Senin , 24 September 2018
Beranda » Peristiwa » Andaikata Bom Atom Tidak Dijatuhkan di Jepang (1): Kemerdekaan Indonesia Mungkin Punya Cerita Lain
Awan jamur bom atom di langit Hiroshima (kiri) dan Nagasaki (kanan) (ft. wikipedia)

Andaikata Bom Atom Tidak Dijatuhkan di Jepang (1): Kemerdekaan Indonesia Mungkin Punya Cerita Lain

AGUSTUS tahun ini, segenap umat manusia yang cinta damai memperingati 73 tahun terjadinya bencana dan malapetaka terbesar atas diri umat manusia, yakni dijatuhkannya bom atom oleh Sekutu di dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Dan bagi rakyat Indonesia, Agustus  tahun ini juga merupakan bulan bersejarah. Karena pada bulan Agustus tersebut, 73 tahun lalu bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dua peristiwa ini berlangsung secara beriringan. Bahkan maknanya bagai tak dapat dipisahkan. Kota Hiroshima dilumat bom atom yang dijatuhkan dari pesawat pembom B 29 Enola Gay pada tanggal 6 Agustus 1945. Menyusul kota Nagasaki mengalami nasib yang sama pada tanggal 9 Agustus 1945. Kemudian beberapa hari setelah peristiwa mengerikan itu bangsa Indonesia membuat catatan besar dalam sejarah perjuangannya dengan memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Mulai saat itulah bangsa Indonesia mempermaklumkan kepada dunia sebagai bangsa yang bebas, merdeka dan berdaulat.

 

Andai tidak Dibom

Keberutalan pihak Sekutu dengqn menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tersebut telah dikutuk ratusan juta umat manusia. Dunia seakan menangis dan tertunduk pilu. Akan tetapi, timbul pertanyaan. Andaikan ketika itu bom atom tidak dijatuhkan Sekutu di Jepang, bagaimana pula halnya riwayat Perang Dunia II yang sudah berkecamuk hebat hampir di seluruh bagian dunia ini? Dan, bagaimana pula kaitannya dengan perjuangan rakyat Indonesia dalam menuntut kemerdekaannya?

Ya, andaikan pada hari Senin 6 Agustus 1945, kota Hiroshima tidak dilumat bom atom, dan Kamis 9 Agustus 1945 menyusul kota Nagasaki mendapat gilirannya, tentu sejarah akan bercerita lain. Sejarah dan riwayat Perang Dunia II tidak diketahui jelas nasibnya. Perang mungkin akan masih berkobar lama. Dan mungkin pula Jepang tidak mengalami nasib tragis, kalah serta menyerah tanpa syarat. Padahal kekalahan Jepang mempunyai peranan dan arti cukup berharga bagi sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Setidak-tidaknya, andaikan Jepang tidak menyatakan persetujuan penyerahannya kepada Sekutu, tentunya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tidak diketahui secara pasti kapan akan dilaksanakan. Walaupun setahun sebelum itu, pemerintah Jepang sudah memberi janji untuk ‘memerdekakan’ Indonesia.

Simak juga:  Andaikata Bom Atom Tidak Dijatuhkan di Jepang (2): Bisa Jadi Proklamasi Kemerdekaan tidak di Agustus 1945

 

Karena Situasi Memburuk

Keperkasaan Jepang dalam Perang Dunia II sejak berhasil menghancurkan pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor pada tahun 1941, mulai mengalami masa krisis setelah peperangan di kawasan Pasifik dan Asia Timur Raya berlangsung tiga tahun.

Krisis itu mulai tampak memuncak di tahun 1944, ketika gerak maju pasukan Jepang terhambat oleh gerak maju pasukan Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat. Melihat posisinya makin terdesak, Jepang lalu mendekati pemimpin-pemimpin rakyat Indonesia dengan memberikan janji kemerdekaan kepada Indonesia. Janji Jepang itu disampaikan pada bulan Agustus 1944.

Dengan adanya janji Jepang t, para pemimpin perjuangan ketika itu lalu mempersiapkan segala sesuatunya yang berkenaan dengan bakal tibanya saat menggembirakan tersebut.

Namunpun begitu, janji tersebut ternyata tak jelas kapan akan terlaksana., walau desakan-desakan oleh para pemimpin perjuangan terus dilakukan dengan berbagai cara. Hingga awal 1945, janji Jepang itu tidak juga membawa kenyataan.

Baru pada 1 Maret 1945, Jepang mendorong dan menyetujui pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan  (BPUPK) atau Dokuritsu Jumbi Casakai. Hal itu dilakukan Jepang, setelah situasi pertahanannya dalam Perang Dunia II semakin tidak terkendalikan lagi.

BPUPK dibentuk Jepang, dengan harapan dapat menarik simpati dan bantuan rakyat Indonesia dalam menghadapi gerak maju tentara Sekutu. Dan, Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat mendapat tugas mengetuai badan yang memiliki tugas mempersiapkan segala sesuatunya yang berkenaan dengan kemerdekaan Indonesia.

Begitu dibentuk, badan ini lalu bekerja keras di tengah-tengah berkecamuknya Perang Dunia II dan di tengah-tengah kesibukan Jepang mempertahankan diri. Pada tanggal 29 Mei hingga 1 JUni 1945 BPUPK bersidang. Hasil dari sidang tersebut berupa rumusan dasar negara, yakni Pancasila. Badan ini bersidang lagi tanggal 10 hingga 16 Juli 1945 dan berhasil membuat susunan Pembukaan serta isi dari UUD 1945. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Prof. Dr. Kaelan, MS Musyawarah-mufakat sebagai Identitas Budaya Politik Bangsa Bagi bangsa Indonesia nilai-nilai identitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.