Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIV: Kebangsaan Harus Diwujudkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Drs. HM Idham Samawi (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XIV: Kebangsaan Harus Diwujudkan dalam Kehidupan Sehari-hari

DRS HM IDHAM SAMAWI

KEBANGSAAN harus diwujudkan dalam kehidupan sehari hari. Kebang-saan harus kita wujudkan dari cara kita makan, cara kita bicara. Pendiri bangsa punya tujuan, kalau simbol pemimpin itu garuda, supaya di dada pemimpin tadi bersemayam Pancasila. Supaya setiap kali tarikan nafasnya pemimpin tadi harus bernafaskan Pancasila. Supaya semua keputusan yang diambil oleh pemimpin tadi bernafaskan Pancasila. Mengapa, di dalam pembukaan UUD 1945 tidak ada kata Pancasila. Silakan yang belum pernah membaca Pembukaan UUD 45, silakan baca tidak ada kata Pancasila. Dan tidak ada nomor urut satu, dua, tiga, empat, lima. Itu maksudnya apa? Bahwa lima-limanya ini, lima-limaning atunggal. Tidak bisa masing-masing berdiri sendiri dan itu bukan hirarki satu, dua, tiga, empat, lima. Di Pembukaan UUD 45 atau di Piagam Jakarta, tidak ada.

Garuda lambang kita dikandung maksud supaya garuda ini, untuk mencapai cita-cita bangsa ini, harus mampu mengepakkan dua sayapnya yang sama kuat, antara sayap kanan dan kiri, baru bisa terbang tinggi, baru bisa melakukan akselerasi percepatan menuju cita-cita Indonesia merdeka. Nah kalau diibaratkan, karena kenyataannya dua ratus sekian puluh juta jiwa rakyat Indonesia, separonya itu perempuan. Sayap garuda tadi yang sebelah kanan laki-laki, rakyat yang laki-laki, yang sebelah kiri perempuan, maka kepakannya ini harus sama-sama kuat. Kalau, lebih kuat kepakan yang sebelah kanan saja, terbangnya oleng. Tidak akan bisa lancar dan tidak akan mampu terbang tinggi garuda ini. Tidak mampu untuk akselerasi percepatannya. Dengan demikian, tidak ada kata lain, ketika kita berbangsa, bernegara di NKRI ini mestinya kepakan sayap garuda tadi baik laki-laki yang sebelah kanan, perempuan yang sebelah kiri, harus dalam satu irama yang sama, kekuatan yang sama.

Tapi apa yang terjadi hari ini, dipak-sa UU, 30% anggota DPRD Kabupaten, Kota, Provinsi, DPR RI, calon anggota DPRD Kabupaten, Kota, Provinsi dan DPR RI, calonnya harus minimal 30% perempuan. Harus dipaksa, baru bisa terjadi. Tapi, apa yang terjadi? Begitu pemilihan, gak sampai 20% yang jadi. Nah ini tantangan berat untuk perempuan. Saya ingin memberi ilustrasi, ketika saya jadi bupati awal, tahun 1999, tahun 2000, saya paksakan, tanda kutip, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bantul. Kepala Dinas PU, itu saya paksakan perempuan, Ibu Ir. Suci, namanya. Waktu awal beliau beralasan dan mengatakan,“Bapak, punapa kula saged,” dan sebagainya, karena saya lihat nominasinya memungkin-kan. Saya wawancarai dia, tapi dia masih beralasan seperti itu, tahun 2000 awal. Tapi akhirnya kita lantik juga. Ir Suci jadi Kepala Dinas PU, di pemerintah daerah. Nyatanya mampu. Ini juga ilustrasi kecil ya, ketika saya, waktu itu tidak ada satu pun dari 17 kecamatan di Bantul, tidak ada satu pun perempuannya. Saya melihat, ini tadi ibaratnya garuda yang terbang tadi, kepakannya gak akan seimbang, kalau hanya laki-laki semua. Nah ada tiga calon camat, saya panggil, sudah saya sampaikan, bahwa anda punya kesempatan, anda punya kapasitas, boten Pak kenapa kok tidak, camat menika Bapak nanti harus menjadi koordinator Muspika, Musyawarah Pimpinan Kecamatan. Jadi harus mengoordinir Kapolsek, mengoordinir Danramil, dan sebagainya. Ini perempuannya gak berani. Tapi saya paksa, akhirnya nyatanya berhasil kok. Bagus sekali. Ini tantangan bagi perempuan. Jadi ini kenyataannya apalagi kalau berbicara masalah legislatif. Saya gak usah sebut namanya, ada seorang kader PDIP Perjuangan di DPR RI, beliau menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung, berarti dia harus keluar dari DPR. Nah urutan keduanya perempuan. Mohon maaf, sopir busway. Nangis-nangis minta jangan dia yang naik menjadi anggota DPR, ini kenyataan riil yang terjadi. Dengan demikian saya mengatakan tantangan bagi bangsa ini dan kita sepakat sayap garuda tadi, kalau tanpa perempuan, saya meyakini bahwa akselerasi percepatan menuju cita-cita proklamasi 45, akselerasi untuk mencapai terbang tingginya bangsa Indonesia ini akan sangat lambat.

Simak juga:  Catatan Hasil Diskusi Kebangsaan dan Kedaulatan Pangan Dilaksanakan Tanggal 24 Januari 2017

Nah sisi yang sebelahnya, saya kebetulan di PDI Perjuangan sebagai Ketua Bidang Kaderisasi, ini kita paksakan untuk pendidikan karakter khusus untuk perempuan, nah ketika syarat pendidikan kader tingkat nasional itu harus live in 7 hari. Banyak alasan yang mengemuka, waduh kami masih punya anak kecil, dan sebagainya. Jadi ada tantangan-tantangan inilah yang harus kita jawab bersama. Walaupun kita semua meyakini. Bahwa omong kosong membawa bangsa ini, negeri ini mencapai apa yang dicita-citakan, cita-cita bangsa ini apa ta? Ini mungkin juga tidak banyak yang membaca di Pembukaan UUD 45, alenia keempat, kita merdeka agar dapat membentuk pemerintahan negara yang satu, walaupun tidak angka satunya, melindungi segenap bangsa Indonesia serta tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Nah saya katakan pendidikan nasional khusus perempuan tadi, ketika saya tanya, pesertanya 108 orang, ada yang pernah membaca Pembukaan UUD 1945? Tidak ada satu pun yang ngacung. Padahal kalau mau jadi pemimpin di negeri ini, dia harus mengerti betul cita-cita merdeka, itu tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945, ketika pendidikan perempuan 108 orang, saya tanya Mbak-mbak, ibu-ibu, apakah di Pembukaan UUD 45 ada kata Pancasila? Diam semua. Saya yakin karena belum baca. Kalau sudah membaca pasti, tidak ada Pak Idham. Ini ndak ada satupun yang berbicara. Lha kalau pertanyaan yang kedua, kalau di Piagam Jakarta, kalau ini tidak mengerti bolehlah. Calon pemimpin di Indonesia, dia harus tahu Pembukaan UUD 45, karena apa, karena Pembukaan UUD 45 ini yang masih utuh. Kalau Batang Tubuhnya sudah 4 kali diamandemen. Repot betul itu. Coba baca Pasal 1 UUD kita, setelah diamandemen, makin tidak karuan dan sebagainya. Nah di Pembukaan ini yang masih utuh.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Tanggapan Diskusi

Di situlah kenapa kita kok merdeka dan sebagainya, ada semua di sana. Saya harus menyampaikan waktu saya tanya soal Pembukaan UUD 45, tidak ada satu pun yang unjuk jari, padahal mereka kita didik, pendidikan karakter khusus perempuan nasional yang nanti plotnya di DPR RI dan sebagainya. Tapi belum pernah membaca Pembukaan UUD 45. Ini tantangan untuk kita semua. Bapak Ibu saudara sekalian, ini sudah dua angkatan, minggu depan satu angkatan lagi, realitas yang ada seperti itu. Dan saya kira ini konkrit, tanggung jawab kita bersama. Yang terakhir, ini ternyata Jogja kita punya aset yang luar biasa ini lho, Hotel Sriwedari, iya, tadi saya kaget, masuk, waduh punya aset yang kayak begini, kelihatannya sepi banget gitu, wisatawan asing tahunya hotel-hotel kothak-kothak gitu, yang tidak mencerminkan budaya. Kalau kita bicara mengenai ideologi, kita bicara mengenai Pancasila, salah satunya kita bicara mengenai budaya. Karena itu salah satu, kalau pendekatan kita ini pendekatan politik, muaranya itu pada kekuasaan. Kalau pendekatan kita ini pendekatan ekonomi muaranya isi perut, tapi kalau pendekatan kita ini pendekatan budaya, insyaallah akan cair.

Mestinya lebih lanjut pertanyaan-nya, yang mana Pak Idham, Prokla-masi 45 mengamanatkan kepada kita sekalian, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Yang kita pijak bumi Jawa, budayanya budaya Jawa, yang kita pijak bumi Pasundan, budayanya Pasundan, begitu juga urusan pemimpin perempuan, maaf, ibu-ibu ya, sekarang ini pemimpin-pemimpin perempuan sudah tidak tertarik dengan budaya. Ini kenyataan yang ada. Tadi yang saya sebutkan soal berbangsa, bernegara. Tidak pernah membaca Pembukaan UUD 45 dan sebagainya, begitu juga dengan budaya, lalu apa, saya setiap kali bersama masyarakat, selalu saya katakan begini:” ibu-ibu kula badhe titip dhateng panjenengan gih. Kula badhe titip putra-putri, putra wayah panjenengan sedaya, untuk apa, harus dibekali, pertama cerdas, yang kedua akhlaq mulia, yang ketika berkepribadian Indonesia. Kanthi menapa ibu-ibu, putra-putri ampun dicontoni, arep mangkat sekolah ben gampang dimasakke indomie, supermie, ben gampang. Itu tidak mendidik soal kebangsaan. Supermie, indomie itu bahan bakunya gandum. Berikan kepada anak anak kita masakan berbahan baku singkong, jagung, maksude apa, supaya cinta bangsa dan negara dan cinta tanah air. Inilah yang perlu kita wujudkan dalam kehidupan sehari hari. (ASW)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.