Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Jurnalisme Pembangunan, Apa Kabarnya Kini?
Ilustrasi Majalah Warta Kebangsaan edisi 2, Jan-Feb 2018 (ft. perwaracom/bbp)

Jurnalisme Pembangunan, Apa Kabarnya Kini?

BAGI yang bergelut di dunia pers sepanjang era tahun 1970-an sampai akhir 1990-an, pasti teramat akrab dengan sebutan Pers Pembangunan atau Jurnalisme Pembangunan. Karena di sepanjang era Orde Baru, jurnalisme jenis inilah yang menjadi model penulisan pers nasional. Tapi, bagi wartawan atau jurnalis yang mulai ‘membangun dirinya’ pasca Orde Baru, sepertinya tak sedikit yang merasa asing dengan istilah Jurnalisme Pembangunan itu.

Apa dan bagaimana itu Jurnalisme Pembangunan? Karena mengawali karier di dunia jurnalistik sejak tahun 1974, maka saya termasuk yang akrab dengan sebutan atau istilah Pers Pembangunan, Jurnalisme Pembangunan, dan semacamnya. Baiklah, saya akan berbagi sedikit pemahaman tentang tentang Jurnalisme Pembangunan tersebut.

Semenjak Orde Baru mengendalikan pemerintahan di negeri ini, jurnalisme model begini mulai jadi pilihan. Kemudian di tahun 1984 semakin dipertegas lagi. Sesuai rumusan hasil sidang pleno XXV Dewan Pers, Desember 1984, dinyatakan bahwa Pers Indonesia adalah Pers Pancasila. Dipertegas pula, Pers Pancasila juga berarti Pers Pembangunan.

Pers Pembangunan atau Pers Pancasila yang dimaksudkan dalam rumusan Dewan Pers itu adalah pers yang mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 dalam pembangunan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jurnalisme yang dikembangkan di dalam Pers Pembangunan tentu saja seiring dan searah dengan sasaran serta kebijakan-kebijakan Pers Pembangunan itu sendiri. Dengan demikian jurnalisme itu pun disebut sebagai Jurnalisme Pembangunan.

Tekanan dari Jurnalisme Pembangunan adalah keterlibatannya dalam setiap gerak pembangunan yang sedang digalakkan. Dan, jurnalisme ini berusaha semakin mempertegas serta mengukuhkan peran media pers sebagai agen pembaharu dalam pembangunan.

Wilbur Schramm (1982) mengatakan, peranan mass-media dalam pembangunan nasional adalah sebagai agen pembaharu. Letak peranannya, menurut Schramm, dalam hal membantu mempercepat proses peralihan masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat modern. Khususnya peralihan dari kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pembangunan ke arah sikap baru yang tanggap terhadap pembaharuan demi pembaharuan.

Simak juga:  Founding Father of Human Right

 

Mendukung Pembangunan

Sasaran utama jurnalisme pembangunan adalah mendukung keberhasilan pembangunan di segala bidang. Dalam tatanan politik di era Orde Baru itu, tak bisa dipungkiri pertumbuhan serta perkembangan pers memiliki korelasi dengan laju pertumbuhan dan perkembangunan nasional.

Media pers melalui jurnalisme yang dikembangkannya merupakan salah satu lembaga pendukung keberhasilan pembangunan. Di sisi lain, pers juga akan mendapatkan banyak manfaat atau keuntungan dari keberhasilan pembangunan itu sendiri. Misalnya, keberhasilan dalam bidang pendidikan tentu akan berdampak positif bagi perkembangan pers. Melalui lembaga pendidikan, media pers akan mendapatkan tenaga-tenaga wartawan atau jurnalis yang terdidik dan profesional.

Keberadaan Jurnalisme Pembangunan tak bisan terlepas dari adanya korelasi antara pers dengan pembangunan nasional yang sedang dikembangkan. Karenanya arah pemberitaan atau penulisan dalam Jurnalisme Pembangunan haruslah mencerminkan bentuk serta isi pembangunan.

Dengan kata lain, Jurnalisme Pembangunan mempunyai kewajiban untuk berpihak pada upaya-upaya tercapainya keberhasilan pembangunan.

Meskipun demikian, bukan berarti Jurnalisme Pembangunan tidak memiliki kewajiban untuk menggunakan fungsinya sebagai alat kontrol sosial bagi kebijakan pembangunan itu sendiri. Walau Jurnalisme Pembangunan mempunyai komitmen untuk mendukung keberhasilan pembangunan, bukan berarti harus menutup mata terhadap praktek penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pembangunan tersebut.

Menurut Drs. T Atmadi (1985), pers pembangunan tidak diharapkan untuk menutup mata terhadap kesulitan, kekurangan atau pun kegagalan dari pembangunan. Tetapi yang penting diperhatikan adalah perlunya turut menanamkan kepercayaan akan kemampuan sendiri dalam mengatasi segala macam problema. Kesulitan apa pun yang kita alami dalam melaksanakan pembangunan nasional, perlu diambil hikmahnya dan dimanfaatkan untuk mengadakan koreksi dan penyempurnaan, tanpa mengganggu stabilitas nasional yang sangat diperlukan bagi kelangsungan pembangunan itu sendiri secara terencana.

Simak juga:  SERI PANCASILA (12): Jab Swing Hook Pancasila

Untuk itu, masih menurut T Atmadi, pers pembangunan bertugas turut menciptakan suasana batin masyarakat, agar dapat diliputi dengan rasa syukur, penuh harapan dan penuh kemauan untuk bekerja giat. Suasana batin semacam itu akan membantu pengembangan iklim sosial yang menguntungkan bagi suksesnya pembangunan. (Lihat- Sistem Pers Indonesia, Gunung Agung, 1985.)

Jadi, jurnalisme yang dikembangkan pers pembangunan haruslah mengarah pada upaya-upaya merangsang serta menggerakkan partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam gerak pembangunan yang sedang berlangsung.

Dalam jurnalistik pembangunan, pers tidak lagi hanya bersifat menonjolkan berita-berita yang lazim dikenal selama ini, akan tetaqpi juga harus memberikan fokus perhatian pada masalah-masalah pembangunan serta akibat dari pembangunan yang sedang dijalankan. Pers dalam konsep ini harus dapat memberikan harapan kepada masyarakat akan masa depannya. Sebab dengan menumbuhkan masa depan yang penuh harapan, pers dapat menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. (Lihat – Dja’far H. Assegaff, Jurnalistik Masa Kini, 1983.)

 

Jurnalisme Negara Berkembang

Di masa itu Jurnalisme Pembangunan tak hanya dikembangkan di Indonesia, tapi juga berkembang di banyak negara berkembang lainnya. Pers Barat atau pengamat pers di Barat mengecap Jurnalisme Pembangunan sebagai alat penguasa atau pemerintah untuk melanggengkan kekuasaannya.

Jurnalisme Pembangunan juga dicap atau dituding sebagai bentuk jurnalisme yang tidak obyektif. Karena jurnalisme ini dipandang hanya berpihak pada kepentingan pemerintah untuk menyebar-luaskan ‘propaganda’ tentang keberhasilan suatu pembangunan. ‘Propaganda’ yang diinformasikan itu dijadikan alat atau senjata untuk menanamkan keyakinan kepada rakyat tentang keberhasilan-keberhasilan pembangunan. Jadi, ada tujuan politis di balik penyampaian informasi tersebut.

Albert L. Hester (1987), pakar komunikasi dari University of Georgia, Amerika Serikat, menyatakan bahwa Jurnalisme Pembangunan pada umumnya memiliki sejumlah sifat. Di antaranya, para wartawan negara bersangkutan secara jelas-jelas atu tidak, diminta untuk mengambil bagian dalam tugas penting membangun bangsa. Ini mencakup, dan tidak terbatas pada mendukung sistem politik baru, membantu warga negara untuk memahami bahwa bangsa baru itu benar-benar sudah ada, mencoba mengatasi kemiskinan, kelaparan, penyakit, buta huruf dan ketidaktahuan, dan mempertahankan warisan budaya masyarakat.

Simak juga:  SERI PANCASILA (1): Catur Sila

Kemudian, media massa di negara bersangkutan sering diwajibkan mengikuti suatu bentuk garis besar kebijakan komunikasi nasional yang ditetapkan pemerintah pusat untuk membantu mencapai pembangunan nasional.

Sifat lainnya, pers perlu ‘dibimbing’ dalam upaya membantu mencapai cita-cita sebagai bangsa. Besar  dan bentuk bimbingan semacam itu mungkin berbeda-beda dari tindakan keras, otoriter, tindakan seperti sensor dan intimidasi, sampai kepemimpinan yang mengizinkan berbagai pendekatan untuk mencapai tujuan bersama, pembangunan nasional.

Bila ada tuduhan Jurnalisme Pembangunan bisa diselewengkan sebagai alat untuk kepentingan penguasa di suatu negara atau kepentingan pribadi pihak-pihak tertentu, hal itu bisa dipahami, jika negara tersebut memberlakukan sistem pemerintahan yang diktator.

Benarkah Jurnalisme Pembangunan sebagai jurnalisme yang tidak obyektif? Jawabannya sangat tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Tapi, terlepas dari apa pun, terlepas dari kelemahan yang dimilikinya, Jurnalisme Pembangunan tetap memiliki sisi yang positif. Sisi positifnya, Jurnalisme Pembangunan jelas merupakan jurnalisme  yang sasarannya berusaha mengajak serta membangkitkan kesadaran masyarakat untuk terangsang dan tergerak ikut berpartisipasi dalam setiap gerak pembangunan di segala bidang. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.