Beranda » Pendidikan » Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (1): Kemenangan Besar di Bantul dan Kejiwan
Lukisan Peristiwa Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Nicolaas Pieneman (ft. wikipedia)

Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (1): Kemenangan Besar di Bantul dan Kejiwan

BANTUL, kota kabupaten di sebelah selatan kota Yogyakarta itu sempat punya arti dan kenangan tersendiri dalam sejarah dan detak langkah perjuangan bangsa kita dalam mengusir kolonial Belanda. Setidak-tidaknya dalam gemuruh api perjuangan Pangeran Diponegoro yang berkobar selama lima tahun di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, sejak 1825 hingga 1830. Bantul sempat tercatat sebagai daerah yang punya arti dan peranan besar.

Tanggal 4 Agustus 1826, Bantul dan sekitarnya gempar. Api peperangan berkecamuk di daerah ini. Menjelang pagi, pasukan Pangeran Diponegoro menyerbu Bantul. Pasukan Belanda yang lengah, dan tidak menduga akan datangnya serangan mendadak itu akhirnya hancur kocar-kacir. Sungguh di luar dugaan pasukan Belanda, kalau kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro begitu dahsyat.

Penyerbuan gemilang ini dipimping langsung oleh Pangeran Diponegoro yang mengepalai pasukan berkuda. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Le Bron mencoba bertahan mati-matian. Tapi semuanya sia-sia. Berbagai taktik dan strategi untuk mematahkan serangan itu sia-sia.

Serangan itu begitu sulit untuk dihadang dan dipatahkan. Sungguh luar biasa, prajurit-prajurit Diponegoro dengan bringas memporak-porandakan pertahanan musuh. Pasukan Belanda bagai tak diberi sedikit pun kesempatan untuk melawan atau bahkan bertahan.

Kabar penyerbuan Pangeran Diponegoro di Bantul itu segera dikirim ke induk pasukan pasukan Belanda di Yogyakarta. Jenderal Van Geen amat geram menerima berita penyerbuan itu. Kemudian pasukan bantuan dalam jumlah besar disiapkan untuk membantu pertahanan pasukan Mayor Le Bron yang terdesak. Persiapan dilakukan dengan cepat dan tergesa-gesa. Hari itu juga menjelang siang bala bantuan pasukan Belanda yang dipimpin langsung Jenderal Van Geen berangkat ke Bantul.

Tapi pasukan bala bantuan yang dipimpin Jenderal Van Geen tak membawa pengaruh banyak bagi pertahanan serdadu-serdadu Belanda yang dipimpin Mayor Le Bron. Daya serang prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro justru semakin merajalela, terlebih-lebih dengan adanya dukungan dan keikutsertaan masyarakat di Bantul sendiri. Masyarakat setempat ikut membaur bersama prajurit-prajurit Diponegoro, sehingga kekuatan dan kemampuan perang menjadi semakin besar.

Pasukan Belanda semakin terdesak terus ke arah utara. Melihat situasi dan medan perang tak lagi mampu dikendalikan, Jenderal Van Geen lalu memerintahkan semua pasukan Belanda untuk mundur dari Bantul.
Menjelang malam seluruh pasukan Belanda yang sudah kocar-kacir terusir dari Bantul dengan meninggalkan korban yang tewas dalam jumlah besar. Dan, masyarakat Bantul serta sekitarnya bersorak-sorai menyambut serta merayakan kemenangan besar prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro, setelah hampir setahun lebih revolusi pecah sejak mulainya api peperangan berkobar di tanggal 19 Juni 1825.

 

Berlanjut di Kejiwan

Kemenangan di Bantul pada tanggal 4 Agustus 1826 itu, membuat semangat juang prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro semakin membara dan berkobar dahsyat. Setelah beberapa hari memulihkan tenaga dan kekuatan yang terkuras dalam perang sehari 4 Agustus, Pangeran Diponegoro segera mempersiapkan langkah serangan baru. Pilihannya tertuju pada kekuatan pasukan Belanda di Kejiwan. Pangeran Diponegoro lalu menggerakkan pasukannya ke daerah Kejiwan dekat Kalasan.

Daerah Kejiwan ini diincar oleh Pangeran Diponegoro, karena terdapat pemusatan pasukan Belanda yang dipimpin Sellewijn. Strategi dan taktik perang yang dilakukan Pangeran Diponegoro sungguh jitu. Buktinya, gerak maju prajurit-prajuritnya ke Kejiwan tak berhasil diketahui oleh Pasukan Belanda. Akibatnya, ketika tanggal 9 Agustus 1826, pasukan Pangeran Diponegoro menggebrak Kejiwan, pasukan Belanda itu pun tidak lagi mampu berbuat apa-apa, selain bertahan dan berusaha sekuat daya untuk menyelamatkan diri.

Sellewijn yang terkejut dengan penyerbuan itu berusaha sekuat tenaga mungkin mempertahankan kedudukan pasukannya di Kejiwan. Tapi gerak maju dan semangat prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro yang membara dahsyat dan cepat tidak mampu diimbangi lagi. Pasukan Belanda yang sesungguhnya dalam jumlah besar dan kuat itu akhirnya kocar-kacir juga.

Serdadu-serdadu terlatih yang dipimpin Sellewijn tak mampu berbuat banyak. Upaya perlawanan mereka sia-sia. Prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro terus merangsek ke pertahanan pasukan Belanda. Akibatnya pasukan Belanda pun tercerai-berai, dan korban pun berjatuhan di pihak mereka dalam jumlah cukup besar.

Sementara balabantuan yang diharapkan datang dari Yogya, tidak berhasil mencapai Kejiwan, setelah terlebih dulu dihadang oleh prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro. Pasukan balabantuan itu pun dipukul mundur.

Seperti halnya di Bantul, pertempuran di Kejiwan itu pun hanya berlangsung sehari, dengan kemenangan mutlak di tangan pasukan Pangeran Diponegoro. Serdadu-serdadu Belanda yang selamat mengundurkan diri ke arah Barat, meninggalkan Kejiwan dan ratusan persenjataan perang yang tertinggal. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

KH Muhammad Jazir ASP, Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta ALHAMDULILLAH, meskipun terlambat, karena masih banyak tugas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *