Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XX: Kaum Muda di Tengah Arus Perubahan
Ons Untoro (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XX: Kaum Muda di Tengah Arus Perubahan

Kita bisa merunut dari sejarah, sejak jaman penjajahan sampai jaman kemerdekaan, kaum muda tidak pernah lepas dari arus perubahan, bahkan bisa dikatakan di tengah perubahan untuk menggerakkan perubahan itu sendiri. Di jaman pergerakan anak-anak muda yang menuntut ilmu di Belanda seperti Ali Sastroamidjojo, Muhammad Hatta, Iwa Kusumasumantri, Budiarto dan anggota Perhimpunan Indonesia lainnya sudah ‘memperjuangkan’ agar Indonesia lepas dari penjajah dan menjadi negara merdeka. Mereka, anak-anak muda yang waktu itu berumur lebih dati 20 tahun, sudah menggunakan nama Indonesia, sehing-ga Perhimpunan Indonesia (PI) bisa dikatakan sebagai satu embrio dari bangsa Indoensia.

Satu diskusi seri kebangsaan 20, yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta mengambil tema ‘Kaum Muda dan Pancasila, Merespon Kondisi Bangsa’ dengan menghadirkan narasumber: Obed Kresna Widyapratis-tha (Presiden BEM UGM), Drs. Idham Samawi (Anggota DPR/MPR RI) dan Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi, Sabtu 27 Oktober 2018, di Resto Cangkir 6, Bintaran, Yogyakarta.

Tahun 20-an, semasa Hatta masih berumur 19 tahun, Ali Sastroamidjojo masih berumur 17 tahun, karena Ali lahir tahun 1903 dan Hatta 1901 dan kaum muda seangkatannya, termasuk Soekarno yang lahir tahun 1901 di negeri yang dijajah, Soekarno dengan pemuda seangkatannya mempunyai kegiatan melawan penjajah. Hatta, Ali Sastro, Iwa dan lainnya di Belanda, sambil menuntut ilmu terus bergerak agar Indonesai merdeka.

Kaum muda pada masa itu bera-da di tengah arus perubahan, dan menggerakaan perubahan itu sendiri. Generasi sesudahnya, yang lahir setelah tahun 20-an seperti Soedjatmoko, Subadio Sastrosatomo, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Ilen Surianegara ikut memperkuat ketika kemerdekaan telah diproklamirkan.

 

Kaum muda dan Pancasila

Kini, jaman sudah berbeda. Kaum muda tidak lagi menghadapi musuh dari luar seperti dialami para pendahulunya, tetapi masalah kebang-saan kita semakin kompleks, dan musuhnya sulit diidentifikasi seperti ketika Indonesia masih dijajah oleh kaum penjajah. Identitas tunggal seperti dipaksakan untuk menjadi dominan, di tengah perbedaan yang terus menguat dan diterima bangsa. Nasionalisme kita bukan lagi dilandasi perbedaan, tetapi digantikan identitas tunggal, yang warnanya kelam, karena di dalamnya tersimpan sikap radikal. Dalam situasi seperti ini Pancasila seperti sengaja tidak disebut-sebut, padahal ia merupakan dasar negara, yang oleh para pejuang kemerdekaan diterima, karena bisa menyatukan dalam perbedaan. Pancasila, sebagai kultur normatif di dalamnya memiliki orientasi tujuan, setidaknya seperti dikatakan Sartono Kartodirjo, seorang sejarawan yang disegani. Kita kutipkan apa yang dikatakan Sartono dalam bukunya berjudul ‘Sejak Indische sampai Indonesia’:

Dipandang dari perspektif fungsio-nalis, Pancasila berperan sebagai kultur normatif yang dengan nilai-nilai terkandung di dalamnya akan menentukan orientasi, tujuan sistem sosio-politik serta segala kelembagaannya pada tingkat makro dan menentukan kaidah-kaidah yang mendasari pola kehidupan individual.

Sebagai prinsip kebudayaan normatif, Pancasila tidak hanya menjadi faktor determinan bagi kehidupan moral bangsa Indonesia, tetapi lewat fungsinya yang teologis akan memberikan payung ideologis bagi pelbagai unsur dalam masyarakat Indonesia yang bersifat pluralistis itu”.

 

Dalam konteks Pancasila, Obed Kresna Widyapratistha selaku anak muda yang menjadi narasumber diskusi kebangsaan ini, melihat nilai gotong royong bisa ditemukan dalam Pancasila. Tetapi, bagi Obet dan anak muda lainnya, kata gotong royong lebih pas kalau digantikan dengan istilah kolaborasi, dan anak muda, setidaknya bagi Obet perlu melakukan kolaborasi dengan kelompok-kelompok sosial yang lain.

Idham Samawi, selaku anggota DPR/MPR RI perlu mengingatkan kaum muda tentang sejarah, karena dengan mengerti sejarah, anak muda, demikian Idham Samawi mengatakan, bisa mengenali proses perdebatan disetujuinya Pancasila.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IV : Dialog

“Bangsa kita ini bangsa yang besar, dan terdiri dari banyak pulau dan suku, maka diperlukan dasar untuk menyatukannya, dan Pancasila adalah dasar untuk menyatukan” kata Idham.

Saurip Kadi, seorang Mayjen purnawirawan mengingatkan, bahwa orangtua kita sudah mewariskan satu dasar nilai yang agung, yakni Pancasila. Persoalan yang mendasar adalah, de-mikian kata Saurip Kadi, bagaimana ke depan Pancasila dijabarkan dalam Batang Tubuh sehingga aturan dasar dalam bernegara betul-betul dilandasi oleh Ketuhanan YME

Sudah lama Pancasila diajarkan di sekolah, bahkan anak-anak harus hapal bunyi sila pertama sampai sila kelima. Selama orde baru Pancasila menjadi bahan indoktrinasi, dan penafsiran mengenai Pancasila sudah tersedia bingkainya sehinggga tidak bisa lepas dari bingkai yang ada, dan bingkai itu disosialisasikan melalui satu kegiatan yang disebut sebagai penataran. Sampai kampung-kampung untuk pengurus RT dan pengurus Pemuda, penataran dilakukan dengan sebutan pola pendu-kung 17-jam misalnya. Tentu ada pola pendukung yang lain, yang jumlah jamnya lebih panjang.

Selama indoktrinasi Pancasila berlangsung, seolah masyarakat sudah hapal dan faham betul Pancasila, mes-kipun tak perlu mengoperasionalkan, karena yang penting Pancasila ada di kepala dan masuk kesadaran.

Entah kenapa, ketika reformasi bergulir dan Soeharto jatuh, seolah Pancasila hilang dari kepala. Presiden berikutnya seperti tak pernah menye-but-nyebut Pancasila, atau memang ia telah benar-benar hilang dari kepala dan kesadaran kita bersama, atau kita sedang menikmati kebebasan atas lengsernya figur orde baru.

Baru saja, kita sama-sama tergagap ketika Pancasila tidak ada di kepala, dan ada yang berteriak keras soal identitas agama untuk menggantikannya. Kita seperti kembali disadarkan, bahwa selama ini kita sudah punya Pancasila, setelah sekian lama membosankan karena diindoktrinasi, dan akhirnya melupakan, padahal sesungguhnya kita memerlukannya. Maka, tak bisa lain, kita harus kembali kepada Pancasila untuk pegangan bersama. Karena kita tahu, negara kita sangat plural, dan Pancasila memberi ruang akan hal itu.

Kaum muda mempunyai cara sendiri dalam menerima Pancasila, yang tentu saja berbeda dari generasi sebelumnya. Ketika kita melihat anak-anak muda saling bergaul dan bersahabat dari suku yang berbeda-beda, bahkan ada yang menikah dari suku yang berlainan, artinya anak muda tersebut menerima Pancasila sebagai realitas historis sekaligus realitas kehidupan. Seorang gadis dari Jawa menikah dengan laki-laki dari Batak, keduanya hidup bahagia tanpa merasa terganggu kultur yang berbeda, bahkan saling belajar, dan kita mengenal, su-dah agak lama, orang yang lahirnya di Jawa, tetapi mempunyai marga, dan jumlahnya tidak sedikit.

Atau orang dari NTT, juga dari Batak dan suku lainnya, yang sekolah di Yogya, dan akhirnya tidak kembali ke daerahnya, karena merasa senang tinggal di Yogya. Bahkan sudah berke-luarga di Yogya.

Kaum muda tidak mengkampa-nyekan Pancasila secara gempita, tetapi sikap hidup dan perilakunya merupakan implementasi dari nilai-nilai Pancasila, tanpa mereka merasa perlu mengatakannya. Kaum muda menggalang solidaritas untuk korban gempa misalnya, atau memiliki kegiatan sosial untuk membantu orang lain yang menurut mereka perlu untuk dibantu. Sikap-sikap kaum muda seperti itu, sebenarnya sudah jauh dari radikalisme. Semakin kaum muda membuka diri terhadap orang lain, bahwa hidup ini penuh warna, artinya kaum muda men-jalankan apa yang diimajinasikan oleh Pancasila.

Maka, Kaum muda mempunyai cara sendiri dalam menjalankan Pancasila untuk merespon kondisi bangsa.

 

Di Tengah Arus Perubahan

Ketika membicarakan perubahan di Indonesia, sering orang menyebutnya secara periodik, dan jauh sebelum Indo-nesia merdeka periode itu ditunjukkan, misalnya 1908, 1928, 1945, 1966 dan 1998. Dari periode-periode itu, rasanya kita bisa melihat, bahwa dalam setiap periode selalu ada kaum muda di te-ngahnya. Bahkan bisa dikatakan yang ‘menggerakkan’ perubahan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XI: Kekuatan Perempuan Perlu Dipersatukan Kembali

Namun, kita bisa tahu (dan menga-lami) bahwa kemajuan jaman yang dibarengi perkembangan tekonologi dengan sendirinya membawa perubah-an, dan kita tahu kaum muda ada di tengah arus perubahan itu. Kaum muda saling terkoneksi bukan antara lokal dan nasional, tetapi sudah menembus batas-batas dunia. Semua daerah saling terkoneksi dan memiliki otonomi sendiri, dan sekaligus memperkuat kestuan, karena hampir tak ada yang tak bisa diintegrasikan di jaman yang sudah berubah dan kemajuan teknologi menopangnya.

Maka, ketika kita melihat ada semen-tara kaum muda yang menempuh jalur radikal dan menolak kesatuan dalam keberagaman dengan simbolnya menolak Pancasila, sesungguhnya sebagian kaum muda tersebut mema-suki lorong gelap sehingga harus yakin terhadap dirinya dan kelompoknya. Karena di ujung lorong dibayangkan ada ancaman, padahal yang tersedia cahaya penuh warna.

Kaum muda terkoneksi dan terinte-grasi justru melalui gerak tangannya dengan memainkan tuts-tuts android-nya. Arus lain yang dimainkan dari kemajuan teknologi adalah sikap primitif yang terus dipelihara. Rasa benci dan perilaku bohong dipelihara justru menggunakan teknologi yang bisa membuat setiap orang terkoneksi. Namun kita bisa melihat sikap kaum muda yang lain, mereka tidak ambil peduli pada ujaran kebencian dan sejenisnya, justru karena mereka kreatif dan merespon sikap primitif yang di-sebarkan melalui media sosial hanya buang-buang waktu saja.

Maka, ketika pada pembukaan Asian Games 2018 beberapa waktu lalu kita diperlihatkan nuansa digital yang kreatif dan terkoneksi, rasanya itulah kaum muda yang tidak peduli pada ujaran kebencian, tetapi terus mengembangkan kreativitas untuk bangsanya. Dan nuansa digital dari pembukaan Asian Games 2018 dan gegap gempita respon publik mampu menyulut semangat para pemain, se-hingga mendali emas yang diperoleh melebihi target. Lagi-lagi, dalam kon-teks ini kita melihat kaum muda ada di tengah arus perubahan dalam bentuk yang berbeda-beda.

Awalnya, kita hanya mengenal pemuda dan orangtua, setidaknya kalau kita mau membaca buku berjudul ‘Pemoeda’ karya Benedict Anderson. Sebelum pemuda disebutnya sebagai anak-anak dan akil baliq. Tak ada istilah ABG dan remaja, istilah itu muncul belakangan ketika kapitalisme semakin menguat, sehingga kita bisa menandai dua istilah, yaitu ABG dan remaja, terasa sangat kapitalistik.

Kaum muda kini berbaur dengan remaja dan ABG yang dimanjakan oleh teknologi. Mereka mudah saling bertemu dan bertukar informasi. Mere-ka juga tahu, bahwa informasi telah meluap seperti air bah yang masuk dari berbagai lini. Ada sementara kaum muda, gagap menghadapi arus informasi yang melimpah dan mengambil jalur sembunyi di ruang sektarianisme. Ada yang memerlukan rujukan tunggal kebenaran dan radi-kalisme merupakan ekspresi dari usaha untuk menemukan rujukan itu. Padahal, kita tahu, informasi yang melimpah perlu untuk dipilih dengan sangat teliti, sehingga bisa membedakan mana yang sampah, dan mana infor-masi yang mempunyai nilai.

Kita tahu, banyak kaum muda yang cerdas dan kreatif serta peduli terhadap bangsanya. Kaum muda seperti itu bisa kita lihat dalam banyak bidang, misalnya film, musik, sastra, area penelitian, area penerbitan, area bisnis termasuk arena sosial untuk menumbuhkan solidaritas. Mereka tahu, berkreasi jauh lebih berharga ketimbang berusaha menghancurkan negara yang ditinggalinya.

Dalam konteks Pancasila, kaum muda menjalaninya tanpa perlu me-nunjukkan apa yang sedang dijalani. (Ons Untoro)

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *