mereka pada posisi orang lain. Ketika mereka bertemu dengan situasi di mana terdapat orang yang membutuhkan pertolongan, mereka secara cepat mampu memposi-sikan diri mereka pada situasi orang tersebut dan melihat apa yang harus dilakukan untuk menolongnya.

  1. 3. Pahlawan memiliki kemampuan dan kepercayaan diri yang mumpuni

Butuh kemampuan dan kepercayaan diri untuk maju ke situasi di mana orang lain takut untuk hadapi. Para peneliti mengatakan bahwa orang yang melakukan tindakan kepahlawanan cenderung merasa percaya diri pada kemampuan yang dimiliki. Ketika dihadapkan pada situasi kritis, mereka memiliki kepercayaan bahwa mereka mampu mengatasi tantangan tersebut dan memperoleh kesuksesan apapun yang terjadi. Kepercayaan diri ini mungkin berasal dari mekanisme pe-ngendalian stres yang bagus.

  1. Pahlawan memiliki nilai-nilai moral sebagai panutannya

Berdasarkan penelitian yang dilaku-kan oleh Zimbardo dan Franco, orang yang memiliki sifat kepahlawanan memi-liki kualitas utama yang membedakan mereka dari orang lain: mereka hidup berdasarkan pada nilai-nilai moral dan mereka bersedia untuk menghadapi risiko personal untuk melindungi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang mereka anut dan kepercayaan personal mereka memberikan mereka keberanian dan kekuatan untuk menghadapi risiko atau bahaya yang lebih besar.

  1. Memiliki kemampuan dan pelatihan yang tepat dan membuat perbedaan

Memiliki pelatihan dan kemampuan fisik untuk menghadapi situasi kritis dapat memberikan peran penting dalam menentukan apakah sesorang dapat disebut sebagai pahlawan atau tidak. Dalam situasi di mana seseo-rang tidak memiliki pengetahuan mengenai bagaimana cara membantu atau kurang memiliki kemampuan fisik yang dibutuhkan, orang tersebut akan cenderung tidak membantu atau cenderung kurang mengetahui cara-cara dalam bertindak. Dalam banyak kasus, pendekatan ini mungkin adalah pendekatan terbaik karena pada akhirnya orang yang nekat untuk menolong tanpa memahami apa yang dilakukannya dapat menjadi beban bagi petugas penyelamat. Orang yang terlatih dan memiliki kemampuan, seperti orang-orang yang pernah mengikuti pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, lebih siap dan mampu untuk maju dan membantu orang lain dengan kemampuannya tersebut.

  1. Pahlawan terus maju ke depan meskipun dihadapkan pada ketakutan

Orang yang masuk ke dalam bangunan yang sedang terbakar untuk menyelamatkan orang lain tidak hanya sekedar berani; dia juga memiliki kemampuan untuk mengalahkan keta-kutannya. Para peneliti mengatakan bahwa individu yang memiliki sifat kepahlawanan adalah orang-orang yang cenderung memiliki pemikiran yang positif, sehingga berkontribusi pada kemampuan mereka untuk melihat hal-hal positif di dalam situasi yang berbahaya. Dalam banyak kasus, orang-orang seperti ini juga memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap risiko. Banyak orang baik atau penyayang mungkin mundur ketika menghadapi bahaya. Mereka yang maju biasanya lebih cenderung untuk berani mengambil risiko yang lebih besar di berbagai aspek kehidupannya.

  1. Pahlawan tetap mengejar tujuan mereka, bahkan setelah gagal berkali-kali

Kegigihan adalah kualitas lain yang dimiliki oleh pahlawan. Dalam sebuah penelitian di tahun 2010, para peneliti menemukan bahwa orang yang disebut pahlawan lebih cenderung untuk memiliki pandangan positif terhadap situasi negatif. Ketika dihadapkan pada penyakit yang mengancam jiwa, orang dengan kecenderungan sifat kepahlawanan lebih fokus pada hal-hal baik yang mungkin muncul dari situasi tersebut, seperti penghargaan yang lebih besar pada kehidupan atau kesempatan yang lebih besar untuk dekat dengan orang-orang yang disayangi.

Simak juga:  SERI PANCASILA (2): Karena Saya Manusia

“Keputusan untuk bertindak sebagai pahlawan adalah sebuah pilihan yang pasti akan kita temui di satu titik kehi-dupan kita. Dengan melihat perilaku kepahlawanan sebagai karakteristik universal pada diri setiap manusia, bukan pada diri orang-orang terpilih saja, perilaku kepahlawanan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan oleh semua orang, menginspirasi lebih banyak dari kita untuk bertindak seba-gai pahlawan,” tulis peneliti perilaku kepahlawanan, Zeno Franco dan Philip Zimbardo.

Dari penjelasan terakhir di atas, kita bisa mengatakan bahwa generasi sekarang pun bisa menjadi “pahlawan” dan melakukan tindakan kepahlawanan. Kemajuan teknologi yang menjadi bagian dari kehidupan generasi milenial membuka lebar bagi generasi milenial untuk menghasilkan prestasi dan karya besar yang mengharumkan nama bangsa dan negara dan bermakna bagi kemanusiaan. Prestasi dan karya generasi milenial sudah sering kita lihat, khususnya dalam bidang olah raga, seni, dan sains. Prestasi terbaru dan patut dibanggakan adalah prestasi dalam Asian Games 2018 lalu. Di tengah pertikaian antarelite politik, pencapaian pada Asian Games lalu menjadi pelepas dahaga dari keringnya prestasi oleh elite politik. Prestasi itu dicapai oleh generasi milenial. Dan itu adalah tindakan kepahlawanan.

Salah satu persoalan terbesar dalam kaitan dengan kepahlawanan di era Pancasila ini adalah minimnya keteladanan dari para elite di semua strata kehidupan. Perilaku dan tindakan dari elite politik dan pemerintahan tidak mencerminkan tindakan kepahlawanan dan tidak pancasilais. Padahal yang dibutuhkan oleh generasi milenial adalah keteladanan dari generasi tua. Tanpa keteladanan, yang terjadi adalah inflasi pahlawan, dikenang tetapi tidak aktual dan dibekukan dalam lipatan waktu!

 

(Footnotes)

1 Dikutip dari tulisan Yanuar Surya Saputra “THEORITICAL REVIEW: TEORI PERBEDAAN GENERASI”, dalam http://jurnal.stieama.ac.id/index.php/ama/article/viewFile/142/133, diakses 23 November 2018.

* Tulisan yang disampaikan dalam acara diskusi dengan tema “Memaknai Ulang Kepahlawanan Dalam Era Pancasila” yang diselenggarakan oleh Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta, di Monumen Yogya Kembali, Sabtu, 24 November 2018.

** Ketua Alumni Sejarah UGM (KASAGAMA); Direktur Penerbit Ombak Yogyakarta.

[1]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2008:999).

[2]Ibid.

[3]Taufik Abdullah, “Pahlawan dalam Perspektif Sejarah”, Prisma 7, Nomor Khusus 1976, hlm. 65.

[4]Klaus H. Schreiner, “Penciptaan Pahlawan-Pahlawan Nasional Dari Demokrasi Terpimpin sampai Orde Baru 1959—1993” dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentigan (Yogyakarta: LkiS, 2005), hlm. 383.

[5]Karl Mannheim, (1952). “The Problem of Generations”. Essays on the Sociology of Knowledge, 24 (19), 276-322–24.

[6]Agnes Winastiti, “Generasi Milenial dan Karakteristiknya,” dikutip dari https://student.cnnindonesia.com/ edukasi/20160823145217-445-153268/generasi-millenial-dan-karakteristiknya/, diakses 21 November 2018.

[7]Beberapa karakteristik utama dari sifat kepahlawanan ini dikutip dari https://magazinehaisobat. wordpress.com/2017/04/10/7-ciri-ciri-pahlawan/, diakses 21 Nov 2018.

 

Lihat Juga

Pemimpin-42

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *