Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XII: Jalan Wayang adalah Jalan Kebangsaan
Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Guru Besar UNY (Foto: perwaracom)

Diskusi Kebangsaan XII: Jalan Wayang adalah Jalan Kebangsaan

KALAU dilihat secara sepintas memang agak susah kita masuk ke persoalan kebangsaan melalui pewayangan. Tapi apa yang yang kita bicarakan tentang Indonesia sekarang ini, itu sebenarnya adalah jagad pewayangan. Posisi Indonesia sekarang, apakah di dalam jalan yang sudah benar atau tidak, itu sebenarnya posisi kita di dalam marga catur dhendha. Marga dalan, catur papat, dhendha pambegalan.

Indonesia itu mau terus, mau ke kiri atau mau ke kanan, dan Indonesia harus terus go a head, di dalam wayang sudah dikatakan seperti itu. Persoalannya, ketika pemahaman terhadap wayang itu menjadi sangat terbatas. Selalu saja kita mau menjadi makmumnya India, dan tidak pernah menjadi imam di negeri sendiri. Dan kita selalu melegitimasi bahwa wayang itu hasil curian daripada India. Dan itu saya menolaknya, secara pribadi. Ketika dijelaskan soal Majapahit, yang wilayahnya sampai Madagaskar. Jangan-jangan dulu India, Ceylon, itu bagian dari Majapahit. Kemudian diperintahkan oleh Majapahit agar para pendeta brahmana di sana menulis karya-karya sastra antara lain Mahabharata dan Ramayana.

Kita tahu persis bahwa karya Mahabharata dan Ramayana yang sampai di Indonesia itu adalah karya Raja Gopalacari yang sudah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa. Dan itu sangat mempengaruhi cara berpikir kita, seolah-olah kita memang epigon India. Padahal jauh sebelum Ramayana dan Mahabharata, kita sudah mengenal Purwacarita, kita sudah mengenal Gilingwesi. Kita punya lakon Murwakala dan seterusnya, yang itu tidak ada di dalam Mahabharata dan Ramayana. Sampai di Bantul dan Kulonprogo, Ramayana dan Mahabharata itu disatukan menjadi Wahyu Makutharama, menjadi Rama Nitis versi Mbah Timbul dan Mbah Hadi Sugito, misalnya.

Ini satu misal yang sangat kecil, dan itu tidak ada sama sekali di dalam cerita-cerita yang kemudian munculnya di dalam kajian-kajian di Fakultas Ilmu Budaya. Misalnya, menjadi parwa-parwa itu. Kita punya sendiri. Cerita-cerita wayang yang begitu agraris seperti Sri Sadana, Sri Mulih, Makukuhan, atau Mikukuhan dan seterusnya. Artinya wayang itu menjadi bagian denyut kehidupan kita sebenarnya sejak awal. Bahwa kemudian pada masa Walisanga dijadikan media dakwah Islam misalnya, kemudian diciptakan wayang yang sampai sekarang kita kenal itu dengan penyempurnaan di sana-sini, pada mulanya itu juga dimulai dengan debat yang luar biasa.

Tidak boleh menurut Islam, melukis manusia. Lalu diadakan sidang para wali. Kemudian dicipta-kanlah boneka-boneka wayang seperti kita tahu sekarang. Dengan berbagai dinamikanya akhirnya kita pun memiliki kota budaya wayang yang luar biasa, yang tidak hanya pada persoalan Mahabharata dan Ramayana, yang kalau ditilik secara selintas saja, itu kan lakon genosida itu. Jadi pembasmian Korawa lalu pembasmian Alengkadirja, kan begitu. Dan itu tidak ada di dalam sanubari manusia Nusantara.

Nah kemudian, kita mencoba menyandingkan lakon-lakon carangan, yang diinspirasi secara tak terelakkan, dari Mahabharata dan Ramayana. Itu betul-betul sudah menjadi khas Nusantara. Ini dari satu sisi, kalau kita ngomong Baratayuda dan Ramayana. Sementara pada sisi yang lain, sebenarnya kita juga memiliki naskah-naskah seperti dari wayang Beber sampai wayang ‘kampung sebelah’, yang biasanya kita tonton di televisi itu. Kita juga memiliki Hikayat Sri Rama berbahasa Melayu. Tapi kita juga memiliki Serat Rama zaman Kasunanan Surakarta, yang semuanya ini sebenarnya menjadi ciri khas kita.

 

Indonesia Tersandera

Oleh karena itu, posisi Indonesia di dalam dunia pewayangan, itu sudah sangat tersandera dengan baik. Persoalannya adalah kembali kepada persoalan seberapa jauh para dalang mampu melahirkan sanggit-sanggit yang kontekstual, sehingga tidak berhenti pada perkelahian ini pakem atau ini tidak pakem. Kalau di Yogya itu ada, Serat Purwakandha, di Surakarta itu Pustaka Raja Purwa. Sebenarnya di luar itu boleh kita ciptakan kreasi-kreasi baru.

Wayang itu luar biasa dari Banyumas, Dulangmas atau Kedu Pekalongan Banyumas. Lalu, Dulangmas, Kedu Magelang Banyumas, ada gaya Pesisiran, ada gaya Yogyakarta, ada gaya Surakarta, yang semuanya ini sebenarnya koheren dengan apa yang menjadi cita-cita kebangsaan kita. Pada prinsipnya adalah proses yang dilampaui oleh para dalang atau mereka yang mendalang itu.

Sekarang kita ambil contoh sederhana sekali, bahwa wayang kulit semalam suntuk itu selalu dibersamai oleh karawitan. Di pendapa sana itu ada seperangkat gamelan. Gamelan jika dimainkan di dalam mengiringi wayang, itu pasti pamurba iramanya itu kendhang. Tapi cobalah lihat, di manakah posisi kendhang. Kendhang itu, pengendhangnya duduk sama dengan penabuh yang lain, tidak lebih tinggi. Padahal dia pamurba irama. Pakaiannya juga sama. Ini kan cara-cara orang tua mendidik adiknya, begitu. Jadi pengendhang itu duduknya sama, pakaiannya sama dengan pembonang, sindhen, pembarung, dan seterusnya. Padahal dia pamurba, padahal dia pemimpin karawitan.

Pemimpin seperti itulah yang dirindukan oleh Indonesia. Pemimpin yang berada di antara yang dipimpinnya. Ajaran yang kita ambil dari karawitan itu, itu ajaran kepemimpinan. Mungkin yang membedakan, ongkos lah, honornya. Kalau penabuh lain itu mungkin 25 ribu, pengendhang 50 ribu. karena nabuhnya itu rada megeng napas. Snack-nya sama. Pakaiannya sama, dan dia tetap berada pada posisi pemimpin. Ini satu contoh yang yang sederhana sekali. Bahwa nilai-nilai kebangsaan sesungguhnya itu jalan wayang. Jalan wayang adalah jalan kebangsaan. Persoalannya adalah keberanian para dalang dalam menciptakan sanggit-sanggit baru yang kontekstual.

Kita semua pernah mendengarkan rekaman pidato Bung Karno, bahwa bangsa ini harus dibangun. Bangsa ini hampir hancur-luluh, bangkit kembali. Dikatakan Bung Karno di dalam pidato peringatan Maulud Nabi, tahunnya lupa. Di sana dikatakan, Indonesia itu tidak seperti utara kuru, lor-nya negara kuru, yang ayem tentrem. Tidak, Indonesia itu memang harus up and down. Itu seperti takdir. Nah andaikata ini dilakukan oleh para dalang untuk melakukan sosialisasi, seperti pilar itu, wayang akan menjadi sangat elok. Jadi tidak sekadar jagad kepastian, atau garis pepesthen yang tidak bisa ditawar lagi. Dalang-dalang yang cakap, yang cerdas itu selalu bicara kodrat dan wiradat. Contohnya Pak Nartosabdo. Itu selalu ada.

Jadi kalau misalnya, disampaikan bahwa tujuan kita itu adalah ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan dan seterusnya di dalam preambule UUD 1945. Hal itu di dalam wayang jelas bahasanya, Memayu Hayuning Bawana, yang disampaikan oleh seorang guru kepada siswanya. Untuk Pathet 9 gara-gara, misalnya. Tetapi yang susah, itu mencapai Memayu Hayuning Bawana ini diterabas, begitu lho.

Yang kadang-kadang tidak dimengerti juga oleh terutama dalang-dalang muda, bahwa untuk mencapai memayu hayuning bawana itu dimulai dari memayu hayuning dhiri. Kalau sudah mampu memayu hayuning dhiri, kemudian memayu hayuning kulawarga. Setelah keluarga baru memayu hayuning sesama. Tataran yang paling tinggi adalah memayu hayuning bawana.

Nilai-nilai semacam ini sangat mungkin dikapsulkan di dalam pergelaran wayang, sepanjang dalang mau berproses kreatif. Jadi tidak sekadar menghafalkan, misalkan saja janturan jejeran pertama itu pasti panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi dan berhenti pada itu. Ini kan menjadi kacau, kalau seperti itu. Padahal kan boleh saja yang lain. Kemudian sebagian dalang juga tidak nggendhing. Artinya tidak menguasai gendhing, bahwa jejer Hastina Pura mestinya gendhing Kabor, misalnya. Jejer Amarta mestinya gendhingnya Titipati.

Hal ini tidak dipelajari lagi oleh dalang-dalang muda. Padahal kalau itu dipelajari, sehingga keseluruhan pentas itu menjadi sebuah kesatuan yang koheren, itu sangat luar biasa sebagai medium menyampaikan atau komunikasi ideologis. Komunikasi sosial sehingga kita mengenal bahwa wayang itu disamping tontonan adalah tuntunan. Tapi jangan lupa tatanannya. Artinya aspek estetika wayang itu sendiri. Nah, di dalam konteks yang seperti inilah wayang itu akan menjadi trep, dalam rangka sosialisasi, dan dalam rangka menebarkan benih-benih nilai kebangsaan kepada khalayak.

Jadi pada prinsipnya dunia simbol itu harus ditafsir kembali sesuai dengan konteksnya. Jadi zeit geist-nya itu kayak apa, jiwa zamannya kayak apa. Ini yang penting sekali. Jadi tidak harus misalnya untuk sulukan pertama, jejeran pertama itu lengleng ramya ningkang itu tidak harus. Kan boleh saja ratune ratu utama patihe patih linuwih. Ini kemudian langsung masuk pada persoalan negara. Kok bisa seperti ini? Parandene tan kali osing kalabendu, diambil dari misalnya, Kalatidha. Misalnya seperti itu. Tapi kan banyak yang tidak berani, takut kuwalat.

 

Wayang, Situs Terbuka

Padahal wayang itu sebenarnya situs yang terbuka. Kalau perlu syair-syairnya ya diciptakan sendiri. Yang kontekstual. Hanya tatanannya saja yang tidak boleh seenaknya sendiri. Bahwa wayang semalam suntuk itu dari Pathet 6, 9, Manyura, ini harus tetap kita pegang.

Pathet 6 itu isinya wulangan. Pelajaran dari raja, dari presiden kepada para menterinya, kepada rakyatnya. Pathet 9 itu sudah masuk pada wejangan, yaitu wejangan seorang pendeta kepada cucunya atau kepada cantriknya. Nah Pathet Manyuro mau bubar sudah wedharan, badharing lakon iku kaya ngapa.

Ini yang mestinya diisi, diisi catur ginem antawecana sulukan dan segala macam sampai gendhingnya. Yang syair-syairnya itu mendukung ke sana. Mendukung ke arah nilai-nilai itu. Bagaimana menciptakan perang tidak harus mati, supaya tidak mengesankan bahwa wayang itu kekerasan, fasistik dan seterusnya. Kan bisa diciptakan seperti itu. Kan bisa saja pagi hari itu Werkudara marah atau nesu, tapi tidak dibunuh. Cuma disepi angin supaya jatuh di negara masing-masing. Bisa saja seperti itu.

Kalau dalangnya cerdas, bahwa kita mengajarkan kepada generasi muda, kepada khalayak untuk tidak saling membunuh. Ini harus ada sanggit baru, tanpa harus meninggalkan pakem. Jangan hanya mengikuti Bharatayuda-nya India, dan Ramayana-nya India. Jangan hanya ikut itu. Kita selama ini kan sudah menciptakan satu lakon misalnya, Hanoman itu kan konon anaknya Bathara Guru ketika naik lembu Andini bersama Dewi Uma. Kemudian lihat ada seorang wanita tapa ngodok di guwa Madirda, yaitu Dewi Anjani. Ngodok itu wuda. Lha itu, terus akhirnya tidak kuat, lalu spermanya jatuh di daun kamal, roning kamal itu. Sinom itu, lalu jatuh di pangkuannya Anjani. Lalu Anjani yang bertapa itu kan hanya boleh makan apa yang jatuh di pangkuannya. Lalu dimakan, padahal sudah katutan spermanya Bathara Guru. Lalu hamil. Itu tidak ada di Ramayana. Itu local wisdom.

Sebagai local wisdom dia boleh didekonstruksikan. Misalnya, sebenarnya Anoman itu kan anaknya Rama dan Sinta. Ketika pengantin baru, terus pergi ke hutan Dandaka, padahal adiknya Lesmana ikut terus. Lha bagaimana mau honeymoon kalau ada adiknya. Mau malam pertama saja kan susah itu di hutan. Kan, boleh diciptakan lakon seperti itu.

Karena Rama itu sakti, lalu akhirnya Rama berubah menjadi kera laki-laki, dan Sinta berubah menjadi kera perempuan. Lha, mereka menunaikan tugasnya di malam pertama itu. Lalu hamil, lahirlah Hanoman. Boleh saja seperti itu kan. Ini kan daya kreasi. Kemudian lah wong-wong itu, ha itu nanti tidak sesuai dengan pakem. Lha, memang pakem itu memangnya apa sih? Memang pakem tidak boleh diubah? Pakem itu memangnya kitab suci? Boleh saja diubah.

Tapi, kalau sanggitnya dan mencerahkan, itu saya kira tidak masalah. Sama saja menafsirkan gunungan. Kekayon, pohon hayat. Kenapa gunungan itu pojoknya lima? Itu dilarikan saja ke Pancasila. Dengan bahasa yang kita ciptakan secara indah, sangat bisa. Atau mungkin di tangannya Dalang Hadi Sugito itu, kan Durna itu harus remuk dening Sencaki. Beda dengan kalau di Pak Manteb, Durna itu guru sejati. Karena pertapaannya Sakalima itu. Saka itu cagak, lima itu angger-angger. Bisa saja ditafsirkan ke sana. Dengan bahasa yang enak. Sebenarnya ruang-ruang tafsir begitu terbuka luar biasa di dalam jagad wayang itu.

 

Masa ‘Silih Warna’

Hanya masalahnya, kita terutama para pelaku kesenian wayang kulit itu tidak punya keberanian, karena ada mitos yang mengepungnya. Apalagi kalau sudah sampai ke bentuk-bentuk boneka wayang, dari matanya yang liyep, plelengan, kedelen, dan seterusnya yang sudah membawa serta watak-watak tertentu. Yang bisa saja sebenarnya didekonstruksi melalui lakon-lakon yang silih warna. Bagaimana seorang punakawan menjadi raja, itu kan lakon silih warna. Dan untuk nyindir situasi sekarang, memasuki tahun politik, ya sekarang yang ada prabu-prabu silih warna.

Dari masa ke masa itu. Kalau di dalam wayang itu contohnya jelas sekali, yang namanya raksasa, Prabu Gorawangsa itu jatuh cinta kepada Dewi Maerah, istrinya Prabu Basudewa. Ha, ketika Prabu Basudewa itu pergi ke hutan mencari kijang untuk Dewi Maerah itu, Prabu Gorangwangsa itu berubah jadi Basudewa. Itu kan Prabu silih warna ini. Nah, kemudian datang ke Mandura itu. Loh Dewi Maerah kaget, baru beberapa hari kok sudah pulang.

Karena yang dilihatnya itu Prabu Basudewa silih warna, maka Dewi Maerah tidak tahu. Terjadilah apa yang mesti terjadi. Ia hamil lagi. Ketika lahir, ternyata Kangsadewa itu. Jaka Maruta itu. Makanya itu gusen, setengah raksasa tidak mingkem. Lakon-lakon seperti Prabu silih warna itu di dalam jagad politik Indonesia itu, ada di mana-mana. Bahkan di perguruan tinggi ada, ketika ada pilihan rektor, pilihan dekan. Dosen-dosen itu jadi dosen silih warna.

Jadi wayang itu, seperti itu. Yang namanya silih warna itu luar biasa. Kalau kita sanggit, kemudian kita jadikan medium untuk berkomunikasi sosial, berkomunikasi politik dan seterusnya. Prinsipnya itu seberapa jauh kreativitas itu kita jaga. Jadi ini beberapa hal yang, sebenarnya masih banyak sekali.

Misalnya saja, soal ajaran kebangsaan yang terkait dengan laku seorang pemimpin yang menjadi Asthabrata. Laku bumi, angin, dan seterusnya, delapan itu. Atau di dalam rangka mengajari generasi muda supaya cinta tanah air, kemudian jauh dari narkoba, kan bisa membuat lakon Anggada Balik, Antareja Balik, dan seterusnya. Seperti, Eka Padma Sari, Dwi Martani, Tri Kawula Busana, Catur Wanara Rukem, Panca Sacara-cara, dan sampai Dasa Buta Mati.

Jadi kalau orang minum seseloki atau segelas, itu seperti kumbang mencecap sari madu di kembang Eka Padma Sari. Kalau dua sloki, Dwi Martani. Kemudian kalau tiga sloki, Tri Kawula Busana. Kalau sudah empat sloki, empat gelas atau empat botol, Catur Wanara Rukem, wanara kethek, rukem wohwohan, kaya kethek mangan wohwohan, mere-mere. Kalau sudah mere-mere nanti lima gelas Panca Sacara-cara. Sageleme dhewe. Terakhir mati, Dasa Buta Mati. Cobalah kalau yang di pedalangan itu mau sanggit-sanggit yang begitu, luar biasa sebenarnya. Untuk apapun, untuk pendidikan politik, pendidikan ketanahairan dan seterusnya.

Nah, kebangsaan melalui wayang ini sekaligus mengingatkan kepada kita semua bahwa Indonesia ini ada. Lahir pertama kali dari gua garba kebudayaan, melalui puisi besar yang namanya Sumpah Pemuda. Yang berbicara ketanahairan dan kebangsaan. Ini sering dilupakan. Indonesia ada karena diikat oleh bahasa Indonesia. Kenapa waktu itu bahasa persatuan bahasa Indonesia, kenapa bukan bahasa Jawa yang penuturnya paling banyak? Ini karena begitu hati samuderanya orang Jawa melihat masa depan. Kemudian diserahkan ke sana.

Kalau hal itu dimasukkan di dalam wayang, dari Sarahita, tanuhita, danahita dan seterusnya, itu luar biasa. Wulangan seorang raja kepada punggawa, kepada anak turunnya, misalnya seperti wejangan seorang pendeta kepada cantrik mentriknya. Yang sampai pada wulangan adigang adigung adiguna, itu akan menjauhkan kita dari cinta tanah air. Menjauhkan kita dari rasa kebangsaan. Kemudian juga yang terkait dengan ajaran Mataraman, sawiji greget sengguh ora mingkuh, samangsa kapengka ing pancabaya, ubayane datan mbalenjani. Ini responsibility. Bagaimana tanggung jawab kita sebagai bangsa, luar biasa.

Belum lagi kalau kita masuk pada hiburan atau tontonan yang sungguh-sungguh tontonan dalam wayang, melalui tokoh-tokoh periferal, tokoh-tokoh limbuk, cangik, dan punakawan, yang tidak ada di India. Saya juga pernah di Jawaharal Nehru ngomong itu. Saya bawa Limbuk. Saya tanya, apakah Anda tahu tokoh ini. Mereka tidak tahu. Kemudian saya keluarkan Bratasena, bukan Werkudara yang masih muda. Mereka juga tidak ngerti. Jadi sangat kaya kita. Begitu saya keluarkan Bawor, tidak tahu sama sekali.

Di Banyumas dan sekitarnya, yang jadi satria itu bukan Arjuna, tapi Bawor, punakawan. Karena punakawan adalah figur yang mampu menerjemahkan bahasa langit menjadi bahasa bumi. Itu punakawan, baik Belung, Togog, Semar, Gareng, Petruk, Bawor, Bagong itu sampai Limbuk Cangik. Bahasa para raja, para pemimpin ini yang mampu membahasakan adalah panakawan, teman sejati. *** (SEA)

Lihat Juga

Tumpengan Pancasila, Sultan Lesehan Bersama Rakyat

Panitia Bersama Bulan Pancasila 2018 berencana menggelar acara kolosal dahar kembul bersama Ngarsa Dalem Sri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *