Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XV: Keberagaman Satu Keniscayaan

Diskusi Kebangsaan XV: Keberagaman Satu Keniscayaan

Sering kali kita mendengar per-nyataan dari berbagai kalangan terlebih lagi dari pengamat politik dari negara-negara besar di dunia yang mempertanyakan, kapan negara Indonesia akan mengalami perpecahan? Pernyataan nyinyir seperti itu tentu dilandasi satu persep-si tertentu hingga sampai pada kesimpulan seperti pertanyaan yang dikemukakan tadi. Salah satu dasar pemikiran tersebut adalah muncul dari hasil mengamati kondisi negara Indonesia yang menurut mereka yang nyinyir itu mustahil bisa mewujud. Seperti Indonesia yang dibangun di atas ribuan pulau yang membentang dari Sabang – Merauke. Terdiri dari ratusan suku bangsa, penduduknya berbicara dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing yang juga jumlahnya ratusan. Rakyatnya memeluk agama yang beragam. Bagaimana ini bisa menjadi realitas untuk membangun sebuah negara yang merdeka dan berdaulat? Semen-tara di belahan dunia lainnya beberapa negara berkeping-keping di atas berbagai perbedaan yang ada padanya? Tapi sebaliknya mengapa negara Indonesia bisa eksis? Masih utuh sebagai negara kesatuan.

Barangkali inilah suatu berkah dari Yang Maha Agung bagi bangsa Indonesia. Sejak diproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 hingga saat ini masih utuh tegak berdiri sebagai satu bangsa merdeka. Dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dinamika politik, pasang surut kehidupan rakyatnya tentu tidak luput mewarnai perjalanan panjang bangsa ini. Termasuk ada pihak-pihak tertentu dari dalam maupun dari luar negeri menggalang kelompok sparatis yang bertujuan untuk memecah belah persatuan bangsa. Tujuannya untuk kepentingan kelompok tersebut. Seperti yang pernah dilakukan kaum kolonialisme – imperialisme Belanda tempo dulu mengadu domba rakyat Indonesia. Dikenal dengan istilah “devide et impera”. Pertanyaannya sekali lagi, mengapa Indonesia masih bisa eksis? Jawabannya sangat mendasar yaitu karena adanya keinginan besar bangsa Indonesia untuk tetap menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika. Berada dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Yang mampu mengikat persatuan itu adalah Pancasila, sebagai filosofi dasar negara yang digali dari khasanah budaya bangsa Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara.

Dari sekian banyak ancaman yang mengarah pada chaos keamanan negara bangsa ini salah satunya terindikasi berasal dari keberagaman agama yang dianut warga. Kasus-kasus yang berbau SARA sering tiba-tiba meletup sebagai pemicu kerusuhan tanpa didasari alasan yang kuat. Sangat rentan bila tidak ditangani secara arif dan bijaksana. Padahal keberagaman bagi bangsa Indonesia sudah merupakan satu keniscayaan. Merupakan anugerah yang maha besar dari Tuhan YME. Keberagaman seharusnya dilihat sebagai kekuatan bukan sebaliknya dianggap sebagai ancaman menuju perpecahan.

Dalam kaitan inilah Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan XV dengan tema “Beragama Dalam Negara Pancasila”. Sebagai pemantik diskusi dipilih nara sumber : Drs. HM Idham Samawi (Anggota DPR-MPR RI), Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, SS. MTh.Lic. Th (Ketua Komisi HAK-KAS) dan KH Muhammad Jazir ASP (Tokoh Agama).

Dari iskusi ini sangat diharapkan munculnya pemikiran-pemikiran kritis guna memberi suasana sejuk bagi perkembangan demokrasi dan peradaban demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Teror bom di Surabaya

Sementara itu, kita tiba-tiba dibuatnya tersentak akibat secara simultan terjadi bom bunuh diri di tiga gereja di kota Surabaya Jawa Tmur. Beberapa orang jemaah sehabis melaksanakan kebaktian meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka berat ringan akibat terkena ledakan bom. Tragedi ini terjadi hanya berselang beberapa hari dari peristiwa berdarah di Mako Brimob Kelapa Dua Jakarta. Lima orang anggota Brimob meninggal akibat diserang nara pidana teroris yang sedang ditahan di lapas Brimob Kelapa Dua.

Diberitakan pula masih ada lagi penyerangan terhadap kantor kepolisian di kota Surabaya dan Polda Riau yang dilakukan kelompok teroris. Pertanyaan kita tentu ingin mengetahui seberapa besar potensi kelompok teroris ini yang masih ada sebagai ancaman?

Kepala Negara Presiden Joko Widodo sudah memberi pernyataan tegas supaya tindakan radikalisme dan teroris itu ditumpas sampai ke akar-akarnya.Negara tidak boleh takut. Aparat keamanan khususnya Polri secepatnya meningkatkan kemampuan operasionalnya. Bila perlu segera gelar operasi intelijen. Masyarakat pasti mendukung. Karena rakyat ingin hidup aman terbebas dari rasa takut. Jadikan teroris sebagai musuh bersama. *

Oka Kusumayudha

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

KH Muhammad Jazir ASP, Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta ALHAMDULILLAH, meskipun terlambat, karena masih banyak tugas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *