Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XI: Kekuatan Perempuan Perlu Dipersatukan Kembali
Dr. Sari Murti Widyastuti SH, M.Hum, Ketua Yayasan Perlindungan Perempuan dan Anak (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XI: Kekuatan Perempuan Perlu Dipersatukan Kembali

MEMBACA sebuah survei yang dilakukan oleh salah satu institusi, saya merasa ayem, karena salah satu temuannya mengatakan bahwa sembilan dari sepuluh generasi milenial, yang sekarang ini disebut sebagai generasi Y, itu masih setuju dengan ideologi kita. Artinya tidak setuju dengan ideologi ekstrim.

Tetapi pada sisi yang lain, saya menjumpai juga bukan hasil survei, tetapi realita yang saya pernah lihat, ditambah dengan hasil penelitian Cici Farha. Di dalam suatu diskusi, ia menyampaikan bahwa tidak lagi ada sekolah, bahkan itu sekolah negeri yang waktu itu (5 tahun lalu), menyelenggarakan upacara di setiap hari Senin. Padahal di setiap upacara itu selalu ada pengucapan Pancasila, dan penghormatan terhadap bendera Merah Putih.

Masih ditambah lagi mata pelajaran Pancasila yang dulu pernah saya dapatkan, ternyata sudah tidak ada lagi. Apa yang terjadi? Itu semua diganti, dengan berbagai narasi, itu yang bertentangan dengan ini itu. Kemudian membuat generasi muda sebagian sudah lupa, bahkan tidak lagi hormat dan tunduk kepada ideologi kita, itu salah satu yang menyedihkan.

Dan, sisa-sisa dari itu, kita lihat banyak anak muda, karena tidak ada nilai-nilai yang diutamakan dipegang, melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan. Tidak usah di Indonesia secara keseluruhan, di DIY saja, kasus-kasus klithih misalnya (walau sebenarnya klithih itu bukan sesuatu yang negatif konotasinya). Kasus-kasus kenakalan remaja yang menggunakan senjata tajam, sampai hari ini masih banyak terjadi. Dan itu tidak hanya menyebabkan orang lain terluka, tetapi justru menyebabkan orang lain kehilangan nyawa. Ketika mereka diproses di polisi, tidak ada rasa sesal, tidak ada rasa takut, malu, bahwa telah melakukan perbuatan yang kejam, tetapi mereka masih sempat tertawa-tawa.

Tahun lalu di Imogiri terjadi peristiwa seperti itu. Satu pelakunya yang pernah ikut terlibat di sana, tahun ini mengulanginya lagi. Nah, ini pasti ada yang salah. Itu baru satu realita yang ada pada generasi muda kita, di samping banyak sekali prestasi juga yang sudah diraih oleh generasi muda kita. Tetapi kalau yang seperti ini dibiarkan terus-menerus, banyak anak yang kemudian harus berhadapan dengan hukum. Banyak anak yang kemudian tidak bisa berkonsentrasi lagi karena refrontal korteksnya, otak bagian depan itu sudah dipenuhi dopamin karena banyak mengonsumsi pornografi.

Banyak kemudian di antara mereka yang melakukan hal-hal tak semestinya. Saya pernah melihat video yang dikirimkan oleh seseorang kepada Gusti Kanjeng Ratu Hemas, sebagai ketua forum, dan ketua pembina LPA, tentang perilaku anak-anak yang masih SD, lelaki dan perempuan, kira-kira kelas 1 atau 2. Video itu menggambarkan, anak-anak itu melakukan perbuatan tak semestinya itu di salah satu kebun belakang rumah, disaksikan anak-anak sebayanya. Bahkan ada aba-aba orang dewasa, melakukan hubungan layaknya suami-istri.

Semula saya pikir ini hanya seperti permainan ‘ibuk-ibukan’ atau ‘dokter-dokteran’ waktu masa kecil dulu, ternyata sudah lebih dari itu. Dan ini yang saya kira memprihatinkan juga untuk kita. Pertanyaannya adalah di mana peran orang tua. Saya garis bawahi, bukan hanya bagaimana peran para ibu, tapi di mana peran orang tua? Itu sebabnya maka saya ingin bicara tentang bagaimana peran orang tua, terutama juga ada peran perempuan.

 

Peran Perempuan

Ketika bicara mengenai peran perempuan, saya selalu ingat apa yang pernah ditulis oleh Kartini untuk adiknya, Rukmini. Sesungguhnya gerakan perempuan itu bertitik tolak pada pandangan Kartini juga, dan itu sebagai sebuah gerakan intelektual sebetulnya. Selalu titik tolaknya adalah itu.

 

Kartini mengatakan begini:

“Sampai aku menarik nafas pengha-bisan akan tetap aku berterimakasih kepada Bapak. Mohon digarisbawahi, akan tetap berterimakasih kepada Bapak dan mengucap syukur akan pendidikan Bapak yang diberikan Bapak kepadaku. Seorang buta yang diperbuat melihat sekali-kali tidak akan menyesal matanya dibukakan orang, karena bukan barang yang indah-indah saja yang menjadi terlihat olehnya. Tahu aku, adikku sayang, engkau pun demikian. Jagalah pikiranmu maka kuharap dengan sangat akan demikianlah selamanya pikiran.

Saya kira, ini pesannya cukup mendalam. Bagaimana Kartini membangun gerakan perjuangan dengan gerakan intelektualitas. Tradisi intelektual itu yang dikedepankan. Juga tradisi menulis. Yang sekarang saya kira perempuan yang suka menulis pun juga sedikit. Bisa dihitung dengan jari.

Kalau kita melihat ke belakang, sebetulnya peran perjuangan perempuan itu selain dimulai dari apa yang disebut RA Kartini, Dewi Sartika, dan seterusnya, juga dimulai dengan bagaimana ada kesadaran untuk berorganisasi sebelum kemerdekaan. Pada saat perang kemerdekaan, perlawanan terhadap penjajah itu dimulai dari bagaimana membangun organisasi-organisasi perempuan. Dan, yang kemudian pada tanggal 22 Desember tahun 1928, mereka melakukan kongres, mengadakan kongres di Yogyakarta. Kongres pertama di Yogyakarta itu dihadiri oleh 30 organisasi perempuan, ditambah lagi para tokoh pejuang laki-laki. Jadi pada waktu kongres itu bukan hanya perempuan saja, tetapi di sana juga ada keterlibatan laki-laki.

Kongres pertama ini yang kemudian menjadi tonggak bagi perjuangan-perjuangan berikutnya. Satu hal yang juga perlu saya sampaikan, sebelum merdeka, pernah juga seperti ditulis oleh Saskia Wieringa, ada mulai kesadaran untuk membangun gerakan perempuan melalui partai politik. Jadi kalau kemudian di tahun 1908 dan seterusnya ada tuntutan untuk keterlibatan perempuan di bidang politik dengan afirmative action kuota 30%, itu sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Karena sebelumnya perempuan-perempuan ini sudah berjuang untuk bagaimana menggunakan partai politik, juga sebagai sarana untuk membangun bangsanya.

Dan, kemudian setelah merdeka, gerakan perempuan juga masih cukup kuat, organisasi-organisasi perempuan masih cukup bersemangat, dan hebat-hebat. Cobalah lihat di Museum Perjuangan Pergerakan Perempuan yang ada di Gedung Perempuan Yogyakarta. Di situ akan terlihat bagaimana ibu-ibu pada masa itu, yang masih dengan kain, tidak ada handphone, tidak ada email, tetapi bisa bergerak terus tanpa lelah dan tanpa banyak mengeluh. Naik kapal pun ada yang pakai kain. Itu menunjukkan bagaimana mereka bisa selalu berjuang bersama.

Juga satu hal yang mungkin perlu saya sampaikan di sini, pada tahun 1952, Kongres ke-3 yang memang diselenggarakan dalam rangka untuk memperingati 25 tahun Kongres Perempuan, ada satu cita-cita luhur, yang disepakati pada waktu kongres, yaitu ingin membentuk suatu wadah yayasan dalam rangka memperjuangkan pendidikan untuk para perempuan. Peringatan 25 tahun itu dilakukan secara besar-besaran, tetapi tidak ingin membangun monumen berupa tugu. Yang dibangun adalah sebuah gedung untuk pendidikan. Ibu Mangunsarkoro salah satu tokohnya yang ada di sana dan salah satu yang ditinggalkan untuk museum adalah kunci emas yang dulu diberikan sebagai hadiah dari pemerintah Portugis.

Kemudian apa yang dilakukan pada saat itu adalah membangun Yayasan Hari Ibu. Bukan yayasan Hari Ibu Kowani, bukan. Motornya adalah organisasi Aisyiyah, organisasi Perempuan Tamansiswa kemudian juga organisasi Wanita Katholik Republik Indonesia. Kemudian dari situ lahirlah juga gedung-gedung, yang awalnya waktu itu masih dua gedung. Sekarang sudah ada beberapa gedung, yang pada zamannya Orde Baru, oleh Pak Harto, ditambahkan satu gedung lagi, yang megah, namanya Balai Sinta.

 

Masa Kemunduran

Tapi pada masa Orde Baru itulah sebetulnya peran perjuangan perempuan harus diakui mengalami kemunduran. Kenapa kemunduran? Karena di situ ada sebetulnya secara sadar organisasi perempuan yang semula bergabung di dalam Kongres Perempuan, diberi wadah yang namanya Kongres Wanita Indonesia alias Kowani. Dengan semangat apa, sebetulnya singkat kata upaya untuk mondomestifikasi perempuan. Maka kemudian semangat ibuisme. Ibuisme di situ menjadi sangat dominan. Ibu yang pertama. Ibu adalah tiang, tapi kalau tiangnya ambruk semuanya ambruk.

Oleh karena itu, maka menjadi masuk akal, ketika gerakan perempuan pertama pada masa itu tidak mampu menghadirkan kader-kader perempuan yang sehebat, setangguh pada saat sebelum Orde Baru. Karena apa, karena perempuan sudah diberi tempat di sangkar emas yang namanya wilayah domestik, maka ibu-ibu lebih cocok, tepat di wilayah domestik. Wilayah publik adalah wilayah laki-laki.

Itu kemudian mulai berubah lagi ketika reformasi. Mulai ada kesadaran baru lagi bahwa domestifikasi perempuan itu kemudian membuat perempuan menjadi sedikit terhambat untuk ikut ambil bagian di dalam perjuangan menyejahterakan masyarakat. Maka pada 1998 dan seterusnya mulai ada tuntutan untuk di bidang politik, ada kuota 30 persen. Meskipun kemudian ada persoalan juga, tarik-menariknya, sudah diberi 30 persen, tetapi yang mau tidak banyak. Yang bersedia tidak banyak. Karena apa? Karena kaderisasinya sudah terlanjur tidak berjalan. Oleh karena itu sulit mencari kader perempuan.

Karenanya maka kesadaran untuk bagaimana membangun kader-kader perempuan dari seluruh komponen bangsa ini menjadi penting. Tidak lagi hanya yang terbatas pada organisasi perempuan yang diwadahi Kowani, tapi di luar itu sebetulnya banyak aktivis juga yang tidak tergabung di dalam Kowani, juga bergerak. Dan, selama ini yang banyak bersuara tentang bagaimana partisipasi politik perempuan ini juga di luar yang ada di Kowani tersebut.

Nah, gerakan yang terpecah ini akan menjadi semakin kuat kalau ini kemudian menyatu kembali. Tidak lagi ada semacam keterbelahan antara perempuan yang aktif di organisasi perempuan sebagaimana diwadahi oleh Kowani, dengan yang di luar Kowani. Jadi pelajaran pentingnya adalah bagaimana para perempuan itu bisa bersatu kembali. Kalaupun itu perlu kongres, kongresnya adalah kongres berikutnya yang mampu mempersatukan kembali seluruh kekuatan perempuan. Untuk kemudian, bagaimana laki-laki dan perempuan bersama-sama bisa membangun bangsa ini.

Saya kira soal kebangsaan bukan hanya karena gandum saja. Tetapi hari ini kita makan tempe dan tahu pun, kedelainya adalah impor. Ya, kedelai yang menurut Balai Benih yang pernah saya tanyakan, benih unggulnya sudah cukup banyak. Hasil penelitian dari para peneliti-peneliti kita. Pertanyaannya adalah mengapa benih-benih yang unggul tadi tidak diproduksi. Kenapa tidak ditanam? Jawabnya, tanahnya tidak ada. Jadi ini salah satu bentuk keprihatinan kita.

Yang pokok, yang sehari-hari kita konsumsi bukan hanya beras, bukan hanya sukun, bukan hanya ketela. Tetapi lauk-pauk masyarakat pada umumnya sehari-hari, tempe, tahu yang jadi favorit kita, itu pun kita masih gantungkan kepada luar negeri. Harus dibedah dari mana? Ini yang saya kira menjadi PR bersama. Betulkah tidak ada tanah, betulkah tanah kita tidak cocok untuk menanam kedelai? Padahal kedelai kita sepertinya lebih bagus. Kualitasnya lebih baik. Tetapi kata para pedagang tempe dan tahu, harganya lebih mahal. Kalau pakai kedelai impor lebih murah, sehingga bisa mendapat keuntungan lebih banyak. Tapi kalau pakai kedelai lokal, selain sulit dicari bahan bakunya, juga mahal.

Nah, ini bagaimana perempuan-perempuan di pedesaan ini juga dikapasitasi untuk ke depan. Dari yang sederhana, mulai yang petani juga bisa berbuat sesuatu, kemudian yang di politik juga menjadi cucuk lampah untuk membangun kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan bersama. (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dunia Batin Perempuan

SELIRIA EPILOGUS INI sebuah catatan pilihan, catatan penghujung dari serangkaian perca-kapan di beranda pergaulan sosial. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *