Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat
Ilustrasi Tarian Kraton Jawa

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba mengejar keduniawian. Dengan berbagai macam cara, bahkan dengan bungkus agama mereka mencoba untuk mendapatkan harta dan kekuasaan dunia sebanyak-banyaknya. Hingga pada akhirnya dunia pun dikuasai oleh manusia. Ibaratnya dunia bisa dibeli, bahkan manusia mencoba keluar bumi untuk memuaskan nafsunya. Walau mampu ‘ngemperi jagad’ kata orang Jawa, tetapi manusia merasa ada sesuatu yang hilang. Ada yang tidak utuh dalam hidupnya. Orang Jawa bilang hidup ‘tidak jangkep’. Inilah yang dikedepankan oleh Hans Voys, seorang dokumentator Kantor Mahkamah Internasional yang bermarkas di Den Haag-Belanda. Ketika bertemu dengan KR beberapa waktu lalu, Hans Voys mengaku merasa mendapatkan ketenteraman di Yogyakarta. Malahan ketika pulang ke Belanda ia merasa resah, ingin segera datang lagi ke Yogyakarta. Oleh karena dorongan hatinya itulah ia ingin menetap di Yogyakarta. Ia mengaku mendapatkan ketenteraman hidup di Yogyakarta. Dan ia berharap bisa hidup tenang di hari tua di Yogyakarta.

Ia merasa hidup di Yogyakarta bisa mendapatkan sesuatu yang hilang di Barat.

Hal senada sebenarnya juga pernah dikedepankan seorang pengamat budaya Jawa dari Spanyol yang kini sudah menjadi warga negara Indonesia Antonio Tavarez. Bahkan seorang rekan kerjanya dari Newsweek, seorang warga negara Amerika juga sudah menyatakan keinginannya untuk bisa hidup di Jawa.

 

Kepuasan Batin

Ada sesuatu yang didapatkannya di Jawa, kata mereka. Dari pengakuan mereka agama tidak cukup memberikan kepuasan batin mereka. Sebab secara rasio banyaknya agama di dunia ini bukan menambah dunia tenteram, tetapi sebaliknya membikin dunia semakin kisruh. Padahal mana ada agama mengajarkan pertentangan dan permusuhan.

Barat yang sejak revolusi industri mengacu kepada kebendaan, semua keberhasilan dan kesuksesan diukur dari keberhasilan mengumpulkan harta kekayaan duniawi. Glamour dan kemewahan menjadi impian. Hedonisme menjadi gaya hidup.

Lain barat lain pula timur, terutama Jawa. Jawa mengedepankan laku keprihatinan. Seperti digambarkan dengan cara menyambut tahun baru Jawa masyarakat dituntut untuk mawas diri, dengan ‘birat ratri’. Membersihkan diri dengan laku keprihatinan merupakan semangat yang masih dipunyai oleh orang Jawa. Hidup adalah sebuah laku keprihatinan. Dengan demikian orang Jawa sangat tinggi penghargaannya akan hidup dan kehidupan. Orientasi hidup juga bukan kepada diri terutama, tetapi lebih kepada sesama hidup, baik itu sesama mahkluk hidup maupun lingkungannya. “Birat ratri’ berarti pula mengenyahkan kegelapan mencari sinar hidup baru.

 

Gaya Hidup

Orang yang berkiblat pada gaya hidup hedonis, sudah tak memandang lagi laku keprihatinan. Mereka mencari terobosan mencari jalan bagaimana mendapatkan kesenangan duniawi sebanyak-banyaknya. Bahkan dalam semboyannya berlaku :” Muda berfoya-foya, tua masuk surga”. Kalau bisa surga pun mau dibeli. Ini terjadi dengan masyarakat Barat. Mengandalkan kekuasaan dan kekayaan untuk menguasai manusia lain. Yang mereka temukan ternyata kebahagiaan semu. Ternyata kebahagiaan tidak terdapat pada harta dunia yang mereka kumpulkan tetapi lebih pada penjiwaan hidup.

Orang Jawa malah memberikan semangat hidup yang berbeda. Nora misuwur karana peparinge leluhur, ananging tumindak luhur karana piwulange leluhur. Orang Jawa tidak ingin ‘moncer’ atau ternama lantaran kekayaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kepadanya yang berwujud harta duniawi atau kebendaan. Tetapi orang Jawa lebih memilih bertindak dan bersikap luhur artinya menerapkan nasehat-nasehat baik dari para leluhur atau nenek moyang untuk mengejar hidup baik, bertindak luhur, mencari keutamaan.

Tindak luhur atau laku utama dalam pemahaman Jawa dimanifestasikan dalam tiga hal utama yakni ‘Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi, serta hamemayu hayuning bawana’. Dan inilah yang digandrungi oleh orang Barat seperti Hans Voys dari Belanda, Antonio Tavarez dari Spanyol yang kini sudah jadi warga negara Indonesia ber-KTP Sleman Yogyakarta, dan beberapa ilmuwan Amerika yang sempat mampir ke rumah beberapa waktu lalu.

 

Kiblat Orang Lain

Bahwa hidup orang Jawa itu kiblatnya bukan untuk dirinya sendiri. Sebagai contoh yang jelas adalah sebutan raja Kasultanan Yogyakarta ” Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono “.

Nama yang sarat makna. Dipilih bukan sekedar enak didengar, tetapi justru didoakan dan dilantunkan dan diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan nama itu menjadi gambaran setiap raja di dalam rumah. Bahwa selain ‘hamemangku-memangkat’ trah keluarga sendiri untuk menjadi manusia yang unggul dan berderajad tinggi, juga hamengku, hamengkoni, hamemangku, menjunjung tinggi masyarakat yang ‘ngawula’ kepadanya, serta masih pula berjuang demi kesejahteraan seluruh umat manusia. Pendek kata membuat dunia semakin layak dihuni oleh bangsa manusia.

Bahwa budaya Jawa sesungguhnya mengandung kearifan tradisional dan mampu membalikkan kecenderungan disintegrasi bangsa yang sekarang lagi marak, menjadi kembali ke arah integrasi bangsa.

Sebab dalam falsafah Jawa muncul ucapan : ‘Tepung nganti kapang, dunung nganti dhamang,sarta srawung nganti bisa ngerteni suwung’. Sebuah pemahaman akan kekayaan hidup orang Jawa untuk mencari teman, mencari sahabat hingga menjadi saudara. Mengenal dan berteman hingga membuat kangen, mengerti memahami sampai tuntas, serta bersahabat dan berteman sampai bisa memahami sesuatu yang tidak ada. Artinya dengan mengenal berbagai macam manusia, manusia Jawa kemudian bisa mengartikan gambaran sesuatu yang tidak ada tetapi jelas, yakni Sang Empunya Hidup, Sang Hyang Manon..

 

Ki Juru Bangunjiwa Pelaku Budaya tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul

Lihat Juga

Spirit Ratu Kidul Demi Kemuliaan Manusia

Berbicara masalah Mitos Ratu Kidul kita perlu landasan. Ada beberapa landasan yang saya gunakan:  Yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *